Keroncong Eva Menuju Film Panjang

Oleh Hikmat Darmawan | 12.03.2007| Komentar (0)

Eva, Kenapa Rumahmu Jauh?

Film pendek ini tak mengandung utopia, juga dialektika. Ia hanya ingin tertawa. Ia hanya mengapung-apung di permukaan, tak mau menukik ke kedalaman. Tapi, demikianlah semangat zaman. Keempat sutradara tampak punya ambisi khas anak zaman kini –bahkan jika mereka tak menyadarinya. Mereka lebih menginginkan mix & mash, intertekstualitas, merangkum serbaneka referensi.

Jika karya tak mencari kedalaman, ia bisa mencari keluasan. Memang, tampak sekali film ini menyimpan keluasan referensi dan kosa-gambar para pembuatnya. Misalnya, saat para pemain musik latar –grup keroncong anak muda Yogya, Kronchonxkhaos—muncul di tempat-tempat “aneh” dalam frame, secara tiba-tiba, dan secara “anarkis” sengaja tak masuk akal di sepanjang film. Kita pernah menyaksikan jurus itu dalam There’s Something About Marry. Lalu, ketika Eva pertama kali muncul dan beberapa kali sesudahnya: latar hitam, dan satu-satunya warna dalam frame adalah merah baju Eva. Schindler’s List, tentu (dan, sebelumnya, tanpa latar hitam-putih namun memunculkan aksentuasi warna merah juga: Don’t Look Now).

Dan, dalam semangat zaman itu, musik pun dicomot dari sana-sini. Ada yang begitu saja, seperti lagu Kidung dicomot mentah-mentah dengan segala cengkoknya dari versi Pancaran Sinar Patromak (PSP). Ada juga yang diolah, terutama lagu dari grup Padi, Kasih Tak Sampai –yang muncul dengan kocaknya mengiringi cameo penyanyi utama Padi, Fadly, yang jadi tukang becak (dan mengayuh lumayan jauh juga).

Salah satu yang mungkin tak segera terasa, tapi sesungguhnya jelas belaka dari film ini: hakikatnya, ini adalah sebuah road movie. Kisahnya sederhana saja: Zul (Samsul Hadi, di sini mentah sekali pemeranannya) naksir Eva (Irma Mayati, cantik sekali), dan setelah beberapa pendekatan malu-malu dan komikal, Eva mengundangnya ke ulang tahun Eva. Ternyata rumah Eva jauh sekali. Jadilah Zul, dan pendampingnya, Bagong (Ahmad Sofyan, juga mentah), mengorupsi mobil angkutan untuk mengantar ayam seorang juragan menjadi kendaraan menuju cintanya yang jauh itu.

Jenis film macam road movie ini adalah pilihan paling mudah untuk menyusun plot. Kisah perjalanan adalah bentuk tertua seni naratif dalam sejarah manusia: sejak Gilgamesh, lalu Odyssey, sampai Tiga Hari Untuk Selamanya. Subgenre road movie lahir dari tradisi panjang itu, dengan tonggak-tonggak seperti Easy Rider (Dennis Hopper), Bad Land (Terrence Malick), atau Paris, Texas (Wim Wenders). Secara khusus, subgenre road movie, jika kita taat definisi, mestinya adalah “film yang menutur kisah perjalanan yang menyertakan kendaraan”.

Subgenre ini sering dijadikan alasan bagi para pembuat cerita untuk melempar sebanyak mungkin kejadian, makin aneh tak apa-apa, untuk menciptakan plot. Subgenre ini bisa menghindari kompleksitas plot, tapi tetap bisa terkesan ”banyak kejadian” atau, katakanlah, ”maksimalis”. Tapi untuk sebuah film pendek, road movie yang sederhana itu bisa sangat menjebak. Subgenre ini sebetulnya lebih cocok untuk sebuah film panjang.

Khasanah film pendek dunia mengajarkan bahwa film-film pendek terbaik cenderung pada pemadatan ide, impresi, dan waktu film. Soal waktu film di sini jangan dikacaukan dengan “durasi”. Soal durasi, ada perdebatan dalam hal definisi film pendek. Ada yang bilang tak lebih dari 30 menit, ada yang bilang pokoknya film yang selama atau kurang dari sejam adalah film pendek (ini yang dianut oleh panitia Oscar). Tapi galibnya, sebuah film pendek enggan untuk memperlaratkan waktu film –waktu yang membingkai rangkaian kejadian dalam sebuah film.

Apakah ambisi ini memberi efek bagus pada Eva…? Ya dan tidak. Ambisi artistik, bagaimana pun, akan mendorong (minimal mengasumsikan) sebuah pergumulan ide untuk mengedepankan yang dianggap unggul atau layak. Tapi ujian terakhir ambisi itu adalah pada eksekusi, pada hasil akhir yang terhidang pada khalayak. Di beberapa bagian, bayangan film panjang dalam film berdurasi kurang lebih 23 menit ini malah agak mengganggu. Misalnya, bagian awal (pada bagian yang menurut teori skenario klasik adalah bagian ”pengenalan tokoh dan masalah”), terlalu panjang.

Tak pelak, Eva… barulah sebuah upaya. Film ini masih tenggelam dalam keasyikan memamerkan keluasan. Cerdas, belum cerkas.***

Judul: Eva, Kenapa Rumahmu Jauh?
Sutradara: Fredy Predi, Waditya.com, Sugeng Wahyudi, Edwin
Pemeran: Samsul Hadi, Irma Mayati, Ahmad Sofyan
Durasi: 23:33 menit
Produksi: Koperasi Film Demi Kamu, Jogja, 2002

Penulis adalah redaktur rumahfilm.org. Lebih dikenal sebagai pengamat komik, mengawali karir menulis dengan mengamati berbagai segi budaya populer, buku, dan film. Tinggal di Jakarta.

Hikmat Darmawan

Selain pengamat film dan kritikus, Hikmat juga dikenal sebagai seorang pengamat komik dan budaya pop lainnya. Hikmat mendapat Asian Public Intellectual (API) fellowship periode 2010-2011 untuk melakukan penelitian di 3 negara: Jepang, Thailand dan Indonesia. Topik yang ditelitinya adalah identitas nasional pada gambar komik di ketiga negara tersebut. Selagi dalam perjalanan, Hikmat berkesempatan melahirkan banyak tulisan yang akan segera diterbitkannya dalam bentuk buku, termasuk amatannya mengenai film Indonesia.

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808