
Sebagai produser, ia mendapatkan beberapa spenghargaan Emmy Award di acara serial “Great Performances: Dance in America” (1976).
Ia pernah juga menjadi dekan School of Visual and Performing Arts di the C.W. Post Campus of Long Island University, Brookville, New York. Untuk konteks Indonesia, Grauer pernah membuat documenter kesenian marjinal, yaitu “RASINAH: The Enchanted Mask” dan “THE LAST BISSU: Sacred Transvestites of South Sulawesi.”, di samping menjadi salah satu pendiri Yayasan Kelola. Dan, ia yang menulis adaptasi teks dan dramaturgi “I La Galigo” yang dibesut sutradara Robert Wilson.
Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Salah satu kegiatan Jafar Panahi selama menunggu keputusan bandingnya adalah menjaga iguana. Putrinya yang sedang belajar di Paris sering menelpon, mengingatkan Jafar untuk tak lupa memberi makan iguana yang sering bermanja-manja di lengan Jafar. Di salah satu adegan dalam film In Film Nist, Jafar terlihat kesal karena si iguana ogah membuka mulut. Penonton dibuat tertawa ketika Jafar terpaksa menolak menjaga anjing tetangganya karena si anjing membuat iguana kabur ketakutan. Melihat Jafar Panahi di In Film Nist, seperti menjawab pertanyaan semua orang, bagaimana nasib Jafar Panahi di Iran sana? Dalam In Film Nist, Jafar seperti ingin memberi kabar, bahwa ia baik-baik saja dan sedang terus berjuang untuk bebas. SELENGKAPNYA »
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
