
Marjane Satrapi
“Berhentilah bertanya soal itu!” dan wajah Marjane Satrapi langsung berubah. Dia pasang mimik enggan menjawab. Tapi mungkin perempuan berusia 38 tahun itu sadar, suka atau tidak puluhan wartawan yang berkumpul di ruang konferensi pers Palais Du Festival, Cannes menunggu jawabannya. Maka Dengan suara tenang, dalam bahasa Perancis yang lancar Marjane Satrapi pun memberi jawaban.
“Surat yang disampaikan oleh sebuah organisasi film di Iran kepada kedutaan Perancis memang benar. Isinya mengeluhkan keputusan Cannes memutar Persepolis, karena katanya film saya itu menampilkan gambaran yang mengganggu tentang revolusi Islam di Iran. Tapi itu bukan masalah besar. Yang membuatnya jadi masalah adalah perhatian media yang berlebihan. Jadi tolonglah, jangan ada lagi pertanyaan soal surat itu.” Usai melontarkan jawaban, perempuan kelahiran Iran itu pun terlihat berseri kembali. Apalagi, para crew yang duduk mendampinginya – termasuk Vincent Paronnaud, komikus yang juga menyutradarai Persepolis – saling memberi komentar menyejukkan.
Peringatan Satrapi itu, jadi awal yang bagus buat reporter seperti saya agar kelak tidak bertanya soal itu. Maklum, Marjane sudah berjanji menyediakan waktu untuk diwawancarai oleh wartawan yang berminat tahu lebih jauh tentang Persepolis — film yang diadaptasi dari komik grafisnya –. Dan sekretaris Satrapi pun mengaku sudah memasukkan saya dalam daftar wartawan itu. Tapi akhirnya kesempatan berbincang dengan Satrapi datang justru tidak melalui sekretaris banyak janji itu.
Pada malam penganugerahan hadiah Festival Cannes ke 60, Persepolis yang disutradarai Marjane Satrapi dan Vincent Paronnaud meraih Prix Du Jury Cannes 2007. Dan dari layar raksasa yang dipajang hampir disetiap sudut venue, terlihat Satrapi meneteskan airmata. Segala kekesalan karena berita tentang ‘surat’ protes itu langsung lenyap. Setelah itu, Marjane dan Vincent melenggang masuk ke ruang pers yang makin sepi karena banyak wartawan memilih pulang sebelum acara puncak. Hanya wartawan kantor berita asing atau reporter penasaran seperti saya yang masih tinggal.
Meski di jaga ketat oleh sejumlah pria berotot, Satrapi ditemani Paronnaud langsung setuju ketika saya ajak untuk sedikit menjauh dari pusat ruang pers, duduk di kursi empuk ruang tamu berwarna putih itu. Di sudut lain terlihat Julian Schanbel (sutradara terbaik) juga sudah ‘dibajak’ seorang wartawan, juga Jeon Do Yeon (artis terbaik). Sementara sutradara wanita Jepang Naomi Kawase terlihat sedang dikerubuti wartawan-wartawan berwajah asia.
Namun, kesempatan berbincang dengan Marjane Satrapi membuat saya tidak lagi ingat peringatan yang dilontarkan Satrapi di konferensi pers beberapa hari sebelumnya;
Apakah pemberitaan media tentang Persepolis yang bikin kesal pemerintah Iran membuat Anda merasa dalam bahaya?
Tidak. Kenapa saya harus merasa dalam bahaya. Saya sudah bilang, itu bukan masalah. Ini bukan hal besar. Seseorang yang sedang mulai perang. Mereka memang menulis surat. Tapi itu bukan apa-apa. Bukan masalah besar. Satu-satunya yang membuatnya jadi masalah besar adalah perhatian media yang berlebihan. Kalau kalian terusmembuatnya terlihat besar dari yang seharusnya, maka kalian yang membuat saya dalam bahaya.
(Oh untunglah, Satrapi bisa berbahasa Inggris dengan sempurna. Pengisi suara Marjane, sang tokoh utama, dalam versi asli berbahasa Perancis adalah ChiaraMastroianni –putri Catherine Deneuve–, sedangkan versi Inggrisnya akan diisi sendiri oleh Satrapi)
Tapi tidak bisa dipungkiri, Persepolis memang kental dengan latar politik?
Orang bisa berpendapat seperti itu. Tapi ayolah, kita bicara soal film. Bukan politik. Kalaupun ada yang saya inginkan dari film ini — yang disangkut pautkan dengan politik — adalah agar film ini bisa jadi inspirasi bagi remaja-remaja yang tumbuh dalam situasi politik yang tidak menentu. Situasi politik seharusnya tidak bisa mengubah mereka dari menjadi diri sendiri.
Saya membuat Persepolis tidak dalam frame atau orientasi politik, apalagi menyusupinya dengan pesan untuk menjual. Di film ini saya tidak membuat statemen ‘benar atau salah’. Persepolis membeberkan segala macam situasi dalam berbagai lapisan yang dihadapi oleh tokoh utamanya. Dan yang lebih penting lagi, saya membuat film ini untuk menunjukkan bahwa saya sangat mencintai keluarga saya.
(Persepolis adalah film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama. Persepolis 1 terbitan 2000 dan Persepolis 2, 3 dan 4 yang terbit sepanjang 2001. Satrapi menggunakan gaya komik sederhana dan hitam putih untuk menceritakan bagaimana ia tumbuh dimasa Iran sedang bergolak; Hidup Marjane dalam komik –orang tua yang melek politik, bergaya cosmopolitan, obsesinya terhadap musik rock punk, pencarian jati diri—adalah tipikal kehidupan anak kota yang bisa kita temui dimana saja.
Di layar lebar, Persepolis tidak jauh berbeda dari versi komiknya. Persepolis tetap sangat personal meski berlatar revolusi Islam di Iran. Persepolis menampilkan bagaimana Marjane remaja dikirim orang tuanya ke Vienna di usia 13 tahun untuk mendapatkan pendidikan yang baik, yang sulit didapat di Iran pada masa itu. Tapi sebagai remaja yang hidup bebas sendiri di negeri barat, tanpa pengawasan orang tua, Marjane remaja sempat kehilangan jati diri. Ikut arus pergaulan bebas, drugs, dll)
Bagaimana ceritanya sehingga anda kemudian bekerjasama dengan komikus Perancis untuk menggarap film ini?
Ceritanya panjang. Tapi saya sebelumnya sudah lebih dulu mengenal karya Vincent. Saya melihat hasil karyanya yang menurut saya sangat orisinil. Saya juga menonton dua flm animasi pendek yang pernah dibuatnya. Waktu itu, saya sudah langsung berpikir, kalau nanti saya akan membuat film, saya harus bisa mengajaknya bekerja sama.
(Sepanjang wawancara, Marjane Satrapi dan Vincent Paronnaud terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang mabuk kepayang. Saling memandang. Saling memuji. Saling mengelus tangan dan punggung. Mereka terlihat sangat berbahagia. Tapi, saya harus menahan diri untuk tidak bertanya soal pribadi)
Anda membuat novel grafis ini sendiri. Apakah ada kesulitan ketika harus bekerja sama dengan orang lain?
Saya dan Vincent memang punya gaya yang berbeda dalam membuat komik tapi entah kenapa kami bisa bekerja sama dengan sangat baik. Bahkan, saya bisa bilang, karena bekerja sama dengan Vincent lah maka Persepolis bisa menjadi sebuah karya film seperti yang sudah anda tonton.
Saya sudah menyelesaikan novel grafis Persepolis sejak empat tahun lalu. Novel itu juga sudah diadaptasi dalam bahasa Inggris dan sampai di Amerika. Ketika itu, datang tawaran untuk membuatnya jadi serial TV. Bahkan ada yang menawari untuk membuat film yang akan dibintangi oleh Jennifer Lopez sebagai ibu dan Brad Pitt sebagai bapak saya. Tapi saya tidak bisa membayangkan kalau Persepolis akan dimainkan oleh manusia. Saya ingin tetap dalam bentuk animasi. Saat itulah saya sadar, kalau saya ingin membuat film, saya tidak akan sanggup membuatnya sendiri. Dan hanya dengan Vincent lah semuanya bisa selesai seperti yang saya inginkan.
(Harus diakui, kerjasama mereka membuat Persepolis menjadi film yang bagus. Mereka berdua bisa merangkum buku Persepolis 1, 2, 3 dan 4 dalam durasi 1 jam 35 menit dan tidak kehilangan inti cerita, sisi artistic yang unik, susunan cerita yang padat berisi, dan yang lebih penting sisi personal yang tetap kental meski dikerjakan oleh dua orang yang datang dari latar belakang dan budaya yang berbeda)

Kami bekerja menyelesaikan skenarionya selama tiga bulan. Itu masa-masa yang tidak saja sulit tapi juga menghebohkan. Sejak awal saya sangat menyukai Persepolis. Novel itu tidak seperti dalam bayangan saya sebelumnya. Sebelum bertemu Marjane saya pikir gambarnya pasti sangat girly dan ceritanya pun pasti sentimentil. Tapi ketika saya melihat Persepolis, saya terpaksa harus mengakui, Marjane punya gaya menggambar komik yang tidak biasa dan cerita Persepolis sendiri tidaklah cengeng seperti yang saya duga.
(Vincent Parronnaud, dengan nama pena Winshluss adalah komikus underground yang lahir di La Rochelle, Perancis pada 1970. Pria kurus ini dua kali masuk nominasi di Angouleme Comic Book Festival untuk komiknya Smart Monkey(2004) dan Wizz and Buzz (2007). Bersama koleganya Cizo, Vincent pernah membuat dua film pendek animasi O’Boy What Nice Legs dan Raging Blues)
(Untuk Vincent): Apakah anda menemui kesulitan ketika harus menghadapi Marjane dan karakter Marjane di film ?
Memasuki wilayah kerja seseorang tentu saja sangat sulit apalagi saya juga harus memasuki wilayah kehidupannya. Lebih sulit lagi karena dia orang yang saya kenal baik dan orang yang saya cintai. Selama bekerja sama, kami harus saling bahu membahu untuk tetap menjaga semangat kami agar tidak kendur. Untungnya Marjane sangat antusias dengan proyek ini dan dia membuat saya akhirnya terlibat secara emosi dengan Persepolis.
(Aha…tadi dia bilang, and I love her. Bahasa tubuh mereka ternyata gampang terbaca. Oh, tapi saya bertahan untuk tidak bertanya soal itu. Dan pria berotot yang menjaga disetiap sudut itu mulai terlihat gelisah, saling memberi kode. Di sudut lain Julian Schnabel terlihat sudah mengakhiri wawancaranya. Seseorang datang memberi kode kepada Marjane dan Vincent)
Pertanyaan terakhir, Anda berniat kembali ke Iran?
Saya selalu merindukan Iran, tapi saya punya kehidupan yang saya dambakan di Perancis (Satrapi menetap di Perancis sejak 1994). Kebebasan berekspresi yang saya inginkan tidak bisa saya dapatkan di Iran. Saya tinggal di Paris, salah satu kota terindah di dunia, dengan pria yang saya cintai, mengerjakan pekerjaan yang saya sukai bahkan saya dibayar untuk itu. Sekarang saya memilih untuk menjadi manusia internasional. Manusia global.
(Pembicaraan terpaksa berakhir. Thierry Fremaux, art director festival film Cannes mengajak mereka untuk bergabung dengan yang lain di acara eksklusif penutupan festival. Satrapi rupanya melihat, saya masih ingin bertanya lebih banyak. Dia bilang: “kalau ada waktu anda bisa berkunjung ke studio say, Atelier des Vosges di Paris. Mungkin kita bisa ngobrol lebih banyak”. Saya tentu akan mengingat pesan yang ini).












