
Fiksi. (2008), Dir: Mouly Surya
Alisha (Ladya Cheryl) punya banyak patung kelinci putih di dalam laci di rumahnya. Salah satu kelinci putih itu ia pajang di lemari kaca – siapa tahu ada orang yang mengambilnya. Bari (Donny Alamsyah) adalah orang itu. Bari cukup iseng untuk mengambil patung kelinci putih itu ketika ia bekerja membersihkan kolam renang di rumah Alisha.
Bari tak tahu apa akibat keisengannya itu. Ia tak tahu bahwa sutradara dan pencetus cerita film ini, Mouly Surya, sudah merencanakan sejak semula bahwa Alisha adalah kebalikan dari tokoh Alice dalam Alice in Wonderland karya legendaris dari Lewis Carol. Maka Alisha, bagai Alice, mengikuti kelinci putih yang dibawa Bari dan masuk ke dalam sebuah lubang – sebuah dunia lain yang bernama dunia nyata. SELENGKAPNYA »

May (2008), Dir: Viva Westi
Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut.
Pepatah itu saya dengar lagi dari Irshad Manji, seorang aktivis Islam dari Kanada (sekarang tinggal di New York) yang kontroversial karena banyak menggugat status quo dunia Islam, dalam wawancara ketika dia datang ke Jakarta. Waktu itu, saya teringat kapan saya pertama kali mendengar pepatah itu: sebuah komik berjudul Asterix dan Orang-orang Normandia. Mungkin itu pepatah terkenal di Barat. Lengkapnya, ia berbunyi: keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, tapi kemampuan kita mengatasi rasa takut itu (oleh Manji, ditambahi …”untuk melakukan hal yang benar”).
Dan saya teringat lagi ungkapan itu ketika menghadiri press conference film May karya Viva Westi (Suster N). Acara jumpa pers diadakan setelah pemutaran film May untuk wartawan. Sewaktu menonton, saya dalam hati memuji keberanian Viva dalam film ini. SELENGKAPNYA »
Majalah Lexean terbitan Singapura pada edisi bulan Juli 2007 membuat sebuah laporan utama, yang bagi saya, rada iseng: superhero. Selain melihat siapa saja manusia sekarang ini yang patut disebut sebagai “pahlawan” (mereka menyebut antara lain Oprah Winfrey dan Vladimir Putin sebagai superhero dunia nyata), mereka juga bermain-main dengan pengandaian. Seandainya superhero yang dikenal dalam dunia komik benar-benar hidup, siapa kiranya yang sungguh-sungguh akan berguna bagi keadaan dunia saat ini? SELENGKAPNYA »

The Tarix Jabrix (2008), Dir: Iqbal Rais
Seekor kucing di tengah jalan bisa berarti banyak buat hidup seseorang. Ia menyebabkan Valdin yang sedang balapan mendadak mengerem motor sportnya. Valdin pun terlempar ke rerumputan di tepi jalan. Ia kalah. Menanglah pemuda kerempeng berjuluk Cacing pada balapan jalanan itu. Selain kehilangan harga diri, Valdin tak boleh lagi mendekati Callista, perempuan cantik kebule-bulean yang jadi rebutan. Agak basi memang, cerita semacam ini sehingga saya tak merasa sedang melakukan pembocoran jalan cerita ketika memberitahu Anda, para pembaca. SELENGKAPNYA »
Lagu cinta melulu
Kita memang Melayu
…Suka mendayu-dayu
- Lagu Cinta Melulu, Efek Rumah Kaca
Demikianlah juga keadaannya dalam dunia film kita saat ini, bukan? Lagu yang sekaligus sebuah esai lugas tentang industri musik pop Indonesia dari grup indie Efek Rumah Kaca itu mengena juga pada industri film kita: tema mendayu-dayu yang itu-itu juga, khayalan cinta (atau, belakangan, seks) yang melambung-lambung selayaknya khayalan kekanakan ABG, dan pertimbangan pasar yang memelihara selera banal itu.
Mengenai apakah itu karena kita “Melayu” tentu perlu ada penelitian lebih jauh. Mungkin memang ada karakter budaya yang membentuk mentalitas Melayu pada masyarakat kita, mungkin juga tidak ada. Namun, stereotipe mendayu-dayu itu jelas tampak jika kita menderetkan judul-judul film cinta yang diproduksi sejak keberhasilan Ada Apa Dengan Cinta pada 2001 hingga keberhasilan Ayat-ayat Cinta tahun ini. Bahkan, film-film yang seolah penuh pemberontakan macam Cinta, Realita & Rock ‘n Roll dan Radit & Jani (keduanya karya Upi) pun jebul-nya melankolis juga. SELENGKAPNYA »

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), Dir: Edwin
Anak perempuan itu bernama Kara. Mungkin sepuluh tahun umurnya. Ia masuk ke restoran McDonald dengan membawa parang dan dendam. Ia pandangi sejenak patung Ronald McDonald yang sedang duduk, sebelum ia bacokkan parang majal di tangannya. Seorang petugas yang sedang mengawal ulang tahun anak-anak melihat polah Kara. Petugas itu tak menghentikan. Kara yang kelelahan malah diberi segelas minuman. Ia terkulai lesu di sisi patung yang selalu tersenyum lebar mirip dengan tokoh Joker yang diperankan Jack Nicholson di film Batman garapan Tim Burton itu.
Potongan adegan itu berasal dari film pendek Edwin yang terkenal, Kara, Anak Sebatang Pohon. SELENGKAPNYA »
Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
