Le Scaphandre et Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly): Ketika Kamera Menjadi Mata

Oleh Asmayani Kusrini | 29.06.2008| Komentar (0)

The Diving Bell and the Butterfly (2007), Dir: Julian Schnabel

Suatu hari, dia terbangun. Ada suara-suara di sekitarnya. Ada kesibukan di sekeliling. Dia berusaha bangkit, tapi tidak sanggup. Dia berusaha memanggil, tapi suaranya tertelan sendiri. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Lalu seseorang yang tak dikenalnya menyorongkan wajah dekat-dekat. “Ada apa?” katanya dalam hati.

Inilah biopik tentang hari hari terakhir Jean-Do, wartawan dan editor majalah mode Elle cabang Prancis. Jean Do mengalami stroke yang membuatnya lumpuh total. Satu-satunya aktivitas yang bisa dilakukan pria yang terkenal sebagai playboy ini hanyalah berkedip. Hanya dengan berkedip itulah, Jean Do berhasil menyelesaikan sebuah buku dengan judul yang sama. Jean-Do mempublikasikan buku tersebut tiga hari sebelum kematiannya pada 9 Maret 1997.

Adalah Julian Schnabel yang gemar bikin film biografi –Basquiat, tentang pelukis Jean Michel Basquiat; dan Before Night Falls, tentang penulis Reinaldo Arenas—yang membuat film ini. Dan Schnabel, pelukis yang kemudian beralih jadi sutradara itu, mencoba memvisualisasikan Le Scaphandre dari sudut pandang dan kenangan Jean-Do. Hampir sebagian besar film ini di-shot dari angle sudut mata kiri Jean-Do –satu-satunya organ tubuh yang masih berfungsi utuh.

Le Scaphandre dibuka dengan adegan dari sudut mata Jean-Do (yang diperankan dengan sangat baik oleh aktor Prancis, Mathieu Amalric) yang baru saja tersadar dari stroke yang membuatnya lumpuh total (locked in syndrome). Schnabel, bekerja sama dengan penulis skenario Ron Harwood (The Pianist) dan Janusz Kaminski sebagai sinematografer, kemudian memperkenalkan Jean-Do seperti sedang menyatukan sebuah puzzle. Sepotong-sepotong, tergantung kenangan sang empunya cerita.

Sebagai seorang editor majalah mode, Jean-Do jelas punya kelas tersendiri. Jean-Do yang sedang berada di puncak karir, menjalani hidup glamor di antara  pelbagai wanita dan komunitas kelas atas masyarakat Paris, tiba-tiba harus terkurung dalam tubuhnya sendiri dan terpaksa diasingkan ke kota kecil di pinggiran Prancis.

KinerjaKaminskisebagai DOP memegang peranan sangat besar di film ini. Ketika ingatan tentang masa lalu itu tenggelam dalam kenyataan yang harus dihadapi Jean-Do, maka kamera tiba-tibaberfungsi sebagai ‘mata’, yang kadang kabur karena pusing, atau karena menahan tangis, atau karena sedang ngiler melihat cewek cakep.

Bahkan dengan berani, Schnabel memperlihatkan bagaimana salah satu mata itu kemudian dijahit, dari sudut pandang si mata! Maka kita pun diajak ikut meringis dan sakit ketika sedikit demi sedikit mata kanan itu tertutup dan yang tertinggal hanyalah mata kiri dengan area pandang terbatas.

Setelah dijahit, maka jadilah kamera berubah menjadi ‘mata satu’. Selain itu, ‘mata satu’ ini juga ditemani oleh suara hati –maklum, Jean-DO tidak bisa ngomong—yang setidaknya bisa menjadi jembatan antara Jean-Do dan penonton.Teknik yang digunakan Kaminski –yang juga sinematografer favorit Spielberg– ini berhasil membuat saya ikut merasakan bagaimana jadi Jean-Do saat itu. Dari sudut pandang yang sangat terbatas inilah, Jean-Do menyadari banyak hal.

Tapi penonton tidak usah khawatir. Schnabel –mungkin juga atas saran Kaminski– rupanya sadar, sungguh tidak nyaman menjadi Jean-Do, maka kamera kadang berbaik hati tidak lagi menjadi sang mata, tapi keluar sejenak dan melebarkan pandang, menjadi pengamat yang berjarak. Dan puzzle-puzzle yang berserakan sejak awal mulai tersusun.

Ada adegan ketika ayah Jean-Do yang juga sudah susah bergerak karena tua menangis di telepon, mengetahui anaknya yang baru berusia 45 tahun itu tak mampu lagi berbicara. Dan penonton diajak untuk tahu kedekatan antara ayah dan anak ini. Ketika kamera keluar dari fungsinya sebagai sang ‘mata satu’, penonton dibawa untuk melihat bagaimana hubungan Jean-Do selama ini diantara kolega, keluarga, dan pacar-pacarnya.

Schnabel mengerahkan segala kemampuan dan pengalamannya sebagai pelukis untuk memvisualkan Le Schapandre di atas layar lebar. Meski Le Schapandre adalah kisah penderitaan seorang manusia yang berjuang untuk menghasilkan sesuatu, tapi sekuen-sekuan yang dipilih Schnabelbegitupuitis. Indah namun pilu.

Seperti ketika Schnabel membuat Basquiat dan Before Night Falls, Schnabel tidak bisa menghilangkan jejaknya sebagai pelukis yang peduli dengan komposisi, warna, cahaya. Schnabel juga makin matang meresapi kegalauan karakter Jean-Do dibandingkan dengan Basquiat atau Arenas di film sebelumnya.

Meski tak berhasil menjadi film terbaik di Cannes 2007 –akhirnya dimenangkan oleh 4 months, 3 Weeks, 2 Days-nya Christian Mungiu– toh, Schnabel dinobatkan sebagai sutradara terbaik di ajang festival paling bergengsi tersebut. Pantaslah.***

Le Scaphandre et Le Papillon (The Diving Bell and The Butterfly)

Sutradara: Julian Schnabel (Basquiat, Before The Night Falls). Skenario: Ron Harwood (The Pianist). Pemain: Mathieu Amalric, Emmanuelle Seigner, Marie-Josee Croze. Produksi Pathé Renn Productions, 112 Menit.

Asmayani Kusrini

Rini pernah bekerja sebagai wartawan majalah berita mingguan Gatra selama 6 tahun sebelum kemudian bekerja sebagai penulis pada program dokumenter Saksi Hidup di TV7. Lalu ia sempat magang di Deutsche Welle, Bonn, Jerman. Kini Rini tinggal di Brussel, Belgia dan bekerja sebagai koresponden majalah berita mingguan Tempo. Rini banyak melakukan peliputan berbagai festival film, terutama di Eropa.
Tag/kata kunci:

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808