Sehari sebelum konperensi pers FFI 2011 untuk mengumumkan susunan dewan juri film bioskop (konperensi pers itu pada 30 November 2011), Totot “Pak De” Indrarto, menelepon saya untuk memberi “kabar buruk” itu: “Kau jadi ketua dewan juri film bioskop FFI sekarang, ya, Mat!”
Ini jelas semacam pulung. Bukan saya termasuk orang yang tak mensyukuri keadaan. Tapi, orang bersyukur kan bukan berarti tak paham mana pulung mana bukan. Ini pulung karena FFI masih sarat beban sejarah dan kontroversi. Praktis, posisi “ketua” adalah posisi serba-tak enak: bisa jadi kambing hitam paling mudah ditunjuk, kalau terjadi apa-apa soal keputusan akhir penjurian.
Masalahnya, SELENGKAPNYA »
Film Indonesia memikul banyak beban. Banyak kepentingan ekonomi-politik, juga budaya, memengaruhi produksi sebuah film. Dan pada 2011, tampak bahwa beban-beban itu memberi corak ketegangan tertentu.
Masih ada film yang hendak dilarang organisasi masyarakat keagamaan karena tak setuju isinya, misalnya. Tapi, salah satu ketegangan yang menonjol pada tahun ini adalah: bagaimana menebak dan merangkul pasar, yang rupanya semakin tak ramah pada film Indonesia.
Dengan menyadari berbagai ketegangan itu, dewan juri film bioskop FFI 2011 membaca 16 film nasional hasil seleksi dari 42 film yang sebelumnya disaring oleh Komite Nominasi FFI 2011. Dari keenambelas film itu, dewan juri menyimpulkan beberapa hal. SELENGKAPNYA »
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
