Catatan V Festival Film Cannes ke-64: Kabar Visual dari Jafar – Wawancara dengan Mojtaba Mirtahmasb, co-director “In Film Nist”

Oleh Asmayani Kusrini | 22.05.2011| Komentar (1)

Salah satu kegiatan Jafar Panahi selama menunggu keputusan bandingnya adalah menjaga iguana. Putrinya yang sedang belajar di Paris sering menelpon, mengingatkan Jafar untuk tak lupa memberi makan iguana yang sering bermanja-manja di lengan Jafar. Di salah satu adegan dalam film In Film Nist, Jafar terlihat kesal karena si iguana ogah membuka mulut.  Penonton dibuat tertawa ketika Jafar terpaksa menolak menjaga anjing tetangganya karena si anjing membuat iguana kabur ketakutan. Melihat Jafar Panahi di In Film Nist, seperti menjawab pertanyaan semua orang, bagaimana nasib Jafar Panahi di Iran sana? Dalam In Film Nist, Jafar seperti ingin memberi kabar, bahwa ia baik-baik saja dan sedang terus berjuang untuk bebas.

Usai pemutaran perdana In Film Nist (This Is Not Film), Kamis 19 Mei kemarin,  Mojtaba Mirtahmasb langsung bergegas menuju Les Ambasadeur Terrace, lantai empat Palais Du Cinema. Sutradara dokumenter ini langsung menyalakan i-Pad dan tak lama kemudian, wajah Jafar Panahi muncul di layar. “Bagaimana pemutaran filmnya?” kata Jafar di seberang sana. “Baik. Salle Bazin penuh, dan tidak ada yang meninggalkan tempat hingga selesai,” lapor Mirtahmasb. Lelaki kelahiran Kerman, Iran 1971 ini kemudian ngobrol dengan Jafar sambil mondar-mandir. Sesekali ia mendekatkan telinganya ke speaker i-Pad jika sinyal mengaburkan suara Jafar. Di akhir pembicaraan mereka, Jafar berpesan, “Hei Mojtaba, hati-hati di sana dan semoga sukses,” kata Jafar.

Di Cannes, masyarakat perfilman setuju, In Film Nist adalah film (politik) penting tahun ini. Jafar Panahi dan Mojtaba Mirtahmasb harus berhati-hati dengan sejumlah pagar berduri yang mengelilingi proses pembuatan film ini. Mereka bergerak di antara proses keputusan hukum Jafar Panahi dan batasan terhadap pembuatan dokumenter yang tidak boleh mengkritisi pemerintah. Dalam salah satu adegan, misalnya, terjadi ‘tarik-menarik kekuasaan’ antara Jafar yang merasa sebagai sutradara dan Mojtaba yang sedang menyutradarai.

“Hei, sekarang ini saya yang sutradara, kamu lakukan saja tugasmu di depan kamera,” kata Mojtaba dari belakang kamera. Jafar yang terlihat cemberut akhirnya pasrah dan bilang, “Iya ya, saya dihukum 20 tahun untuk tidak membuat film, tidak menulis skenario, tidak boleh memberikan interview kepada media mana pun dan tidak boleh keluar dari Iran. Tapi saya tidak dilarang berakting dan membaca skenario, kan? Apa saya bacakan saja skenario saya?” katanya di depan kamera.  “Ya, saya akan merekam apa saja yang kamu lakukan. Kan maksud saya datang kesini (ke rumah Jafar) memang untuk itu.”

Dalam ruang sempit yang absurd inilah In Film Nist lahir dan secara mengejutkan bisa dinikmati sebagai film komedi juga. Bahkan orang yang tidak tahu sama sekali kasus Jafar Panahi akan bisa menikmati film ini sebagai doku-drama yang dipenuhi humor-humor sinis. Saat credit title muncul, hanya nama Jafar Panahi dan Mojtaba Mirtahmasb saja yang muncul di layar. Nama mereka yang ikut berpartisipasi, mulai dari musik, editor hingga ucapan terima semua muncul seragam dalam bentuk rangkaian titik-titik.

Usai berkomunikasi dengan Jafar, Mojtaba Mirtahmasb, sutradara dokumenter yang juga menjabat sebagai Kepala Asosiasi Sutradara Dokumenter Iran ini lalu makan roti dengan cepat. Maklum,  sudah waktunya makan siang. Setelah makan, Mojtaba berkesempatan untuk bercakap dengan RumahFilm di Teras Festival. Berikut adalah kutipan percakapan kami. RumahFilm mengucapkan terima kasih kepada Shahla Rostami, wartawan Iran yang bersedia menjadi penerjemah.

Mojtaba Mirtahmasb

Selamat, Anda akhirnya tiba di Cannes. Pihak Festival baru mengumumkan bahwa anda akan hadir di Cannes di menit terakhir. Apakah ada kesulitan di perjalanan?

Saya baru tenang ketika pesawat mengangkasa. Sudah beberapa kali saya batal berangkat keluar negeri ketika persis berada di jalan masuk pesawat. Jadi ya, saya ada di sini sekarang benar-benar suatu keberuntungan. Selain itu saya tidak dihukum seperti Jafar. Walaupun sering dilarang keluar negeri untuk mengikuti aktivitas perfilman, tapi saya tidak dilarang membuat film dan juga tidak dilarang keluar dari Iran. Passport dan Visa saya berlaku dan legal.

(Mojtaba bukan orang baru dalam daftar hitam polisi Iran. Pada 2009 lalu misalnya, Mojtaba bersama artis Fatemah Moatamed-Arya, ‘dijemput’ di bandara oleh polisi intelijen ketika akan berangkat ke Amerika menghadiri petemuan di American Academy Of  Motion Picture Arts and Science. Mereka, termasuk Jafar Panahi, terkenal sangat aktif dalam ‘Green Movement’, gerakan hijau yang menuntut presiden Mahmoud Ahmadinejad turun dari kursi kepemimpinan. Sebulan kemudian, lagi-lagi Mojtaba dihentikan di depan pintu pesawat ketika akan berangkat menghadiri acara CPH DOX festival di Copenhagen.)

Di dalam In Film Nist, Anda bilang kepada Jafar bahwa Anda sedang mengerjakan proyek dokumenter Behind The Scene of Filmmaker Not Making Film. Apakah mengganti judul film ini dengan In Film Nist  (INI BUKAN FILM) untuk menghindari masalah hukum?

Bisa dibilang begitu. Saya memang sedang mengerjakan proyek dokumenter tentang para pekerja film Iran yang dihukum untuk tidak membuat film. Jafar adalah salah satu narasumber saya. Dari proyek saya inilah Jafar datang dengan ide yang menurut saya sangat lihai dan cerdik. Di satu pihak, kami bekerja sama membuat film ini, yang berarti nama Jafar berhak dicantumkan dalam film. Tapi di lain pihak, karena hukuman yang dijatuhkan padanya, film ini bisa memperberat hukumannya. Karena itulah kami memberi judul In Film Nist. Kalau ada tuntutan hukum, kami bisa bilang Ini Bukan Film.

Apakah bagian ini nantinya akan masuk dalam proyek dokumenter Anda?

Tidak. Akhirnya bagian Jafar Panahi ini berdiri sendiri. Jafar mengajukan idenya hingga film ini menjadi film tentang masalah yang sedang dihadapinya. Saya berharap proyek awal saya itu bisa selesai juga.

Bagaimana Anda bisa merahasiakan film ini  hingga selesai dan bisa sampai di Cannes?

Saya tidak akan menceritakannya dengan detail, tapi seperti di film-film detektif, kopi film ini dikirim memutar dari tangan ke tangan agar tidak mencurigakan.

Periode waktu dalam film ini, terlihat hanya satu hari, dari pagi sampai malam. Keputusan berdasarkan faktor hukum juga?

Kami berdua memutuskan seperti itu. Saat kami menonton kembali footage yang ada, kami merasa sudah tidak cukup menggambarkan secara umum apa yang terjadi pada Jafar. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan menonton TV, bermain dengan telepon genggam, dan menjaga iguana putrinya. Rasanya itu sudah cukup menggambarkan situasi Jafar saat ini dan bagaimana bosannya dia.

In Film Nist (sumber foto: www.festival-cannes.com)

Ada special appearance dari Iguana dan Anjing menjadi aktor pembantu. Selain ‘tukang sampah yang mengaku saudara penjaga gedung, karakter-karakter lain tersembunyi dari kamera dan muncul  dalam bentuk suara, baik di telepon maupun di belakang pintu.

Begitulah keseharian Jafar sejak menjalani hukuman. Iguana itu milik putri Jafar yang sekarang sedang belajar di Paris. Iguana ini sudah menjadi bagian dari keluarga sejak berumur baru beberapa hari. Selain itu, kami juga tidak mau melibatkan banyak orang karena pasti akan menimbulkan kecurigaan. Kami tidak mau orang-orang yang keluar masuk gedung melihat kamera yang sedang merekam.

Banyak kebetulan-kebetulan lucu yang mewarnai In Film Nist. Tetangga yang datang dengan anjingnya dan meminta Jafar untuk menjaga anjing itu satu dua jam hingga munculnya tukang sampah yang sedang mengumpulkan sampah dari lantai ke lantai gedug apartemen. Ini kebetulan yang disengaja?

Saya ingin mengumpamakannya seperti ini. Di musik kami, ada namanya improvisasi. Ada score yang jadi panduan para musisi tapi di saat yang sama, ketika tampil live mereka berimprovisasi sambil tetap mempertahankan score. Seperti pemain gitar dan pemain drum, yang memainkan alat musik mereka masing-masing, tapi mengomposisikan lagu yang sama. Situasi kami juga sama.

Saya lebih tertarik ke dokumenter, sementara Jafar lebih ke film fiksi. Jadi kami ingin menggabungkan latar belakang ketertarikan kami ini tanpa harus memberikan garis antara dokumenter dan nondokumenter. Garis itu tidak terlihat di film ini. Kami tidak punya skenario ketika mengerjakan proyek ini. Kami berimprovisasi karena kami menghadapi masalah yang sama, masalah mendasar, yaitu kebebasan membuat film. Hanya itu yang menjadi dasar dan titik tolak lahirnya film ini.

Dalam beberapa bagian di film ini, dalam batas tertentu, saya ingin mengarahkan film ini di jalur yang tepat. Tapi di saat yang sama, saya juga nyaris tidak melakukan apa-apa dalam konteks improvisasi Jafar,  karena pada akhirnya film ini mengalir sendiri tanpa ada instruksi khusus dari kami berdua. Bahkan non aktor, baik itu hewan, iguana dan anjing maupun orang yang masuk dalam film ini juga melakukan improvisasi tanpa skenario.

Sulitkah mengarahkan Jafar Panahi?

Tidak sulit, karena dia hanya menjadi diri sendiri dan dia tahu apa yang ingin dia lakukan. Yang sulit adalah ketika Jafar lupa diri sebagai aktor dan ingin mengambil alih peran di belakang kamera. Hahahaha. Dia kadang tidak sadar, dia sedang dihukum untuk tidak membuat film.

Di dalam film, Anda berdua saling memfilmkan. Anda dengan kamera Anda, dan Jafar dengan blackberry-nya.  Apakah adegan ini tidak membahayakan status hukum Jafar?

Dengan membuat film ini saja, status hukum kami berdua sedang dipertaruhkan. Tapi sekali lagi, kami siap dengan antisipasi. Dalam film itu, ketika Jafar mengarahkan kamera handphone-nya kepada saya, dia kan bilang bahwa dia bosan dan tidak ada salahnya menggunakan handphone, toh ini bukan film (tapi, rekaman dalam handphone).

Ketika kamera berbalik, menampilkan hasil rekaman Jafar di handphone dan posisi Anda kemudian menjadi aktor di depan kamera, Anda bilang, “Rekam saja, siapa tahu saya ditangkap nanti”. Itu salah satu antisipasi atau provokasi terhadap pemerintah Iran? Bagaimana tanggapan pemerintah dengan film ini dan bagaimana nasib Anda berdua kelak?

(Mojtaba angkat bahu). Lebih tepat disebut sebagai bentuk kekhawatiran sebetulnya;  Sampai sekarang saya tidak punya petunjuk sama sekali bagaimana nanti reaksi pemerintah. Tapi saya ingin menunjukkan, bahwa sebagai pembuat film dokumenter, saya berhak mendokumentasikan apa pun yang terjadi di Iran. Membuat film ini adalah hak saya. Kalaupun nanti ada sanksi hukum, Jafar bisa mengelak bahwa dia menjadi aktor di film ini, dan menjadi aktor tidak termasuk dalam hukumannya. Kalau nanti saya diberi sanksi, saya akan bilang, Ini Bukan Film.

Asmayani Kusrini

Rini pernah bekerja sebagai wartawan majalah berita mingguan Gatra selama 6 tahun sebelum kemudian bekerja sebagai penulis pada program dokumenter Saksi Hidup di TV7. Lalu ia sempat magang di Deutsche Welle, Bonn, Jerman. Kini Rini tinggal di Brussel, Belgia dan bekerja sebagai koresponden majalah berita mingguan Tempo. Rini banyak melakukan peliputan berbagai festival film, terutama di Eropa.

1 KOMENTAR

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808