Tiba-tiba Film Asia Tenggara(1)


Berasal dari tweet seorang teman, Christian Razukas (@hellochris) yang menyampaikan link di Hollywood Reporter, perbincangan jadi panjang di twitter dengan beberapa teman. Laporan itu – silakan baca lengkapnya – antara lain menyebutkan tentang festival film Cannes yang sedang jadi panggung utama bagi sutradara film Asia Tenggara seperti Brillante Mendoza dan Apichatpong Weeratasakul. Keduanya mencatat prestasi tak main-main, meraih sutradara terbaik di Cannes (Mendoza) dan meraih Palem Emas untuk film terbaik (Weeratasakul). Saya tak ingin bicara soal para programmer festival yang masih mewarisi pandangan “kolonialis” dalam mengeksplorasi terra incognita semisal Asia Tenggara di dekade pertama 2000-an dan sedang beralih ke Afrika di dekade ini. Itu perlu pembicaraan lebih panjang.

Perbincangannya kemudian: kenapa tak ada Indonesia dalam laporan ini? Mungkinkah negeri besar ini terlewat begitu saja? Sangat mungkin, dan bisa jadi saya ikut andil juga kenapa terjadi begitu. Mungkin karena saya tak banyak menulis dalam bahasa Inggris sehingga sedikit sekali perhatian terhadap film Indonesia oleh programmer Eropa. Memang dibandingkan dengan Filipina dan Thailand, kritikus film Indonesia (termasuk saya) masih pada jadi jago kandang.

Baiklah, itu satu faktor yang penting; dan saya: guilty as charge.

Namun saya yakin para pembuat film Indonesia tak akan menggantungkan nasib mereka kepada saya begitu saja. Selain itu, sepanjang tahu saya, nyaris setiap tahun ada programmer festival film dan kritikus serta wartawan film asing yang datang, baik di ajang seperti Jiffest ataupun kunjungan begitu saja. Mereka mencari sendiri film-film di sini – seperti juga di negeri-negeri lain – dan bertemu dengan para pembuat film. Seharusnya mereka juga bisa mendapat produk yang mereka anggap layak untuk “dijual” di festival maupun pasar komersial.

Nyatanya tidak semudah itu juga. Ingat catatan Paolo Bertolin – programmer utama di Udine Far East Film Festival – tentang film Indonesia tahun ini? Ia menyebut bahwa di tahun 2010 ini, film Indonesia sedang mengalami krisis. Tentu ini dari pandangan Paolo, yang berkepentingan mencari film-film “populer” Indonesia untuk Udine Far East yang memang memutar film-film popular. Yang masuk ke sana malah Belkibolang, sebuah omnibus yang terdiri dari 9 film dari 9 sutradara. Uniknya, Belkibolang juga lolos ke Jeonju International Film Festival (JIFF) yang gemar memutar film yang bernuansa eksperimental. Artinya? Silakan terka sendiri.

Di luar itu, film yang tercatat di “pasar” International tahun ini (baik distribusi maupun sokongan produksi) adalah Mirror Never Lies, itu pun di Honorary di Mention Global Film Initiative (GFI, www.globalfilm.org). GFI setiap tahun memberi grant pada film-film yang sedang diproduksi berdasarkan pada proposal yang masuk Mirror didaftarkan untuk mendapat grant, tapi tampaknya gagal dan mendapat predikat tadi. Untuk predikat itu, menurut pembuat film Aryo Danusiri (@sirkulasi), tak ada uang yang diberikan, sekalipun biasanya GFI memberi kesempatan pada film yang jadi honorary mention untuk dapat distribusi alternatif di Amerika. Sebagai catatan saja, film seperti Opera Jawa dibuat DVD-nya oleh GFI dan diedarkan di kampus-kampus di Amerika. Dari pemutaran di kampus ini – yang saya tahu ketika bertemu dengan Santosh Sharma salah seorang direktur GFI tahun 2009 lalu – penonton Opera Jawa mencapai sekitar 23.000 orang.

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dimana GFI memberi grant dan mengambil film seperti Opera Jawa, The Photograph dan Babi Buta untuk diedarkan di Amerika, tampaknya raihan Mirror masih terasa jauh di bawah itu. Ini daftar film Indonesia di GFI:

No Tahun Film Keterangan
1 2006 3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza) Grant
2 Jermal (Ravi Bharwani) Grant
3 2007 Pesantren (Nurman Hakim) – judul akhir: 3 Doa 3 Cinta Grant
4 2008 Babi Buta yang Ingin Terbang Grant

Selain film-film ini, 3 film Indonesia diedarkan dalam bentuk DVD di Amerika oleh GFI: Rindu Kami Pada-Mu, Opera Jawa (Garin Nugroho) dan The Photograph (Nan Achnas).

Catatan-catatan di atas memperlihatkan bahwa film Indonesia kini semakin inward looking. Para pembuat film memang menjadikan pasar domestik untuk menjadi sasaran utama mereka, sehingga terasa tidak punya daya saing internasional. Saya sepakat dengan tweet dari Veronica Kusuma yang menyatakan hal itu.

Tampaknya memang bukan hanya festival. Film Indonesia yang diproduksi untuk pasar komersial juga tampaknya enggan mencari pasar di luar negeri, terutama jika dibandingkan dengan film Thailand. Saya tampilkan data dari proyek Lumiere, sebuah database yang mengumpulkan data penjualan tiket bioskop-bioskop di Eropa.

Silakan.

Tabel

Penjualan tiket bioskop di Eropa untuk film-film dari negara Asia Tenggara

Negara Judul Film Sutradara Tahun Penjualan dalam Euro Co-production degan negara
Indonesia Jalan Master Bhagwan 1948 6,506
7 Lady Dragon David Worth 1992 1,823
Oeroeg Hans Hykelma 1993 1,590 Belgia, Belanda
Daun di Atas Bantal Garin Nugroho 1998 8,966
Opera Jawa Garin Nugroho 2006 6,716 Austria
Babibuta Yang Ingin Terbang Edwin 2008 169
Merah Putih Yadi Sugandi 2009 NA
Total 25,770
Thailand Nang Nak Nonzee Nimibutr 1999 227
32 6ixtynin9 Pan-Ek Ratanaruang 1999 1,909
Bang Rajan Tanit Jitnukul 2000 121
The Iron Ladies Youngyooth Thongkonthun 2000 13,412
Bangkok Dangerous Oxide Pang Chun & Danny Pang 2000 22,190
Tears of The Black Tiger Wisit Sartsanatieng 2000 55,947
Jan Dara Nonzee Nimibutr 2001 23
Sud Sanaeha Apichatpong Weerasethakul 2001 16,647 Prancis
Monrak Transistor Pan-Ek Ratanaruang 2001 1,367
Ong Bak: The Thai Warrior Prachya Pinkaew 2003 1,670,251
Beautiful Boxer Ekachai Uekrongtham 2003 51,908
Last Life in the Universe Pan-Ek Ratanaruang 2003 20,463 Jepang
The Overture Ittisoontorn Vichailak 2004 220
Citizen Dog Wisit Sartsanatieng 2004 19,021
Tropical Malady Apichatpong Weerasethakul 2004 35,285 Prancis, Denmark, Italia
Born to Fight Panna Rittikrai 2004 61,791
Shutter Parkpoom Wongpoom dan Banjong Pisanthanakun 2004 148,847
Tom Yum Goong Prachya Pinkaew 2005 741,748
Dek Hor Songyos 2006 9,185
Invisible Waves Pan-Ek Ratanaruang 2006 5,433 Belanda, Hongkong, Korea
Syndromes and A Century Apichatpong Weerasethakul 2006 4,298 Prancis, Austria
Alone Parkpoom Wongpoom dan Banjong Pisanthanakun 2007 NA
Kuaile Gongchang Ekachai Uekrongtham 2007 NA Belanda, Hongkong
Ploy Pan-Ek Ratanaruang 2007 5,471
Wonderful Town Aditya Assarat 2007 34,535
Ong Bak 2 Panna Rittikrai dan Tony Jaa 2008 397,628
Soi Cowboy Thomas Clay 2008 296 Inggris
Chocolate Prachya Pinkaew 2008 233
The Blue Elephant Kompin Kemgumnird 2008 NA
Coming Soon Sopon Sukdapisit 2008 NA
Art of The Devil 3 Kongkiat Khomsiri dan Pasith Buranajan 2008 NA
Fireball Thanakorn Pongsuwan 2009 NA
Total 3,318,456
Filipina Midnight Dancers Mel Chionglo 1994 2,090
6 Ang Pagdadaiga ni Maximo Oliveros Auraeus Solito 2005 11,381
A Short Film About The Indio Nacional Raya Martin 2006 608
Foster Child Brillante Mendoza 2007 31,227
Serbis Brillante Mendoza 2008 15,558 Prancis
Kinatay Brillante Mendoza 2009 11,338 Prancis
Total 72,202
Malaysia Mukhsin Yasmin Ahmad 2006 6,436
3 Love Conquers All Tan Chui Mui 2006 85
Flowers in The Pocket Liew Seng Tat 2007 NA
Total 6,521
Vietnam Xich Lo Anh Hung Tran 1995 153,838 Prancis
10 Nostalgia for Countryland Nhat Minh Dang 1995 NA Jepang
An Ju Bingliu Hu 1997 53
Chung Chu Linh Viet 1999 4,204 Prancis
Nhung Ngou To Xe Vuong Duc 1999 5,067
The Guava House Nhat Minh Dang 2000 24,355
Vu Khoc Con Co Phan Quang, Binh Nguyen dan Jonathan Foo 2001 1,098 Singapura
Me Thao Thoi Vang Bong Linh Viet 2002 2,017
Chuyen Chua Po Quang Hai Ngo 2006 NA
Owl and The Sparrow Stephane Gauger 2007 13,922 USA
Total 204,554
Singapura 12 Storeys Eric Khoo 1997 9,530
6 15: The Movie Royston Tan 2003 612
4:30 Royston Tan 2005 4,469
Be With Me Eric Khoo 2005 26,990
My Magic Eric Khoo 2008 6,517
Painted Skin Gordon Chan 2008 95 China, Hongkong
Total 48,213

Sumber: Lumiere, database on admissions of films released in Europe

Catatan: dua judul pertama dalam daftar untuk Indonesia ini tak pernah saya dengar sebelumnya.

Mencari Babi Cemas dalam Diri(1)
Oleh Eric Sasono | 03.04.2011| Layar Lebar, Resensi

Bukankah setiap orang punya seorang “ayah Pakistan”
yang gagal mencapai cita-citanya untuk menjadi penulis?

(Hanif Kureishi, penulis Inggris keturunan Pakistan)

1: Keluarga
Jika ada orang yang beranggapan bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan, maka bagi Edwin keluarga adalah sumber kutukan. Hingga kini ia relatif konsisten dengan mind-map bahwa asosiasi bagi istilah keluarga adalah kesedihan, keputusasaan, pengabaian, kesendirian, perasaan ditinggalkan, atau ketidakberdayaan yang kronis. Sebagaimana dalam film-film pendeknya yang pernah saya bahas di situs Rumah Film, Edwin tak percaya bahwa dalam keluarga bisa berlangsung komunikasi yang wajar.

SELENGKAPNYA »

Babi Buta yang Ingin Terbang : Babi-Babi Buta yang Membabi Buta Ingin Dicintai(0)
Oleh Ekky Imanjaya | 10.02.2009| Layar Lebar, Resensi

Babi Buta yang Ingin Terbang

No New Year’s Day to celebrate
No chocolate covered candy hearts to give away
No first of spring
No song to sing
In fact here’s just another ordinary day

No April rain
No flowers bloom
No wedding Saturday within the month of June
But what it is, is something true
Made up of these three words that I must say to you

I just called to say I love you

(I just called to say I love you, Stevie Wonder, dinyanyikan ulang oleh Ramondo Gascaro)

Suatu hari, Linda kecil (Clarine Baharrizki ) bertanya pada Cahyono cilik (Darren Baharrizki):”Kalau sudah besar mau jadi apa?” Cahyono menjawab: ”Apa aja, asal jangan Cina”.

Kedua anak ini memang mendapatkan banyak pengalaman buruk hanya karena mereka Cina. Padahal, Cahyono bukan Cina, tapi Jepang. Suatu saat, keduanya diganggu anak-anak nakal teman sekolah mereka, dan Linda menemukan obat mujarab untuk mengusir ketidaknyamanan itu: petasan. Linda, generasi keempat keturunan Cina di Indonesia, meyakini bahwa petasan bisa mengusir hantu-hantu, termasuk hantu sumber alergi dan kebencian terhadap Cina sepertinya dirinya.

Sejak itu, Linda selalu ditemani petasan. Bahkan, ia didatangi oleh seorang wartawan hiburan (diperankan Cesa David) karena mengukir rekor baru: gadis yang berani makan petasan! Linda memasukkan petasan itu ke dalam roti hotdog seperti layaknya sosis, mulai menyulut sumbu, dan…dor!

Linda (saat dewasa diperankan oleh Ladya Cherryl) berbuat apa saja untuk mengatasi masalah-masalah akibat identitas kecinaannya. Tujuannya satu: agar ia bisa dinyanyikan lagu I just called to say I love you, agar ia dicintai. Itulah sebabnya, ia dan orang-orang di sekitarnya selalu menyanyikan lagu dari Stevie Wonder itu, dengan harapan agar orang lain ikut menyanyi. Mereka cukup senang mendengarkan orang lain menyatakan cinta kepada mereka apa adanya, tanpa syarat kecuali mereka manusia dan layak dimanusiakan, walau hanya dalam bentuk syair belaka.

Linda melakukan segala hal agar ia diterima di lingkungannya. Dalam kasusnya, paling tidak agar tak ada lagi yang menganggunya hanya karena mata sipit dan kulit putihnya. Juga orang-orang di sekitarnya. Misalnya Verawati (Fajrin?), ibunya (Elizabeth Maria), yang mewakili Indonesia sebagai pebulutangkis, dan acap memenangi banyak piala, namun tidak mendapatkan penghargaan selayaknya. Ia tetap dipandang Cina, yang (seolah) adalah bukan warga Negara Indonesia yang utuh. (“Mana yang Indonesia, mana yang Cina,” celetuk salah satu penonton).

Kecewa dengan celetukan itu, ia berhenti bermain. Namun, bahkan di rumah pun, ia memakai kaos seragam bertuliskan Indonesia itu. Ia bergumul dengan persoalan identitas. Komentar penonton itu, seorang anak kecil, begitu menganggu batinnya, rupanya.

Yang paling fenomenal adalah Halim (Pong Harjatmo), sang ayah. Ia malu dengan fisiknya, khususnya matanya yang sipit. Maka, sang dokter gigi itu pun selalu memakai kacamata hitam, menutupi matanya –bahkan menyiletnya. Belakangan, dari keterangan di situs film ini, saya baru tahu kalau Halim buta. Ia juga mengganti nama Cinanya menjadi nama Melayu, masuk Islam, menikah lagi dengan seorang muslimah Jawa (Andhara Early) yang saat ikut Planet Idol memakai jilbab. Dan, demi cintanya pada istrinya yang ingin menjadi selebriti dan menang kontes itu, dan juga agar ia bisa hijrah ke sebuah tempat yang menerimanya apa adanya, ia melakukan pengorbanan apa pun.

Dan lihatlah, bagaimana ia dikerjai oleh sepasang homoseksual yang gemar atribut militer (pasangan mantan pejabat bernama Helmy dan Yahya …ah, Edwin sedang bercanda nih …atau geram?), supaya sang istri manggung dan ia mendapatkan green card ke Amerika. Dari belakang, analnya disodomi. Dari depan, ia harus melakukan oral seks. Adegan itu berlangsung cukup lama, dan Linda menyaksikannya diam-diam. Terlalu lama, malah. Mungkin saya terlalu kolot atau konservatif, tapi pertanyaan menyeruak tak terbendung di benak: apakah perlu adegan tersebut selama itu? Atau, apakah perlu adegan sedetail dan sevulgar itu? Atau, apakah perlu adegan itu?

Bukan hanya karakter-karakter di film Babi Buta yang Ingin Terbang melakukan apa pun agar ia diterima dan dicintai apa adanya. Agaknya, sang sutradara, Edwin, juga. Edwin sepertinya sadar bahwa ia sedang mengusung sebuah tema yang sensitif: identitas minoritas Cina di Indonesia. Dan, agaknya, agar temanya terterima, ia menggandeng isu sensitif seputar minoritas lainnya: kaum homoseksual.

Masalahnya, isu identitas Cina telah menemukan momentumnya, saat Mei 1998, dan pada 2008 sudah mulai banyak film yang merepresentasikaan mereka. Dari May, 9808, hingga film pendek seperti Papaku Hua dan Pacarku Lina yang diputar di Psychocinema 2008, di Atmajaya. Sementara, gerakan gay belum sepopuler itu, dan sepertinya masyarakat belum bisa menerima isu-isu mereka. Apalagi dalam menerima perilaku seksual, yang masuk wilayah privat, dipaparkan dengan gamblang dalam film yang ditonton ramai-ramai di ruang publik.

Saya bisa merasakan dan memahami kegeraman Edwin terhadap isu keterterimaan ras Cina di negeri ini. Tak hanya simbolis, ia juga menyelipkan pesan persaudaraan (bagaimana menghormati tetangga, misalnya) secara verbal dan eksplisit lewat khotbah agama Kristen di televisi yang selalu hadir di ruang tamu berulang-ulang.

Film ini terasa sangat personal –diawali dengan lokasi di Surabaya, tempat Edwin dibesarkan (tengok Jembatan Merah dan plat kendaraannya), hingga pengalaman hidupnya yang terungkap dalam wawancara dengan RF (LINK: http://www.rumahfilm.org/wawancara/wawancara_jokoedwin_1.htm). Dari sekadar bergurau, Edwin juga terlihat geram dan satir.

Bayangkan, Cahyono (Carlo Genta) yang bekerja sebagai editor program kriminal di televisi itu menyunting gambar-gambar kerusuhan Mei 1998 untuk peringatan 10 tahun Reformasi dengan latar lagu I Just Called To Say I Love You. Lagu tema ini memang selalu diulang-ulang di sekujur film, yang bagi sebagian penonton begitu mengganggu (mungkin saja itu reaksi yang diinginkan!).

Satu lagi, tidak cukup dengan karakter-karakter manusia sebagai penyampai pesan, Edwin juga merekam seekor babi di Gunung Bromo. Tentu saja ini metafor yang pas. Tidak hanya sebagai makanan khas kaum Tionghoa, babi, di masyarakat mayoritas Muslim di negeri ini, adalah sesuatu yang haram. Seperti itu pula saudara-saudara Cina kita (pernah dan mungkin hingga sekarang masih) diperlakukan oleh sebagian rakyat Indonesia. Semuanya dikemas dengan sangat personal.

Tidak masalah, memang, mengangkat tema dan gaya personal. Beberapa film mengangkat hal yang sama, seperti Years I was a Child-nya John Torres. Namun film sebaiknya juga memerhatikan penontonnya, paling tidak berupaya bagaimana agar film-filmnya dipahami oleh setidaknya kelompok tertentu. Apa lagi kalau ada pesan penting yang ingin disampaikan. Dalam hal ini, respon yang diinginkan adalah dinyanyikan dan dibisikkan kata-kata cinta dan perhatian: “I just called to say I love you”.

Dalam konteks ini, berpanjang-panjang dalam scene gay, misalnya, adalah sebuah tindakan kontraproduktif. Karena, sebagian penonton boleh jadi akan lebih mempersoalkan adegan sekitar lima menit itu dari pada keseluruhan pesan “identitas Cina-Indonesia” yang sudah digelontorkan sejak awal. Kecuali kalau sang sutradara tidak peduli dan jalan terus (dan asyik sendiri) dengan ide-idenya.

…Oke, semuanya: I just called to say I love you, I just called to say how much I care, I just called to say I love you, and I mean it from the bottom of my heart.***

Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Sutradara & penulis: Edwin

Pemain: Ladya Cherryl, Carlo Genta, Pong Harjatmo.

Katalog Keluarga milik Edwin(1)
Oleh Eric Sasono | 07.07.2008| Film Pendek

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), Dir: Edwin

Anak perempuan itu bernama Kara. Mungkin sepuluh tahun umurnya. Ia masuk ke restoran McDonald dengan membawa parang dan dendam. Ia pandangi sejenak patung Ronald McDonald yang sedang duduk, sebelum ia bacokkan parang majal di tangannya. Seorang petugas yang sedang mengawal ulang tahun anak-anak melihat polah Kara. Petugas itu tak menghentikan. Kara yang kelelahan malah diberi segelas minuman. Ia terkulai lesu di sisi patung yang selalu tersenyum lebar mirip dengan tokoh Joker yang diperankan Jack Nicholson di film Batman garapan Tim Burton itu.

Potongan adegan itu berasal dari film pendek Edwin yang terkenal, Kara, Anak Sebatang Pohon. SELENGKAPNYA »

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808