Dalam hal industri film, Indonesia termasuk yang beruntung sudah memiliki infrastruktur. Di Indonesia, sejumlah rumah produksi aktif membuat film dan menghasilkan banyak judul film dalam setahun. Bandingkan dengan Lebanon misalnya. Konflik seperti sudah jadi menu sehari-hari dalam kehidupan masyarakat Lebanon. Perang saudara berkecamuk sejak 1975 dan baru berakhir sekitar tahun 1990. Meskipun dinyatakan berakhir, Lebanon masih harus berhadapan dengan konflik-konflik di beberapa bagian negaranya, termasuk konflik di selatan Lebanon yang terjadi mulai 1985 hingga 2000.
Lalu serangkaian pengeboman di tahun 2005, dan tak lama kemudian Lebanon kembali ke kancah perang ditahun 2006. Suasana politik di Lebanon kembali memanas dan memuncak pada Mei 2008 lalu. Perang bersaudara kembali berlangsung di Lebanon, dipicu oleh konflik agama, perebutan kekuasaan antara kelompok Sunni dan Syiah dan terpecahnya suara kelompok kristen. Tahun 2008 tercatat sebagai tahun berdarah, tahun paling buruk dalam sejarah konflik di Lebanon. Negeri yang terus menerus dilanda konflik itu tertatih-tatih dalam memproduksi film. Menurunnya minat menonton film membuat Lebanon tidak punya studio maupun perusahaan produksi film.
Dalam setahun, Lebanon hanya mampu memproduksi 3 – 5 judul film setahun. Dalam kondisi yang tidak memadai itu, sejumlah sutradara muda berbakat muncul di ranah sinema Lebanon. Sayangnya, karena tidak ada infrastruktur yang memadai, para sutradara Lebanon ini terpaksa berpaling kepada donor asing terutama Perancis untuk bisa memproduksi film mereka hingga selesai. Tanpa dana luar, bisa dipastikan, Lebanon tidak bisa memproduksi film.
Dengan dana yang hampir seluruhnya berasal dari luar inilah, sejumlah sutradara baru berkibar di panggung sinema lokal maupun dunia. Salah satu sutradara Lebanon yang belakangan ini banyak jadi bahan pembicaraan adalah Nadine Labaki. Konflik yang tak berhenti di Lebanon akhirnya membuat Nadine Labaki gusar. Sutradara perempuan asal Lebanon yang masuk dalam daftar 10 Directors To Look Out For List majalah Variety ini akhirnya memutuskan membuat film tentang konflik agama.
Nadine Labaki bukan wajah baru di Cannes. Tahun 2007 lalu, filmnya Sukkar al-Banat (Caramel) diputar perdana di seksi Director’s Fortnight di festival yang sama. Caramel berkisah tentang kehidupan sekelompok perempuan Beirut yang bekerja di salon kecantikan. Saat itu, perempuan cantik lulusan Saint Joseph University Beirut jurusan Audiovisual ini tidak mau ikut-ikutan mengangkat tema perang saudara yang marak dalam film-film karya sutradara-sutradara muda asal Lebanon.
Tapi, di tahun 2008 itu, Nadine Labaki sedang mengandung anak pertamanya. Konflik agama ini merisaukan perempuan kelahiran 18 Februari 1974 ini. Instingnya sebagai calon ibu menggerakkan ide awal pembuatan film Where Do We Go Now ?, yang tahun ini masuk seksi Un Certain Regards. Where Do We Go Now? Adalah film panjangnya yang kedua setelah membuat banyak video iklan dan video klip musik.
Ditemui di teras Cheri Cheri Beach Cafe di sepanjang pantai Croisette, Nadine Labaki menyempatkan waktunya menemui RumahFilm pada Rabu 18 Mei lalu, 2 hari setelah pemutaran perdana Where Do We Go Now?. Kepada RumahFilm, Nadine bercerita tentang film terbarunya, tentang konflik dan absennya industri film di Lebanon. Berikut hasil percakapannya:
Dalam Caramel, sepertinya Anda tidak begitu risau dengan konflik.
Selama 5 tahun belakangan ini saya memang sedang mengalami fase penting. Ketika Caramel dibuat, saya sedang memasuki periode menjadi wanita dewasa yang matang. Sementara ketika membuat Where Do We go Now?, saya sedang memasuki masa persiapan menjadi ibu. Periode ini membuat saya melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda. Cara pandang anda melihat konflik disekitar juga berbeda. Sebelumnya, saya dan juga masyarakat Lebanon pada umumnya berpikir, jika perang berlangsung lagi, kami kabur saja. Tapi semuanya berubah ketika saya mengandung bayi.
Apakah Anda tidak berniat untuk membesarkan anak Anda di luar Lebanon?
Saya tidak berniat pergi meninggalkan Lebanon. Negeri itu adalah tanah air saya, dan suami saya juga. Anak saya anak Lebanon. Kami berhak tinggal dan hidup damai di Lebanon. Karena itu saya membuat Where do We Go Now?, sebagai upaya menuntut perdamaian. Saya tidak bisa membayangkan jika anak saya kelak harus terlibat konflik yang mungkin tak dipahaminya. Jika anak saya tumbuh dewasa di periode itu, seberapa jauh saya ingin bertindak menghalangi niat anak saya untuk mengangkat senjata seperti yang lainnya, turun ke jalan dan membunuh orang lain dan mungkin terbunuh atas nama agama, atau atas nama komunitasnya atau atas nama partai politik. Where Do We Go Now? berasal dari semua galau itu. Para ibu yang melakukan apa saja untuk melindungi anak-anaknya, melindungi orang terkasih dari perang, yang bagi saya berasal dari insting ibu, reaksi spontan seorang wanita.
Selama ini saya menjalani hidup normal di Lebanon. Kadang menjadi abnormal jika ada perang saudara. Tapi di sela-selanya, kami berusaha hidup tenang lagi. Perang di Lebanon tidak pernah bisa diprediksi. Hanya satu masalah kecil, seluruh negara bisa berkonflik. Kami sudah terbiasa dengan hidup begitu. Sejak kecil kami terbiasa menghabiskan hari di shelter, tempat-tempat penampungan. Kami terbiasa bersiap-siap lari, jika terdengar ledakan bom, kami terbiasa secepat kilat membawa apa yang perlu dibawa ketika situasi darurat.
Saya beruntung, orang tua saya selalu tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana; mereka selalu siap melindungi kami, bahkan mengirim kami ke keluarga yang tinggal di luar negeri kalau perlu. Tapi suami saya misalnya, dia banyak sekali menyaksikan langsung orang mati di jalanan. Semua orang Lebanon yang tinggal di Lebanon hidup dengan kengerian itu. Di satu sisi saya tidak ingin anak saya mengalami masa-masa kacau, tapi di sisi lain, saya juga ingin anak saya tumbuh besar di Lebanon. Bagaimana caranya? Dengan berharap agar konflik bisa dihindari dan dihentikan. Itu yang menjadi tema utama di Where Do We Go Now?.
Artinya, jika saat itu Anda tidak hamil, Anda akan melakukan pendekatan yang berbeda terhadap Where Do We Go Now?
Mungkin akan berbeda. Rasanya insting akan menjadi ibu ada hubungannya dengan hasil akhir film ini. Obsesi dan ketakutan terhadap kehilangan anak. Karena saya sudah menjadi saksi begitu banyak perempuan, ibu yang menangis di depan saya karena anaknya hilang dalam perang. Saya menyaksikan sejak kecil konflik ini, dan terus berlangsung, terulang lagi terulang lagi. Saya tidak kenal seorang pun yang tidak kehilangan salah satu anggota keluarganya karena perang saudara. Saya sendiri sudah kehilangan beberapa anggota keluarga juga, baik keluarga dekat maupun keluarga jauh.
Sejak kecil, tangis ibu itu sudah menjadi menu utama, baik itu dari siaran televisi maupun menyaksikan langsung di depan mata ibu yang meratap-ratap. Sejak hamil, saya menjadi terobsesi ingin tahu bagaimana reaksi mereka, para ibu ini, bagaimana mereka menghadapi kehilangan, di dunia yang sudah nyaris tak terkendali. Kehilangan itu tak tertahankan. Saya tidak bisa membayangkan jika itu anak saya, bagaimana perempuan itu bisa bertahan hidup dalam kenangan akan anak-anak mereka?
Dengan beberapa adegan artifisial, misalnya di awal film ketika para wanita berjalan ke kubur sambil bersenandung lagu duka, dan beberapa adegan humor di sepanjang film, di satu sisi, Where Do We Go Now? jadi terlihat naif.
Film ini adalah dongeng yang ingin saya ceritakan kepada penonton. Seperti pada umumnya dongeng, ia berisi hal-hal utopia yang saya tahu, sayangnya tidak akan terjadi di dunia nyata. Karena itu, saya tidak akan tersinggung kalau orang menyebut film saya naif, karena memang film ini naif. Cara saya berpikir memang naif. Saya ingin mengubah dunia dengan cara saya, saya berfantasi ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, saya melihat segala-galanya seperti dari mata anak-anak. Absurditas dunia saya lihat dari kaca mata anak-anak. Ada yang bilang kebenaran datang dari mulut anak-anak, karena mereka lebih jernih pikirannya dari kita orang dewasa. Saya memang naif, kenapa tidak? Itulah keuntungannya menjadi filmmaker. Saya bisa menciptakan dunia ideal saya.
Alasan itu juga yang membuat saya tidak ingin meninggalkan Lebanon. Saya merasa saya punya kelebihan karena bekerja di bidang film. Dengan profesi ini saya bisa menunjukkan kepada dunia, khususnya mereka yang menonton film saya, cara pandang saya terhadap dunia. Sekarang saya merasa punya misi yang jelas, untuk mengekspresikan kekhawatiran dan rasa cemas lewat film. Tentu saja saya berharap mungkin film saya bisa mengubah sesuatu. Kalaupun film saya tidak mengubah apa-apa, tidak ada salahnya bermimpi.
Di sisi lain film Anda juga menyentuh masalah substansial, contohnya asal muasal konflik agama. Bagaimana tanggapan otoritas agama di Lebanon terhadap film ini?
Sampai saat ini, saya benar-benar tidak tahu bagaimana film ini akan diterima. Bukan hanya tanggapan dari kelompok Hizbullah, tapi juga otoritas agama lainnya, saya tidak tahu. Rasanya juga tidak perlu, karena saya merasa saya tidak menyinggung siapa-siapa di film saya. Kalaupun nanti mereka menganggap bahwa film membawa misi politik, biar saja. Saya tidak berbakat sama sekali di politik. Saya tidak tertarik dengan dunia politik. Film ini baru saja diputar dua hari yang lalu, jadi tentu saja belum bisa memberi komentar sekarang.
Film ini berlatar belakang kehidupan di desa kecil yang hubungannya ke dunia luar hanya berupa jalan setapak yang kiri kanannya hancur terkena bom. Bahkan mobil pun tidak bisa lewat. Mengapa Anda memilih lokasi di desa kecil yang hubungannya dengan dunia luar nyaris terputus?
Desa ini hanya fiksi. Rekaan. Fantasi. Tapi saya ingin menggarisbawahi absurditas situasi konflik. Desa ini menjadi dunia saya, dan saya ingin menggarisbawahi bagaimana pengaruh luar, apa yang terjadi diluar bisa sangat berpengaruh terhadap apa yang terjadi didalam desa. Hubungan mereka dengan dunia luar sangat terbatas, mereka tidak punya jembatan yang memadai, sinyal televisi yang sulit didapat. Begitu mereka bisa dapat sinyal, begitu mereka mendengar apa yang terjadi di luar sana meski sayup-sayup, bahwa ada konflik agama diluar sana, mereka mulai memukul genderang perang di dalam desa terpencil yang selalu hidup damai.
Dalam salah satu adegan, seorang perempuan berteriak kepada suaminya, kemarin kamu masih memanggilanya saudara, makan falafel bersama, sekarang kamu mau membunuhnya hanya karena kamu mendengar di luar sana mereka saling membunuh? Bagi saya, itu benar-benar absurd. Dengan mengambil lokasi di area terpencil yang terisolasi ini, absurditas itu makin ditegaskan.
Film ini tentang konflik agama. Apakah tidak ada tentangan dari otoritas agama setempat dalam proses pembuatannya? Apalagi Anda melibatkan penduduk desa setempat.
Saya sadar, film ini menyentuh masalah sensitif, sehingga saya berusaha merahasiakan proyek ini hingga selesai. Selama proses pembuatannya, saya tidak bicara dengan media, tidak memberikan skenario kepada sembarang orang dan hanya tim inti saja yang tahu jalan ceritanya. Para artis aktor pendukung pun tidak paham betul arah film ini sampai pada menit terakhir. Dan semua warga desa ikut terlibat dengan sangat bersemangat. Agak susah memang merahasiakan proyek ini karena di Lebanon, orang tidak membuat film setiap hari; Syukurlah, semua orang bisa diyakinkan untuk tidak menyebarkannya keluar lokasi shooting sampai selesai.
Di dalam film anda sepertinya ingin mengatakan bahwa sensor itu perlu. Para ibu mulai berulah untuk mengalihkan perhatian ketika TV menayangkan berita konflik di ibukota. Tapi di saat yang sama, para ibu inilah yang berinisiatif membawa orang luar masuk ke desa dengan tujuan yang sama, yaitu mengalihkan perhatian.
Ada banyak bentuk perbedaan. Perbedaan pendapat, perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, dan tidak perlu itu jadi konflik. Tapi di saat yang sama, saya juga sadar bahwa sebagai ibu ada hal-hal yang perlu disensor dari jangkauan anak-anak. Misalnya saya tidak akan mempertontonkan film adegan kekerasan dan pembunuhan kepada anak usia belia. Ada waktunya untuk itu. Bukan berarti saya menentang keterbukaan, bukan berarti saya menyembunyikan informasi penting. Tapi sebagai ibu, Anda mengenali anak Anda dan sifat-sifatnya, Anda tahu dalam hal-hal tertentu, perlu waktu yang tepat untuk melepaskan informasi sensitif.
Industri film di Lebanon bukan industri yang populer di kalangan generasi muda. Bagaimana ceritanya Anda bisa bergelut dalam bidang ini?
Saya selalu tahu bahwa saya ingin menjadi sutradara. Awalnya saya tidak tertarik karena saya orangnya pemalu. Tapi saya mulai belajar sinematografi, dan mengikuti salah satu pelajaran teater, yang membuat saya harus tampil di atas panggung. Saya mulai menikmati bekerja di bidang ini ketika saya mulai bekerja dan menyutradarai orang lain. Saya menemukan energi baru dari dalam diri saya. Memang, film bukan profesi yang menjanjikan di Lebanon. Setiap orang agak skeptikal ketika saya mengutarakan niat ingin membuat film. Tidak mudah membuat film di Lebanon.
Kenapa tidak mudah membuat film?
Karena Lebanon belum punya infrastruktur untuk itu. Di Lebanon, kami tidak punya referensi apa-apa. Kami tidak punya industri film. Jika anda ingin membuat film, anda harus belajar sendiri saat melakukannya. Learning by doing. Saya berkesempatan belajar ketika membuat video klip musik dan iklan. Tapi membuat film, dengan segala kerumitan produksinya, bagaimana caranya, bagaimana seorang sutradara bekerja, bagaimana mengatur semuanya, Anda harus belajar dari nol dan belajar sendiri. Saya juga banyak belajar dari kesalahan. Saya juga beruntung mendapatkan produser tapi tidak semua sutradara di Lebanon bisa beruntung.
Produser anda dari Perancis. Apakah hal ini menuntut anda untuk membuat film sesuai selera Perancis?
(Nadine tertawa). Saya tidak tahu bagaimana selera Perancis itu. Saya merasa film saya sangat Nadine Labaki, bukan film Perancis. Saya akui saya, dengan produser orang Perancis, saya juga dibantu oleh tim dari Perancis, tapi bukan berarti mereka bisa mengintervensi film saya sesukanya. Seperti yang saya bilang, sejak di Lebanon kami tidak punya referensi, saya juga belajar banyak dari tim Perancis dan mereka mau tidak mau harus terbiasa dengan ketidak profesionalan tim saya (lagi-lagi Nadine tertawa).
Saya selalu berusaha menemukan jalan untuk bekerja sama dengan orang-orang lokal juga. Tim saya tim lokal. Banyak sekali peristiwa yang menunjukkan ketidakprofesionalan tim saya, tapi kami terus maju, dan yang membuat kami ingin terus adalah gairah membuat film. Kami menciptakan sistem bekerja kami sendiri, karena itu sulit bagi tim lain untuk menyamakan cara kerja dengan tim lokal saya. Tim film dari Perancis punya cara kerja sangat terstruktur, sehingga tidak mudah bagi mereka menghadapi keunikan cara kami membuat film.
Saya menyutradarai adegan dari dalam situasi, di depan kamera bukan di belakang kamera, dan banyak melakukan improvisasi. Saya mengubah skrip beratus kali di lapangan karena kami banyak improvisasi. Ini membuat tim Perancis kelabakan. Tapi kami berusaha dan akan terus berusaha. Suatu hari nanti kemungkinan usaha kami membentuk tim lokal ini akan berkembang dan semoga bisa menghasilkan industri film yang terstruktur.
Anda mengkasting diri Anda sendiri dalam film ini.
Iya, saya menemukan bahwa lebih mudah bagi mereka, bagi artis non profesional ketika saya berakting di antara mereka. Mereka hanya bereaksi terhadap apa yang saya lakukan. Mereka paham akan ke mana jalur cerita ketika saya mulai berakting;
Film Anda mengingatkan saya pada Turtles Can Fly karya Bahman Ghobadi pada pemilihan lokasi di area ranjau dan di salah satu adegan mencari sinyal di atas bukit berdebu.
Saya suka sekali karya-karya Bahman Ghobadi. Tapi kalaupun Anda menemukan kesamaan, itu karena tuntutan cerita, mungkin saja secara tidak sadar. Tapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa mereka terisolasi dari dunia luar.
Anda seorang feminis?
Feminis dalam arti jelek? Seperti girl power? Tidak sama sekali. Saya termasuk konvensional sebagai perempuan.
Tapi di film Anda, khususnya Where Do We Go Now?, perempuanlah yang punya kekuatan.
Ya, saya mencari sesuatu dari perspektif saya sendiri sebagai perempuan. Saya merasa saya punya dasar secara emosi dan psikologi, ketika menggambarkan kehidupan perempuan. Itulah kenapa selalu suka bercerita tentang perempuan. Saya merasa perempuan punya kode rahasia, mereka bisa saling mengerti.
Apakah revolusi Arab yang baru saja terjadi mempengaruhi juga film Anda?
Apakah revolusi Arab ini akan berhasil? Aaya tidak tahu. Semoga keberhasilannya bisa mempengaruhi negeri-negeri Arab lain. Sayangnya di Lebanon anda tidak pernah tahu apa yang harus diharapkan. Saya rasa, saya takut terlalu optimis. Tentu saja saya senang ketika negeri-negeri Arab bangkit berevolusi dari ketertindasan, tapi di saat yang sama saya terlalu sering melihat konflik agama, karena itu saya bertanya Where Do we Go Now?.















