Balibo dan Kita

Oleh Hikmat Darmawan | 09.01.2010| Komentar (0)

Balibo

Film produksi Australia, Balibo (Sutradara: Robert Connolly, 2009), menyentuh daerah gelap sejarah kita. Perlukah pemerintah kita melarangnya?

Ini seolah jadi pertanyaan klasik. Sebetulnya, sebuah film dilarang karena kontroversial, ataukah pelarangan film itu sendiri yang kontroversial? Jika film dilarang karena (isinya) kontroversial, berarti ada anggapan bahwa tak boleh ada percakapan pro dan kontra tentang film itu. Di era reformasi ini, anggapan seperti itu semakin problematik.

Anggota DPR yang juga entertainer, Eko Patrio, tegas bilang, “Pemerintah terlalu paranoid untuk melarang film ini, padahal sejarah harus diinformasikan sebaik mungkin.” (Fajar.co.id). Film sejarah memang selalu memancing perdebatan: soal ketepatan, sudut pandang, juga nilai-nilai politis lainnya. Kalau tak para politisi, para sejarawan pun sering meributkan. Lihatlah kasus film-film Oliver Stone seperti JFK, Nixon, bahkan Alexander.

Terhadap rencana pemutaran Balibo di JIFFEST 2009 (6 dan 10 Desember), Lembaga Sensor Film tak memberikan sikap jelas pada panitia. Secara lisan, menurut Lalu Roisamri (Direktur Eksekutif JIFFEST), LSF melarang. Tapi, sampai artikel ini dituliskan, tak ada surat resmi pelarangan itu.

Jika jelas dilarang, pertanyaan klasik itu pun mencuat. Apakah kita perlu membungkam kontroversi, perdebatan, perbedaan? Sebab, film adalah film. Bisa jadi sebuah film adalah pernyataan, gugatan, ajakan berpikir ulang. Tapi, film bukanlah peluru, yang pasti mematikan. Film juga, lazimnya (seharusnya) bukan diktator, yang secara pasti mengubah pikiran penonton ke satu arah. Karena sifatnya yang terbuka pada tafsir, perdebatan hangat tentang isi atau segala aspek film adalah sehat.

Balibo bercerita saat-saat menjelang invansi Pemerintah Orde Baru Indonesia ke Timor Timur, pada 1975. Lima orang wartawan Australia mati, dan menurut film ini, militer yang membunuh mereka. Satu lagi wartawan, Roger East (Anthony LaPaglia) menyelidikinya, dan berkenalan dengan Ramos Horta muda. Apakah kita punya jawaban lebih baik dari film itu? Mungkinkah kita memberi jawaban tanpa mendengar pertanyaan?

* * *

Hikmat Darmawan

Selain pengamat film dan kritikus, Hikmat juga dikenal sebagai seorang pengamat komik dan budaya pop lainnya. Hikmat mendapat Asian Public Intellectual (API) fellowship periode 2010-2011 untuk melakukan penelitian di 3 negara: Jepang, Thailand dan Indonesia. Topik yang ditelitinya adalah identitas nasional pada gambar komik di ketiga negara tersebut. Selagi dalam perjalanan, Hikmat berkesempatan melahirkan banyak tulisan yang akan segera diterbitkannya dalam bentuk buku, termasuk amatannya mengenai film Indonesia.
Tag/kata kunci: , ,

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808