
Ho Yuhang
Di Jogjakarta Asian Film Festifal, film sutradara Malaysia Ho Yuhang berjudul Tai Yang Hue, atau Rain Dogs, memperoleh kehormatan untuk menjadi film penutup. Terdidik sebagai insinyur, Yuhang mengejutkan banyak orang terdekatnya ketika ia memutuskan berpindah karier dengan menulis dan menyutradarai sendiri filmnya.
Awalnya, Yuhang belajar film dengan bekerja di industri iklan televisi. Salah satu karya pertamanya Semangat Insan: masters of Tradition memenangi Malaysian Video Award 2001. Sejak itu ia mulai menyutradarai beberapa film pendek dan dokumenter, dan sukses diundang ke berbagai festival film seperti di Tampere (Finlandia), Singapura, manila dan sebagainya.
Film televisi pertama Yuhang, Min tercatat memenangi special Jury prize di Nantes Festival of 3 Continents 2003 di Perancis. Sedangkan Feature film pertamanya Sanctuary, gagal memenangi New Currets Award di Pusan International Film Festival 2004. Film yang sama juga gagal memperoleh Tiger Award dan Netpac Award di Rotterdam International Film Festival 2005.
Dalam berbagai festival film Internasional, Yuhang dikenal sebagai salah satu dari generasi baru perfilman Malaysia. Yuhang pun kemudian hampir selalu disebut dalam satu nafas dengan Tan Chui Mui (Love Conquers All) James Lee (My Beautiful Washing Machine, When we Falling Love Again), Amir Muhammad (Lelaki Komunis Terakhir, Big Durian), Yasmin Ahmad (Sepet, Gubra, Muhsin) Deepak Kumaran Menon (Chemman Chaalai) dan beberapa nama lain.
Beberapa tahun terakhir, kumpulan sutradara baru Malaysia ini benar-benar menarik perhatian kalangan perfilman dunia. Film-film mereka diundang berkeliling ke berbagai festival film terkemuka dunia. Sebagian film-film itu malah sukses memenangi penghargaan penting di festival-festival itu. Love Conquers All misalnya memenangi penghargaan Film Asia Terbaik di Pusan Film Festival 2006. Setahun sebelumnya, film Yasmin Ahmad terpilih sebagai Film Asia Terbaik di Tokyo International Film Festival.
Generasi baru sineas Malaysia ini punya cara bekerja, cara melihat dan menafsir kenyataan yang berbeda dengan generasi sineas Malaysia sebelumnya. Mereka misalnya, tak ragu membuat film yang sepenuhnya berbahasa Cina, atau keberanian mereka untuk sepenuhnya membuat film digital berbudget kecil.
Mereka juga bekerja dengan sangat erat. Dalam Love Conquers All, cerita yang ditulis oleh Tan Chui Mui misalnya, James Lee menjadi penata kamera, Ho Yuhang menjadi editor dan Amir Muhammad berperan sebagai produser. Dalam film Yuhang Rain Dogs, juga bisa kita saksikan bagaimana Yasmin ahmad berperan sebagai salah satu karakter utama. Di film lain, peran-peran kreatif ini seolah digilir berganti-ganti diantara mereka.
Berikut petikan percakapan Krisnadi Yuliawan dan Ekky Imanjaya dengan Yuhang, di tengah-tengah kesibukannya di JogJakarta Asian Film Festifal (JAFF) 2007:
Film James Lee, When We Falling Love Again, baru saja menang Film Asia Terbaik di Bangkok Internasional Film Festival. Seringkali, setiap kali menyebut nama James Lee, orang juga harus menyebut nama Anda, Tan Chui Mui, dan juga Amir Muhammad. Kalian berteman dekat, dan memulai membuat film bersama-sama. Sebagian film malah kalian buat bersama-sama. Kalian, sebagai kelompok, sering disebut sebagai gerakan baru dalam perfilman Malaysia. Apakah kalian memang merasa sedang membuat gerakan?
Tidak. Kami cuma bekerja dan berbuat. Gerakan, atau movement, atau apapun istilahnya adalah sesuatu yang ditulis oleh para jurnalis. Saya pikir para jurnalis itu melihat suatu fenomena lalu mencoba menafsirkannya. Pada satu sisi, kami semua memang menghasilkan karya-karya baru, dan karya-karya itu kebetulan menjadi perhatian dari berbagai film festival. Setelah itu makin banyak orang menulis tentang kami. Para jurnalis ini boleh jadi merasa bahwa selama ini sinema Malaysia, termasuk yang mainstream, belum beranjak jauh, lalu tiba-tiba saja muncul sekelompok orang entah darimana yang memiliki ekspresi sangat berbeda dalam film-filmnya. Jadi, bagi mereka, kami ini seperti sebuah fenomena, mulailah mereka menulis dan menyebut kami sebagai a new wave, atau new movement. Tapi kami ini tidaklah terdiri dari banyak orang untuk bisa menciptakan sebuah gelombang baru, sama sekali tidak seperti new wave Perancis.
Jadi sebenarnya ada berapa orang filmmaker di lingkar pertemanan Anda ini?
Sebenarnya kami bekerja sama sebagai bentuk pertemanan. Kami sama sekali tidak pernah secara sadar menyebut diri sebagai new wave atau gerakan. Kami tidak banyak, mungkin hanya sepuluh-lima belas orang.
Kalau tidak merasa sebagai sebuah gerakan, lalu bagaimana Anda dan teman-teman memandang kelompok ini?
Kami Independen. Bahkan kami pun saling independen satu sama lain. Seperti saat ini, saya sedang berencana membuat film, James Lee juga membuat filmnya sendiri. Tapi memang, setiap kali kami membuat karya, kami akan meminta pendapat yang lain. Kemarin, seorang sutradara baru yang juga teman kami menggarap film yang akan diputar di Pusan Film festival. Ketika menyelesaikan filmnya ia menelpon kami “bisakah datang dan beri masukan?”. Maka kami pun datang dan menonton film itu. Biasanya kami berkomentar seperti “ah film ini terlalu panjang, menurut saya kamu bisa melakukan editing di bagian ini dan ini”. Hal-hal seperti itulah.
Dan biasanya, komentar-komentar dalam diskusi internal ini didengar?
Ya, ya. Biasanya komentar-komentar itu dihargai. Tentu saja saya misalnya, tak merasa bahwa apa yang saya katakan selalu benar, tapi saya hanya mencoba mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Sebaliknya, kalau giliran saya yang membuat film, semua juga boleh memberi masukan.
Menurut Anda, sebenarnya apa yang benar-benar membedakan Anda, dan kelompok Anda ini, dengan sutradara-sutradara Malaysia lain?
Saya pikir kami membuat film yang memang berbeda. Kami terobsesi pada hal-hal yang berbeda. Lihat saja Amir Muhammad, kita harus mengerti bahwa Amir terdidik sebagai lawyer. Dia biasa menulis kolom untuk suratkabar. Kolom-kolomnya sangat lucu. Jadi film-film Amir merefleksikan kepribadiandan tulisan-tulisannya. Bahkan, menurut saya, film-film Amir sangat mirip kolom-kolomnya, cuma kali ini memakai gambar. Sementara film-film Tan Chui Mui biasanya berbicara tentang hubungan, a very sensitive kind of male-female relationships. Film James Lee juga punya tema yang sama, tapi film James sedikit aneh, weird, seolah science-fiction namun bicara tentang hubungan modern antar manusia dengan cara yang absurd. Adapun film-film saya, saya pikir makin kesini makin berbicara di seputar kekerasan dan agitasi, juga tentang manusia yang tiba-tiba saja diletakkan dalam sebuah lingkungan baru, dimana ia tak kunjung menemukan jalan untuk keluar dari situ. Ya, itulah tema film-film saya.
Untuk Anda, apakah anda merasa benar-benar memetik pelajaran dari sutradara-sutradara lain? Kalau harus memilih, siapa sutradara yang paling mempengaruhi anda?
Tentu saja. Saya kira setiap sutradara akan menempuh fase-fase penciptaan tertentu. Saya menonton semua film Eropa dan Jepang yang saya sukai. Film dari master-master seperti sutradara Jepang Naruse, Ozu, dan tentu saja Misoguchi. Saya juga sangat suka film bisu, benar-benar suka.
Tapi, terlihat juga ada pengaruh Tsai Min Liang di film-film anda?
Ya, tapi setiap film yang gambarnya tak bergerak dalam waktu cukup lama pasti akan mirip film-film Tsai Min Liang. Tapi sebenarnya, saya sama sekali tak merasa terpengaruh Tsai Min Liang. Setidaknya tidak terlalu. Mungkin saya lebih terpengaruh Hsou Sia Hsien daripada Tsai Min Liang. Tapi makin kesini, saya sepertinya makin terpengaruh film noir, juga film-filmnya Fritz Lang. Saya juga sangat suka cartoon. Saya memang suka banyak hal. Banyak pengaruh juga saya dapatkan dari membaca.
Anda seorang insinyur, bagaimana ceritanya anda akhirnya memutuskan berkarier sebagai sutradara?
Saya insinyur, tapi saya memutuskan berhenti dari pekerjaan dan bilang pada diri sendiri “oke, saya ingin membuat film”. Saat itu saya benar-benar give up everything. Buat saya ini perjudian, dan saya pikir kalau mau berjudi kita harus mau habis-habisan kalau ingin menang. Film selalu menjadi passion saya, dan insting saya bilang saya bisa melakukannya. Saya mulai dengan bekerja di industri iklan TV. Ini semacam training buat saya, karena jika ingin membuat film saya perlu tahu hal-hal tehnis: apa itu kamera? Apa itu lighting? Apa saja tipe-tipe system produksi? Dan sebagainya. Beberapa tahun setelah itu saya menjadi asisten sutradara, lalu memutuskan berhenti. Sekarang, saya rasa hidup saya lebih menarik, karena saya bekerja seperti seorang penulis. Setiap hari, jika saya sedang ingin, saya berangkat bekerja, datang ke kantor, duduk dan mulai memikirkan cerita, lalu menuliskannya. Saya sangat suka cara hidup begini.
Sekarang, berapa lama Anda menyelesaikan sebuah skenario?
Beberapa cukup cepat, tiga atau empat bulan. Beberapa bahkan selesai dalam dua bulan, tapi kemudian saya membutuhkan empat bulan untuk re-write. Saat ini, saya sedang menyelesaikan dua skenario. Yang satu cukup a lot, jadi perlu waktu agak lama. Yang satu, boleh dibilang sudah selesai.
Dari sudut estetik, apakah Amir, Tan Chui Mui, James Lee dan teman-teman yang lain cukup memberi pengaruh pada film-film Anda?
Itulah mengapa kini saatnya untuk berpindah. Selalu ada sedikit bahaya, karena kami semua suka banyak hal yang sama. Dan layaknya filmmaker muda, kami pun mengkopi. Semua sutradara muda akan memasuki fase meniru sutradara tertentu yang ia suka. Saya kira, sekarang saya dan kawan-kawan beranjak dari fase ini. Setelah beberapa waktu, kami bertumbuh lebih matang.
Apa ini artinya Anda selaku pribadi kini memelihara jarak dari Tan Cui Mui, dari Amir Muhammad, dari teman-teman?
Tidak, tidak, tidak seperti itu. Saya cuma bilang itu dalam urusan pekerjaan, bukan dalam hal pertemanan. Saya selalu tahu bahwa merekalah sahabat-sahabat saya.
Sekali lagi, apakah anda merasa punya semacam gerakan estetika atau storytelling style tersendiri?
Tidak, Saya pikir makin kesini saya makin kembali ke dasar, seperti film lama. Maksudnya kembali menjadi sangat efektif, how to be very pecise. Tapi itu saya, saya tak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain. Saya pikir pelan-pelan mereka juga melakukan eksperimen. Seperti (Tan Chui) Mui, meski saat ini saya tak tahu arah mana yang ia tuju. James Lee sekarang ini sedang syuting film horror komersial. Saya piker ini bagus, karena menurut saya ia memang harus mencoba sesuatu yang berbeda. Seperti perjalanan ziarah, atau liburan, kita harus pergi ke suatu tempat jika ingin kembali fresh.
Jadi anda merasa sangat berubah sekarang?
Ya. Saya piker tulisan saya sekarang ini berada pada fase kedua. Sebelum ini saya baru masuk fase satu. Seperti pekerjaan membangun rumah, saya sudah membangun rumah, tapi merasa rumah itu tak begitu bagus sekarang jadi saya memutuskan membangun rumah lain dengan fondasi lebih baik. Jendela-jendela rumah itu juga kini berbeda. Kalau anda bertanya tentang estetika, saya pikir saya sedang mengalami pengalaman estetik yang lebih baru dalam film-film baru saya.
Jadi, kalau harus diucapkan, apa sih estetika baru dari film-film anda sekarang? Apa bedanya dengan estetika anda yang lama?
Saya pikir film-film saya sekarang lebih langsung, lebih precise.
Apa itu berarti akan menjadi lebih komersial?
Tidak. Saya kira hanya akan menjadi lebih accessible. Saya tak akan pernah bilang bahwa film-film saya berikutnya akan mengandung semua elemen komersial, justru karena saya tahu benar bagaimana cara menjadi komersial. Saya bekerja pada industri iklan sebelumnya, saya tahu aturan mainnya.
Memenangi beberapa award, diundang ke berbagai festival film, apakah hal-hal itu mempengaruhi hidup anda?
Sama sekali tidak. Sungguh, saya nggak merasakan apapun. Terakhir menang, saya nggak merasakan apapun. Oke, menang itu menyenangkan, tapi buat saya itu tak berarti karya saya sudah luar biasa. Saya piker saya sangat self critical. Saya bukan orang yang self-satisfying. I push myself very hard.
Apakah anda merasa film-film Malaysia kini memang maju pesat?
Jika anda bicara mengenai film-film mainstream, film Malaysia tak banyak berbeda dibanding film-film Indonesia. Saya pikir Indonesia juga membuat film-film yang sejenis, hanya saja dalam hal kualitas produksi film-film Malaysia jelas lebih buruk. I think we just stupid, pembuat film Malaysia tak terlalu peduli pada kualitas produksi.
Tapi itu jika kita bicara soal film komersial Malaysia
Ya, untuk film-film komersial kami punya sutradara-sutradara yang sungguh buruk. Dibanding film Indonesia, sutradara film komersial Malaysia buruk. Sungguh. Lihat saja film Indonesia yang paling laku seperti Ada Apa dengan Cinta, production value-nya benar benar tinggi, disyut dengan sangat baik, dan punya scenario yang menyedot perhatian anak-anak muda. Its like wow! Dan semua orang pun suka. Bahkan di Malaysia film ini meraih uang banyak karena anak muda Malaysia pun suka. Suka para pemainnya, suka the looks of the film.
Tapi, untuk film non-komersial saat ini Malaysia jauh lebih dikenal di dunia internasional dibanding film Indonesia?
Tapi itu tak berarti film-film kami lantas meraih banyak penonton. Ini fakta. Saya tahu, Mas Garin Nugroho juga mengalami hal yang sama di sini. Perfilman kami sangat terbelah. Kami memang diundang ke berbagai film festival, tapi film festival itu hanya berlangsung dalam jangka waktu yang sangat pendek. Screening di festival-festival itu juga terbatas. Banyak orang sengaja datang ke festival untuk menonton film kami karena di luar festival mereka tak mungkin melihatnya. Jadi, di festival anda akan memperoleh banyak penonton, dan itu bagus. Tapi ketika anda bicara soal distribusi komersial , itu soal lain.
Tapi, memenangi penghargaan jelas membantu..
Ya, meraih penghargaan membuat orang mengenal nama kita. Ini jelas bagus, karena membuat mereka ingin tahu. Tapi, sekali anda berhasil membuat publik igin tahu, selanjutnya anda harus memberi mereka sesuatu. Maka saya pikir kami tak boleh cepat puas. Saya benar-benar berupaya melecut diri untuk film saya yang akan datang, yang saya tahu akan menuju arah yang berbeda. Saya benar-benar ingin setiap film saya berbeda. Saya bukan orang yang sabar, jadi kalau saya tak suka sesuatu, saya akan segera berpindah melakukan hal lain.
Anda punya target personal, ingin membuat satu atau dua film setahun setidaknya?
Mungkin tidak. Tahun depan ada kemungkinan saya membuat dua film. Tapi, saya belum membuat satu filmpun dua tahun belakangan. Buat saya, bisa membuat satu film setahun sudah sangat bagus.
Di Yogya, anda berbicara dalam seminar membuat film digital “low budget high quality”. Aakah sekarang anda merasa lebih menyukai digital?
Saya tak punya masalah. Saya membuat film dengan dua medium itu, digital dan film. Sesekali saya memang sengaja menulis cerita yang sesuai dengan salah satu medium. Karena sesekali digital tak terlalu bagus untuk sinar matahari langsung karena kontrasnya terlalu tinggi. Tapi saya rasa semua bisa ditangani.
Dalam tulisannya, Garin Nugroho menyebut pilihan Anda dan kawan-kawan untuk membuat film digital di Malaysia adalah revolusi. Anda setuju?
Di satu sisi, saya pikir Garin benar, karena menggunakan digital memang serba convenient. Jika memilih digital, kadang hanya dengan bermodal software bajakan seseorang bisa mengedit film-fillmnya dengan sangat mudah. Jadi di satu sisi, digital itu sangat demokratis. Tapi, saya harap, hanya karena sangat murah, digital janganlah kita anggap sesuatu yang paling baik di bawah matahari. Para filmmaker harus berkonsentrasi pada karya. Karya akhirnya yang harus bagus, apapun mediumnya. Jadi jangan berpikir, karena digital murah, maka saya bisa membuat film. Karena sekali kita berpikir begitu, biaya murah dan kemudahan itu hanya akan jadi alas an. Kalau karya akhirnya tak baik, mereka akan bilang “Ya kan karena ini film murah, karena digital”. Jadi, buat saya, sama sekali bukan masalah kalau satu ketika seseorang merasa memang perlu membuat karya dengan seluloid yang mahal, karena ini juga sebuah keasyikan tersendiri. Bukankah ada banyak film-film bagus yang bagus yang memang berbiaya mahal. Dan saya juga suka beberapa film komersial berbiaya mahal itu. Buat saya, pertanyaan akhirnya adalah apakah sebuah karya itu bagus? Apakah karya iu membuat saya tersentuh? Kalau tidak, ya film itu bullshit. Tak peduli apakah film itu digarap dengan biaya jutaan dollar atau dibuat dengan sepuluh ribu dollar, if it is a shit, it’s a shit.
Saya ingin komentar anda pada beberapa film di JAFF ini. Sempatkah Anda menonton banyak film?
Sayangnya tidak. Kalau sedang tak memberi seminar, saya sibuk berkunjung ke Borobudur, juga keliling Jogja.
Tapi, saya lihat baru saja anda ikut menonton Kala. Bagaimana film Indonesia yang satu ini menurut anda?
Menurut saya aktor-aktornya terlihat aneh, itu saja.
Aneh bagaimana maksud anda?
Akting mereka. Tapi, ini mungkin karena kastingnya yang juga sedikit aneh. Saya sudah lihat film Joko sebelumnya, Janji Joni, dan saya suka. Saya lebih suka Janji Joni daripada Kala. Tapi saya juga tahu, menulis film seperti Kala sangat sulit. Ia sebuah genre tersendiri. Buat saya, endingnya yang berakhir terlalu conveniently. Tapi sekali lagi, sangat sulit menulis jenis film noir seperti ini. Saya ini penggemar film noir dan saya tahu estetika film noir. Saya ini jatuh cinta pada film noir. Bahkan, saya juga punya satu cerita yang sangat noir. Kisahnya juga tentang korupsi. Ini Asia Tenggara, jadi mestilah korup dan kotor, hahaha. Film saya itu juga bakal penuh kekerasan. Tapi, bicara Kala, semua orang akan bisa lihat betapa tinggi production value-nya. Di Malaysia, kami tak punya film sejenis ini. Kita bisa lihat bahwa Joko benar-benar memperhatikan detil dan produksi. Saya tak tersentuh, tapi saya juga tak bilang ini film jelek. Masalah besar perfilman Malaysia adalah kualitas produksinya yang rendah. Jadi kalau kita menonton di bioskop, sudah membayar mahal, tapi yang mereka pertontonkan cuma sampah.
Tapi, dari sudut produksi, kebanyakan film komersial Indonesia juga tak sebagus Kala.
Saya tahu. Tapi, saya menemukan beberapa film komersial Indonesia yang sangat bagus kualitasnya. Saya ini fans film-filmnya Riri Riza. Buat saya pribadi, Eliana, Eliana itu great film. Dan lihatlah, Eliana bukanlah film yang mahal. Saya juga melihat banyak karya Mas Garin. Beberapa karyanya juga bukan karya yang mahal, tapi ekspresinya, juga apa yang hendak ia katakan adalah sesuatu yang tak dimiliki film-film Malaysia. Jadi ketika orang-orang di Indonesia menyebut-nyebut bahwa revolusi film digital Malaysia ini hebat, saya merasa sedikit malu, karena kalian membuat film-film yang jauh lebih bagus dari kami. Bahkan cerita seperti Kala, pada dasarnya berbicara soal politik dengan cara yang sangat menarik. Dan kalian bisa melakukan ini. Di negeri kami, hal-hal semacam itu sama sekali nggak punya tempat dalam film, karena berbahaya.
Seandainya punya kesempatan bekerja dengan filmmaker Indonesia, siapa yang anda pilih?
Saya akan sangat senang jika bisa bekerja sama dengan Riri. Karena saya bisa melihat sensibilitasnya dalam film-filmnya. Sepertinya kami bicara dengan vibrasi dan frekuensi yang sama. Saya sangat suka semua karya Mas Garin, tapi apa yang kami ingin lakukan sepertinya berbeda, karena ketertarikannya sedikit berbeda dengan saya. Dengan Riri, akan menjadi sangat menarik untuk melihat apa yang dia pikirkan.
Pertanyaan terakhir, menurut anda sepenting apa sih kritik film untuk sebuah gerakan film?
Saya piker mereka punya peran. Tetapi kebanyakan kritikus di Malaysia, mereka sekadar menulis seperti menulis press kit. Mereka sama sekali tak menulis kritik. Apa yang mereka tulis cuma sekadar “oh, film ini asyik”, atau “spesial efeknya benar-benar bagus”, seperti itulah. Saya muak dengan kritik semacam ini. It is really stupid. Hampir semua kritikus film di Malaysia menulis dengan gaya semacam itu. Dan itu sangat membosankan. Yang saya ingin adalah kritik yang membuat publik mengerti aspek tertentu dalam film, sesuatu yang belum dilihat, atau lalai diperhatikan orang lain.












