<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>.::Rumah Film::. &#187; Wawancara</title>
	<atom:link href="http://new.rumahfilm.org/category/wawancara/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://new.rumahfilm.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 14:46:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Catatan VII Festival Film Cannes ke-64: Dongeng Naif dari Dunia Nadine Labaki</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-vii-festival-film-cannes-ke-64-dongeng-naif-dari-dunia-nadine-labaki/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-vii-festival-film-cannes-ke-64-dongeng-naif-dari-dunia-nadine-labaki/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 11:39:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asmayani Kusrini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes 2011]]></category>
		<category><![CDATA[Infrastruktur Perfilman]]></category>
		<category><![CDATA[Lebanon]]></category>
		<category><![CDATA[Nadine Labaki]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1499</guid>
		<description><![CDATA[Saat di Cannes, <b>Asmayani Kusrini</b> sempat berbincang dengan <b>Nadine Labaki</b>, seorang perempuan sutradara Lebanon yang membuat sebuah film tentang konflik agama di negaranya. Rini terkesan dengan pendekatan Nadine yang mengajukan dongeng yang naif. Kenapa pendekatan naif seperti itu dipakai untuk membincangkan soal keagamaan dan kebangsaan begitu rupa?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Dalam hal industri film, Indonesia termasuk yang beruntung sudah memiliki infrastruktur. Di Indonesia, sejumlah rumah produksi aktif membuat film dan menghasilkan banyak judul film dalam setahun. Bandingkan dengan Lebanon misalnya. Konflik seperti sudah jadi menu sehari-hari dalam kehidupan masyarakat Lebanon. <span id="more-1499"></span>Perang saudara berkecamuk sejak 1975 dan baru berakhir sekitar tahun 1990. Meskipun dinyatakan berakhir, Lebanon masih harus berhadapan dengan konflik-konflik di beberapa bagian negaranya, termasuk konflik di selatan Lebanon yang terjadi mulai 1985 hingga 2000.</p>
<p>Lalu serangkaian pengeboman di tahun 2005, dan tak lama kemudian Lebanon kembali ke kancah perang ditahun 2006. Suasana politik di Lebanon kembali memanas dan memuncak pada Mei 2008 lalu. Perang bersaudara kembali berlangsung di Lebanon, dipicu oleh konflik agama, perebutan kekuasaan antara kelompok Sunni dan Syiah dan terpecahnya suara kelompok kristen. Tahun 2008 tercatat sebagai tahun berdarah, tahun paling buruk dalam sejarah konflik di Lebanon. Negeri yang terus menerus dilanda konflik itu tertatih-tatih dalam memproduksi film. Menurunnya minat menonton film membuat  Lebanon tidak punya studio maupun perusahaan produksi film.</p>
<p>Dalam setahun, Lebanon hanya mampu memproduksi 3 – 5 judul film setahun. Dalam kondisi yang tidak memadai itu, sejumlah sutradara muda berbakat muncul di ranah sinema Lebanon. Sayangnya, karena tidak ada infrastruktur yang memadai, para sutradara Lebanon ini terpaksa berpaling kepada donor asing terutama Perancis untuk bisa memproduksi film mereka hingga selesai. Tanpa dana luar, bisa dipastikan, Lebanon tidak bisa memproduksi film.</p>
<p>Dengan dana yang hampir seluruhnya berasal dari luar inilah, sejumlah sutradara baru berkibar di panggung sinema lokal maupun dunia. Salah satu sutradara Lebanon yang belakangan ini banyak jadi bahan pembicaraan adalah <strong>Nadine Labaki</strong>. Konflik yang tak berhenti di Lebanon akhirnya  membuat Nadine Labaki gusar. Sutradara perempuan asal Lebanon yang masuk dalam daftar <em>10 Directors To Look Out For List</em> majalah <em>Variety</em> ini akhirnya memutuskan membuat film tentang konflik agama.</p>
<div id="attachment_1504" class="wp-caption aligncenter" style="width: 762px"><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-nadinelabaki.gif"><img class="size-full wp-image-1504" title="cannes-2011-7-nadinelabaki" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-nadinelabaki.gif" alt="" width="752" height="600" /></a><p class="wp-caption-text">Nadine Labaki</p></div>
<p>Nadine Labaki bukan wajah baru di Cannes. Tahun 2007 lalu, filmnya <em>Sukkar al-Banat (Caramel)</em> diputar perdana di seksi <em>Director&#8217;s Fortnight</em> di festival yang sama. <em>Caramel</em> berkisah tentang kehidupan sekelompok perempuan Beirut yang bekerja di salon kecantikan. Saat itu, perempuan cantik lulusan Saint Joseph University Beirut jurusan Audiovisual ini  tidak mau ikut-ikutan mengangkat tema perang saudara yang marak dalam film-film karya sutradara-sutradara muda asal Lebanon.</p>
<p>Tapi, di tahun 2008 itu, Nadine Labaki sedang mengandung anak pertamanya. Konflik agama ini merisaukan perempuan kelahiran 18 Februari 1974 ini. Instingnya sebagai calon ibu menggerakkan ide awal pembuatan film <em>Where Do We Go Now ?</em>, yang tahun ini masuk seksi <em>Un Certain Regards. Where Do We Go Now?</em> Adalah film panjangnya yang kedua setelah membuat banyak video iklan dan video klip musik.</p>
<p>Ditemui di teras Cheri Cheri Beach Cafe di sepanjang pantai Croisette, Nadine Labaki menyempatkan waktunya menemui RumahFilm pada Rabu 18 Mei lalu, 2 hari setelah pemutaran perdana <em>Where Do We Go Now?</em>. Kepada RumahFilm, Nadine bercerita tentang film terbarunya, tentang konflik dan absennya industri film di Lebanon. Berikut hasil percakapannya:</p>
<p><strong>Dalam <em>Caramel</em>, sepertinya Anda tidak begitu risau dengan konflik.</strong><br />
Selama 5 tahun belakangan ini saya memang sedang mengalami fase penting. Ketika <em>Caramel</em> dibuat, saya sedang memasuki periode menjadi wanita dewasa yang  matang. Sementara ketika membuat <em>Where Do We go Now?</em>, saya sedang memasuki masa persiapan menjadi ibu. Periode ini membuat saya melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda. Cara pandang anda melihat konflik disekitar juga berbeda. Sebelumnya, saya dan juga masyarakat Lebanon pada umumnya berpikir, jika perang berlangsung lagi, kami kabur saja. Tapi semuanya berubah ketika saya mengandung bayi.</p>
<p><strong>Apakah Anda tidak berniat untuk membesarkan anak Anda di luar Lebanon?</strong><br />
Saya tidak berniat pergi meninggalkan Lebanon. Negeri itu adalah tanah air saya, dan suami saya juga. Anak saya anak Lebanon. Kami berhak tinggal dan hidup damai di Lebanon. Karena itu saya membuat <em>Where do We Go Now?</em>, sebagai upaya menuntut perdamaian. Saya tidak bisa membayangkan jika anak saya kelak harus terlibat konflik yang mungkin tak dipahaminya. Jika anak saya tumbuh dewasa di periode itu, seberapa jauh saya ingin bertindak menghalangi niat anak saya untuk mengangkat senjata seperti yang lainnya, turun ke jalan dan membunuh orang lain dan mungkin terbunuh atas nama agama, atau atas nama komunitasnya atau atas nama partai politik. <em>Where Do We Go Now?</em> berasal dari semua galau itu. Para ibu yang melakukan apa saja untuk melindungi anak-anaknya, melindungi orang terkasih dari perang, yang bagi saya berasal dari insting ibu, reaksi spontan seorang wanita.</p>
<p>Selama ini saya menjalani hidup normal di Lebanon. Kadang menjadi abnormal jika ada perang saudara. Tapi di sela-selanya, kami berusaha hidup tenang lagi. Perang di Lebanon tidak pernah bisa diprediksi. Hanya satu masalah kecil, seluruh negara bisa berkonflik. Kami sudah terbiasa dengan hidup begitu. Sejak kecil kami terbiasa menghabiskan hari di <em>shelter</em>, tempat-tempat penampungan. Kami terbiasa bersiap-siap lari, jika terdengar ledakan bom, kami terbiasa secepat kilat membawa apa yang perlu dibawa ketika situasi darurat.</p>
<p>Saya beruntung, orang tua saya selalu tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana; mereka selalu siap melindungi kami, bahkan mengirim kami ke keluarga yang tinggal di luar negeri kalau perlu. Tapi suami saya misalnya, dia banyak sekali menyaksikan langsung orang mati di jalanan. Semua orang Lebanon yang tinggal di Lebanon hidup dengan kengerian itu. Di satu sisi saya tidak ingin anak saya mengalami masa-masa kacau, tapi di sisi lain, saya juga ingin anak saya tumbuh besar di Lebanon. Bagaimana caranya? Dengan berharap agar konflik bisa dihindari dan dihentikan. Itu yang menjadi tema utama di <em>Where Do We Go Now?</em>.</p>
<p><strong>Artinya, jika saat itu Anda tidak hamil, Anda akan melakukan pendekatan yang berbeda terhadap <em>Where Do We Go Now? </em></strong><br />
Mungkin akan berbeda. Rasanya insting akan menjadi ibu ada hubungannya dengan hasil akhir film ini.  Obsesi dan ketakutan terhadap kehilangan anak. Karena saya sudah menjadi saksi begitu banyak perempuan, ibu yang menangis di depan saya karena anaknya hilang dalam perang. Saya menyaksikan sejak kecil konflik ini, dan terus berlangsung, terulang lagi terulang lagi. Saya tidak kenal seorang pun yang tidak kehilangan salah satu anggota keluarganya karena perang saudara. Saya sendiri sudah kehilangan beberapa anggota keluarga juga, baik keluarga dekat maupun keluarga jauh.</p>
<p>Sejak kecil, tangis ibu itu sudah menjadi menu utama, baik itu dari siaran televisi maupun menyaksikan langsung di depan mata ibu yang meratap-ratap. Sejak hamil, saya menjadi terobsesi ingin tahu bagaimana reaksi mereka, para ibu ini, bagaimana mereka menghadapi kehilangan, di dunia yang sudah nyaris tak terkendali. Kehilangan itu tak tertahankan. Saya tidak bisa membayangkan jika itu anak saya, bagaimana perempuan itu bisa bertahan hidup dalam kenangan akan anak-anak mereka?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_1503" class="wp-caption aligncenter" style="width: 684px"><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-labakiwhere.gif"><img class="size-full wp-image-1503" title="cannes-2011-7-labakiwhere" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-labakiwhere.gif" alt="" width="674" height="449" /></a><p class="wp-caption-text">Where Do We Go Now? - Dir: Nadine Labaki</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Dengan beberapa adegan artifisial, misalnya di awal film ketika para wanita berjalan ke kubur sambil bersenandung lagu duka, dan beberapa adegan humor di sepanjang film, di satu sisi, <em>Where Do We Go Now?</em> jadi terlihat naif. </strong><br />
Film ini adalah dongeng yang ingin saya ceritakan kepada penonton. Seperti pada umumnya dongeng, ia berisi hal-hal utopia yang saya tahu, sayangnya tidak akan terjadi di dunia nyata. Karena itu, saya tidak akan tersinggung kalau orang menyebut film saya naif, karena memang film ini naif.  Cara saya berpikir memang naif. Saya ingin mengubah dunia dengan cara saya, saya berfantasi ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, saya melihat segala-galanya seperti dari mata anak-anak. Absurditas dunia saya lihat dari kaca mata anak-anak. Ada yang bilang kebenaran datang dari mulut anak-anak, karena mereka lebih jernih pikirannya dari kita orang dewasa. Saya memang naif, kenapa tidak? Itulah keuntungannya menjadi <em>filmmaker</em>. Saya bisa menciptakan dunia ideal saya.</p>
<p>Alasan itu juga yang membuat saya tidak ingin meninggalkan Lebanon. Saya merasa saya punya kelebihan karena bekerja di bidang film. Dengan profesi ini saya bisa menunjukkan kepada dunia, khususnya mereka yang menonton film saya,  cara pandang saya terhadap dunia. Sekarang saya merasa punya misi yang jelas, untuk mengekspresikan kekhawatiran dan rasa cemas lewat film.  Tentu saja saya berharap mungkin film saya bisa mengubah sesuatu. Kalaupun film saya tidak mengubah apa-apa, tidak ada salahnya bermimpi.</p>
<p><strong>Di sisi lain film Anda juga menyentuh masalah substansial, contohnya asal muasal konflik agama. Bagaimana tanggapan otoritas agama di Lebanon terhadap film ini?</strong><br />
Sampai saat ini, saya benar-benar tidak tahu bagaimana film ini akan diterima. Bukan hanya tanggapan dari kelompok Hizbullah, tapi juga otoritas agama lainnya, saya tidak tahu. Rasanya juga tidak perlu, karena saya merasa saya tidak menyinggung siapa-siapa di film saya. Kalaupun nanti  mereka menganggap bahwa film membawa misi politik, biar saja. Saya tidak berbakat sama sekali di politik. Saya tidak tertarik dengan dunia politik. Film ini baru saja diputar dua hari yang lalu, jadi tentu saja belum bisa memberi komentar sekarang.</p>
<p><strong>Film ini berlatar belakang kehidupan di desa kecil yang hubungannya ke dunia luar hanya berupa jalan setapak yang kiri kanannya hancur terkena bom. Bahkan mobil pun tidak bisa lewat. Mengapa Anda memilih lokasi di desa kecil yang hubungannya dengan dunia luar nyaris terputus?</strong><br />
Desa ini hanya fiksi. Rekaan. Fantasi. Tapi saya ingin menggarisbawahi absurditas situasi konflik. Desa ini menjadi dunia saya, dan saya ingin menggarisbawahi bagaimana pengaruh luar, apa yang terjadi diluar bisa sangat berpengaruh terhadap apa yang terjadi didalam desa. Hubungan mereka dengan dunia luar sangat terbatas, mereka tidak punya jembatan yang memadai, sinyal televisi yang sulit didapat. Begitu mereka bisa dapat sinyal, begitu mereka mendengar apa yang terjadi di luar sana meski sayup-sayup, bahwa ada konflik agama diluar sana, mereka mulai memukul genderang perang di dalam desa terpencil yang selalu hidup damai.</p>
<p>Dalam salah satu adegan, seorang perempuan berteriak kepada suaminya, kemarin kamu masih memanggilanya saudara, makan falafel bersama, sekarang kamu mau membunuhnya hanya karena kamu mendengar di luar sana mereka saling membunuh? Bagi saya, itu benar-benar absurd. Dengan mengambil lokasi di area terpencil yang terisolasi ini, absurditas itu makin ditegaskan.</p>
<p><strong>Film ini tentang konflik agama. Apakah tidak ada tentangan dari otoritas agama setempat dalam proses pembuatannya? Apalagi Anda melibatkan penduduk desa setempat.</strong><br />
Saya sadar, film ini menyentuh masalah sensitif, sehingga saya berusaha merahasiakan proyek ini hingga selesai. Selama proses pembuatannya, saya tidak bicara dengan media, tidak memberikan skenario kepada sembarang orang dan hanya tim inti saja yang tahu jalan ceritanya. Para artis aktor pendukung pun tidak paham betul arah film ini sampai pada menit terakhir. Dan semua warga desa ikut terlibat dengan sangat bersemangat. Agak susah memang merahasiakan proyek ini karena di Lebanon, orang tidak membuat film setiap hari; Syukurlah, semua orang bisa diyakinkan untuk tidak menyebarkannya keluar lokasi <em>shooting</em> sampai selesai.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_1505" class="wp-caption aligncenter" style="width: 740px"><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-nadinelabaki2.gif"><img class="size-full wp-image-1505" title="cannes-2011-7-nadinelabaki2" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-7-nadinelabaki2.gif" alt="" width="730" height="487" /></a><p class="wp-caption-text">Dalam suasana kerja</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Di dalam film anda sepertinya ingin mengatakan bahwa sensor itu perlu. Para ibu mulai berulah untuk mengalihkan perhatian ketika TV menayangkan berita konflik di ibukota. Tapi di saat yang sama, para ibu inilah yang berinisiatif membawa orang luar masuk ke desa dengan tujuan yang sama, yaitu mengalihkan perhatian.</strong><br />
Ada banyak bentuk perbedaan. Perbedaan pendapat, perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa, dan tidak perlu itu jadi konflik. Tapi di saat yang sama, saya juga sadar bahwa sebagai ibu ada hal-hal yang perlu disensor dari jangkauan anak-anak. Misalnya saya tidak akan mempertontonkan film adegan kekerasan dan pembunuhan kepada anak usia belia. Ada waktunya untuk itu. Bukan berarti saya menentang keterbukaan, bukan berarti saya menyembunyikan informasi penting. Tapi sebagai ibu, Anda mengenali anak Anda dan sifat-sifatnya, Anda tahu dalam hal-hal tertentu, perlu waktu yang tepat untuk melepaskan informasi sensitif.</p>
<p><strong>Industri film di Lebanon bukan industri yang populer di kalangan generasi muda. Bagaimana ceritanya Anda bisa bergelut dalam bidang ini?</strong><br />
Saya selalu tahu bahwa saya ingin menjadi sutradara. Awalnya saya tidak tertarik karena saya orangnya pemalu. Tapi saya mulai belajar sinematografi, dan mengikuti salah satu pelajaran teater, yang membuat saya harus tampil di atas panggung. Saya mulai menikmati bekerja di bidang ini ketika saya mulai bekerja dan menyutradarai orang lain. Saya menemukan energi baru dari dalam diri saya. Memang, film bukan profesi yang menjanjikan di Lebanon. Setiap orang agak skeptikal ketika saya mengutarakan niat ingin membuat film. Tidak mudah membuat film di Lebanon.</p>
<p><strong>Kenapa tidak mudah membuat film?</strong><br />
Karena Lebanon belum punya infrastruktur untuk itu. Di Lebanon, kami tidak punya referensi apa-apa. Kami tidak punya industri film. Jika anda ingin membuat film, anda harus belajar sendiri saat melakukannya. <em>Learning by doing.</em> Saya berkesempatan belajar ketika membuat video klip musik dan iklan. Tapi membuat film, dengan segala kerumitan produksinya, bagaimana caranya, bagaimana seorang sutradara bekerja,  bagaimana mengatur semuanya, Anda harus belajar dari nol dan belajar sendiri. Saya juga banyak belajar dari kesalahan. Saya juga beruntung mendapatkan produser tapi tidak semua sutradara di Lebanon bisa beruntung.</p>
<p><strong>Produser anda dari Perancis. Apakah hal ini menuntut anda untuk membuat film sesuai selera Perancis?</strong><br />
(Nadine tertawa). Saya tidak tahu bagaimana selera Perancis itu. Saya merasa film saya sangat Nadine Labaki, bukan film Perancis. Saya akui saya, dengan produser orang Perancis, saya juga dibantu oleh tim dari Perancis, tapi bukan berarti mereka bisa mengintervensi film saya sesukanya. Seperti yang saya bilang, sejak di Lebanon kami tidak punya referensi, saya juga belajar banyak dari tim Perancis dan mereka mau tidak mau harus terbiasa dengan ketidak profesionalan tim saya (lagi-lagi Nadine tertawa).</p>
<p>Saya selalu berusaha menemukan jalan untuk bekerja sama dengan orang-orang lokal juga. Tim saya tim lokal. Banyak sekali peristiwa yang menunjukkan ketidakprofesionalan tim saya, tapi kami terus maju, dan yang membuat kami ingin terus adalah gairah membuat film. Kami menciptakan sistem bekerja kami sendiri, karena itu sulit bagi tim lain untuk menyamakan cara kerja dengan tim lokal saya. Tim film dari Perancis punya cara kerja sangat terstruktur, sehingga tidak mudah bagi mereka menghadapi keunikan cara kami membuat film.</p>
<p>Saya menyutradarai adegan dari dalam situasi, di depan kamera bukan di belakang kamera, dan banyak melakukan improvisasi. Saya mengubah skrip beratus kali di lapangan karena kami banyak improvisasi. Ini membuat tim Perancis kelabakan. Tapi kami berusaha dan akan terus berusaha. Suatu hari nanti kemungkinan usaha kami membentuk tim lokal ini akan berkembang dan semoga bisa menghasilkan industri film yang terstruktur.</p>
<p><strong>Anda mengkasting diri Anda sendiri dalam film ini.</strong><br />
Iya, saya menemukan bahwa lebih mudah bagi mereka, bagi artis non profesional ketika saya berakting di antara mereka. Mereka hanya bereaksi terhadap apa yang saya lakukan. Mereka paham akan ke mana jalur cerita ketika saya mulai berakting;</p>
<p><strong>Film Anda mengingatkan saya pada <em>Turtles Can Fly</em> karya Bahman Ghobadi pada pemilihan lokasi di area ranjau dan di salah satu adegan mencari sinyal di atas bukit berdebu.</strong><br />
Saya suka sekali karya-karya Bahman Ghobadi. Tapi kalaupun Anda menemukan kesamaan, itu karena tuntutan cerita, mungkin saja secara tidak sadar. Tapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa mereka terisolasi dari dunia luar.</p>
<p><strong>Anda seorang feminis?<br />
</strong>Feminis dalam arti jelek? Seperti girl power? Tidak sama sekali. Saya termasuk konvensional sebagai perempuan.</p>
<p><strong>Tapi di film Anda, khususnya <em>Where Do We Go Now?</em>, perempuanlah yang punya kekuatan. </strong><br />
Ya, saya mencari sesuatu dari perspektif saya sendiri sebagai perempuan. Saya merasa saya punya dasar secara emosi dan psikologi, ketika menggambarkan kehidupan perempuan. Itulah kenapa selalu suka bercerita tentang perempuan. Saya merasa perempuan punya kode rahasia, mereka bisa saling mengerti.<br />
<strong><br />
Apakah revolusi Arab yang baru saja terjadi mempengaruhi juga film Anda?</strong><br />
Apakah revolusi Arab ini akan berhasil? Aaya tidak tahu. Semoga keberhasilannya bisa mempengaruhi negeri-negeri Arab lain. Sayangnya di Lebanon anda tidak pernah tahu apa yang harus diharapkan. Saya rasa, saya takut terlalu optimis. Tentu saja saya senang ketika negeri-negeri Arab bangkit berevolusi dari ketertindasan, tapi di saat yang sama saya terlalu sering melihat konflik agama, karena itu saya bertanya <em>Where Do we Go Now?</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-vii-festival-film-cannes-ke-64-dongeng-naif-dari-dunia-nadine-labaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan V Festival Film Cannes ke-64: Kabar Visual dari Jafar – Wawancara dengan Mojtaba Mirtahmasb, co-director “In Film Nist”</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-v-festival-film-cannes-ke-64-kabar-visual-dari-jafar-wawancara-dengan-mojtaba-mirtahmasb-co-director-in-film-nist/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-v-festival-film-cannes-ke-64-kabar-visual-dari-jafar-wawancara-dengan-mojtaba-mirtahmasb-co-director-in-film-nist/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 May 2011 04:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asmayani Kusrini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes 2011]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Jafar Panahi]]></category>
		<category><![CDATA[Mojtaba Mirtahmasb]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1447</guid>
		<description><![CDATA[Kebebasan masihlah sebuah kata yang ilusif, di beberapa tempat. Di Iran, misalnya, kata itu jadi terasa mahal bagi beberapa sutradara dan aktivis yang berseberangan dengan pemerintah. <b>Jafar Panahi</b>, sutradara yang telah ikut mengharumkan nama Iran di pentas sinema dunia, kini dilarang membuat film oleh pemerintahnya. Para pencinta film di seantero dunia, bertanya-tanya, bagaimana nasibnya. <i>In Film Nist (This Is Not Film)</i> menjawab tanya itu, tapi juga menerbitkan berbagai pertanyaan menarik. Ini film yang boleh dibilang salah satu film politik terpenting tahun ini di Cannes, dibuat oleh <b>Mojtaba Mirtahmasb</b> yang sebetulnya hendak membuat dokumenter, dan terasa seperti film komedi. Film itu bergerak dalam berbagai kecemasan, Negara bisa menyergap setiap saat, tapi justru menghasilkan permainan-permainan konseptual. Redaktur RumahFilm <b>Asmayani Kusrini</b> menemui Mojtaba seusai pemutaran perdananya yang, menurut Mojtaba, telah melalui proses mendebarkan, di Palais Du Cinema, Cannes. Rini juga sempat menyaksikan laporan Mojtaba secara online tentang pemutaran perdana itu pada Jafar Panahi, nun di Iran sana. Obrolan dengan Mojtaba ini bisa jadi cermin tentang makna kebebasan kita sendiri, dalam hal pembuatan film, di Indonesia.  ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Salah satu kegiatan <strong>Jafar Panahi</strong> selama menunggu keputusan bandingnya adalah menjaga iguana. Putrinya yang sedang belajar di Paris sering menelpon, mengingatkan Jafar untuk tak lupa memberi makan iguana yang sering bermanja-manja di lengan Jafar. Di salah satu adegan dalam film <em>In Film Nist</em>, Jafar terlihat kesal karena si iguana ogah membuka mulut.  Penonton dibuat tertawa ketika Jafar terpaksa menolak menjaga anjing tetangganya karena si anjing membuat iguana kabur ketakutan. Melihat Jafar Panahi di <em>In Film Nist</em>, seperti menjawab pertanyaan semua orang, bagaimana nasib Jafar Panahi di Iran sana? Dalam <em>In Film Nist</em>, Jafar seperti ingin memberi kabar, bahwa ia baik-baik saja dan sedang terus berjuang untuk bebas.<span id="more-1447"></span></p>
<p>Usai pemutaran perdana <em>In Film Nist</em> (<em>This Is Not Film</em>), Kamis 19 Mei kemarin,  <strong>Mojtaba Mirtahmasb</strong> langsung bergegas menuju Les Ambasadeur Terrace, lantai empat Palais Du Cinema. Sutradara dokumenter ini langsung menyalakan i-Pad dan tak lama kemudian, wajah Jafar Panahi muncul di layar. “Bagaimana pemutaran filmnya?” kata Jafar di seberang sana. “Baik. Salle Bazin penuh, dan tidak ada yang meninggalkan tempat hingga selesai,” lapor Mirtahmasb. Lelaki kelahiran Kerman, Iran 1971 ini kemudian <em>ngobrol</em> dengan Jafar sambil mondar-mandir. Sesekali ia mendekatkan telinganya ke <em>speaker</em> i-Pad jika sinyal mengaburkan suara Jafar. Di akhir pembicaraan mereka, Jafar berpesan, “Hei Mojtaba, hati-hati di sana dan semoga sukses,” kata Jafar.</p>
<p>Di Cannes, masyarakat perfilman setuju, <em>In Film Nist</em> adalah film (politik) penting tahun ini. Jafar Panahi dan Mojtaba Mirtahmasb harus berhati-hati dengan sejumlah pagar berduri yang mengelilingi proses pembuatan film ini. Mereka bergerak di antara proses keputusan hukum Jafar Panahi dan batasan terhadap pembuatan dokumenter yang tidak boleh mengkritisi pemerintah. Dalam salah satu adegan, misalnya, terjadi &#8216;tarik-menarik kekuasaan&#8217; antara Jafar yang merasa sebagai sutradara dan Mojtaba yang sedang menyutradarai.</p>
<p>“Hei, sekarang ini saya yang sutradara, kamu lakukan saja tugasmu di depan kamera,” kata Mojtaba dari belakang kamera. Jafar yang terlihat cemberut akhirnya pasrah dan bilang, “Iya ya, saya dihukum 20 tahun untuk tidak membuat film, tidak menulis skenario, tidak boleh memberikan interview kepada media mana pun dan tidak boleh keluar dari Iran. Tapi saya tidak dilarang berakting dan membaca skenario, <em>kan</em>? Apa saya bacakan saja skenario saya?” katanya di depan kamera.  “Ya, saya akan merekam apa saja yang kamu lakukan. <em>Kan</em> maksud saya datang kesini (ke rumah Jafar) memang untuk itu.”</p>
<p>Dalam ruang sempit yang absurd inilah <em>In Film Nist</em> lahir dan secara mengejutkan bisa dinikmati sebagai film komedi juga. Bahkan orang yang tidak tahu sama sekali kasus Jafar Panahi akan bisa menikmati film ini sebagai doku-drama yang dipenuhi humor-humor sinis. Saat <em>credit title</em> muncul, hanya nama Jafar Panahi dan Mojtaba Mirtahmasb saja yang muncul di layar. Nama mereka yang ikut berpartisipasi, mulai dari musik, editor hingga ucapan terima semua muncul seragam dalam bentuk rangkaian titik-titik.</p>
<p>Usai berkomunikasi dengan Jafar, Mojtaba Mirtahmasb, sutradara dokumenter yang juga menjabat sebagai Kepala Asosiasi Sutradara Dokumenter Iran ini lalu makan roti dengan cepat. Maklum,  sudah waktunya makan siang. Setelah makan, Mojtaba berkesempatan untuk bercakap dengan RumahFilm di Teras Festival. Berikut adalah kutipan percakapan kami. RumahFilm mengucapkan terima kasih kepada <strong>Shahla Rostami</strong>, wartawan Iran yang bersedia menjadi penerjemah.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong></p>
<div id="attachment_1450" class="wp-caption aligncenter" style="width: 700px"><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-5-mojtaba02.gif"><img class="size-full wp-image-1450" title="cannes-2011-5-mojtaba02" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-5-mojtaba02.gif" alt="" width="690" height="362" /></a><p class="wp-caption-text">Mojtaba Mirtahmasb</p></div>
<p></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Selamat, Anda akhirnya tiba di Cannes. Pihak Festival baru mengumumkan bahwa anda akan hadir di Cannes di menit terakhir. Apakah ada kesulitan di perjalanan?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Saya baru tenang ketika pesawat mengangkasa. Sudah beberapa kali saya batal berangkat keluar negeri ketika persis berada di jalan masuk pesawat. Jadi ya, saya ada di sini sekarang benar-benar suatu keberuntungan. Selain itu saya tidak dihukum seperti Jafar. Walaupun sering dilarang keluar negeri untuk mengikuti aktivitas perfilman, tapi saya tidak dilarang membuat film dan juga tidak dilarang keluar dari Iran. Passport dan Visa saya berlaku dan legal.</p>
<p><em>(Mojtaba bukan orang baru dalam daftar hitam polisi Iran. Pada 2009 lalu misalnya, Mojtaba bersama artis Fatemah Moatamed-Arya, &#8216;dijemput&#8217; di bandara oleh polisi intelijen ketika akan berangkat ke Amerika menghadiri petemuan di American Academy Of  Motion Picture Arts and Science. Mereka, termasuk Jafar Panahi, terkenal sangat aktif dalam &#8216;Green Movement&#8217;, gerakan hijau yang menuntut presiden Mahmoud Ahmadinejad turun dari kursi kepemimpinan. Sebulan kemudian, lagi-lagi Mojtaba dihentikan di depan pintu pesawat ketika akan berangkat menghadiri acara CPH DOX festival di Copenhagen.)</em></p>
<p><strong>Di dalam <em>In Film Nist</em>, Anda bilang kepada Jafar bahwa Anda sedang mengerjakan proyek dokumenter <em>Behind The Scene of Filmmaker Not Making Film. </em>Apakah mengganti judul film ini dengan In Film Nist  (INI BUKAN FILM) untuk menghindari masalah hukum?</strong></p>
<p>Bisa dibilang begitu. Saya memang sedang mengerjakan proyek dokumenter tentang para pekerja film Iran yang dihukum untuk tidak membuat film. Jafar adalah salah satu narasumber saya. Dari proyek saya inilah Jafar datang dengan ide yang menurut saya sangat lihai dan cerdik. Di satu pihak, kami bekerja sama membuat film ini, yang berarti nama Jafar berhak dicantumkan dalam film. Tapi di lain pihak, karena hukuman yang dijatuhkan padanya, film ini bisa memperberat hukumannya. Karena itulah kami memberi judul <em>In Film Nist</em>. Kalau ada tuntutan hukum, kami bisa bilang Ini Bukan Film.</p>
<p><strong>Apakah bagian ini nantinya akan masuk dalam proyek dokumenter Anda?</strong></p>
<p>Tidak. Akhirnya bagian Jafar Panahi ini berdiri sendiri. Jafar mengajukan idenya hingga film ini menjadi film tentang masalah yang sedang dihadapinya. Saya berharap proyek awal saya itu bisa selesai juga.</p>
<p><strong>Bagaimana Anda bisa merahasiakan film ini  hingga selesai dan bisa sampai di Cannes?</strong></p>
<p>Saya tidak akan menceritakannya dengan detail, tapi seperti di film-film detektif, kopi film ini dikirim memutar dari tangan ke tangan agar tidak mencurigakan.</p>
<p><strong>Periode waktu dalam film ini, terlihat hanya satu hari, dari pagi sampai malam. Keputusan berdasarkan faktor hukum juga?</strong></p>
<p>Kami berdua memutuskan seperti itu. Saat kami menonton kembali <em>footage</em> yang ada, kami merasa sudah tidak cukup menggambarkan secara umum apa yang terjadi pada Jafar. Hampir setiap hari waktunya dihabiskan menonton TV, bermain dengan telepon genggam, dan menjaga iguana putrinya. Rasanya itu sudah cukup menggambarkan situasi Jafar saat ini dan bagaimana bosannya dia.</p>
<div id="attachment_1454" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-5-infilmnist.gif"><img class="size-medium wp-image-1454" title="cannes-2011-5-infilmnist" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/cannes-2011-5-infilmnist-300x171.gif" alt="" width="300" height="171" /></a><p class="wp-caption-text">In Film Nist (sumber foto: www.festival-cannes.com)</p></div>
<p><strong>Ada special appearance dari Iguana dan Anjing menjadi aktor pembantu. Selain &#8216;tukang sampah yang mengaku saudara penjaga gedung, karakter-karakter lain tersembunyi dari kamera dan muncul  dalam bentuk suara, baik di telepon maupun di belakang pintu.</strong></p>
<p>Begitulah keseharian Jafar sejak menjalani hukuman. Iguana itu milik putri Jafar yang sekarang sedang belajar di Paris. Iguana ini sudah menjadi bagian dari keluarga sejak berumur baru beberapa hari. Selain itu, kami juga tidak mau melibatkan banyak orang karena pasti akan menimbulkan kecurigaan. Kami tidak mau orang-orang yang keluar masuk gedung melihat kamera yang sedang merekam.</p>
<p><strong>Banyak kebetulan-kebetulan lucu yang mewarnai <em>In Film Nist</em>. Tetangga yang datang dengan anjingnya dan meminta Jafar untuk menjaga anjing itu satu dua jam hingga munculnya tukang sampah yang sedang mengumpulkan sampah dari lantai ke lantai gedug apartemen. Ini kebetulan yang disengaja?</strong></p>
<p>Saya ingin mengumpamakannya seperti ini. Di musik kami, ada namanya improvisasi. Ada <em>score</em> yang jadi panduan para musisi tapi di saat yang sama, ketika tampil <em>live</em> mereka berimprovisasi sambil tetap mempertahankan score. Seperti pemain gitar dan pemain drum, yang memainkan alat musik mereka masing-masing, tapi mengomposisikan lagu yang sama. Situasi kami juga sama.</p>
<p>Saya lebih tertarik ke dokumenter, sementara Jafar lebih ke film fiksi. Jadi kami ingin menggabungkan latar belakang ketertarikan kami ini tanpa harus memberikan garis antara dokumenter dan nondokumenter. Garis itu tidak terlihat di film ini. Kami tidak punya skenario ketika mengerjakan proyek ini. Kami berimprovisasi karena kami menghadapi masalah yang sama, masalah mendasar, yaitu kebebasan membuat film. Hanya itu yang menjadi dasar dan titik tolak lahirnya film ini.</p>
<p>Dalam beberapa bagian di film ini, dalam batas tertentu, saya ingin mengarahkan film ini di jalur yang tepat. Tapi di saat yang sama, saya juga nyaris tidak melakukan apa-apa dalam konteks improvisasi Jafar,  karena pada akhirnya film ini mengalir sendiri tanpa ada instruksi khusus dari kami berdua. Bahkan non aktor, baik itu hewan, iguana dan anjing maupun orang yang masuk dalam film ini juga melakukan improvisasi tanpa skenario.</p>
<p><strong>Sulitkah mengarahkan Jafar Panahi?</strong></p>
<p>Tidak sulit, karena dia hanya menjadi diri sendiri dan dia tahu apa yang ingin dia lakukan. Yang sulit adalah ketika Jafar lupa diri sebagai aktor dan ingin mengambil alih peran di belakang kamera. Hahahaha. Dia kadang tidak sadar, dia sedang dihukum untuk tidak membuat film.</p>
<p><strong>Di dalam film, Anda berdua saling memfilmkan. Anda dengan kamera Anda, dan Jafar dengan blackberry-nya.  Apakah adegan ini tidak membahayakan status hukum Jafar?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan membuat film ini saja, status hukum kami berdua sedang dipertaruhkan. Tapi sekali lagi, kami siap dengan antisipasi. Dalam film itu, ketika Jafar mengarahkan kamera <em>handphone-</em>nya kepada saya, dia kan bilang bahwa dia bosan dan tidak ada salahnya menggunakan <em>handphone</em>, toh ini bukan film (tapi, rekaman dalam <em>handphone</em>).</p>
<p><strong>Ketika kamera berbalik, menampilkan hasil rekaman Jafar di <em>handphone</em> dan posisi Anda kemudian menjadi aktor di depan kamera, Anda bilang, “Rekam saja, siapa tahu saya ditangkap nanti”. Itu salah satu antisipasi atau provokasi terhadap pemerintah Iran? Bagaimana tanggapan pemerintah dengan film ini dan bagaimana nasib Anda berdua kelak?</strong></p>
<p>(Mojtaba angkat bahu). Lebih tepat disebut sebagai bentuk kekhawatiran sebetulnya;  Sampai sekarang saya tidak punya petunjuk sama sekali bagaimana nanti reaksi pemerintah. Tapi saya ingin menunjukkan, bahwa sebagai pembuat film dokumenter, saya berhak mendokumentasikan apa pun yang terjadi di Iran. Membuat film ini adalah hak saya. Kalaupun nanti ada sanksi hukum, Jafar bisa mengelak bahwa dia menjadi aktor di film ini, dan menjadi aktor tidak termasuk dalam hukumannya. Kalau nanti saya diberi sanksi, saya akan bilang, Ini Bukan Film.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/catatan-v-festival-film-cannes-ke-64-kabar-visual-dari-jafar-wawancara-dengan-mojtaba-mirtahmasb-co-director-in-film-nist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sharifah Amani: “Saya Akan Meneruskan Yasmin…”</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/sharifah-amani-%e2%80%9csaya-akan-meneruskan-yasmin-%e2%80%9d-2/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/sharifah-amani-%e2%80%9csaya-akan-meneruskan-yasmin-%e2%80%9d-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 03:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Sharifa Amani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[Redaktur Rumah Film, <b>Ekky Imanjaya</b>, mewawancarai <b>Sharifah Amani</b>, bintang muda Malaysia yang kerap bermain dalam film-film garapan Yasmin Ahmad. Chemistry-nya yang lekat dengan sosok Yasmin ditambah pesonanya sendiri yang tidak henti memancar, membuat kami percaya semangat humanis yang dijalankan Yasmin Ahmad tidak akan terputus dalam karir dan karya Sharifah kelak.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img title="Sharifa" src="http://old.rumahfilm.org/images_1/sharifa.gif" alt="" width="545" height="409" /><p class="wp-caption-text">Sharifa Amani bersama Ekky Imanjaya</p></div></p>
<p>Ibarat Barry Prima dengan Jaka Sembung, karakter  Orked dari film-film Yasmin Ahmad melekat erat dengan Sharifah Amani  binti Syed Zainal Rashid Yahya.<span id="more-632"></span> Ia memang memerankan karakter sentral  itu di <em>Sepet </em>dan  <em>Gubra</em>, dan sempat muncul di <em>Mukhsin</em>. Yasmin pun mendakunya bermain di <em>Muallaf</em>, dan akhirnya memperkerjakannya sebagai asisten sutradara di <em>Talentime</em>.   Tidak hanya itu, keluarganya juga sering bermain di film-film Kak Min.  Sang  kakak (Sharifah Aleya) bermain sebagai Mak Inom di <em>Mukhsin</em>, dan adiknya (Sharifah Aryana) sebagai Orked. Di <em>Muallaf</em>,  giliran si kecil Sharifah Aleysha  yang main, berduet dengannya.  Bagaimana pandangannya tentang Yasmin, masa depan, dan kemungkinan  dirinya membuat film.</p>
<p><strong>Memang, Kak Min tak tergantikan. Namun, siapakah <em>filmmaker</em> Malaysia yang bisa mengungkapkan dan menjadi suara Malaysia seperti Yasmin?</strong></p>
<p>Yasmin memang tidak bisa dibandingkan dengan yang  lain. Namun, yang saya lihat bisa menjadi suara Malaysia selanjutnya  adalah Ho Yuhang. Karena, film-filmnya terbukti mendapat perhatian dari  festival internasional. Tapi beda keduanya itu hitam putih. Yasmin  sangat optimistik sedangkan Yuhang pesimistik.</p>
<p><strong>Anda menjadi asisten sutradara di <em>Talentime</em>. Adakah rencana menjadi sutradara?</strong></p>
<p>Tentu saja saya mau. Bahkan sekarang saya sudah ada  tiga cerita, tapi belum diapa-apakan. Saya ini kurang disiplin, hehehe.  Di satu sisi, ada beban bagi saya, karena selama ini saya dianggap  sebagai anaknya Yasmin Ahmad. Saya agak terbebani jika disamakan dengan  Yasmin. Suatu hari saya tidak akan takut lagi dan akan meneruskan segala  yang telah dirintis Yasmin. Saya berencana membuat film yang melibatkan  kakak dan adik-adik saya.   Kan enak, lebih murah karena mereka tidak  dibayar, hehehe.</p>
<p><strong>Apakah ingin berakting di film Indonesia?</strong></p>
<p>Tentu saja. Indonesia dan Malaysia itu punya banyak  persamaan dan juga perbedaan. Saya ingin tahu tentang hal itu semua.  Joko Anwar sempat menawari saya untuk bermain di filmnya, dan dia  memberikan DVD-nya pada saya. Tapi saya tidak tahu apakah itu tawaran  serius atau tidak (tertawa kecil).</p>
<p><strong>Siapakah sutradara film Indonesia yang kamu inginkan untuk mengarahkanmu?</strong></p>
<p>Ada dua: Nia Dinata dan Riri Riza. Mengapa Riri,  karena saya sudah lama mendengar namanya sering dibahas di Indonesia dan  juga Malaysia. Saya ingin membuktikan apakah pernyataan orang selama  ini benar atau hanya obrolan saja. Nia adalah sosok feminis dan berani.  Yasmin juga dikenal sebagai orang yang berani. Dan saya pun berani. Saya  tidak mau berperan sebagai perempuan yang disepak-sepak atau korban  semata.</p>
<p><strong>Apa film terbaru Anda yang akan beredar?</strong></p>
<p>Ada satu telemovie (FTV) tentang anak yang hilang 19  hari di hutan. Seru banget deh pokoknya, banyak cabaran (rintangan)  juga. Untuk di pawagam (bioskop) saya muncul sebagai Bawang Merah dalam  film tentang kisah dongeng fantasi macam Alice in Wonderland.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/sharifah-amani-%e2%80%9csaya-akan-meneruskan-yasmin-%e2%80%9d-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>3 Pertanyaan untuk Sang Pemimpi &#8211; Wawancara dengan Mira Lesmana dan Putut Widjanarko</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/3-pertanyaan-untuk-sang-pemimpi-wawancara-dengan-mira-lesmana-dan-putut-widjanarko/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/3-pertanyaan-untuk-sang-pemimpi-wawancara-dengan-mira-lesmana-dan-putut-widjanarko/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 03:14:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Rumah Film</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Mira Lesmana]]></category>
		<category><![CDATA[Mizan Production]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Pemimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta International Film Festival (JIFFest) kesebelas mencatat sejarah baru dengan menjadikan film Indonesia sebagai film pembuka. Film itu, Sang Pemimpi, adalah sekuel dari film Indonesia terlaris (mungkin) sepanjang masa, Laskar Pelangi. Fakta ini merangsang redaktur Rumah Film untuk bertanya kepada para produser Sang Pemimpi. Yang satunya adalah <b>Mira Lesmana</b> dari Miles Film yang sudah malang melintang menciptakan film-film hit di box-office. Satunya lagi adalah <b>Putut Wijanarko</b>, pemain baru dari <i>Mizan Production</i> yang mengawali bisnis dari penerbitan buku. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img title="3SangPemimpi" src="http://old.rumahfilm.org/images_1/3sangpemimpi.gif" alt="" width="545" height="363" /><p class="wp-caption-text">Tiga sang pemimpi dalam Sang Pemimpi</p></div></p>
<p>Film <em>Laskar Pelangi</em> memecahkan Rekor Penonton terbanyak film Indonesia. Tapi setelah itu apa? Apa yang dikejar oleh <em>Sang Pemimpi</em>? Angka yang lebih besar? Pada penonton, pada biaya, atau pada apa? Dua produser <em>Sang Pemimpi</em> memberi jawaban.<span id="more-637"></span></p>
<p><strong>Selain tantangan membuat sequel, apa yang menurut anda menjadi alasan Sang Pemimpi harus dibuat?</strong></p>
<p><strong>Putut Widjanarko:</strong> Seperti halnya ketika memproduksi <em>Laskar Pelangi</em>,  kami yakin memiliki cerita yang kuat, inspiratif. Kami ingin memperluas  daya jangkau pesan-pesan inspiratif (persahabatan, semangat belajar,  pengabdian guru) serta pesan sosial (marginalisasi masyarakat lokal  karena persaingan korporat, pentingnya pendidikan) yang terkandung dalam  <em>Laskar Pelangi</em>, dan juga kemudian <em>Sang Pemimpi.</em><br />
<strong>Mira Lesmana:</strong> Miles sebenarnya menghindari untuk membuat sekuel. Pengulangan tak menarik. Tapi khusus <em>Sang Pemimpi</em> kasusnya lain. Kami membuat <em>Sang Pemimpi</em> sampai <em>Edensor</em>, itu kita putuskan untuk kita ambil sejak awal. <em>Maryamah Karpov</em> belum karena waktu itu novelnya belum jadi kan? Bagi Riri (Riza) film ini juga tantangan. Bagi seorang <em>filmmaker </em>mungkin  tantangannya adalah untuk mengikuti karakter dalam periode yang  berbeda. Truffaut pernah melakukan itu dengan seri Antoine Daniel.  Satyajit Ray juga pernah. Mungkin ini yang menarik sebagai tantangan.  Lagipula materi cerita untuk sekuel film ini sudah siap. Mirip seperti <em>Twilight</em>, <em>Harry Potter</em> atau <em>Lord of the Rings</em>.</p>
<p><strong>Menurut Anda, apakah biaya 12 milyar untuk sang pemimpi mahal?</strong></p>
<p><strong>Mira Lesmana:</strong> Mahal. Kalau boleh menjawab dengan jujur, <em>Sang Pemimpi</em> seharusnya dikerjakan dengan lebih murah, karena <em>projection segment</em>-nya lebih kecil, segmen remaja. Sedangkan <em>Laskar Pelangi</em> segmennya keluarga, yang penontonnya lebih besar. Seharusnya film ini dibuat dengan biaya lebih rendah daripada <em>Laskar Pelangi</em>. Tapi materinya sulit. Karena tuntutan cerita dan skenario, <em>Sang Pemimpi</em> lebih kaya akan event. Lokasi dan penggambaran event itu menuntut banyak, termasuk <em>shooting underwater</em>. Namun kita berhasil menurunkan dari budget 12,250 milyar ke 12 milyar pas. Kita menghemat 250 juta.<br />
<strong> Putut Widjanarko:</strong> Secara absolut memang biaya  tersebut relatif mahal. Itu pun kami, para produser, sudah melakukan  upaya menekan biaya sebisa mungkin. Kami beruntung ada beberapa pihak  yang percaya kepada <em>Sang Pemimpi</em>, ikut serta menanggung biaya produksi itu sehingga memungkinkan diproduksinya <em>Sang Pemimpi</em>.                  <em>Laskar Pelangi</em> jadi film terlaris Indonesia.</p>
<p><strong>Apakah dengan <em>Sang Pemimpi</em> Anda sedang mengulangi formula yang sama (dengan tim yang sama). Kalau tidak, apa sumbangan baru <em>Sang Pemimpi</em>?</strong></p>
<p><strong>Putut Widjanarko:</strong> Pada prinsipnya sama, tim produksinya sama, dengan sedikit perbedaan. DOP-nya sekarang Gunnar Nimpuno, dulu Yadi Sugandhi.<br />
<strong> Mira Lesmana:</strong> Kita tak berpikir untuk menggunakan formula yang sama. Kita ingin menampilkan sesuatu yang baru. Namun karena kisah lanjutan <em>Laskar Pelangi</em> dan lokasinya di Belitong, mungkin ada <em>feel</em> yang sama. Ada perasaan sama dalam soal <em>look</em> dan visual. Perbedaannya, film ini menceritakan masa remaja, maka jadi  lebih dinamis. Tapi tak berarti lebih ringan. Kota yang dipakai juga  beda dengan Manggar, kota untuk <em>Laskar Pelangi</em>. Maka secara visual juga tak seindah <em>Laskar Pelangi</em>,  secara panoramik. Lebih panas dan lebih kasar. Tapi secara umum  kelembutannya, puitisnya dan nuansa Melayu dalam film ini bisa dibilang  masih sama dengan <em>Laskar Pelangi</em>.</p>
<p style="text-align: center;">* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/3-pertanyaan-untuk-sang-pemimpi-wawancara-dengan-mira-lesmana-dan-putut-widjanarko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Liew Seng Tat: “Kami Buat Film Sesuai Apa yang Kami Mau</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/liew-seng-tat-%e2%80%9ckami-buat-film-sesuai-apa-yang-kami-mau/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/liew-seng-tat-%e2%80%9ckami-buat-film-sesuai-apa-yang-kami-mau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 03:18:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asmayani Kusrini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[Liew Seng Tat]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=639</guid>
		<description><![CDATA[Baru menelurkan satu film panjang, tapi sudah sedemikian sukses. Itulah yang dialami <i>Flower in the Pocket</i>, karya sutradara Malaysia <b>Liew Seng Tat</b>. Film ini memang menjadi langganan bagi banyak festival film kelas dunia, termasuk di program khusus anak-anak. Pada Januari 2008 lalu, saat <i>International Film Festival Rotterdam</i>, redaktur Rumahfilm.org <b>Asmayani Kusrini</b> mewawancara Seng Tat dengan mendalam. Ia menyatakan, <i>Flower</i> memang tentang jarak antar ras di Malaysia. "Ini menyakitkan bagi saya sebagai orang Malaysia,“ ujarnya. Bagaimana dengan para tokoh utama yang adalah kanak-kanak? “Dengan anak-anak, semua masalah terlihat sederhana,” jelasnya. Simak selengkapnya, eksklusif hanya di Rumah Film. Termasuk bocorannya soal mengapa proposalnya bisa memenangkan Prince Claus Award. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img title="Liew Seng Tat" src="http://old.rumahfilm.org/images_1/sengtat_edwin.gif" alt="" width="545" height="409" /><p class="wp-caption-text">Liew Seng Tat (kanan) bersama Edwin</p></div></p>
<p>Liew Seng Tat jelas punya selera humor yang tidak  biasa. Dia menangkap kelucuan seorang gadis kecil yang ogah-ogahan dalam  sebuah parade taman kanak-kanak di dokumenter pendeknya, <em>Matahar</em>i. Hal  yang mungkin terabaikan dari pandangan kita di tengah kerumunan  anak-anak.</p>
<p>Di tengah kebosanan menunggu syuting film karya  seorang rekannya, Seng Tat iseng bikin cerita tentang pria dengan 4  tangan dan 4 kaki di <em>Man In Love</em>. Film-film pendeknya memang  tidak lantas bikin kita terbahak-bahak tapi pasti bikin kita tertawa  geli dan geleng-geleng kepala sambil bergumam: “ada-ada saja&#8230;”.<span id="more-639"></span></p>
<p>Sutradara yang lahir pada 20 September 1979 ini  memang terlihat lucu dan menyenangkan sekaligus bisa sangat serius.  Tidak heran jika film panjangnya yang pertama, <a href="http://old.rumahfilm.org/resensi/resensi_flower.htm"><strong><em>Flower In The Pocket</em></strong></a> juga lucu, menggemaskan sekaligus sangat serius menyoroti kehidupan  sosial di Malaysia.  Film ini sudah ditunggu sejak lama setidaknya oleh  para <em>programmer</em> festival di Asia dan Eropa.</p>
<p>Tahun 2007, Seng Tat ‘menjajakan’ film ini dalam rangka mencari dana sehingga <em>Flower</em> otomatis masuk dalam radar banyak festival. Film ini  ternyata memang  tidak mengecewakan, sehingga para pemberi dana pun tidak ragu-ragu lagi  membantu sutradara lulusan Multimedia University Cyberjaya, Silicon  Valley Malaysia ini. Selain itu, Seng Tat jelas punya misi dan visi  serius untuk berkiprah di dunia film, khususnya, dunia film di Malaysia.</p>
<p>Walaupun mengaku nyaris tidak bisa membagi waktu lagi  antara kegiatan membuat film dan pekerjaan tetapnya sebagai animator,  Seng Tat tetap bertahan. Alasannya: “Kalau saya berhenti dari pekerjaan  tetap saya dan hanya fokus membuat film, saya tidak akan punya sumber  inspirasi lagi untuk menulis skenario. Saya tidak bisa hanya duduk  merenung dan menulis. Saya harus bertemu banyak orang untuk bisa membuat  film,”.</p>
<p>Berikut adalah percakapan <strong>RumahFilm.org</strong> dengan Seng Tat di Rotterdam Film Festival 2008:</p>
<p><strong>RF: Ada adegan yang sangat subversif menurut saya di <em>Flower</em> yaitu saat Li Ah lagi e’e kemudian meminta buku pelajaran bahasa Melayunya disobek saja untuk jadi ‘toilet paper’.</strong></p>
<p>ST (Seng Tat): hooo, subversif itu kata yang terlalu  menyeramkan…, kamu seperti badan sensor saja. Saya tidak dengan sengaja  mencoba mengkritisi siapa-siapa dengan film ini. Adegan itu adalah  spontanitas dalam sebuah situasi yang mengharuskan mereka bertindak  sesuai yang memang seharusnya mereka lakukan.</p>
<p><strong>RF : Tidak ada masalah dengan adegan itu di Malaysia?</strong></p>
<p>ST : Hmmm…, ya saya harus memotong kata ‘Melayu’nya jadi hanya ‘bahasa’.</p>
<p><strong>RF : Kamu ingin ‘protes’ terhadap ‘jarak’  yang sengaja dibuat dalam masyarakat Malaysia soal ras dengan cara yang  lebih halus yaitu dengan memilih karakter-karakter utama yang innocent:  anak-anak plus seekor anjing kecil.</strong></p>
<p>ST : Hahaha…kamu menonton film saya terlalu serius.  Jangan berpikir macam-macamlah. Tapi terima kasih sudah menonton film  saya dari sudut seperti itu. Saya memang suka sekali dengan anak-anak.  Saya suka bermain dengan mereka dan selalu terpesona dengan cara pandang  mereka yang ‘lugu’ terhadap hidup.</p>
<p><strong>RF : Bukankah ‘jarak’ antar ras  itu yang kamu garis bawahi dalam <em>Flower</em>?</strong></p>
<p>ST: OK, saya akan lebih serius sekarang. <em>Flower</em> memang tentang jarak antar ras di Malaysia. Ini menyakitkan bagi saya  sebagai orang Malaysia. Masalahnya selalu sama, karena kami berbeda  budaya, beda warna kulit, beda bahasa dan blah blah blah!  Walaupun kami  hidup di negeri yang sama, di bawah langit yang sama. Karena itu, dalam  film ini, saya ingin mendekatkan jarak itu kalau tidak mungkin  ditiadakan.</p>
<p><strong>RF : Semacam gambaran ideal soal hidup rukun dalam perbedaan?</strong></p>
<p>ST : Yup, <em>Flower</em> memang gambaran ideal yang  ada di kepala saya tentang kehidupan multiras. Tidak mudah memang.  Bahkan saat menulis skenarionya pun saya menemui masalah untuk  mendekatkan jarak itu tapi sekaligus juga menceritakan fakta sosial yang  terjadi.</p>
<p><strong>RF: Masalah seperti apa? pemilihan karakter? Representasi dua keluarga?</strong></p>
<p>ST: Saya ingin menceritakan bahwa jarak itu ada  dengan membuat Ayu datang dari keluarga Melayu. Dalam draft awal, Ayu  seharusnya adalah anak lelaki juga yang kemudian berteman dengan dua  anak lelaki Cina ini. Tapi di tengah jalan, saya pikir anak lelaki tidak  pernah menemui masalah dalam bergaul, mereka bisa saja bertemu dan  langsung akrab.</p>
<p>Jadilah kemudian saya menggantinya jadi karakter anak  perempuan, dengan adanya perbedaan gender ini tentu akan menambah arti  dari persahabatan mereka dan banyak elemen yang bisa saya mainkan ketika  menggabungkan mereka. Mungkin benar juga kamu bilang, bukan saja saya  suka bermain dengan anak-anak, tapi di alam bawah sadar, saya memilih  karakter-karakter anak-anak agar film ini tidak terlalu terbebani dengan  pikiran orang dewasa yang cenderung rumit. Dengan anak-anak, semua  masalah terlihat sederhana.</p>
<p><strong>RF : Karena hanya anak-anak yang tidak punya masalah dengan perbedaan?</strong></p>
<p>ST : Hubungan antara anak-anak ini adalah apa yang  ada di kepala saya tentang kehidupan multikultur di sebuah negeri.  Begitulah yang saya bayangkan. Daripada sibuk membicarakan berbagai  perbedaan agama, ras, warna kulit, yang selama ini jadi jarak, mengapa  tidak membicarakan alternatif untuk menjembatani perbedaan itu?</p>
<p>Sebagai Muslim, Ayu tidak boleh menyentuh anjing,  tapi apakah karena tidak bisa menyentuh anjing itu lantas tertutup sudah  kemungkinan untuk berkomunikasi? Saya ingin mereka mencari jalan,  jangan hanya karena Ayu tidak bisa menyentuh anjing, lantas ia hanya  berdiri dikejauhan dan tidak mau mendekat. Jika ia hanya berdiri  dikejauhan, tidak akan tercipta komunikasi. Saya tidak ingin seperti  itu. Saya ingin, mereka berusaha.</p>
<p><strong>RF : Flower ini kan bayangan kamu tentang masyarakat yang ideal. Bagaimana dengan kehidupan nyata?</strong></p>
<p>ST : Kenyataannya, mereka tidak akan pernah berada  dekat seekor anjing. Saya punya anjing, biasanya, mereka tidak akan  bicara dengan saya, apalagi ingin berteman.</p>
<p><strong>RF: Di <em>Flower</em>, perbedaan ini juga terlihat dari stereotipe hunian, rumah susun untuk orang Cina dan rumah kampung untuk orang Malay.</strong></p>
<p>ST: Soal hunian, sebetulnya sekarang perbedaan itu  tidak terlalu jelas lagi, semua orang berbaur di KL. Tapi secara  tradisional, selama pendudukan Inggris, hunian di Malaysia memang  dibedakan berdasarkan ras. Orang Cina selalu ditengah kota, orang Malay  di kampung dan orang India di kota tua, selain itu lapangankerja juga  dibedakan. Perbedaan ini memang sudah ada dan ditegaskan sejak jaman  penjajahan.</p>
<p>Sekarang di Kuala Lumpur, semua berbaur walaupun  sisa-sisa pembagian wilayah hunian itu masih ada jejaknya sampai  sekarang. Pilihan hunian untuk Flower mungkin memang berakar di kepala  saya sejak kecil, orang Malay ya dirumah kampung dan orang cina ya  dirumah susun. Dan tidak susah untuk menemukan rumah kampung di  Malaysia.</p>
<p><strong>RF : Ada beberapa symbol yang cukup menonjol  di film ini. Dewi Kwan Im dan Manekin, yang menurut saya sangat kontras  kalau tidak bisa dibilang kontra. Kwan Im adalah dewi yang agung  sementara manekin adalah simbol perempuan binal yang bisa ditelanjangi  kapan saja. Tapi di Flower keduanya berfungsi sebagai pengganti figur  yang hilang. Apakah dua simbol perempuan ini kamu pilih karena percaya  bahwa perempuan lebih bisa mendekatkan jarak, lebih bijak?</strong></p>
<p>ST: Dalam keluarga China, jika mereka penganut Tao,  ada banyak dewa yang biasanya ditempatkan di atas altar di bagian rumah  yang dianggap suci. Waktu saya kecil, saya selalu takut dengan dewa-dewa  itu kecuali satu, Dewi Kwan Im. Yang lain menyeramkan, ada yang dengan   pedang, ada yang bermuka bengis, dll. Dewi Kwan Im tentu saja paling  menonjol dibandingkan dewa yang lain. Kwan Im ini cantik, anggun, suci,  mengenakan gaun putih dan bagi saya, adalah simbol ibu. Dan saya memang  selalu percaya bahwa seorang ibu selalu jadi figur penengah, figur  bijaksana yang selalu memperlakukan anak-anaknya tanpa membeda-bedakan.  Kwan Im juga adalah simbol ideal khususnya bagi saya.</p>
<p>Manekin juga sama. Saya ingin karakter bapak dari  anak-anak ini adalah seorang penyendiri yang selalu mengisolasi diri  sendiri, tapi disaat yang sama saya tidak ingin dia kesepian. Jadi  bagaimana pun, dia suka atau tidak, bagaimanapun usahanya untuk menjaga  jarak dengan orang-orang disekitar khususnya perempuan, dia tidak bisa  lari dari sosok itu. Dia berjarak tapi sekaligus juga tidak berjarak.  Dia selalu takut berhubungan dengan perempuan, tapi dia selalu  dikelilingi ‘perempuan’, memoles kakinya, mengelus wajahnya dan  menyentuh tubuh perempuan.</p>
<p>Manekin adalah satu-satunya objek di mana kita bisa  melihat bentuk perempuan tanpa prasangka cabul. Kalau difilm  memperlihatkan perempuan telanjang, pasti dikira cabul, tapi manekin  beda. Seksi tapi tidak terlihat cabul. <em>(Seng Tat menjelaskan ini dengan wajah yang serius).</em></p>
<p><strong>RF: Di antara banyak ‘jarak’ entah itu fisik  maupun simbolis, kamu juga mendekatkan jarak ini dengan membuat banyak  ‘jembatan’. Salah satunya adalah komunikasi dengan selimut, yang menurut  saya sangat menyentuh. Anak-Bapak yang nyaris tidak pernah  berkomunikasi lewat kata, dan memilih berkomunikasi dalam bentuk lain.  Ini gambaran ideal kamu juga rupanya.</strong></p>
<p>ST : Dalam skenario saya memang tidak banyak dialog.  Tapi seperti yang saya bilang, jika kamu tidak berkomunikasi dengan  kata-kata, carilah cara lain. Berkomunikasi tidak harus selalu dengan  kata-kata. Saya percaya ekpresi manusia tidak hanya bisa dilihat lewat  wajahnya, tapi juga gerakan-gerakan kecil, bahasa tubuh, gerakan tangan  adalah juga bentuk komunikasi. Ada banyak cara untuk menjembatani  perbedaan. Saya juga percaya, bahwa komunikasi yang efektif tidak harus  selalu dengan kata-kata.</p>
<p><strong>RF: Kok memilih James Lee sebagai bapak?</strong></p>
<p>ST: Dia pernah bermain film sebelumnya di <em>Lips To Lips</em> karya fitur pertama Amir Muhammad. Saya pikir dia bermain sangat jelek  di film itu, dan James juga mengakui. Setiap orang yang nonton film itu  bilang kalo James bermain buruk. Hahahaha. Jadi saya bilang sama dia,  “James, karena reputasimu buruk, maka saya akan membuat reputasimu  kembali, saya akan membuatmu  terkenal lagi,”…hahaha, dia langsung  setuju lah…</p>
<p>Selain itu, sebetulnya saya menulis karakter bapak  ini berdasarkan karakter James. Dalam kehidupan sehari-hari, kurang  lebih, James Lee memang seperti itu.  Jadi saya rasa dia tidak mengalami  kesulitan apa-apa berperan sebagai bapak.</p>
<p><strong>RF: Bagaimana proses kolaborasi antar sesama anggota Da Huang?</strong></p>
<p>ST: Bisa dibilang, proses pembuatan <em>Flower In The Pocket</em> ini sangat terbantu dengan adanya teknologi internet. Waktu mulai masuk  pra-produksi tahun 2007, saya masih sibuk mencari dana di sana-sini.  Saya disini (Rotterdam) lalu ke Berlin, selain untuk cari dana juga  untuk program talent campus dan kompetisi film pendek. Jadi secara  fisik, saya tidak di Malaysia ketika proses itu berlangsung. Tan Chui  Mui sebagai eksekutif produser juga sedang berada di Perancis untuk  program beasiswanya.</p>
<p>Semua proses itu kami komunikasikan via email.  Asisten saya yang melakukan audisi, memotret ratusan anak, mengirimkan  foto mereka berikut deskripsi via email. Saya bersyukur karena kami tim  yang solid dan kuat dan sudah tahu apa yang menjadi tugas masing-masing.  Jadi waktu saya kembali, sebagian proses itu sudah selesai, kemudian  kami syuting 10 hari. Selebihnya, saya dan dibantu asisten yang  menyelesaikan editing dan pasca produksi lainnya.</p>
<p><strong>RF: Saat itu kamu tidak lagi kesulitan dana dong?</strong></p>
<p>ST: Kesulitan sih tidak, kelebihan juga tidak.  Cukuplah. Mui ikut membantu dalam hal dana. Tapi seberapapun dana yang  kami miliki, kami pasti berusaha untuk mewujudkan film ini. Rasanya dana  bukan masalah disini.</p>
<p><strong>RF: Ngomong-ngomong, berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat <em>Flower</em>?</strong></p>
<p>ST: Sekitar kurang lebih 30.000 ringgit (sekitar Rp. 85 juta).</p>
<p><strong>RF: Wah, murah ya. Kameranya sama dengan yang digunakan oleh Mui ya di <em>Love Conquers All</em>? Itu pilihan atau terpaksa? Kenapa nggak pake kamera kayak yang digunakan Yasmin Ahmad di film-filmnya?</strong></p>
<p>ST: Kalau dibilang pilihan juga tidak, terpaksa juga  tidak. Untuk sementara peralatan yang kami miliki memang sebatas itu,  dan kami sudah bersyukur. Tapi jangan dibandingkan dong dengan Yasmin.    Yasmin kan bukan pembuat film independen. Kalau kami didukung oleh  teman-teman, Yasmin didukung oleh studio. Bisa tersinggung Yasmin  dibandingkan dengan kami yang masih belum apa-apa ini.  Biaya filmnya  mencapai 1 juta ringgit (sekitar Rp. 2,8 Milyar) dan film-film kami  berkisar 30.000 ringgit dan paling mahal 70.000 ringgit. Sejauh itu  perbedaannya. Bahwa Yasmin ingin membuat filmnya sendiri memang benar,  tapi kalau membandingkan biaya, kami jauhlah di bawahnya.</p>
<p><strong>RF: Benar tidak sih rumor yang bilang bahwa karena pertemanan dan saling membantu kadang kalian menggunakan teman secara gratis?</strong></p>
<p>ST: Oh tidak&#8230;, tidak begitu. Walaupun teman, kami  tetap profesional dan menghargai peran masing-masing. Enaknya, karena  honor bisa ditawar, kita bisa saling kompromi dalam hal budget. Dengan  begitu, kami bisa terus maju dan tidak kehilangan semangat.</p>
<p><strong>RF: Kalian tidak punya akses ke studio atau  rumah produksi besar di Malaysia apakah karena memang kalian tidak mau,  atau mereka yang belum tertarik? Kan film kalian sukses dimana-mana?</strong></p>
<p>ST: Film kita disukai orang tidak berarti bisa  mendatangkan uang juga. Sementara studio hanya peduli dengan pendapatan.  Jika kamu Tsai Ming Liang, mereka tidak akan menyewa kamu, walaupun  Tsai Ming Liang itu sutradara terkenal, sutradara kelas dunia, tapi  kalau filmnya seperti itu, studio mana mau? Apalagi dengan kami?</p>
<p><strong>RF: Dengan sukses di berbagai film festival,  apakah sekarang kamu merasa ada dorongan membuat film sesuai yang  diharapkan oleh sebuah festival?</strong></p>
<p>ST: Tidak sama sekali. Kami membuat film sesuai apa  yang kami mau tanpa tekanan dari siapa-siapa. Dalam hal ini kami sangat  bebas.</p>
<p><strong>RF: Bahkan setelah mendapatkan dana dari Prince Claus Funding? </strong><em>(Seng Tat memenangkan dana ini untuk film selanjutnya pada Festival Film Rotterdam 2008)</em></p>
<p>ST: Hadiah dari mereka adalah uang untuk membuat film. Mereka tidak meminta apa-apa dari dana itu. Prince Claus ini bukan <em>co-production</em>. Mereka hanya memberi bantuan dana.</p>
<p><strong>RF: Apa sih rahasianya memenangkan dana itu?</strong></p>
<p>ST: Saya juga tidak tahu pasti. Kamu tahu tidak,  proposal saya juga tidak sempurna, saya tidak punya skenario yang utuh,  saya bahkan tidak punya treatment. Saya hanya punya sinopsis, satu  halaman. Serius. Jadi mungkin juri tertarik dengan ceritanya.</p>
<p><strong>RF: Iya, saya dengar dari Garin karena memang ceritanya sangat jelas, proposalnya juga ringkas, padat dan efektif.</strong></p>
<p>ST: Pembuat film di Indonesia pasti bangga punya  Garin Nugroho ya. Ada yang bisa dijadikan panutan. Kami tidak punya  siapa-siapa yang bisa mengajari kami. Kami ini seperti bayi yang masih  merangkak dan belajar cara berjalan tanpa ada yang memapah. Beruntunglah  kalian punya orang yang bisa ditanyai. Sampai sekarang kami masih  beruntung, dan semoga terus beruntung.</p>
<p><strong>RF: Amin. Bagaimana dengan proyek selanjutnya?</strong></p>
<p>ST: Saya janji, tidak akan ada anak-anak lagi di film saya selanjutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/liew-seng-tat-%e2%80%9ckami-buat-film-sesuai-apa-yang-kami-mau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertanyaan 3 Milyar</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/pertanyaan-3-milyar/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/pertanyaan-3-milyar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 15:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Rumah Film</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=883</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan Pertama: Bisakah Anda jelaskan, kenapa film Anda penting? Para Sineas 9808 Prima Rusdi (Insiator dan koordinator Proyek Payung): Menurut saya, siapapun yang punya jiwa ‘pembuat film’ kadang dijangkiti virus ‘kita harus buat film A atau B’. Karena kita yakin ada kebutuhan untuk menonton jenis film tertentu yang barangkali belum terjawab dari film-film yang sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img src="http://old.rumahfilm.org/images_1/3M_01.jpg" alt="" width="545" height="363" /><p class="wp-caption-text"> Claudia Jasmine</p></div></p>
<p><strong> Pertanyaan Pertama: </strong><br />
<strong> Bisakah Anda jelaskan, kenapa film Anda penting? </strong></p>
<p><strong> Para Sineas 9808 </strong><br />
<strong> Prima Rusdi (Insiator dan koordinator Proyek Payung): </strong></p>
<p>Menurut saya, siapapun yang punya jiwa ‘pembuat  film’ kadang dijangkiti virus ‘kita harus buat film A atau B’. Karena  kita yakin ada kebutuhan untuk menonton jenis film tertentu yang  barangkali belum terjawab dari film-film yang sudah ada. Film ini lalu  menjadi penting karena buat saya pribadi, saya melihat sisi lain dari  hubungan penonton-pembuat film. Bahwa penonton juga punya suara, dan  suara mereka layak kita dengar. Saya salut dengan kualitas penonton film  ini, baik di sejumlah ruang putar di Indonesia, maupun di forum seperti  Pusan International Film Festival Oktober silam.  Pelajaran dari film  ini yang juga tak kalah penting, ‘narasi orang biasa’ ternyata luar  biasa penting. Satu hal penting lainnya adalah, tiba-tiba muncul  pertanyaan besar, jangan-jangan yang selama ini kerap ‘lolos’ dari  perhatian kita adalah soal visi kenapa harus bikin film, karena  pemahaman atau keterampilan tehnis bisa dipelajari, tapi visi mungkin  harus dicari, dimaknai dan ditindak-lanjuti alias bukan berhenti di  tingkatan wacana. Saya beruntung karena mereka yang terlibat di dalam  Proyek Payung bisa mewujudkan visi bersama buat ‘melahirkan’ omnibus ini  tanpa perlu menanggalkan keunikan masing-masing.<span id="more-883"></span></p>
<p><strong> Anggun Priambodo (Sutradara <em>Di Mana Saya?</em>): </strong></p>
<p>Karena film lain temanya enggak ada yang kaya kita (baca: <em>9808</em>), kecuali <em>May</em> (Viva Westi). Seharusnya film penting seperti “9808” jadi film wajib tonton sekolah dan para caleg, hahaha.<br />
<strong> </strong></p>
<p><strong> Lucky Kuswandi (Sutradara <em>A Letter of Unprotected Memories</em>): </strong></p>
<p>Karena omnibus ini merangkum soal kenangan,  kegusaran, kekhawatiran akan apa yang sudah, masih, dan mungkin akan  terjadi pasca reformasi yang direkam dengan jujur dari beragam kacamata  orang-orang biasa.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong> Wisnu ‘Kucing’ Suryapratama (Sutradara <em>Kucing 9808, Catatan Mantan Demonstran</em>): </strong></p>
<p>Omnibus 9808 gua pikir salah satu bentuk catatan  sejarah personal dari sebuah generasi yang pernah mengalami dan menjadi  pelaku perubahan di tahun 1998. Semua sutradara dan orang-orang yang  terlibat di dalam proyek ini bisa dikatakan sebaya dan masing-masing  orang membawa catatan peristiwa yang sangat personal dari sebuah proses  perubahan. Kurang lebih omnibus ini memperlihatkan bahwa sejarah itu  bukan apa yang terjadi di elit politik, tapi sejarah tu tercatat dalam  kehidupan masing-masing orang dan beragam.</p>
<p><strong> Hafiz (Insiator proyek, Sutradara <em>Bertemu Jen</em>): </strong></p>
<p>Karena yang membuat karya ini adalah orang-orang  yang berbeda pengalaman tentang sepuluh tahun perubahan Indonesia.  Kemudian yang paling menarik dari kompilasi film ini adalah film-film  ini dibuat bukan untuk &#8220;menghibur&#8221; tapi transfer pengalaman dan <em>knowledge</em> kita tentang Indonesia. Selama ini kita memang sering terjebak dalam  hiburan. Namun, kompilasi ini memberikan pencerahan buat film-film yang  selama ini beredar di Indonesia. Melepaskan ikatan-ikatan dengan yang  namanya jumlah penonton dan pemasukan uang dari film. karena bagi gue  film adalah informasi yang memberikan peluang melihat perubahan  kebudayan kita.</p>
<p><strong> Edwin (Inisiator proyek, Sutradara <em>Trip to the Wound</em>): </strong></p>
<p>Terus terang saya tidak bisa menjelaskan kenapa film  ini dianggap penting. saya cuma merasa bahwa film ini pasti memberikan  sesuatu yang tidak bisa diabaikan dalam pengalaman hidup saya.  selebihnya saya merasa tidak perlu menjelaskan kepada siapa siapa  bagaimana perasaan saya terhadap film ini. Saya yakin film ini bisa  bekerja dengan caranya sendiri, memberikan keberagaman perasaan kepada  berbagai jenis orang yang mengapresiasi atau yang menolaknya sekalipun.</p>
<p><strong> Nurman Hakim </strong></p>
<p>Pertama, Saya berusaha menyajikan film yang tidak  klise secara &#8216;konten&#8217; yaitu kaidah-kaidah film Hollywood &#8220;B Grade&#8221; yang  cukup banyak dipakai oleh film-film Indonesia. Tokoh utama haruslah  orang baik, karakter pasti hitam putih, cerita harus tentang satu orang  dan struktur dramatik harus di buat sedemikian rupa supaya emosi  penonton tetap terjaga (penonton betah untuk duduk sampai film selesai)  dan lain sebagainya. Kedua, Saya ingin berbicara bahwa Islam khususnya  di Pesantren adalah Islam yang penuh dengan kedamaian dan penuh dengan  nilai-nilai Humanisme. Saya ingin menepis pandangan orang-orang barat  tentang Islam di Pesantren yang mereka anggap penuh dengan kekerasan,  sarang terorisme. Islam yang keras memang ada, kita tidak bisa menepis  itu, tetapi itu hanya segelintir orang atau pun kelompok kecil yang  menafsirkan Islam dengan sangat permukaan. Saya tampilkan ustadz garis  keras di luar pesantren di film ini yang merupakan representasi dari  kelompok itu. Sedangkan sosok Kyai Wahab, pemimpin pesantren yang cinta  damai dan penuh toleransi adalah representasi dari kelompok Islam  mayoritas di Indonesia yang toleran.<strong></strong></p>
<p><strong> Hanung Bramantyo </strong></p>
<p>Melalui tema yang saya pilih, saya belajar memahami hidup dengan menyusun <em>puzzle</em> plot menjadi sebuah pesan. Melalui <em>direction</em>,  saya belajar memaknai tiap-tiap elemen di dalam frame menjadi citra  kehidupan buat diri saya dan penonton. Melalui proses produksi saya  belajar mengorganisir sistem berikut mengakomodir perasaan-perasaan  pekerja yang terlibat. Melalui penonton yang menonton film saya, saya  belajar bagaimana semestinya saya memposisikan diri saya di tengah  masyarakat. Karena itu film saya sangat penting buat diri saya.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong> Nia Dinata </strong></p>
<p>Kami selalu menganggap setiap film yang kami bikin  penting ya&#8230;hehe. Terutama untuk kaminya dulu. Karena membuatnya dari  awal sampai rilis penuh dengan pengalaman-pengalaman unik yang  memperkaya wawasan semua yang terlibat.Kalau publik juga menganggap  penting, kita bersyukur aja. Khusus untuk <em>PerempuanPunya Cerita</em> dan <em>Pertaruhan</em>,keunikannya  adalah isu-isu perempuan yang diangkat. Semua bicara realita, walaupun  yang satu naratif sifatnya dan yang satu lagi dokumenter. Tapi film-film  tersebutsangat <em>non-conformist</em>.<em>Quickie Express </em>temanya ringan tapi nakal,sebenarnya juga<em> non-conformist in its own way.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Riri Riza </strong></p>
<p>Kenapa film saya penting?, hehehe saya merasa agak  aneh dengan pertanyaan ini. Sepanjang karir saya membuat film selama  lebih sepuluh tahun, saya tidak pernah mendapat pertanyaan seunik ini.  Saya tidak pernah merasa film saya penting, dalam konteks pandangan  orang terhadapa film saya. Mungkin pertanyaan Anda kurang lengkap,  misalnya : Bagi Anda sebagai sutradara, kenapa film <em>Laskar Pelangi </em>menjadi  penting untuk Anda buat? Apakah begitu maksud Anda? kalau pertanyaan  ini maknanya begitu jawaban saja adalah begini : &#8220;Bagi saya setiap  cerita yang ingin saya filmkan (jika bukan cerita orisinil karya saya),  adalah cerita yang pada saat saya pertama kali mendengarkannya atau saat  saya pertama saya membacanya, saya merasakan ada bagian dari pengalaman  hidup saya di dalamnya. <em>Laskar Pelangi</em> adalah juga pengalaman  kecil saya, saya pernah merasakan atau melihat dari dekat kemiskinan dan  ketimpangan yang diceritakan di dalamnya.  Bagi saya cerita ini  menggambarkan persoalan serius Indonesia dengan keriangan dan keindahan.  Untuk itu saya anggap kisah ini penting untuk difilmkan&#8221;.</p>
<p><strong> Mouly Surya </strong></p>
<p>Sebenarnya saya ingin balik bertanya apakah yang Anda  maksud dengan  film yang dianggap &#8220;penting&#8221;. Apakah film yang bagus  atau film yang  punya muatan politik sosial budaya atau tema-tema  tertentu? Untuk  amannya jadi saya jawab dari kedua sisi saja, karena  film yang bagus  belum tentu punya muatan atau tema yang dianggap  penting dan sebaliknya juga begitu, film yang punya tema penting belum  tentu  bagus. Kalau bisa dua-duanya sih bagus banget.  Kalau seandainya <em>Fiksi.</em> dimasukkan ke dalam kategori film &#8220;bagus&#8221;,  saya sangat berterima  kasih, yang jelas itu bukan penilaian saya  sebagai sutradara. Menurut  saya, film bagus atau tidak itu relatif  dengan siapa yang menontonnya.  Kalau menurut saya bagus, belum tentu  orang lain bilang bagus. Ini  sangat personal menurut saya. <em>Fiksi.</em> sendiri saya buat dengan pendekatan yang personal, yang menurut saya  bagus, jadi, <em>Fiksi.</em> penting buat saya, meskipun belum tentu buat orang  lain.  Soal tema, saya sendiri tidak memberatkan <em> Fiksi.</em> dengan pesan-pesan  moral, tapi lebih sebagai sebuah potret sosial  masyarakat saat ini.  Tema yang saya ambil, tentang obsesi seorang  perempuan, juga bukan  sebuah tema yang terlalu berat, apalagi tidak  saya bawa ke arah  penjelasan psikologisnya. Saya lebih ingin bercerita  dari sisi si  perempuan aneh ini saja. Sembari saya memotret kehidupan  sosial  ekonomi masyarakat indonesia yang ber-<em>gap</em> jauh. Si kaya  dan si miskin.  Si gila Alisha dari rumah bapaknya yang besar dan  kosong pergi ke  rumah susun yang miskin dan ramai.</p>
<p><strong> Allan Lunardi </strong></p>
<p><em>Karma</em> penting untuk saya sebagai sutradara karena ini merupakan film debut saya. Secara konten, <em>Karma</em> sebagai film horror berusaha untuk tampil lebih serius dari film-film sejenis. Dengan <em>background</em> budaya etnis Cina peranakan di Jawa, <em>Karma</em> mencobal menyuguhkan cerita yang utuh dan <em>nyambung </em>dari awal sampai akhir dengan pesan-pesan moral.</p>
<p><strong> Awi Suryadi </strong></p>
<p>Film saya penting atau tidak penting rasanya harus  orang lain yang menjawab. Sebagai pembuat film, pastinya kita merasa  film yang kita terlibat apalagi membuat pasti sangat penting hehe.  Mungkin kalau pertanyaannya sedikit diubah, kenapa film saya penting  untuk saya, saya baru bisa jawab, dan jawabannya adalah: ini karya saya  yang mulai dilirik dan diakui oleh sesama pekerja film lainnya, bukan  hanya itu, film <em>Claudia/Jasmine</em> juga menerima 5 nominasi di  Festival Film Bandung 2008 (peran wanita, naskah, sinematografi,  penyuntingan &amp; musik) dan 5 nominasi di Festival Film Indonesia 2008  (2 peran pendukung wanita, naskah, penyuntingan &amp; film). Film ini  mungkin juga bisa dibilang penting untuk rumah produksi Nation Pictures  karena ini merupakan langkah pertama rumah produksi tersebut dalam  meramaikan industri perfilman nasional.</p>
<p><strong>Edwin </strong></p>
<p>Terus terang saya tidak bisa menjelaskan kenapa film  saya dianggap penting.    saya cuma merasa bahwa film ini pasti memberikan sesuatu yang tidak  bisa diabaikan dalam pengalaman hidup saya. selebihnya saya merasa tidak  perlu menjelaskan kepada siapa siapa bagaimana perasaan saya terhadap  film ini. saya yakin film ini bisa bekerja dengan caranya sendiri,  memberikan keberagaman perasaan kepada berbagai jenis orang yang  mengapresiasi atau yang menolaknya sekalipun.</p>
<p><strong> Pertanyaan Kedua: </strong><br />
<strong> Selain film Anda sendiri, adakah film Indonesia lain tahun ini yang  Anda anggap penting? Film apa saja itu dan mengapa? </strong></p>
<p><strong> Mouly Surya </strong></p>
<p><em> &#8211; Mereka Bilang Saya Monyet! </em></p>
<p>Yang pertama, menurut saya film ini bagus. Salah satu film favorit  Indonesia saya tahun ini. Saya suka gaya <em>storytelling</em>nya.  Saya  terbawa dalam ceritanya, pengalaman karakter-karakternya.  Meskipun di  dalam film ini bisa dibilang hampir tidak ada &#8216;pesan moral&#8217;  yang  diverbalkan keras-keras (dan saya justru sangat menyukai hal  ini),  film ini meninggalkan kesan yang cukup dalam setelah kita  menontonnya.  Yang kedua, saya rasa film ini juga menunjukkan semangat  independen  sang filmmaker, bahwa untuk bikin film yang bagus nggak  butuh bujet  besar, tapi cuma skenario yang kuat dan aktor aktris yang  berkarakter  serta sutradara yang kompeten dalam menyampaikan ceritanya.  Film ini  punya ketiganya.  <em> &#8211; Babi Buta yang Ingin Terbang </em> Memang belum banyak masyarakat Indonesia yang sudah menonton film ini,   dan saya sangat menyayangkan itu. Padahal film ini bagus banget. Salah   satu alasan film ini adalah salah satu film terpenting tahun ini juga   sama dengan MBSM, benar-benar menunjukkan semangat independen sang   filmmaker. Dengan bujet terbatas Edwin berhasil membuat film yang   meninggalkan kesan yang dalam. Temanya tentang identitas etnis Cina di  Indonesia juga adalah salah  satu kekuatan dari film ini. Tema itu tidak  menuding siapa-siapa, tapi justru dibawakan lebih personal..  <em> &#8211; Laskar Pelangi </em> Salah satu hal yang saya agak keberatan soal perfilman Indonesia   adalah tendensi mentang-mentang bikin film yang &#8216;jualan&#8217; terus  bikinnya  <em>ngejiplak</em> ataupun buru-buru dan asal jadi. Menurut saya  <em>Laskar Pelangi</em> berhasil memberikan contoh kalau bikin film yang  berkualitas itu juga  bisa jualan dan kebalikannya, bikin yang jualan  juga bisa berkualitas.  ini merupakan sebuah <em>achievement</em>, baik dalam  hal memecahkan  rekor jumlah penonton maupun menghadirkan sebuah film  yang kaya dengan  pesan moral dan identitas film Indonesia. <strong> </strong><strong> </strong><strong> Riri Riza </strong> Film lain yang penting bagi saya di tahun ini:<em>Fiksi</em>.,   karena ia adalah film pertama yang dikerjakan dengan tangan dingin,  dengan kontrol tingkat tinggi di segala aspeknya. Dan pula, ia dibuat  oleh seorang sutradara perempuan dengan kematangan pada usia yang muda.  Yang satu lagi adalah <em>Babi Buta yang Ingin Terban</em>g (Edwin),  karena keteguhan hati kerja kolektif orang orang dibaliknya. Film dibuat  dengan gerilya dengan kesadaran penuh untuk tidak tanggung tanggung  menabrak nilai. <em>Babi</em> juga punya gambaran kalau anak muda kita  masih punya keberanian untuk membicarakan persoalan sosial penting dan  genting. Kedua film ini menjadi penting karena lahir secara independen  tepat di sepuluh tahun setelah reformasi. Saya agak romantis, yang  begini begini penting bagi saya. Ada beberapa film lain yang baik, tapi  kedua film ini muda, mandiri, dan menonjol.</p>
<p><strong> Sineas 9808</strong><br />
<strong> Prima Rusdi: </strong></p>
<p>Pentingnya seluruh film Indonesia (tahun 2008),  adalah buat kita berefleksi, apa saja yang sudah direkam di dalam  film-film kita sepanjang tahun 2008? Karena, kalau sampai ada istilah  film ‘penting’, berarti ada yang ‘tidak penting’. Lalu, kalau ‘tidak  penting’, kenapa dibikin? Buat saya itu jelas membingungkan.  Dan kalau  kita coba lengkapi kalimat seperti “Tahun ini adalah tahun ………. Film  Indonesia,” kira-kira titik-titik itu bisa kita isi dengan kata apa?  Saya memilih melengkapi kalimat itu dengan jawaban pribadi yang tidak  perlu dipublikasikan di sini, karena sebaiknya kita semua sama-sama  bikin pekerjaan rumah.</p>
<p><strong> Wisnu ‘Kucing’ Suryapratama: </strong></p>
<p><em> Babi Buta yang Ingin Terbang, Laskar Pelangi.</em> ..Menurut gua kedua film ini luar biasa dalam ranah masing-masing. <em>Babi Buta</em> membuktikan pencapaian kreativitas Edwin yang di luar &#8220;industri&#8221; sementara  untuk ukuran bisnis film <em>Laskar Pelangi</em> adalah film Indonesia yang bagus dan <em>box office</em>.</p>
<p><strong> Anggun Priambodo: </strong></p>
<p>Menurut gue, <em>Laskar Pelangi</em>, karena baca bukunya yang bagus. Terus, <em>May</em> gue pingin nonton karena temanya penting. <em>Fiksi.</em> karena sutradara baru yang cantik itu</p>
<p><strong> Edwin: </strong></p>
<p>Tidak adil bagi saya untuk memilih satu atau  beberapa judul film untuk bisa menyandang predikat &#8216;sesuatu yang  penting&#8217;. Saya tidak pernah mempermasalahkan, masalah penting atau  tidaknya sebuah film. Saya selalu percaya semua film itu, ada karena  memang harus ada.<br />
bukan kita yang membuat film, tapi film yang membuat kita. Dalam  konteks ini, kata penting menjadi susah sekali untuk menjadi penting</p>
<p><strong> Nurman Hakim </strong></p>
<p>Saya kira film garin <em>Under The Tree</em> adalah  salah satu film yang cukup penting untuk dilihat. Garin tidak melakukan  pengulangan dari karyanya yang terdahulu (kecuali soal eksotisme yang  selalu dia jual). Secara <em>style</em> (Mise en Scene, Cinematography,  Editing dan Sound) , Garin berani melakukan sebuah terobosan dalam  pencapaiannya bertutur visual. penggunaan <em>style</em> yang tidak  begitu populer di Indonesia. Tetapi bagi saya justru karena penggunaan  gaya yang seperti itu mampu mengangkat naratif film itu sendiri,  memberikan makna yang lebih kuat pada naratifnya. Elemen film <em>style</em> yang telah mampu memobilisasi naratif. seperti kita tahu, naratif pada film-film garin seringkali kedodoran.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong> Awi Suryadi </strong></p>
<p>Film penting lainnya ada film <em>Fiksi</em>. yang  meraih 4 Piala Citra tahun ini. Saya sangut salut dengan teman-teman di  film tersebut atas idealisme mereka yang meskipun di pasaran tanah air  kurang meraih sambutan, tapi terbayarkan dengan peraihan 4 Piala Citra  tersebut. Dan sebagai sesama rumah produksi baru, <em>Fiksi. </em>sebagai karya pertama menurut saya, adalah cukup luar biasa.</p>
<p><strong> Nia Dinata </strong></p>
<p><em> Mereka Bilang Saya Monyet</em> . Diperankan dengan luar biasa oleh Titi Sjuman, performance Titi benar-benar membuat saya terpesona.<br />
<strong>Allan Lunardi </strong></p>
<p>Banyak film-film lokal lain yang saya lihat sangat menarik secara estetik seperti <em>Fiksi., Cinta Setaman</em> dan <em>Mereka BIlang Saya Monyet</em>. Setiap <em>director</em> dari film-film tersebut berusaha untuk memberi suguhan cerita dari  perspektif yang jarang ada di film-film Indonesia. Yang menarik untuk  dicatat juga dari sebagian film-film tersebut merupakan debut dari para  sutradaranya tapi sudah mampu untuk tampil dengan cemerlang. Saya mersa  banyak belajar sebagai <em>director </em>dengan menonton film-film  tersebut. Sebenarnya banyak film lain yang juga tidak kalah menariknya  dari kalau dilihat dari bermacam-macam perspektifi tapi kalau semuanya  disebutkan daftarnya pasti sangat panjang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/pertanyaan-3-milyar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Béla Tarr: Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/bela-tarr-hanya-sutradara-film-iklan-saja-yang-memikirkan-penontonnya/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/bela-tarr-hanya-sutradara-film-iklan-saja-yang-memikirkan-penontonnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2008 15:34:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Asmayani Kusrini</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun saya mulai menonton film sejak jaman Ira Maya Sopha jadi Cinderella, toh saya baru ‘melek film’ dua-tiga tahun terakhir ini. ‘Melek’ film artinya sekarang saya tidak lagi bingung ketika ditanya, Willy Dozan itu aktor laga dari Hongkong atau Magelang. Sekarang saya tidak lagi bisa ‘dikibuli’ ayah saya &#8211;yang penggemar film silat&#8211; bahwa Bruce Lee [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img src="http://old.rumahfilm.org/images/bellatarr01.gif" alt="" width="545" height="409" /><p class="wp-caption-text">Béla Tarr</p></div></p>
<p>Walaupun saya mulai menonton film sejak jaman Ira  Maya Sopha jadi Cinderella, toh saya baru ‘melek film’ dua-tiga tahun  terakhir ini. ‘Melek’ film artinya sekarang saya tidak lagi bingung  ketika ditanya, Willy Dozan itu aktor laga dari Hongkong atau Magelang.  Sekarang saya tidak lagi bisa ‘dikibuli’ ayah saya &#8211;yang penggemar film  silat&#8211; bahwa Bruce Lee itu kakak tertua Stephen Chow, dan Jet Li itu  adik bungsunya, dan Andy Lau itu sepupu mereka.<span id="more-885"></span></p>
<p>Meskipun begitu, <em>toh,</em> kecenderungan  ‘menyamaratakan’ masih belum bisa lepas juga. Dan Béla Tarr adalah salah  satu ‘korban’ penyamarataan itu. Dulu, bagi saya, semua film hitam  putih itu adalah film klasik. Dan semua sutradara film klasik, pada  umumnya sudah wafat. Berkali-kali saya menganggap, bahwa Béla Tarr sudah  berstatus almarhum gara-gara anggapan naïf ini. Saya memang teledor dan  sudah berkesempatan untuk minta maaf langsung.</p>
<p>Tapi saya punya alasan. Ketika menonton salah satu filmnya, berjudul <em>Karhozat</em> (<em>Damnation</em>)  disebuah bioskop kecil di Budapest beberapa tahun lalu, saya pikir, ini  pasti salah satu film klasik yang sering lupa disebut oleh teman-teman  saya para maniak film. Saya membayangkan, sutradaranya pastilah satu  angkatan dengan Andrei Tarkovsky atau bahkan Sergei Eisenstein.</p>
<p>Struktur ceritanya, &#8211;tentang cinta dan penghianatan—membuat film ini sebetulnya bisa masuk kategori <em>genre</em> film. Tapi jauh lebih tepat menyebutnya sebagai <em>art film</em>.  Sekuen-sekuennya kaya dengan detail-detail visual yang hanya mungkin  dilakukan dengan gerakan kamera yang seperti siput &#8211; sangat lambat. Film  hitam putih ini tak bisa lepas dari ingatan karena pesimisme yang  kental terhadap hidup. Tapi dalam salah satu katalog, saya sempat  membaca komentar Susan Sontag tentang film ini: <em>“Some of the very few heroic violations of cinematic norms of our times”. </em></p>
<p>Saya sudah lupa soal <em>Damnation</em> ketika suatu kali seorang kawan saya mengajak menonton sebuah film berdurasi 7 jam 30 menit dengan judul seram: <em>Satantango</em> (<em>Satan’s Tango</em>). Saya sempat menolak karena teringat <em>Shoah, </em>film  dokumenter karya Claude Lanzmann yang juga berdurasi panjang dan tidak  pernah berhasil saya tonton tuntas. Tapi karena semangat teman saya yang  bilang bahwa <em>Satantango</em> adalah salah satu film terbaik  sepanjang masa, saya tertarik juga. Apalagi, untuk menonton film itu,  teman saya menyiapkan diri seperti akan pergi <em>camping, </em>beberapa botol minuman ringan, coklat batangan, kue-kue, plus <em>snack</em>.</p>
<p>Meski tidak sadar bahwa sutradara <em>Satantango</em> adalah sutradara <em>Damnation</em> juga, kesan saya tetap sama. Dia pastilah seangkatan Eisenstein. Menonton <em>Satantango</em> seperti sedang mengikuti prosesi spiritual visual. Usai menonton film yang tak sedikitpun bikin saya mengantuk itu, saya <em>nyeletuk</em>:  “gile ya, sutradara jaman-jaman dulu emang nggak tertandingi”. Dan saya  pun menerima sejumlah omelan. “Jaman dulu ? Nenek moyangmu?. Film ini  buatan 1994, <em>loe</em><em>nyebut</em> jaman dulu itu kayak sebelum Perang Dunia ke-2 <em>aja</em>,” kata teman saya. “Sutradaranya <em>emang</em> masih hidup?”, tanya saya.</p>
<p>Begitulah. Sampai kemudian saya menyadari bahwa <em>Damnation</em>, <em>Satantango</em> (masuk dalam daftar <em>1001 Movies You Must See Before You Die</em>-nya Stephen Jay), dan kemudian <em>Werckmeister Harmonies</em> (masuk dalam daftar <em>Great Movies</em>-nya Roger Ebert), lalu <em>Almanac of Fall</em>, <em>The Outsider</em>, <em>Family Nest</em>,  dihasilkan oleh sutradara yang sama, bernama Béla Tarr. Nama dan  film-filmnya yang jarang terdengar, juga bukan tanpa sebab. Sebagai  perbandingan, Roger Ebert saja, baru menonton film Béla Tarr pertama  kali di tahun 2007 lewat <em>Werckmeister Harmonies</em>, itupun dalam format DVD. Nama Béla Tarr didengarnya dari mulut kemulut dan dari buku <em>1001 Movies You Must See Before You Die</em>.</p>
<p>Béla Tarr sendiri juga bukan orang yang rajin  mondar-mandir ke pesta-pesta film. Apalagi, ia pernah ‘terusir’ dari  Hungaria dan terpaksa harus mengungsi kesana-kemari. Saat ini, Hungaria  sudah memintanya kembali pulang. Waktunya lebih banyak dihabiskan di  sebuah dusun kecil tak tercantum dalam peta dekat Budapest. Karya-karya  awalnya hanya beredar disekitar komunitas seniman di Hungaria. Film-film  <em>masterpiece</em>-nya beredar hanya sekitar festival di Eropa. <em>Satantango</em> sendiri baru dibawa ke Amerika sekitar tahun 2000-an.</p>
<p>Film-film Béla Tarr yang menuntut banyak kesabaran penonton memang bukan jenis film yang diminati bioskop-bioskop <em>mainstream</em>.  Tapi seperti kata Roger Ebert, jika anda bisa sabar menonton filmnya  setidaknya 20 menit pertama, maka yakinlah anda pasti akan menontonnya  hingga menit terakhir. Atau seperti kata Susan Sontag  &#8211;yang rupanya  juga pengagum karya Tarr&#8211; tentang <em>Satantango</em>: <em>Devastating, enthralling for every minute of its seven hours. I’d be glad to see it every year for the rest of my life. </em></p>
<p>Dan, ya, saya beruntung akhirnya bisa bertemu dengan Béla Tarr. Ia turun gunung untuk menemani film terbarunya: <em>The Man From London</em> pada Festival Film Rotterdam lalu. Rotterdam adalah salah satu festival  yang bisa dibilang turut andil dalam mewadahi kreatifitasnya  diawal-awal karir sebagai sutradara.</p>
<p>Béla Tarr langsung mengingatkan saya pada  film-filmnya. Wajahnya murung kalau tidak bisa dibilang muram. Tapi mata  biru-hijau-keabu-abuan itu menatap setiap lawan bicaranya seperti  sedang mengamati dengan intens. Bicaranya pelan, nyaris satu demi satu  kata diucapkan dengan tekun, persis seperti <em>shot-shot</em> di film-filmnya. Dan terus terang saja, Béla Tarr agak susah untuk diajak <em>ngobrol</em>.</p>
<p>Bagaimana pengalaman sutradara ini tentang karirnya  sebagai pembuat film? Berikut petikan obrolan saya dengan sutradara  kelahiran Pecs, Hungaria pada 21 Juli 1955 ini:</p>
<p><strong><em> The Man From London</em></strong><strong> agak berbeda dengan film anda sebelumnya seperti <em>Satantango</em> atau <em>Damnation</em>, walaupun tidak ada yang bisa terkecoh, <em>The Man</em> adalah film Béla Tarr. <em>The Man</em>, sepertinya jauh lebih pesimis. </strong></p>
<p><em> The Man</em> memang lebih dramatic, nyaris tidak  ada subplot, tidak ada aksi. Yang kedua, karena saya makin hari makin  tua dan ilusi saya makin berkurang. Ide-ide di kepala saya juga  mengering. Rasanya saya tidak lagi romantis dalam hal merangkai film.</p>
<p><strong> Maksud anda, tidak lagi romantis akan ide penolakan formal terhadap konvensi sinematis? </strong></p>
<p>Oh tidak. Saya tidak lagi berpikir soal konvensi  sinematis. Saya hanya berpikir tentang nasib dan keyakinan manusia. Saya  hanya ingin bercerita tentang bagaimana mekanisme hidup itu bekerja.  Lewat karakter dalam <em>The Man</em>, saya hanya ingin bercerita  tentang seorang pria diatas usia 50 tahun, yang punya kehidupan monoton  dan bagaimana ia harus bersikap ketika tergoda pada sesuatu.</p>
<p><strong> Tidak seperti film anda yang lain, yang kental dengan kombinasi spiritual dan efek dari kekuatan jahat, di <em>The Man</em>, aspek spiritualnya sepertinya memudar, dan membuat <em>The Man</em> makin terasa pesismis. </strong></p>
<p>Sulit untuk mengatakannya, karena saya tidak  merasakan apa-apa. Segalanya terjadi secara natural, berdasarkan situasi  saat kami membuat film. Film ini mungkin memang sebuah pengecualian.  Anda tahu, kami mulai syuting pada 2005, dan kami tidak bisa  menyelesaikannya karena produser kami meninggal (bunuh diri –red). Kami  harus berhenti dan terpaksa membongkar set yang sudah kami bangun  berbulan-bulan. Kami harus mengatur ulang post produksi dan kami  kehilangan banyak hal selama satu setengah tahun, ditambah lagi dengan  masalah legal, masalah dana, dan lain-lain. Ketika kami akhirnya bisa  melanjutkan produksi, suasana hati saya sudah lain. Dan ketika film itu  akhirnya selesai, saya merasa sangat sangat lelah. Saya merasa….kata  yang tepat buat saya adalah mengering. Saya mengering. Saya tidak punya  ilusi lagi.</p>
<p>Jadi pada dasarnya, <em>The Man</em> tidak punya <em>storyline</em>.  Ambisi saya terhadap film ini adalah menunjukkan wajah manusia  sesungguhnya, yang bertindak secara natural terhadap situasi sulitnya  masing-masing. Saya berikan waktu kepada karakter-karakter saya di depan  kamera, saya berikan mereka ruang yang seluas-luasnya, dan hal-hal  kecil lainnya yang bagi saya lebih penting dari sekedar mengikuti <em>storyline</em>.</p>
<p><strong> Bagaimana dengan <em>script</em>? </strong></p>
<p>Saya tidak pernah menggunakan <em>script</em>, apalagi <em>storyboard</em>. <em>Storyboard</em> itu pekerjaan yang buang waktu dan bodoh. Saya atau juga penulis  skenario hanya menuliskan dasar-dasar pondasi filmnya. Selain itu, alur  cerita bagi saya hanya bagian kecil dari sebuah film. Ada yang lebih  penting dari sekedar alur cerita. Perkembangan emosi karakternya, waktu  yang dibutuhkan agar keberadaannya sebagai karakter bisa terasa  eksistensinya, ritme, lokasi. Bagi saya, waktu dan lokasi juga adalah  karakter sendiri. Selain itu yang terpenting adalah tahu bagian mana  yang tidak boleh dipotong di ruang edit.</p>
<p><strong> Apa yang membuat anda begitu sedih sebetulnya. </strong><strong> Apakah akibat dari kematian produser anda? </strong></p>
<p>Tidak. Hidup itu berat. Dan saya melihat dan  mengalami bagaimana beratnya. Bukan hanya saya sesungguhnya, hidup makin  berat juga bagi semua orang, bukan?</p>
<p><strong> Ya, tentu saja. Tapi jangan bilang anda akan berhenti membuat film. </strong></p>
<p>Oh tentu saja tidak. Itu satu-satunya harapan saya untuk terus hidup.</p>
<p><strong> Syukurlah. Bisa ceritakan salah satu pengalaman berat itu? </strong></p>
<p>Ada masa dimana saya ingin jadi filsuf. Ketika saya  mendaftar untuk masuk jurusan filosofi, saya ditolak. Penolakan itu  karena alasan politis, karena saya iseng membuat film. Saya membuat film  tentang kelompok gypsy di Hungaria yang mengirim surat kepada pemimpin  komunis tentang keinginan mereka untuk keluar dari Hungaria karena tidak  punya apa-apa, tidak punya makanan, tidak punya pekerjaan.</p>
<p>Setelah itu, saya membuat lagi film pendek, semacam  dokumenter tentang kehidupan keluarga pekerja yang bermukim secara  illegal di rumah-rumah terlantar. Saat polisi datang untuk menyingkirkan  mereka, saya malah dipenjara.</p>
<p><strong> Setelah keluar dari penjara, anda akhirnya berhasil masuk universitas? </strong></p>
<p>Tidak. Saya tidak pernah mendaftar ke universitas  lagi. Saya tidak lagi peduli tentang filosofi. Saat itu saya memutuskan,  saya tidak mau jadi filsuf lagi.</p>
<p><strong> Tapi kemudian anda menerjemahkannya dalam film? Terutama <em>Werckmeister</em> dan <em>Satantango</em>? </strong></p>
<p>Tidak, tidak. Saya tidak mau jadi filsuf lagi, bahkan dalam film sekalipun.</p>
<p><strong> Tapi anda tidak bisa mengelak, keinginan untuk menekuni hal-hal filosofis dalam film-film anda. Khususnya <em>Werckmeister</em> juga sangat kental dengan dimensi kosmis. Adegan pembuka <em>Werckmeister</em> misalnya, dimana orang-orang berkumpul memperagakan komposisi kosmik.  Anda sepertinya percaya tentang hal-hal yang berhubungan dengan filosofi  metafisik. </strong></p>
<p>Saya tidak pernah memikirkan hal-hal teoris ketika  sedang bekerja.Anda tahu, setiap orang punya kewajiban sosial yang  besar. Waktu saya membuat <em>Werckmeister</em>, di Hungaria kami memang  sedang menghadapi problem sosial dalam sistem politik kami. Saya pikir,  kenapa film ini tidak mempertanyakan masalah sosial itu? Kami juga  menghadapi problem ontologi dan saya pikir semua masalah-masalah ini  datang dari kosmos. Tapi tidak pernah saya dan tim saya membicarakan hal  hal metafisik. Saya hanya mendengarkan dan memikirkan apa yang terjadi,  mengkonstruksinya agar semua sudah siap ketika syuting dimulai.<strong></strong></p>
<p>Di <em>Werckmeister</em>, saya hanya ingin bercerita  tentang  bagaimana warga desa terpencil itu tiba-tiba menjadi gelisah  menyambut datangnya ikan paus. Ketika saya bekerja, saya tidak  membicarakan hal hal teoritis. Kami selalu menghadapi problem teknis,  kami tidak pernah membicarakan soal <em>chaos</em> atau hal-hal  eksistensial. Kami membiacarakan bagaimana seharusnya adegan dijalanan,  bisa bekerja sesuai yang seharusnya. Bagaimana jika seseorang masuk  ruangan, dan bagaimana seharusnya reaksi orang-orang yang ada dalam  ruangan tersebut. Kami membicarakan hal-hal kecil dan detail. Tidak  pernah teori.</p>
<p><strong> Mengapa anda pikir semua ini datang dari kosmos? </strong></p>
<p>Segalanya dalam hidup selalu lebih besar dari yang  kita duga. Kita ini, manusia hanya bagian yang sangat kecil dari itu  semua. Tapi saya tidak akan memberikan definisi apalagi interpretasi  apa-apa tentang film saya. Biarkan imaginasi anda berkembang sendiri  tanpa perlu saya pagari.</p>
<p><strong> Maaf, tapi tentunya anda percaya Tuhan? </strong></p>
<p>Itulah masalahnya. Saya tidak percaya. Mudah saja  untuk menyalahkan Tuhan dalam segala hal. Mudah saja bilang, ini  kehendak Tuhan. Tapi saya pikir bodoh sekali kalau manusia  seenak-enaknya menganggap bahwa Tuhan lah yang bertanggung jawab atas  semua yang terjadi. Tidak, saya tidak akan menghabiskan waktu saya  dengan mengharapkan Tuhan ada.</p>
<p><strong> Anda pernah jadi eksil, keluar dari Hungaria beberapa waktu lamanya. Apakah juga ada hubungannya dengan kegiatan membuat film? </strong></p>
<p>Iya. Waktu itu sekitar tahun 1985. Saya ingin sudah ingin sekali membuat <em>Satantango</em> yang terinspirasi dari novel <em>The Melancholy of Resistance</em> karya sahabat saya Laszlo Krasznahorkai. Karena masalah politik, studio  dan perusahaan film yang kami dirikan bersama-sama dengan beberapa  sutradara independen Hungaria akhirnya ditutup oleh pemerintah.</p>
<p><em> Satantango</em> akhirnya sempat tersimpan lama rak buku, tapi saya sempat membuat <em>Damnation</em> di periode itu. Setelah itu, karena tekanan politik, saya akhirnya  meinggalkan Hungaria dan menetap di Jerman Barat hingga runtuhnya tembok  Berlin. Bersamaan dengan itu, situasi politik membaik, dan saya kembali  ke Hungaria.</p>
<p><strong> Anda lama berkutat dengan sistem di Hungaria  untuk membuat film. Sekarang boleh dibilang, nama anda sudah jaminan.  Kritikus-kritikus pun memuji-muji film anda. Apakah sekarang anda lebih  mudah membuat film daripada sebelumnya? </strong></p>
<p>Tidak akan pernah ada kata lebih mudah untuk membuat  film. Nama? Apalah artinya nama. Tentu saja penting untuk tahu pendapat  orang tentang film-film yang saya kerjakan karena selama  mengerjakannya, praktis saya dan tim saya bekerja sendiri. Kami selalu  pusing masalah dana, pusing menghadapi masalah-masalah di lapangan.  Selama proses itu, anda tidak akan pernah punya waktu untuk memikirkan  penonton atau siapa yang akan menonton film itu. Hanya sutradara film  iklan saja yang memikirkan penontonnya.</p>
<p>Bahkan setelah selesai pun, saya sudah cukup puas  jika ada sepuluh orang yang menyatakan pendapatnya tentang film saya,  karena penting bagi saya untuk tahu apa pendapat mereka. Tapi saya tidak  pernah membayangkan ribuan orang akan menonton film saya, saya toh  tidak bisa memuaskan dan menyenangkan semua orang.</p>
<p>Di Hungaria sendiri, secara resmi, tidak ada yang suka. Kami <em>toh</em> berada di luar standar yang ada. Di jaman Komunis, kami adalah orang  luar, tapi bahkan setelah Komunis berganti pun, kami tetaplah berada  diluar garis, berada diluar sistem, berada diluar komunitas borjuis  kecil yang bodoh bernama industri film.</p>
<p><strong> Hampir semua film-film anda rupanya terinspirasi dari buku. </strong></p>
<p>Ya, tapi hanya terinspirasi bukan adaptasi. Biasanya  saya lebih tertarik pada kesan yang ditimbulkan sebuah buku setelah  saya membacanya.  Kesan dan atmosfir itulah yang terolah di kepala saya,  dan bukan karena alur cerita di buku itu.</p>
<p><strong> Saya tidak tahu banyak tentang budaya Hungaria. Apakah film-film anda menggambarkan kepribadian  orang-orang Hungaria, </strong></p>
<p>Saya tidak tahu. Yang pasti saya orang Hungaria. Anda tahu, saya tidak tahu apa-apa selain saya orang Hungaria.</p>
<p><strong> Film-film anda pada umumnya disyut dengan  format hitam putih dan sekilas ada pengaruh gaya Tarkovsky. Apakah dia  yang menginspirasi anda? </strong></p>
<p>Sulit juga dibilang begitu. Saya suka film-film Tarkovsky walaupun tidak semuanya. Yang terbaik bagi saya <em>Andrei Rublyov</em> dan tentu saja <em>Stalker</em>.  Tapi pilihan format hitam putih bukan karena Tarkovsky. Alasannya  sederhana, saya pusing melihat terlalu banyak warna. Saya hanya membuat  dua film berwarna. Selebihnya hitam putih. Saya juga tidak tahu, tapi  saya merasa menggunakan warna membuat film saya jadi cerewet melebihi  yang seharusnya. Yang menginspirasi saya justru Cassavetes. Saya sangat  suka dengan film-film Cassavetes.</p>
<p><strong> Tapi film-film Cassavetes selalu riuh dengan  dialog dengan pergerakan kamera yang selalu ikut andil, sementara film  anda sangat kalem, minim dialog dan kamera anda selalu berjarak. </strong></p>
<p>Saya terinspirasi bukan berarti saya harus mengikuti  dia kan? Saya sangat suka dengan gaya naturalis Cassavetes, tapi saya  juga sadar saya tidak bisa membuat film seperti dia. Saya punya  keberatan sendiri.</p>
<p><strong> Anda pernah menyerah untuk jadi filsuf. Kenapa akhirnya ngotot membuat film? </strong></p>
<p>Itu pertanyaan yang sering saya ajukan terhadap diri  sendiri dan saya tetap tidak bisa menjawab. Yang saya tahu pasti adalah  saya tidak akan bisa membuat film jika orang-orang disekitar saya tidak  memberikan kesempatan. Banyak waktu yang saya habiskan hanya untuk  gagal. Banyak waktu saya habiskan untuk memohon-mohon dana dan berusaha  mencari kemungkinan untuk membuat film yang berbeda dari film-film <em>mainstream</em> di Hungaria. Ketika saya akhirnya bisa mendapatkan sedikit uang, dengan  bodohnya saya bangga menyebut diri ‘independen’. Tapi kemudian saya  sadar, tidak ada itu yang namanya independen apalagi kebebasan berkarya,  yang ada hanya uang dan politik. Saya hanya bisa memberikan pembenaran  terhadap oportunis-oportunis. Mungkin juga saya sudah menjadi bagian di  kelompok itu.</p>
<p><strong> Anda benar-benar pesimis rupanya terhadap diri sendiri </strong></p>
<p>Saya bukan pesimis, tapi realistis.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/bela-tarr-hanya-sutradara-film-iklan-saja-yang-memikirkan-penontonnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono Bagian VIII Kritik Film di Indonesia Bukan Cuma Jelek, Tapi Parah!</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-viii-kritik-film-di-indonesia-bukan-cuma-jelek-tapi-parah/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-viii-kritik-film-di-indonesia-bukan-cuma-jelek-tapi-parah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 16:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; Joko Anwar kesal pada kritik film yang ia temui di suratkabar. Ia percaya kritik film penting, tetapi mengapa ada yang justru ia sebut membodohi? Mengapa pula ia tetap punya harapan tinggi pada kritik film? Di sisi lain, mengapa bagi Edwin, kritik membuatnya berhati-hati dan mempertanyakan apakah ia masih perlu membuat film? &#8212; Joko Anwar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img src="http://old.rumahfilm.org/images/jokoedwin08.gif" alt="" width="545" height="382" /><p class="wp-caption-text">Kala (Joko Anwar)</p></div></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Joko Anwar kesal pada kritik film yang ia temui di  suratkabar. Ia percaya kritik film penting, tetapi mengapa ada yang  justru ia sebut membodohi? Mengapa pula ia tetap punya harapan tinggi  pada kritik film? Di sisi lain, mengapa bagi Edwin, kritik membuatnya  berhati-hati dan mempertanyakan apakah ia masih perlu membuat film?</p>
<p>&#8212;<span id="more-927"></span></p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : (Kepada Eric sasono) Sekarang <em>gue</em> tanya <em>lu</em> balik boleh nggak? Boleh dong..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Iya, boleh.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Kritik film itu adalah yang sangat penting di perfilman. Tadi <em>elo</em> nanya Edwin soal <em>sparring partner.</em><em>Gue</em> kira bakal ngomong ke situ..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Nggak jadi karena Edwin belum pernah dikritik..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Karena <em>sparring partner</em> yang paling bagus adalah kritik film</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Netral kan dia..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Artinya apa? Kritik film ini sudah harus jadi orang yang minimal seimbang dengan filmmaker atau lebih pintar karena <em>they have to study film</em>. Karena begitu <em>elo</em> jadi filmmaker, yang <em>elo</em> pelajari adalah teknik. Dari segi segi estetik waktu <em>lo</em> kurang. Seharusnya ada sesuatu yang mem-<em>back up</em> itu. Kritik film Indonesia parah! Bukan cuma jelek, parah! <em>Elo</em> tahu nggak kayak <em>Kompas</em>, <em>on the record, Kompas</em>!!  (Joko mendekatkan mulutnya ke alat perekam dan mengeraskan suaranya)  Dan itu akhirnya bikin susah karena membodohi. Kalau menurut <em>lo</em> gimana?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Gue</em> belum lama sampai menulis surat ke redaksi <em>Kompas</em>.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Yang dibilang <em>science fiction</em>?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Ya. masak <em>Bourne Ultimatum</em> dibilang <em>science fiction</em>? Apakah yang nulis resensinya nggak tahu? Apakah editornya nggak tahu? Menurut <em>gue</em>, mereka <em>give film critic a bad name</em>, dan <em>gue</em> nggak rela. Penulis itu juga salah mengartikan <em>Kala</em>.  Dia juga memakai kata ‘negro’ pada tahun 2006. Pokoknya banyak sekali  lah. Dan itu bisa jadi ikutan dari semua kondisi yang kalian gambarkan.  Penonton yang masih film <em>buff-baru</em>. <em>Filmmaker-</em>nya di bawah tekanan. Mereka sendiri juga adalah produk dari sebuah sistem kerja yang tidak <em>respectfull</em> terhadap film. Bahwa mereka tidak pernah membuat usaha ekstra misalnya untuk memahami film. Menurut <em>gue</em> bukan hanya film. Problem juga sama di seni rupa juga begitu, teater  dan sebagainya. Semua. Tapi film sangat nyata karena film kan selalu  mempunyai <em>exposure</em> lebih. <em>Mass appeal</em>. Dan kalau seni  rupa ada kritikus dari luar. Tapi mereka menganggap enteng film. Bukan  berarti bahwa film harus berat. Tapi bahwa <em>lo</em> harus ada respek dan <em>passion</em>. Itu yang menurut <em>gue</em> hilang. Tidak ada <em>passion</em> mereka sebagai penonton film. Problem lain lagi adalah pemahaman <em>storytelling</em>, pemahaman bahasa. Bahwa film juga kan grammar. Dan pemahaman itu parah.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Yang paling parah justru <em>Kompas</em>! Ini <em>on the record lho</em> ..</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Iya, gagap semuanya. Saya sih  nggak pernah baca koran, nggak nonton TV. Saya lebih percaya internet.  Maksudnya ya yang kayak model-model youtube gitu, yang memang personal.  Buat saya mereka bisa lebih dipercaya. Bahkan seperti National  Geographic juga gitu. Seharusnya kita bisa punya akses internet lebih  cepat.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Elo</em> mengharapkan apa peran kritikus? Apa yang lo bayangkan ketika membaca sebuah <em>review</em>?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Setiap <em>gue</em> membaca sebuah review dari luar negeri, apakah di majalah atau di  internet, kayak rottentomatoes atau metacritic.com; bukan cuma  filmmakernya yang dapat sesuatu. Bahkan gue sebagai penonton juga  merasa: <em>I see</em>. Karena terkadang sebagai filmmaker <em>lo</em> merasa: <em>it doesn’t work out</em>. Kenapa ya? Karena kalau misalnya <em>lo</em> ajak ngomong <em>gue</em> sama Edwin ya kita kayak gini. Ya secara verbal kita nggak bisa ngomong.<em>We can do it with the movies</em>. Jadi kalau cari jawaban secara verbal <em>what went wrong</em>, itu susah. Harapan adalah hal itu datang dari film critic, <em>what doesn’t work, why doesn’t work. I don’t care about it should’ve been done like this</em>. Tapi <em>gue</em> perlu: <em>why doesn’t work</em>. Itu yang <em>gue</em> pikirin. Misalnya di RumahFilm ada beberapa kritik tentang <em>ending</em> film <em>gue</em>. Mereka bilang <em>this .. this and this</em>. Apapun itu, apakah <em>elo</em> setuju atau tidak dengan itu, <em>elo</em> sebagai <em>filmmaker</em> juga harus membuka diri. Dan jangan nolak, tapi itu semua harus diproses. Kalau <em>gue</em>, <em>gue</em> proses, dan pasti ada benarnya. Kritikus film yang baik adalah kritikus yang bisa membantu <em>filmmaker</em> menempatkan dirinya ada di mana.</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Menurut <em>elo</em> gimana Win? Kritik film. <em>Elo</em> mengeluh film <em>lo</em> belum pernah dikritik. Apakah akan membantu dengan melihat kritikus yang sekarang ada?</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Pasti sih kebayangnya akan jadi sebuah input dari orang luar yang netral, yang tidak subyektif terhadap <em>filmmaker</em> atau filmnya sendiri. Pastinya akan membantu. Penting.</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Joko bilang kritik yang baik yang bisa memberi tahu <em>filmmaker</em> dimana tempatnya. Buat <em>elo</em> apa Win?</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Ya, supaya jadi lebih  hati-hati aja bikin film. Saya sih berharap ada kritik yang akhirnya  bisa membuat saya berpikir: masih perlu nggak bikin film? Apakah saya  berada di tempat yang benar sekarang ini?</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Gitu ya? Masih se-eksistensial itu problem <em>lo</em> ya?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Kalau <em>elo</em> sampai kapan jadi kritikus? Perlukah ada kritik terhadap kritikus?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Perlu. Perlu karena  kritik pertama ya pembaca lah. Dan kritikus harus siap dikritik seperti  halnya dia mengkritik film. Dan buat <em>gue</em> sendiri jadi kritikus kan kayak semacam kecelakaan, kalau <em>gue</em> mau jujur. Karena awalnya, <em>elo</em> tahu lah <em>gue</em> pengen jadi filmmaker, tapi merasa bahwa <em>gue</em> nggak berbakat.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Elo</em> pengen jadi filmmaker?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Awalnya..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Dia pernah bikin film pendek.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Ya, bikin film pendek. <em>Gue</em> ngerasa gagal. Merasa bahwa ada yang lebih berbakat lah..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Kenapa <em>elo</em> berhenti?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Ya <em>gue</em> merasa ada yang lebih berbakat aja ketimbang <em>gue</em>..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Elo</em> mencoba dengan cukup nggak, sebelum <em>elo</em> memutuskan untuk berhenti?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Mungkin terlalu banyak batasan. Dan itu bisa jadi tekanan yang bikin <em>gue</em> nggak pede. Bikin <em>gue</em> nggak lepas bikin film dan itu..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Elo</em> udah nonton film pendek <em>gue</em> kan? Sejelek itu! Hehehe..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Gue</em> nggak cukup pede. Nggak cukup deterministik, nggak cukup konsisten untuk jadi filmmaker..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Menurut <em>gue</em>, <em>elo</em> terlalu cerdas.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Taik lu!</em></p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Maksud <em>gue</em> gini. <em> Elo</em> terlalu cerdas secara verbal. <em> Filmmaker</em> tuh biasanya idiosinkratik, man. Seseorang yang verbalnya oke banget, udah nggak butuh lagi. <em>Lo</em> dengan tulisan sudah bisa membuat orang: wow! Gitu lho..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Itu juga kan proses sebetulnya. Dan akhirnya gue merasa bahwa di situ <em>passion</em> gue lebih sampai. <em>Gue</em> ngerasa nemuin bahasa <em>gue</em> sendiri. Tadinya <em>gue</em> juga berpikiran untuk jadi novelis, nulis cerita, nulis fiksi. Sempat menulis skenario. <em> Gue</em> nyoba di <em>Brownies</em> dan <em>gue</em> merasa nggak ada challenge lagi. <em>Gue</em> sempat ditanya ketika menang kritikus terbaik DKJ 2005. Ada yang nanya: <em>lo</em> mau jadi penulis skenario atau penulis kritik? <em>Gue</em> merasa pertanyaan itu nggak perlu ditanyakan pada posisi <em>gue</em> waktu itu. Ya <em>gue</em> jawab, kalau ada pertanyaan yang memaksa, baru <em>gue</em> jawab pertanyaan itu. Kalau belum dipaksa oleh keadaan, <em>gue</em> belum akan menjawab. Belum lama ini satu skenario yang <em>gue</em> tulis tahun 2003 mau dibeli orang..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Terus, <em>lo</em> bilang?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Akhirnya <em>gue</em> bilang <em>gue</em> nyumbang cerita aja deh. Jadi diambil sama orang lain..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Judulnya?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Belum, belum jadi. Belum produksi. Kalau <em>gue</em> nulis scenario, mungkin <em>gue</em> harus berhenti nulis kritik..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Gue</em> sekarang bikin film dan bikin kritik. Sinema Indonesia. Hehehe..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Garin masih. Sutradara dan kritikus film..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Menurut <em>elo</em> film-film yang eksistensialis sekarang ini masih relevan nggak?</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Mungkin <em>gue</em> nggak nyebutnya eksistensialis.. Mungkin pada dasarnya gini. Sekalipun  Joko bilang dia sudah selesai dengan dirinya sendiri, tapi ada sesuatu  dari dalam dirinya yang muncul dan keluar dalam film-filmnya kan? <em>Somehow</em> soal personal ini muncul. Ini soal ketika porsi personalnya besar banget, seperti film-film <em>lo </em>Win. <em>Gue</em> bisa ikut ngerasain sakit nonton <em>Very Slow Breakfast</em>. Buat <em>gue</em> justru mungkin jangan-jangan film-film seperti itu yang <em>long lasting</em>. Kalau Joko bilang harus ada ko-eksistensi, <em>gue</em> percaya film-film seperti yang <em>lo</em> buat itu menyumbangkan sesuatu. Belajar dari Malaysia lah. Mereka mulai  dari Uwee Haji Saari dan sampai akhirnya Amir Muhammad dan kawan-kawan.  Mereka memberikan sesuatu buat penonton film Malaysia. Itu kan muncul  dengan adanya kelompok yang konsisten melahirkan karya-karya seperti  itu.</p>
<p>***</p>
<p>Percakapan kemudian ditutup dengan obrolan lebih  santai tentang berbagai hal. Tentang Joko yang sedang menyiapkan sebuah  filmnya yang judul sementaranya mengandung frasa <em>24-frames</em>. Ia  juga teribat dalam reality show, On the Lot, sebuah reality show yang  menguji ketrampilan sutradara muda berbakat. Juga tentang Edwin yang  bercerita bahwa ia masih terus berkutat dengan penyelesaian <em>Babi Buta yang Ingin Terbang</em>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-viii-kritik-film-di-indonesia-bukan-cuma-jelek-tapi-parah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono Bagian VII Filmmaker Indonesia: Gontok-Gontokan sih Nggak, Tusuk-Tusukan Iya!</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vii-filmmaker-indonesia-gontok-gontokan-sih-nggak-tusuk-tusukan-iya/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vii-filmmaker-indonesia-gontok-gontokan-sih-nggak-tusuk-tusukan-iya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 16:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; Sisi storytelling masih menjadi masalah besar film Indonesia. Itukah sebabnya mengapa Joko Anwar mengaku terus mencari formula yang bisa membuat penonton Indonesia going gaga? Lalu mengapa Edwin berkeras bahwa orang Indonesia memang gagap mengekspresikan apa yang ada dikepalanya? Kita juga bisa ikuti mengapa Joko dan Edwin berani menyebut bahwa di negeri ini banyak filmmaker [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img src="http://old.rumahfilm.org/images/jokoedwin07.gif" alt="" width="545" height="409" /><p class="wp-caption-text">Janji Joni (Joko Anwar)</p></div></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sisi <em>storytelling </em>masih menjadi masalah  besar film Indonesia. Itukah sebabnya mengapa Joko Anwar mengaku terus  mencari formula yang bisa membuat penonton Indonesia <em>going gaga?</em> Lalu mengapa Edwin berkeras bahwa orang Indonesia memang gagap  mengekspresikan apa yang ada dikepalanya? Kita juga bisa ikuti mengapa  Joko dan Edwin berani menyebut bahwa di negeri ini banyak <em>filmmaker</em> punya aura jahat.</p>
<p>&#8212;<span id="more-925"></span></p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: <em>Gue</em> mau ngomong <em>storytelling</em> ya. Dalam soal <em>storytelling</em> pertanyaan buat kalian beda-beda. Kalau buat <em>lo</em> Jok, pertanyaannya soal <em>re-invention</em> dalam konteks film Indonesia yang sudah <em>lo</em> definisikan. Seperti apa lagi <em>re-invention</em> itu?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Lho, kalau ngomong Indonesia sebenarnya <em>gue</em> sebagai <em>filmmaker</em> berbeda sama pendapatnya Edwin. Kalau dia merasa sebagai <em>filmmaker</em> di jaman sekarang ini <em>it’s not very favorable</em> buat dia, buat <em>gue</em><em>favorable</em>. Karena kita belum menemukan formula yang bisa membuat penonton Indonesia merasa <em>going gaga</em>. Kalau Hollywood udah ada formula yang bikin mereka <em>going gaga</em>. <em>Blockbuster, Harry Potter and the stuff</em>. Kalau Thailand ada sendiri yang bikin mereka <em>going gaga</em>. India jelas, <em>songs and dance</em>. Indonesia belum ada. Di situ pencarian yang menurut <em>gue</em> sangat menarik sebagai <em>filmmaker</em> yang berada di jaman sekarang. Jaman dulu tahun 1980-an ada <em>Sundel Bolong</em> contohnya, itu bikin kita <em>going gaga</em>.<em>Beranak dalam Kubur, Dono Kasino Indro</em>. Karena belum ada banyak sekali film luar yang mempengaruhi otak penonton. Kalau sekarang sudah banyak sekali <em>going on</em> di kepala penonton. Lantas formula dalam film Indonesia apa? Belum ada. Makanya <em>gue</em> sekarang sebagai <em>filmmaker</em> merasa <em>excited.</em></p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Justru menurut <em>lo</em> ini saat puncak gitu ya?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Saat yang baik untuk mencari itu.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Dengan dua film <em>lo</em>, merasa nemu sesuatu nggak?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Belum!</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Belum?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Belum, tapi <em>I’m proud of it</em>! Sekalipun setiap <em>gue</em> nonton film <em>gue</em> pasti ngeliat kesalahan. Kalau misalnya film <em>gue</em> diputar di festival gitu, <em>gue</em> begini (Joko menutup wajah dengan tengannya). Tapi apakah dua film ini sudah jadi film yang <em>gue</em> cari-cari? Belum.<em>I want to find that, man</em>! <em>Gue</em> mau mencari film yang benar-benar&#8230;. Bisa sebagai medium atas apa yang ingin <em>gue</em> katakan dan jadi sesuatu yang enak untuk ditonton dan dialami.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Kalau di <em>box-office</em> kita ada <em>Sherina, AADC</em>..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Sherina, AADC</em> itu kasusnya seperti <em>Dono Kasino Indro</em> dulu. <em>At that time</em> bagus, tapi kalau misalnya dilakukan sekarang, kita sudah sangat terbuka sekali. <em>Accessibilitas</em> kepada film-film di seluruh dunia.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Maksud <em>lo</em> pada waktu itu penonton belum sadar film?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Belum banyak referensi..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Jadi menurut <em>lo</em> kalau <em>AADC</em> dibuat sekarang belum tentu laku?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Mmmm.. belum tentu. Tapi itu tidak mengurangi <em>value</em> film itu. Karena film itu dibuat untuk masanya dan berhasil.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Kalau <em>lo</em> Win, merasa <em>storytelling</em><em>lo</em> itu bagian dari proses nggak sih, dalam konteks <em>lo</em> sebagai orang Indonesia?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Oh iya. Kalau saya lihat  sendiri ya film-film itu menceritakan sesuatu yang abstrak atau susah  dijelaskan dengan kata-kata. Gagap gitu. Dan orang Indonesia itu kan  gagap sebenarnya, kalau saya lihat. Orang Indonesia itu gagap untuk  mengekspresikan apa yang ada di kepalanya dengan sangat <em>clear</em>.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Orang Indonesia iya.  Dan itu wajar sekali. Emang kita sudah lama disuruh diam kok. Wajar aja.  Nggak usahlah ngomong penonton. <em>Scriptwriter</em> aja masih begitu. Begitu kita ngomong, enak kita ngomongnya. Tapi begitu harus nulis, berhadapan dengan keyboard: <em>switch</em>! Perbedaan bahasa lisan sama bahasa tulisan..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Lo</em> merasakan kegagapan itu ketika mengerjakan dua film <em>lo</em>? Orang yang bekerjasama dengan <em>lo</em>? Atau penontonnya?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Itu nggak <em>gue</em> anggap kesulitan ya. <em>Gue</em> merasa itu <em>advantage</em>. Kan film itu akan lebih berhasil jika sebuah <em>society</em> yang masih sangat, katakanlah, belum terbuka, ketika mereka menonton, film <em>lo</em> berhasil membuka ruang-ruang di kepala. Itu <em>successful</em>. Daripada kalau misalnya <em>gue</em> bikin film di sebuah <em>society</em> yang sudah <em>gape</em> bikin film, <em>impact</em>-nya nggak akan sebesar kalau <em>gue</em> bikin di Indonesia.</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Sebenarnya tuh kalau lihat film-film <em>lo</em> yang dua itu sebenarnya <em>elo</em> bikin film untuk film..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Banyak yang bilang itu dan <em>gue</em> harus setuju walaupun sebenarnya nggak sengaja. Karena memang dasar <em>gue</em> adalah membuat film untuk memberikan efek yang sama sebagaimana film-film yang <em>gue</em> tonton memberi efek ke <em>gue</em>. <em>Gue</em> memang sangat <em>worship</em> film. Meskipun dia nggak bisa menimbulkan bau. Hehe. Film itu harus apa? Harus <em>fun</em>. Sebuah film itu harus <em>fun</em> dengan levelnya sendiri-sendiri. Padahal <em>gue</em> menganggap film seperti <em>The Last Picture Show</em> bukan film komedi yang bikin penonton hahaha, tapi <em>so fun</em>. <em>Irreversible</em> atau <em>I Stand Alone</em> yang sangat depresif menurut gue pantes. Setuju nggak lo?</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Ilustrasinya?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Ilustrasinya gini. Banyak film Indonesia itu <em>mean spirited</em>. Apa ya bahasa Indonesianya?</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Berniat jahat?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Bukan berniat jahat.  Spiritnya tuh jahat. Setuju gak lo? Seakan-akan bilang ‘gue hukum nih’  penonton dengan nonton film itu. Setuju nggak lo? (Joko menyebut satu  judul yang dianggapnya <em>mean-spirited</em> itu, tapi ia meminta agar judul film itu jangan ditulis)</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Auranya jahat.</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: <em>Exactly</em>! Auranya jahat. Dan kecenderungan ini sangat luar biasa lho di Indonesia.</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Karena situasinya juga sih. Aura <em>filmmaker-filmmaker</em> kita ini jahat.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Elo</em> merasa nggak beberapa waktu yang lalu film independen semuanya tentang apa? Tentang <em>drugs</em>.  Dibikin seperti… kayaknya penonton mau dilempar durian ke mukanya,  gitu. Duar!! Kecenderungannya gitu. Kayaknya dia merasa bahwa apa yang  ingin dia sampaikan tidak akan kesampaian kalau dia tidak  menyampaikannya dengan jahat.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Hehehe..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Coba film Stanley Kubrick, <em>Clockwork Orange</em>, itu film yang sangat sadis, sangat gila. Tapi nggak <em>mean spirited</em> gitu. Lo ngerasa nggak?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Bukan ini sih. Tapi ketika seluruh sistem yang berkait sama film Indonesia itu punya kecenderungan ke aura yang jahat…</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Maksudnya dorongan pasar?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Segala macam. Semua. <em>Filmmaker</em>, pembuatnyalah, kritikusnyalah, ke penontonnyalah, industrinya sendiri apa pemegang kekuasaannya. <em>Mean spirited</em> gitu. Tak bersahabat.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Tidak bersahabat?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Jadi mereka bikin film itu bukan untuk <em>something to celebrate</em>. Menurut gue seharusnya ada <em>something to celebrate.</em> Ekstremnya lihat <em>Ratatouille</em> misalnya. Sekarang <em>gue</em> ada di sini, dan <em>gue</em> melakukan semua ini karena kecintaan sama film..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : <em>Lo</em> ngerasa ketika bikin film ada sesuatu yang seharusnya nggak <em>lo</em> pikirin gitu kan? Kayak tekanan-tekanan yang nggak perlu ada, gitu kan?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Banyak banget..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Ada tekanan gitu waktu <em>gue</em> bikin film. Ya di satu sisi sih kalau orangnya kuat bisa aja mencuekin  gosip. Salah satu tekanan itu ya gosip-gosip. Itu yang paling kelihatan  jahatnya..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Tapi <em>gue</em> gak tahu ya. Di beberapa negara <em>filmmaker</em> sangat dekat. Di sini? Saling gontok-gontokan nggak sih?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Gontok-gontokan sih nggak. Tapi tusuk-tusukan dari belakang sih iya. Kita bisa rasain auranya. Ada yang berdarah nih!</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Yang paling salah di Indonesia sebenarnya ini. Semua orang merasa bahwa <em>everbody else is competition</em>. Salah.<em>It’s wrong</em>! Salahnya apa? Masih bodo-bodo semua! Saingan sama Ang Lee. Jangan sama Joko Anwar, sama Edwin..</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vii-filmmaker-indonesia-gontok-gontokan-sih-nggak-tusuk-tusukan-iya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percakapan Joko Anwar, Edwin dan Eric Sasono Bagian VI Saya masih Mencoba Memfilmkan Bau</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vi-saya-masih-mencoba-memfilmkan-bau/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vi-saya-masih-mencoba-memfilmkan-bau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 16:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[&#8212; Joko Anwar merasa di era kini hampir mustahil untuk bisa meraih invention baru di film. Semua praktis telah ditemukan. Tapi, menyumbang re-invention masih dimungkinkan. Lalu apa re-invention yang digagas Joko? Mengapa pula ia sangat menyukai film-film yang memprovokasi? Film seperti apakah itu? &#8212; Eric Sasono : Win, Lo ngelihat craftmanship nggak dari film-filmnya Joko? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><div class="wp-caption aligncenter" style="width: 555px"><img src="http://old.rumahfilm.org/images/jokoedwin06.gif" alt="" width="545" height="409" /><p class="wp-caption-text">Dajang Soembi Perempoean Jang Dikawini Andjing (Edwin)</p></div></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Joko Anwar merasa di era kini hampir mustahil untuk bisa meraih <em>invention </em>baru di film. Semua praktis telah ditemukan. Tapi, menyumbang <em>re-invention </em>masih dimungkinkan. Lalu apa <em>re-invention</em> yang digagas Joko? Mengapa pula ia sangat menyukai film-film yang memprovokasi? Film seperti apakah itu?</p>
<p>&#8212;<span id="more-923"></span></p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Win, <em>Lo</em> ngelihat <em>craftmanship</em> nggak dari film-filmnya Joko?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Ada usaha ke arah sana.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Ada usaha. Haahhaha! Berhasil enggak, nomor dua.</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Ada. <em>Storytelling</em> jelas. <em>Lo</em> sebagai penulis, penulis yang bagus. <em>Lo</em> bikin film <em>Janji Joni</em> itu, terhiburlah yang nonton film itu. Paling itu kan maksud <em>lo</em> bikin film itu? Maksudnya, Joko dan cintanya terhadap film selalu kelihatan di dua filmnya. Dari <em>Janji Joni</em> ada <em>passion</em> film. Statemen-statemennya tentang film, itu ada semua. Pada <em>Kala</em> juga, tapi dalam bentuk yang beda. Meminjam istilah Joko, <em>genre-bending</em>.  Itu menarik banget. Kalau saya menjadi seorang Joko memang itu yang  paling asik. Ketika kita sudah tahu semua struktur yang benar bagaimana.  Ayo <em>dong</em> kita main-main dengan ramuan yang tadinya baku itu. Jadinya dia tahu posisinya dimana dalam film-filmnya itu..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Jadi <em>lo</em> juga bisa ngeliat bahwa ada <em>statement</em> yang diucapkan Joko dalam film-filmnya?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Mmm.. <em>statement</em> sih lebih ke sesuatu yang bukan personal. Tapi lebih tentang film. Tentang <em>passion</em>. Tentang sekelilingnya gitu. Belum kelihatan sih sesuatu yang personal dari dia. Maksudnya sih mungkin ada. Tapi <em>nggak</em> asiklah dibahas. Enakan <em>ngebahas</em> bagaimana teknik-teknik dia untuk menceritakan, untuk memain-mainkan genre <em>noir</em> di <em>Kala</em>? Sama orang-orang sekolahan <em>Kala</em> dilihat sebagai film <em>noir</em> yang salah. Padahal sebenarnya ya memang salah. Karena dia memang bermaksud merusak genre <em>noir</em>.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Satu hal yang sering diucapkan teman-teman ketika <em>gue</em> bikin <em>Kala</em>. Mereka bilang, bahkan mereka bikin di blog mereka, film itu <em>another movie of </em>Joko <em>that would be misunderstood</em>. Tapi selalu ada resiko itu ketika <em>elo</em> memutuskan untuk tidak memakai <em>easy way</em>. Sebenarnya kalau mau ditanya apakah ada yang personal dalam film-film <em>gue?</em> ada beberapa. Tapi <em>per part</em> kayak adegan <em>Kala</em> pertama kali ketika elo liat ada payung-payung dari atas ada seseorang datang berlari dari kanan ke kiri, itu adalah statement <em>gue</em>. <em>I will not take easy</em>.  Ada beberapa orang yang hujan mereka jalan pakai payung. Mereka jalan  dari kiri ke kanan. Kan kita biasa baca dari kiri ke kanan. Gampang  ngelihatnya. Begitu kita baca dari kanan ke kiri, nggak biasa gitu.  Mungkin film gue lebih dinikmati di Arab. Hahahaha… Dalam <em>Janji Joni</em><em>gue</em> juga masukin personal statement <em>gue</em>. Bagaimana posisi <em>gue</em> di film, ada di situ. <em>Kala</em> juga seperti itu. Mungkin personalnya di situ. Cuma, karena film  sebagai sebuah karya seni yang selalu dinamis, tidak akan terus berjalan  kalau tidak ada yang <em>breakthrough</em>. Orang-orang Hollywood yang  sekarang besar kayak Scorsese, Coppola, Spielberg, adalah orang-orang  yang membuat industri film mereka terus bisa berjalan. Itu karena mereka  <em>breakthrough</em>. Itu film untuk industri perfilman. Sebagai <em>filmmaker</em> itu juga sangat butuh itu. Karena sebagai <em>filmmaker</em><em>lo</em> nggak bisa lepas dari keharusan untuk me <em>re-invent</em>. <em>One of the true nature of filmmaker</em> adalah <em>re-invent</em>.</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Joko keren lah.</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Re-invent</em> apa nih?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>To invent</em> sudah nggak mungkin dan mungkin <em>sound</em> ambisius tapi untuk me <em>re-invent</em>, untuk <em>make it fresh</em> sama seperti industri yang lain lah. <em>We need to fresh stuff</em> gitu. Hal-hal yang segar sangat dibutuhkan. Misalnya dulu ada hip-hop,  ada metal. Tiba-tiba masuk Linkin Park. Musik apa ini? contohnya begitu.  Industri berjalan karena ada Linkin Park. Penjualan CD naik lagi,  apresiasi naik lagi. Tadinya ada yang bilang ini <em>stuck</em>, gitu. Karena itu bukan hanya <em>true nature</em>-nya <em>filmmaker</em> doang, tapi <em>true nature of human..</em></p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : <em>Elo</em> ngeliat film-film kayak filmnya Edwin akan ngasih sumbangan ke proses <em>re-invent</em> itu?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : <em>Exactly</em>! Itu dia yang paling <em>gue</em> suka. Ketika orang mengambil keputusan membuat film mungkin sekadar sok  jago. Atau mungkin sekadar eksperimental tanpa dasar. Dia jelas.  Seperti <em>Kara</em> misalnya. Sering <em>gue</em> omongin di forum-forum. Bikin film pakai seluloid ketika bagian <em>Kara</em>. Ketika bagian McDonald, sekalipun <em>gue</em> nggak setuju dengan yang dia katakan, bahwa McDonald sebagai predator, <em>he puts</em> McDonald dalam konteks yang peyoratif. Mungkin <em>gue</em> nggak setuju sama itu, tapi <em>gue</em><em>admire his statement</em>. Karena <em>he states something</em>! Karena <em>gue</em> nonton film bukan mau jadi seorang penonton yang <em>agreeable</em>.</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Gue setuju..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Tapi <em>gue</em> ingin di-<em>provoke</em>. Pikiran <em>gue</em> mau di-<em>provoke</em>. <em>Gue</em> pengen tahu apakah ini benar, apakah yang selama ini <em>gue</em> pikir salah? Film-film dia itu <em>will be like that</em>. <em>Babi Buta will be like that</em>. <em>Will provoke people</em>. Makanya <em>gue</em> bisa menghargai <em>Nagabonar Jadi 2</em> ketimbang <em>elo</em> (kepada Eric – red) menghargainya karena di situ <em>gue</em> nggak setuju sama Dedi Mizwar <em>talking about nationalism</em> dan <em>whatever bullshit</em> itu tapi <em>it makes me think</em>. <em>Is it the right way</em>, <em>is it</em> yang bisa bilang lebih bener deh, apakah lebih penting? Jadi <em>gue</em> bisa menghargai film itu walaupun <em>gue</em> nggak setuju sama penempatan posisi dia. Bagaimana sebuah film bisa  menciptakan itu kalau nggak ada sesuatu yang ingin disampaikan, <em>whatever it is</em>. Apakah itu gagasan, apakah itu pertanyaan.</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: <em>Lo</em> ngeliat nggak, adanya limit dalam <em>statement</em> seorang sutradara dalam karya-karyanya?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: <em>No</em>! nggak ngomongin limit sih. Sebenarnya kita coba ke teknis. Itu yang <em>gue</em> benci: limit. <em>That’s why I break it</em>.</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Di sisi lain kan maksud <em>gue</em><em>some people should’ve known better</em>. Beberapa orang seharusnya tak mengatakan hal yang tak dimengertinya.</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Ada. Ada<em>pretensiousness happen</em> ketika <em>he doesn’t know what he’s talking about</em>. Karena penonton adalah kamera. <em>They don’t lie. Camera don’t lie</em>. Kalo misalnya aktor yang nggak <em>sincere</em>, nggak bagus keliatan di kamera. Sama kayak film juga. Begitu dia <em>trying to be something</em> yang bukan dia atau mengatakan sesuatu secara palsu atau nggak sampai ke situ, keliatan. Tapi bener yang <em>lo</em> bilang. Ada limitnya kalau dalam konteks itu. Tapi <em>sometimes</em> orang bisa mengatakan sesuatu yang <em>outrageous</em> kalau misalnya <em>he can find the way to do it</em>. Kalau pada jamannya mungkin film <em>Lolita</em>. Ada yang salah. Misalnya, <em>sorry to say, </em>film <em>I Love You </em><em>Om.</em><em> He’s trying to say</em><em>something</em> tapi dia nggak tahu caranya.</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Mau nambahin aja. Itu tadi <em>Kara</em> dalam pemilihan media, film dan video. Itu idenya Sidi (Saleh) sebagai  kameraman. Dia menerjemahkan bagian belakangnya itu dengan video. Nah,  balik ke teknis dan hubungannya sama limit. Limit di <em>technical</em> itu menurut <em>lo</em> udah pol banget atau masih ada batasannya? Kalau saya sendiri masih  agak mencoba. Sampai sekarang tuh masih nyoba bagaimana caranya  menimbulkan bau. Karena menurut saya keterbatasan film itu adalah ketika  kita pengen mencium bau, itu nggak bisa <em>real</em> banget. Nah, <em>lo</em> apa Jok?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Lihat nggak <em>lo</em>, film <em>Scracth Card</em>. Filmnya John Waters..</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Atau <em>lo</em> punya cara lain nggak untuk menimbulkan bau?</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Nggak pernah mikir itu, <em>man</em>..</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : : Punya kebutuhan itu?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Nggak. Karena film kan <em>sight and sound</em>. <em>And smell</em>, hehehe&#8230; <em>Smell</em>-nya, <em>smell</em> bioskop. Tapi bener yang <em>gue</em> bilang alangkah beruntungnya bapak-bapak kita ketika <em>invention</em> masih sangat sedikit. Jadi <em>people do it all the time, happens all the time</em>. Ketika mereka pertamakali meletakkan kamera di atas kereta api, kamera jalan. Itu track pertama, <em>track movement</em> pertama. <em>Oh my god</em>. Ketika Hitchcock <em>track in zoom out</em>, <em>Oh My god</em>. Sekarang gue udah nggak ngeliat lagi kemungkinan itu terjadi. But <em>sometimes people came with something</em>. Sudah lama nggak ya?</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: <em>Irreversible</em> kayak gitu? Mungkin invensinya lebih luas, nggak hanya sebatas teknis tapi juga <em>storytelling</em>.</p>
<p><strong>Joko Anwar</strong>: Iya. <em>Irreversible</em>, bisa. Atau <em>Memento</em>.</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Tapi saya pengen tahu banget gimana caranya orang bisa ngerasain bau itu dengan <em>tool</em> yang kita punya sekarang ini. Nggak usah <em>nyiptain</em> alat-alat baru lagi. Karena kalau kita ngomongin moment yang  didokumentasikan, memotret realita lewat film, bau kurang dieskplor  sampai sekarang.</p>
<p><strong>Eric Sasono</strong>: Tak cukup hanya dengan <em>sight and sound</em>?</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Maksudnya kalau kita mau  mendokumentasikan kehidupan kita, tiap hari kita membaui sesuatu kan?  Saya selalu membayangkan film itu gunanya untuk mengingat apa-apa yang  pernah kita rasakan. Kalau misalnya nanti 10 atau 20 tahun lagi saya  nggak bisa <em>ngebau</em>, gitu, nah bau itu gimana caranya nih sekarang. Saya butuh banget..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Emang nggak cukup dengan ekspresi. Ketika film <em>American Pie</em>, misalnya, ketika dia tiba-tiba mengambil coklat yang ternyata tai itu..</p>
<p><strong> Edwin</strong> : Nah sekarang kalau <em>lo</em> lupa bau tai gimana?</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Hahahahaha… Mungkin kalau ngomong sama Arya Kusumadewa nyambung ya. “Tuhan beri aku kentut..”</p>
<p><strong> Eric Sasono</strong> : Mungkin soal kenangan. Bahwa film membangkitkan kenangan. Bukannya kenangan terletak pada <em>scene</em>? Kalau buat <em>gue</em> sendiri misalnya film lebih banyak pada <em>scene</em>..</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : Karena kita ngomongin bau <em>literally</em>. Kalau nggak <em>literally</em> sih gue ngerasain bau dalam film <em>all the time</em>. Ketika film itu hujan, gue bisa ngerasain bau hujan..</p>
<p><strong>Edwin</strong>: Karena gini ya. Maksudnya  kita kan ngerespon semua di otak. Bau itu kan di otak. Sebenarnya cuma  alat doang. Mustinya ada cara supaya men-<em>trigger</em> sel-sel di otak untuk menciptakan sensasi bau.</p>
<p><strong> Joko Anwar</strong> : headline <em>lo</em> tuh: Edwin mencari invension bau. Hehe..</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/wawancara/percakapan-joko-anwar-edwin-dan-eric-sasono-bagian-vi-saya-masih-mencoba-memfilmkan-bau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

