81. Sud pralad / Tropical Malady [2004, Apichatpong Weerasathakul]
Mungkin perlu banyak dekade agar film bernarasi ‘abstrak’ mendapat perhatian dunia. Bukan kebetulan jika karya yang berhasil melakukannya adalah karya sutradara Thailand ini. Sepintas Apichatpong seperti sedang “mengurai lagi benang yang sudah dipilinnya” ketika kedua tokoh dalam filmnya ini ia biarkan masuk ke dalam hutan dan narasi film jadi tak berarti lagi. Ia bermain-main dalam batas antara sinema dan non-sinema atau mungkin tepatnya narasi dan non-narasi. Maka pertanyaan yang diajukan terhadap film bukan “film apakah ini?”, tapi “apakah ini film?”. SELENGKAPNYA »
61. Monsoon Wedding [2001, Mira Nair]
Inilah potret ketika diaspora berkumpul di negeri asal. India adalah aneka warna dan bahasa, tari dan musik, dan tradisi sebuah peradaban tua yang kini harus hidup dalam modernisme tanpa ampun. Kerumun orang yang selalu terlalu banyak, agaknya mudah menyimpan tragedi. Sungguh otentik, ketika nada film tiba-tiba menggelap, saat tragedi itu terungkap. Apa yang bisa dilakukan? Tak ada cara lain: bersukacita sajalah. SELENGKAPNYA »
41. Hunger [2008, Steve McQueen]
Baiklah. Cerita selalu terdiri dari tiga babak –awal, tengah, akhir. Namun adagium ini beda sekali di tangan Steve McQueen, visual artist asal Inggris yang kini jadi sutradara (dan bukan bintang laga Amerika gaek itu). Dengan kekriyaan bak seorang master yang sudah membuat puluhan film, ia menyajikan babak kedua Hunger dalam bentuk dialog panjang yang menjelaskan seluruh premis film. Ini pertaruhan yang berani, dan ia menang besar. SELENGKAPNYA »
21. Das Leben der Anderen / The Live of Others [2006, Florian Henckel von Donnersmarck]
Ada periode ketika barbarisme dan peradaban saling bersisian tapi tak saling mengenali. Apa yang bisa dilakukan ketika seseorang menyadari bahwa ia terperangkap di antara keduanya? The Lives of Others karya pertama Florian Henckel von Donnesmarck bukan sedang ingin melahirkan pahlawan tanpa tanda jasa dibawah rezim komunis Jerman Timur. Donnesmarck ingin menunjukkan bahwa bagaimanapun manusia punya dua sisi; sisi mana yang mendominasi bisa sangat tergantung pada hal-hal tak terduga. SELENGKAPNYA »
1. 4 luni, 3 saptamâni si 2 zil / 4 Months, 3 Weeks and 2 Days [2007, Christian Mungiu]
Butuh waktu belasan tahun sejak Revolusi Romania 1989 hingga akhirnya para sutradara muda negeri itu muncul satu-satu dengan misi yang sama: menyembuhkan trauma. Negeri yang paling terbelakang tradisi sinemanya di kawasan Eropa Timur itu ternyata menyimpan bakat-bakat yang disembunyikan dibalik tirai besinya. Maka ketika 4 Months, 3 Weeks and 2 Days meraih Palem Emas ditahun 2007, dunia sinema seperti diingatkan bahwa ada komunitas film di negara bernama Romania. SELENGKAPNYA »
Barangkali para redaksi Rumah Film memang tak gemar film fantasi. Tapi, jika demikian, mengapakah kami juga memasukkan Big Fish dan Pan’s Labyrinth ke dalam daftar ini?
Membuat daftar semacam ini memang akan selalu mengandung risiko itu: ketakpuasan, subjektivitas, keterbatasan, ketaklengkapan, keluputan. Tapi, kami menganggap daftar ini perlu kami susun, karena di sisi lain, daftar semacam ini adalah juga sebuah sudut pandang. Karena daftar ini mencakup sebuah dekade, tepatnya dekade pertama milenium ketiga (apa pun maknanya itu), maka daftar ini pun adalah sebuah sudut pandang dalam membaca sebuah era. SELENGKAPNYA »
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
