Pertanyaan 3 Milyar

Oleh Redaksi Rumah Film | 31.03.2009| Komentar (0)

Claudia Jasmine

Pertanyaan Pertama:
Bisakah Anda jelaskan, kenapa film Anda penting?

Para Sineas 9808
Prima Rusdi (Insiator dan koordinator Proyek Payung):

Menurut saya, siapapun yang punya jiwa ‘pembuat film’ kadang dijangkiti virus ‘kita harus buat film A atau B’. Karena kita yakin ada kebutuhan untuk menonton jenis film tertentu yang barangkali belum terjawab dari film-film yang sudah ada. Film ini lalu menjadi penting karena buat saya pribadi, saya melihat sisi lain dari hubungan penonton-pembuat film. Bahwa penonton juga punya suara, dan suara mereka layak kita dengar. Saya salut dengan kualitas penonton film ini, baik di sejumlah ruang putar di Indonesia, maupun di forum seperti Pusan International Film Festival Oktober silam. Pelajaran dari film ini yang juga tak kalah penting, ‘narasi orang biasa’ ternyata luar biasa penting. Satu hal penting lainnya adalah, tiba-tiba muncul pertanyaan besar, jangan-jangan yang selama ini kerap ‘lolos’ dari perhatian kita adalah soal visi kenapa harus bikin film, karena pemahaman atau keterampilan tehnis bisa dipelajari, tapi visi mungkin harus dicari, dimaknai dan ditindak-lanjuti alias bukan berhenti di tingkatan wacana. Saya beruntung karena mereka yang terlibat di dalam Proyek Payung bisa mewujudkan visi bersama buat ‘melahirkan’ omnibus ini tanpa perlu menanggalkan keunikan masing-masing.

Anggun Priambodo (Sutradara Di Mana Saya?):

Karena film lain temanya enggak ada yang kaya kita (baca: 9808), kecuali May (Viva Westi). Seharusnya film penting seperti “9808” jadi film wajib tonton sekolah dan para caleg, hahaha.

Lucky Kuswandi (Sutradara A Letter of Unprotected Memories):

Karena omnibus ini merangkum soal kenangan, kegusaran, kekhawatiran akan apa yang sudah, masih, dan mungkin akan terjadi pasca reformasi yang direkam dengan jujur dari beragam kacamata orang-orang biasa.

Wisnu ‘Kucing’ Suryapratama (Sutradara Kucing 9808, Catatan Mantan Demonstran):

Omnibus 9808 gua pikir salah satu bentuk catatan sejarah personal dari sebuah generasi yang pernah mengalami dan menjadi pelaku perubahan di tahun 1998. Semua sutradara dan orang-orang yang terlibat di dalam proyek ini bisa dikatakan sebaya dan masing-masing orang membawa catatan peristiwa yang sangat personal dari sebuah proses perubahan. Kurang lebih omnibus ini memperlihatkan bahwa sejarah itu bukan apa yang terjadi di elit politik, tapi sejarah tu tercatat dalam kehidupan masing-masing orang dan beragam.

Hafiz (Insiator proyek, Sutradara Bertemu Jen):

Karena yang membuat karya ini adalah orang-orang yang berbeda pengalaman tentang sepuluh tahun perubahan Indonesia. Kemudian yang paling menarik dari kompilasi film ini adalah film-film ini dibuat bukan untuk “menghibur” tapi transfer pengalaman dan knowledge kita tentang Indonesia. Selama ini kita memang sering terjebak dalam hiburan. Namun, kompilasi ini memberikan pencerahan buat film-film yang selama ini beredar di Indonesia. Melepaskan ikatan-ikatan dengan yang namanya jumlah penonton dan pemasukan uang dari film. karena bagi gue film adalah informasi yang memberikan peluang melihat perubahan kebudayan kita.

Edwin (Inisiator proyek, Sutradara Trip to the Wound):

Terus terang saya tidak bisa menjelaskan kenapa film ini dianggap penting. saya cuma merasa bahwa film ini pasti memberikan sesuatu yang tidak bisa diabaikan dalam pengalaman hidup saya. selebihnya saya merasa tidak perlu menjelaskan kepada siapa siapa bagaimana perasaan saya terhadap film ini. Saya yakin film ini bisa bekerja dengan caranya sendiri, memberikan keberagaman perasaan kepada berbagai jenis orang yang mengapresiasi atau yang menolaknya sekalipun.

Nurman Hakim

Pertama, Saya berusaha menyajikan film yang tidak klise secara ‘konten’ yaitu kaidah-kaidah film Hollywood “B Grade” yang cukup banyak dipakai oleh film-film Indonesia. Tokoh utama haruslah orang baik, karakter pasti hitam putih, cerita harus tentang satu orang dan struktur dramatik harus di buat sedemikian rupa supaya emosi penonton tetap terjaga (penonton betah untuk duduk sampai film selesai) dan lain sebagainya. Kedua, Saya ingin berbicara bahwa Islam khususnya di Pesantren adalah Islam yang penuh dengan kedamaian dan penuh dengan nilai-nilai Humanisme. Saya ingin menepis pandangan orang-orang barat tentang Islam di Pesantren yang mereka anggap penuh dengan kekerasan, sarang terorisme. Islam yang keras memang ada, kita tidak bisa menepis itu, tetapi itu hanya segelintir orang atau pun kelompok kecil yang menafsirkan Islam dengan sangat permukaan. Saya tampilkan ustadz garis keras di luar pesantren di film ini yang merupakan representasi dari kelompok itu. Sedangkan sosok Kyai Wahab, pemimpin pesantren yang cinta damai dan penuh toleransi adalah representasi dari kelompok Islam mayoritas di Indonesia yang toleran.

Hanung Bramantyo

Melalui tema yang saya pilih, saya belajar memahami hidup dengan menyusun puzzle plot menjadi sebuah pesan. Melalui direction, saya belajar memaknai tiap-tiap elemen di dalam frame menjadi citra kehidupan buat diri saya dan penonton. Melalui proses produksi saya belajar mengorganisir sistem berikut mengakomodir perasaan-perasaan pekerja yang terlibat. Melalui penonton yang menonton film saya, saya belajar bagaimana semestinya saya memposisikan diri saya di tengah masyarakat. Karena itu film saya sangat penting buat diri saya.

Nia Dinata

Kami selalu menganggap setiap film yang kami bikin penting ya…hehe. Terutama untuk kaminya dulu. Karena membuatnya dari awal sampai rilis penuh dengan pengalaman-pengalaman unik yang memperkaya wawasan semua yang terlibat.Kalau publik juga menganggap penting, kita bersyukur aja. Khusus untuk PerempuanPunya Cerita dan Pertaruhan,keunikannya adalah isu-isu perempuan yang diangkat. Semua bicara realita, walaupun yang satu naratif sifatnya dan yang satu lagi dokumenter. Tapi film-film tersebutsangat non-conformist.Quickie Express temanya ringan tapi nakal,sebenarnya juga non-conformist in its own way.

Riri Riza

Kenapa film saya penting?, hehehe saya merasa agak aneh dengan pertanyaan ini. Sepanjang karir saya membuat film selama lebih sepuluh tahun, saya tidak pernah mendapat pertanyaan seunik ini. Saya tidak pernah merasa film saya penting, dalam konteks pandangan orang terhadapa film saya. Mungkin pertanyaan Anda kurang lengkap, misalnya : Bagi Anda sebagai sutradara, kenapa film Laskar Pelangi menjadi penting untuk Anda buat? Apakah begitu maksud Anda? kalau pertanyaan ini maknanya begitu jawaban saja adalah begini : “Bagi saya setiap cerita yang ingin saya filmkan (jika bukan cerita orisinil karya saya), adalah cerita yang pada saat saya pertama kali mendengarkannya atau saat saya pertama saya membacanya, saya merasakan ada bagian dari pengalaman hidup saya di dalamnya. Laskar Pelangi adalah juga pengalaman kecil saya, saya pernah merasakan atau melihat dari dekat kemiskinan dan ketimpangan yang diceritakan di dalamnya. Bagi saya cerita ini menggambarkan persoalan serius Indonesia dengan keriangan dan keindahan. Untuk itu saya anggap kisah ini penting untuk difilmkan”.

Mouly Surya

Sebenarnya saya ingin balik bertanya apakah yang Anda maksud dengan film yang dianggap “penting”. Apakah film yang bagus atau film yang punya muatan politik sosial budaya atau tema-tema tertentu? Untuk amannya jadi saya jawab dari kedua sisi saja, karena film yang bagus belum tentu punya muatan atau tema yang dianggap penting dan sebaliknya juga begitu, film yang punya tema penting belum tentu bagus. Kalau bisa dua-duanya sih bagus banget. Kalau seandainya Fiksi. dimasukkan ke dalam kategori film “bagus”, saya sangat berterima kasih, yang jelas itu bukan penilaian saya sebagai sutradara. Menurut saya, film bagus atau tidak itu relatif dengan siapa yang menontonnya. Kalau menurut saya bagus, belum tentu orang lain bilang bagus. Ini sangat personal menurut saya. Fiksi. sendiri saya buat dengan pendekatan yang personal, yang menurut saya bagus, jadi, Fiksi. penting buat saya, meskipun belum tentu buat orang lain. Soal tema, saya sendiri tidak memberatkan Fiksi. dengan pesan-pesan moral, tapi lebih sebagai sebuah potret sosial masyarakat saat ini. Tema yang saya ambil, tentang obsesi seorang perempuan, juga bukan sebuah tema yang terlalu berat, apalagi tidak saya bawa ke arah penjelasan psikologisnya. Saya lebih ingin bercerita dari sisi si perempuan aneh ini saja. Sembari saya memotret kehidupan sosial ekonomi masyarakat indonesia yang ber-gap jauh. Si kaya dan si miskin. Si gila Alisha dari rumah bapaknya yang besar dan kosong pergi ke rumah susun yang miskin dan ramai.

Allan Lunardi

Karma penting untuk saya sebagai sutradara karena ini merupakan film debut saya. Secara konten, Karma sebagai film horror berusaha untuk tampil lebih serius dari film-film sejenis. Dengan background budaya etnis Cina peranakan di Jawa, Karma mencobal menyuguhkan cerita yang utuh dan nyambung dari awal sampai akhir dengan pesan-pesan moral.

Awi Suryadi

Film saya penting atau tidak penting rasanya harus orang lain yang menjawab. Sebagai pembuat film, pastinya kita merasa film yang kita terlibat apalagi membuat pasti sangat penting hehe. Mungkin kalau pertanyaannya sedikit diubah, kenapa film saya penting untuk saya, saya baru bisa jawab, dan jawabannya adalah: ini karya saya yang mulai dilirik dan diakui oleh sesama pekerja film lainnya, bukan hanya itu, film Claudia/Jasmine juga menerima 5 nominasi di Festival Film Bandung 2008 (peran wanita, naskah, sinematografi, penyuntingan & musik) dan 5 nominasi di Festival Film Indonesia 2008 (2 peran pendukung wanita, naskah, penyuntingan & film). Film ini mungkin juga bisa dibilang penting untuk rumah produksi Nation Pictures karena ini merupakan langkah pertama rumah produksi tersebut dalam meramaikan industri perfilman nasional.

Edwin

Terus terang saya tidak bisa menjelaskan kenapa film saya dianggap penting. saya cuma merasa bahwa film ini pasti memberikan sesuatu yang tidak bisa diabaikan dalam pengalaman hidup saya. selebihnya saya merasa tidak perlu menjelaskan kepada siapa siapa bagaimana perasaan saya terhadap film ini. saya yakin film ini bisa bekerja dengan caranya sendiri, memberikan keberagaman perasaan kepada berbagai jenis orang yang mengapresiasi atau yang menolaknya sekalipun.

Pertanyaan Kedua:
Selain film Anda sendiri, adakah film Indonesia lain tahun ini yang Anda anggap penting? Film apa saja itu dan mengapa?

Mouly Surya

– Mereka Bilang Saya Monyet!

Yang pertama, menurut saya film ini bagus. Salah satu film favorit Indonesia saya tahun ini. Saya suka gaya storytellingnya. Saya terbawa dalam ceritanya, pengalaman karakter-karakternya. Meskipun di dalam film ini bisa dibilang hampir tidak ada ‘pesan moral’ yang diverbalkan keras-keras (dan saya justru sangat menyukai hal ini), film ini meninggalkan kesan yang cukup dalam setelah kita menontonnya. Yang kedua, saya rasa film ini juga menunjukkan semangat independen sang filmmaker, bahwa untuk bikin film yang bagus nggak butuh bujet besar, tapi cuma skenario yang kuat dan aktor aktris yang berkarakter serta sutradara yang kompeten dalam menyampaikan ceritanya. Film ini punya ketiganya. – Babi Buta yang Ingin Terbang Memang belum banyak masyarakat Indonesia yang sudah menonton film ini, dan saya sangat menyayangkan itu. Padahal film ini bagus banget. Salah satu alasan film ini adalah salah satu film terpenting tahun ini juga sama dengan MBSM, benar-benar menunjukkan semangat independen sang filmmaker. Dengan bujet terbatas Edwin berhasil membuat film yang meninggalkan kesan yang dalam. Temanya tentang identitas etnis Cina di Indonesia juga adalah salah satu kekuatan dari film ini. Tema itu tidak menuding siapa-siapa, tapi justru dibawakan lebih personal.. – Laskar Pelangi Salah satu hal yang saya agak keberatan soal perfilman Indonesia adalah tendensi mentang-mentang bikin film yang ‘jualan’ terus bikinnya ngejiplak ataupun buru-buru dan asal jadi. Menurut saya Laskar Pelangi berhasil memberikan contoh kalau bikin film yang berkualitas itu juga bisa jualan dan kebalikannya, bikin yang jualan juga bisa berkualitas. ini merupakan sebuah achievement, baik dalam hal memecahkan rekor jumlah penonton maupun menghadirkan sebuah film yang kaya dengan pesan moral dan identitas film Indonesia. Riri Riza Film lain yang penting bagi saya di tahun ini:Fiksi., karena ia adalah film pertama yang dikerjakan dengan tangan dingin, dengan kontrol tingkat tinggi di segala aspeknya. Dan pula, ia dibuat oleh seorang sutradara perempuan dengan kematangan pada usia yang muda. Yang satu lagi adalah Babi Buta yang Ingin Terbang (Edwin), karena keteguhan hati kerja kolektif orang orang dibaliknya. Film dibuat dengan gerilya dengan kesadaran penuh untuk tidak tanggung tanggung menabrak nilai. Babi juga punya gambaran kalau anak muda kita masih punya keberanian untuk membicarakan persoalan sosial penting dan genting. Kedua film ini menjadi penting karena lahir secara independen tepat di sepuluh tahun setelah reformasi. Saya agak romantis, yang begini begini penting bagi saya. Ada beberapa film lain yang baik, tapi kedua film ini muda, mandiri, dan menonjol.

Sineas 9808
Prima Rusdi:

Pentingnya seluruh film Indonesia (tahun 2008), adalah buat kita berefleksi, apa saja yang sudah direkam di dalam film-film kita sepanjang tahun 2008? Karena, kalau sampai ada istilah film ‘penting’, berarti ada yang ‘tidak penting’. Lalu, kalau ‘tidak penting’, kenapa dibikin? Buat saya itu jelas membingungkan. Dan kalau kita coba lengkapi kalimat seperti “Tahun ini adalah tahun ………. Film Indonesia,” kira-kira titik-titik itu bisa kita isi dengan kata apa? Saya memilih melengkapi kalimat itu dengan jawaban pribadi yang tidak perlu dipublikasikan di sini, karena sebaiknya kita semua sama-sama bikin pekerjaan rumah.

Wisnu ‘Kucing’ Suryapratama:

Babi Buta yang Ingin Terbang, Laskar Pelangi. ..Menurut gua kedua film ini luar biasa dalam ranah masing-masing. Babi Buta membuktikan pencapaian kreativitas Edwin yang di luar “industri” sementara untuk ukuran bisnis film Laskar Pelangi adalah film Indonesia yang bagus dan box office.

Anggun Priambodo:

Menurut gue, Laskar Pelangi, karena baca bukunya yang bagus. Terus, May gue pingin nonton karena temanya penting. Fiksi. karena sutradara baru yang cantik itu

Edwin:

Tidak adil bagi saya untuk memilih satu atau beberapa judul film untuk bisa menyandang predikat ‘sesuatu yang penting’. Saya tidak pernah mempermasalahkan, masalah penting atau tidaknya sebuah film. Saya selalu percaya semua film itu, ada karena memang harus ada.
bukan kita yang membuat film, tapi film yang membuat kita. Dalam konteks ini, kata penting menjadi susah sekali untuk menjadi penting

Nurman Hakim

Saya kira film garin Under The Tree adalah salah satu film yang cukup penting untuk dilihat. Garin tidak melakukan pengulangan dari karyanya yang terdahulu (kecuali soal eksotisme yang selalu dia jual). Secara style (Mise en Scene, Cinematography, Editing dan Sound) , Garin berani melakukan sebuah terobosan dalam pencapaiannya bertutur visual. penggunaan style yang tidak begitu populer di Indonesia. Tetapi bagi saya justru karena penggunaan gaya yang seperti itu mampu mengangkat naratif film itu sendiri, memberikan makna yang lebih kuat pada naratifnya. Elemen film style yang telah mampu memobilisasi naratif. seperti kita tahu, naratif pada film-film garin seringkali kedodoran.

Awi Suryadi

Film penting lainnya ada film Fiksi. yang meraih 4 Piala Citra tahun ini. Saya sangut salut dengan teman-teman di film tersebut atas idealisme mereka yang meskipun di pasaran tanah air kurang meraih sambutan, tapi terbayarkan dengan peraihan 4 Piala Citra tersebut. Dan sebagai sesama rumah produksi baru, Fiksi. sebagai karya pertama menurut saya, adalah cukup luar biasa.

Nia Dinata

Mereka Bilang Saya Monyet . Diperankan dengan luar biasa oleh Titi Sjuman, performance Titi benar-benar membuat saya terpesona.
Allan Lunardi

Banyak film-film lokal lain yang saya lihat sangat menarik secara estetik seperti Fiksi., Cinta Setaman dan Mereka BIlang Saya Monyet. Setiap director dari film-film tersebut berusaha untuk memberi suguhan cerita dari perspektif yang jarang ada di film-film Indonesia. Yang menarik untuk dicatat juga dari sebagian film-film tersebut merupakan debut dari para sutradaranya tapi sudah mampu untuk tampil dengan cemerlang. Saya mersa banyak belajar sebagai director dengan menonton film-film tersebut. Sebenarnya banyak film lain yang juga tidak kalah menariknya dari kalau dilihat dari bermacam-macam perspektifi tapi kalau semuanya disebutkan daftarnya pasti sangat panjang.

Redaksi Rumah Film

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Perkumpulan Rumah Film Indonesia, perkumpulan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film danperfilman Indonesia. Selain penerbitan pada situs ini, Rumah Film juga melakukan penelitian dan nonton bareng yang diiringi dengan diskusi.

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808