
3 Doa 3 Cinta (
i
Ada beberapa hal yang menarik perhatian dari film ini, 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim, 2008).
Bagi dunia infotainment, mungkin lebih menarik bagian Dian Sastrowardoyo, salah satu pemeran di film ini, jadi penyanyi dangdut kampung nan seksi. Ini akan langsung mengingatkan mereka dengan akting Titi Kamal di film Mendadak Dangdut (Rudi Sudjarwo, 2006).Di situ, Titi jadi penyanyi dangdut kampung juga. Awak infotainment mungkin lebih tertarik dengan angle berita seperti ini: “Apa Dian akan serius jadi penyanyi dangdut?” atau “Apa Dian yang tampil jadi penyanyi dangdut seksi tak takut diprotes, oleh FPI misalnya?” (Duh, please, deh… Apa nggak ada pertanyaan lain?)
Atau ada yang lebih tertarik menyorotnya dari sudut reuni Dian dan Nicholas Saputra di layar lebar. Keduanya bikin fenomena saat bertemu di film Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Sudjarwo, 2001). Filmnya ditonton lebih dari 2 juta orang dan membikin tren film/sinetron bertema remaja. Dian dan Nico digadang-gadang jadi pasangan Rano Karno dan Yessi Gusman versi 2000-an.
Namun, keduanya tak pernah tampil bareng dalam film sejenis. Dian dan Nico meniti karier masing-masing, melakoni peran-peran yang berbeda. Meski, patut diakui, kenangan pada Cinta dan Rangga tetap melekat. Keinginan agar mereka mengulangi peran itu sudah mirip wishful thinking. Nah , ketika keduanya benar tampil bareng, pastilah menarik perhatian.
Tapi saya lebih tertarik menyimak film ini dari latar yang diusungnya: kehidupan pesantren. Duh, kapan ya pesantren diangkat ke layar lebar terakhir kalinya? Beberapa bulan lalu, ada film roman-religi (ini sebutan untuk sub-genre bagi film yang mempertautkan kisah cinta dengan nuansa religi macam Ayat-ayat Cinta [2008]) berjudul Syahadat Cinta. Tapi film itu tak masuk hitungan film penting. Selain sekadar film ikutan setelah sukses Ayat-ayat Cinta, film ini jeblok di pasaran sekaligus gagal jadi film baik.
Tahun ini, ada pula Mengaku Rasul. Filmnya memang berlatar pesantren, tapi pengasuh pesantrennya keblinger lantaran mengaku jadi rasul. Meski temanya up-to-date, film ini juga tak dicatat sebagai film bermutu.
Oh, ya, dulu sekali pernah ada Nada dan Dakwah (Chaerul Umam, 1991). Ini murni film religi karena muatan pesan agamanya lebih kental. Kisahnya tentang warga desa yang resah karena tanahnya akan dibeli konglomerat. Pesantren di desa itu lantas menengahi dan juga jadi penjaga moral menentang berdirinya tempat bilyar dan minum-minum di desa itu. Selain dibintangi Rhoma Irama, pedangdut yang sering menelurkan syair-syair dakwah, film ini dibintangi kyai betulan, KH Zainuddin MZ, yang saat itu diidolai umat Islam hingga dijuluki “da’i sejuta umat”. Sang Kyai bahkan dinominasikan meraih Citra di FFI 1992—tapi kemudian Sang Kyai meminta namanya dicabut karena banyak protes dari “umat” melihat ada kyai main film.
Konon, Garin Nugroho pernah berniat memfilmkan pesantren sebagai latar. Judul dan kisahnya sudah ada. Garin memberi judul filmnya, Izinkan Aku Menciummu Sekali Saja. Tapi film ini keburu diprotes sebelum dibuat (tuh, Lastri bukan yang pertama!). Pasalnya, tokohnya seorang pemuda pesantren yang digambarkan ingin mencium seorang gadis. Garin lantas merombak kisahnya. Latar pesantren diganti tanah Papua. Judulnya pun diganti. Kita kemudian melihat hasilnya sebagai film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002).
Hm, 3 Doa 3 Cinta mestinya—jika mengacu pada sensor jalanan [untuk membedakannya dari sensor resmi LSF] dari sekelompok masyarakat terhadap film Garin tadi, Buruan Cium Gue, atau Lastri tempo hari—juga mengundang kontroversi atau bahkan seharusnya tidak jadi dibuat. Tapi entah kenapa, film ini bebas-bebas saja diputar di bioskop hingga hari ini. Apa ini tandanya kita sudah dewasa? Atau, para penyensor jalanan itu lagi nggak ngeh saja?
3 Doa 3 Cinta pantas mengundang kontroversi karena sutradaranya merekam kehidupan pesantren tanpa diselubungi tirai. Blak-blakan. Sisi baik dan buruk muncul bersamaan. Artinya, yang dicoba dihadirkan adalah sebuah realitas. Tentu, yang namanya realitas bukanlah “yang seharusnya”. Latar pesantren di film ini coba ditampilkan apa adanya. Maka kita melihat santri-santri yang tertidur saat shalat, ereksi di pagi hari, praktek poligami dari kyai, hingga fenomena homoseksualitas di pesantren.
Kejujuran sedemikian rupa rasanya hanya bisa dihasilkan sineas yang mengerti betul kehidupan pesantren. Dan memang demikian adanya. Nurman Hakim, sutradara sekaligus penulis skenarionya, pernah tinggal di pesantren. Di ujung film, Nurman bahkan mendedikasikan filmnya bagi “teman-teman saya di pesantren”.
Ah, film personal. Apa yang personal ini lantas ditarik Nurman menjadi sebuah mikrokosmos untuk menjelaskan sebuah makrokosmos: dikotomi masyarakat Islam, fundamentalisme, hingga terorisme seputar peristwa 9/11 (nine/eleven) dan Tragedi Bom Bali I dan II.
ii
Umat Islam di Indonesia sudah sering dikotak-kotakkan kaum cerdik pandai. Seorang Indonesianis (orang asing yang mengkhususkan diri memelajari Indonesia), Clifford Geertz mengklasifikasikan masyarakat Islam (tepatnya Jawa) ke dalam kelompok santri, priyayi, dan abangan.
Cendikiawan negeri sendiri juga tak mau kalah. Deliar Noer (Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, 1982) mengelompokkan umat Islam ke dalam 2 golongan: “Islam modern” dan “Islam Tradisional”. Menurut Deliar Noer. Golongan tradisional lebih mengutamakan soal-soal agama dalam arti ibadah belaka. Islam sama dengan fikih. Taklid diharuskan, ijtihad dilarang. Sementara itu golongan modernis disebutnya kaum pembaharu. Mereka memberi perhatian pada Islam tidak dalam pengertian sempit, sekadar ibadah alias fikih. Ibadah pun, bagi mereka, hanya yang disuruh sesuai Qur’an dan hadist. Di luar itu namanya bid’ah—praktek yang ditengarai sering dilakukan kaum tradisinoalis.
Apa yang dikonstruksikan Deliar Noer ini dicoba dipatahkan Nur Kholik Ridwan (Islam Borjuis dan Islam Proletar, Galang Press, 2001). Ridwan meminjam terminologi “borjuis” dan “proletar” yang lebih akrab bagi kaum Marxian untuk mengelompokkan Islam. Menurutnya, Islam borjuis adalah kaum Muslim kota yang makmur, cenderung puritan, dan memandang Islam tak dikotak-kotakkan aturan mazhab. Kaum muslim borjuis juga tak berkehendak membela kaum tertindas. Kalaupun ada sebatas wacana dan klangenan, tanpa tindakan nyata. Kaum ini idak memberi ruang gerak sosial bagi kaum tertindas.
Sementara itu, kaum muslim proletar maksudnya umat Islam pedesaan. Meski miskin secara ekonomi (karena ruang gerak sosialnya ditutup), mereka ini justru berpikiran liberal, kritis, dan menghargai pluralisme. Mereka lebih luwes berinteraksi dengan golongan agama lain. Dalam memahami teks agama, mereka tidak tekstual. Karenanya dari golongan ini muncul praktek yang tidak muncul dalam Qur’an dan hadist seperti, Tahlilan, Yasinan, dll.
Tentu kita kemudian dapat mencirikan umat Islam ke dalam beragam bentuk lainnya: Islam moderat dengan Islam garis keras; membolehkan tafsir atas teks atau skripturalis.
iii
Film ini, dengan sederhana namun mengena, mengkritik pendikotomian Islam oleh kaum intelektual di atas. Dalam praktiknya, apa yang dipisah-pisahkan kaum cerdik pandai bisa membaur, campur aduk. Di bagian awal film ini, para tokoh kita mengikuti pengajian di pesantren. Sang kyai membahas ayat yang berbunyi “tidak akan ridho kaum Nasrani dan Yahudi hingga umat Islam mengikuti mereka” (Al-Baqarah:120). Menurut sang kyai, ayat itu bukan berarti setiap umat Nasrani dan Yahudi boleh diperangi. Hanya mereka yang dzalim terhadap umat Islam yang pantas dimusuhi. Sisanya, boleh diajak hidup rukun bersama.
Kemudian, para tokoh kita ikut pengajian lain lagi. Kali ini penutur (baca: penafsir)-nya seorang beraliran garis keras. Puritan—dandanannya saja mirip orang Arab. Ayat yang dibahas sama. Tapi penafsirannya beda. Kali ini, sang ustadz mengatakan bahwa setiap umat Nasrani dan Yahudi wajib diperangi berdasar ayat itu.
Para tokoh kita manggut-manggut di kedua pengajian berbeda itu. Usai dari pengajian “garis keras”, mereka kembali ke pesantren.
Sampai di sini, saya tertegun, tidakkah para tokoh kita tengah melakukan mobilitas sosial? Dari tradisional ke modern? Dari pluralis ke skripturalis? Dari moderat ke radikal?
Kita kemudian diperlihatkan, tak semua dari 3 tokoh kita mengikuti arus “gerakan sosial” dari Islam A ke Islam B. Salah seorang tokoh berkata, “Saya tak mau ikutan pengajian tadi malam (yang dimaksudnya pengajian garis keras, puritan, skripturalis), beda sama Pak Kyai (pengajian tradisional, moderat, pluralis).”
Tapi ada juga yang memilih tetap ikutan pengajian model itu. Tokoh kita yang satu ini, tidak datang dari kaum borjuis. Ia justru miskin (ciri Islam tradisional) hingga bingung membiayai pengobatan ayahnya yang tengah sakit parah. Versi Islam yang memberi tempat untuk memerangi kaum kafir—golongan yang dianggapnya berkontribusi pada penderitaan umat muslim di seluruh dunia (termasuk dirinya)—memikatnya. Si tokoh kita ini bahkan tergerak untuk berjihad. “Saya ingin mati syahid, seperti nama saya, Syahid.”
Sudah mafhum diketahui, banyak radikalisme Islam (meski tidak bisa digeneralisir) yang berwujud dengan aksi bom bunuh diri atau lainnya justru muncul di masyarakat miskin secara ekonomi. Masyarakat yang frustasi ini (karena tekanan ekonomi atau ketiadaan masa depan) jadi ladang subur bagi ektrimisme agama. Tuhan (baca: agama) yang menjanjikan surga dan 72 bidadari perawan bagi yang mati syahid tentulah amat menarik.
Artinya, radikalisme, puritanisme dan sebangsanya tak bisa digeneralisasi hanya akan memikat umat Islam kota. Ketika ia dianggap sebagai ”solusi” persoalan duniawi, orang miskin pun akan tertarik.
iv
Kemudian, mari tengok tokoh kedua, tokoh kita yang terang-terangan menolak pandangan radikal tadi. Ia memilih jadi ”Islam Tradisionalis”. Padahal latar belakangnya dari kota. Ia dititipkan ibunya, seorang wanita kota, sejak berumur 11 tahun. Menjelang lulus pesantren, ia bertekad mencari ibunya. Di sini, meski hidup bertahun-tahun dengan lingkungan Islam ”desa”, tapi ia belum bisa melupakan ”kota” yang menjadi darimana darah-dagingnya berasal. Meski, dalam cerita si tokoh kita pergi ke kota untuk mencari ibunya.
Di bagian lain film, kita diperlihatkan kalau si tokoh kita yang jadi santri kesayangan kyai, ditawarkan menikahi anak sang kyai. Hal ini punya arti tak sekadar sebatas lembaga perkawinan antara suami-istri. Menikahi anak perempuan pengasuh pesantren berarti pula sekaligus jadi penerus pesantren. Jadi kyai masa depan.
Hal ini sempat membuat si tokoh kita gamang. Sebab, ia diharuskan menghabiskan hidupnya jadi “Islam Tradisionalis”. Sementara itu, bagian sisi ”kota/modern” dirinya juga masih menyita perhatian.
v
Terakhir si tokoh ketiga. Ia mencirikan umat Islam kebanyakan. Sebuah mayoritas yang tak tersuarakan. Si tokoh kita yang satu ini tak berniat jadi kaum puritan/radikal atau menghabiskan hidupnya jadi kaum muslim tradisionalis/desa. Ia lebih pragmatis. Lulus pesantren ingin membuka usaha video shooting acara perkawinan. Bahkan, kemudian ia ingin ikutan rombongan layar tancap.
Ia tak ikut serta dalam arus besar wacana Islam radikal vis a vis Islam moderat, atau tradisional vs modern, atau lagi Islam borjuis dengan Islam proletar.
Kebanyakan umat Islam (Indonesia) memang seperti tokoh kita yang ini. Mereka tak cocok bila digolongkan ke dalam dikotomi yang dibuat kaum cerdik pandai. Mereka juga tak cocok disebut Islam sekuler. Bagi mereka, Islam tetap dianggap sebagai pedoman hidup, entah buat urusan duniawi maupun akhirat. Namun, bagian radikal dari Islam mereka singkirkan. Kebanyakan umat Islam tetaplah cinta damai.
vi
Apa yang hendak saya katakan, pada titik praksis (kehidupan nyata), dikotomi yang (pernah) dibuat para intelektual atas masyarakat Islam belum menggambarkan apa yang sebenarnya ada. Umat Islam telah demikian kompleks. Memasukkannya ke dalam kotak-kotak lalu melabelinya tidak hanya pekerjaan sia-sia, tapi juga menyesatkan. Film ini membuktikannya.
Ini mungkin kontribusi terbesar film ini. 3 Doa 3 Cinta pantas jadi juru bicara muslim Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan Dian yang jadi penyanyi dangdut kampung yang seksi? Ah, biar itu jadi porsi infotainment saja…
3 DOA 3 CINTA
Sutradara-Skenario: Nurman Hakim
Produser :Nan T. Achnas, Adiyanto Sumarjono, Nurman Hakim
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Yoga Pratama, Yoga Bagus
Produksi :Ifi Dan Triximages
Homepage :http://www.3doa3cinta.com
Durasi :114 Min












