Catatan VI Festival Film Cannes ke-64: Gong Perang Dingin Rasoulof-Panahi versus Pemerintah Iran(0)

Bé Omid E Didar (Goodbye)

Dengan suara yang terdengar tegar, Rosita Rasoulof mengucapkan, ‘Salam’. Di depan penonton yang memenuhi Salle Debussy, sabtu 14 Mei lalu, Rosita bicara atas nama suaminya, Mohammad Rasoulof, yang saat ini sedang dalam proses banding atas hukuman enam tahun penjara dan 20 tahun larangan bekerja yang dijatuhkan pemerintah Iran.

Beberapa hari sebelum Cannes dimulai, Rasoulof dikabarkan akan datang menghadiri pemutaran film perdananya, Bé Omid E Didar (Goodbye), yang masuk seleksi di program Un Certain Regard yang jurinya diketuai Emir Kusturica, sutradara Serbia yang juga terkenal karena film-film bertema politiknya.

Thierry Fremaux, direktur Festival Film Cannes bahkan berjanji jika Mohammad Rasoulof bisa sampai di Cannes, maka festival tersebut akan menyediakan teater dan memutar lagi film Bé Omid E Didar. Namun menurut Rosita, harapan itu akhirnya pudar ketika sampai hari ini, SELENGKAPNYA »

Catatan V Festival Film Cannes ke-64: Kabar Visual dari Jafar – Wawancara dengan Mojtaba Mirtahmasb, co-director “In Film Nist”(1)
Oleh Asmayani Kusrini | 22.05.2011| Wawancara

Salah satu kegiatan Jafar Panahi selama menunggu keputusan bandingnya adalah menjaga iguana. Putrinya yang sedang belajar di Paris sering menelpon, mengingatkan Jafar untuk tak lupa memberi makan iguana yang sering bermanja-manja di lengan Jafar. Di salah satu adegan dalam film In Film Nist, Jafar terlihat kesal karena si iguana ogah membuka mulut.  Penonton dibuat tertawa ketika Jafar terpaksa menolak menjaga anjing tetangganya karena si anjing membuat iguana kabur ketakutan. Melihat Jafar Panahi di In Film Nist, seperti menjawab pertanyaan semua orang, bagaimana nasib Jafar Panahi di Iran sana? Dalam In Film Nist, Jafar seperti ingin memberi kabar, bahwa ia baik-baik saja dan sedang terus berjuang untuk bebas. SELENGKAPNYA »

Perjumpaanku dengan Jafar Panahi(0)

Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, melaporkan bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, In Film Nist (This is Not Film) akan diputar 9 Mei, yang bercerita tentang hari-harinya setelah dihukum dan proses naik bandingnya. Selain itu, ada juga  Bé Omid é Didar (Goodbye) karya sutradara Iran lainnya, Mohammad Rasoulov, yang ikut dihukum bersama Panahi.

Saya adalah pengagum Jafar. Perjumpaan pertama saya tentu saja dari film-filmnya. Film pertama yang saya tonton adalah White Balloon,  yang skenarionya ditulis Abbas Kiarostami, yang menang di Cannes. Saya menontonnya dalam format Laser  Disc yang saya sewa di sebuah penyewaan milik koperasi  militer di daerah Guntur.  Film kedua adalah yang saya tonton adalah Mirror (film fiksi yang ditengah cerita berubah menjadi film dokumenter dengan cerita yang sama persis.edan! ), yang adalah VCD oleh-oleh  dari Agung Yudhawiranata yang baru pulang dari Hong Kong. Film ini, bersama Color of Paradise karya Majid Majidi saya putar di Kine28 pada 5 Oktober 2002.

Dan terbetiklah kabar bahwa Jafar akan menjadi tamu di Jiffest 2002. Maka, saya yang waktu itu adalah wartawan yang mengurusi kanal film di www.astaga.com segera memburunya. Awalnya, saya menonton The Circle, ikut sesi tanya jawab, dan tentu saja berfoto bersama. Tapi kala itu sangat sulit untuk minta wawancara (kalau tidak salah, hanya bersedia diwawancara untuk Kompas, Tempo, dan RCTI). Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya dekati penerjemahnya, Hussein, seorang yang saleh dan lancar berbahasa Persia. Ngobrol punya obrol, saya membahas tentang tesis yang baru saya selesaikan, seputar pemikiran Ali Syariati, dan saya pernah mendekati Kang Jalaluddin Rahmat untuk mencari bahan-bahan seputar itu. Dan ia, yang saya duga sangat dekat dengan  pemikiran Syiah dan kuliah di Qum, bersimpati pada saya. “Wah Kamu kenal kang Jalal? Ya sudah, saya akan atur wawancara dengan Jakfar,”ujarnya. SELENGKAPNYA »

Persepolis: Ketika Tuhan dan Karl Marx Tidak Berkonflik(0)
Oleh Asmayani Kusrini | 29.06.2008| Layar Lebar

Persepolis (2007), Dir: Vincent Paronnaud dan Marjane Satrapi

Hidup paling menyedihkan adalah lahir sebagai sapi dan mati sebagai keledai. Kalimat dari neneknya itu tertanam di bawah sadar Marjane Satrapi sejak kecil. Menurut nenek yang bijak itu, sapi adalah binatang penakut, tidak berani mengambil risiko. Karena itu, sapi selalu rela dicucuk hidungnya. Dan keledai adalah binatang yang tidak kalah pengecutnya dari sapi.

Sepanjang hidupnya, Marjane jelas tidak pernah jadi penakut, apalagi pengecut. SELENGKAPNYA »

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808