“?” (Tanda Tanya): Pertanyaan Retoris Hanung(14)
Oleh Eric Sasono | 25.05.2011| Layar Lebar, Resensi

Anda pikir Anda sanggup menghadapi fakta? Tunggu sampai Anda menonton ? (Tanda Tanya), sebuah film yang mencoba menghadirkan fakta sementah-mentahnya tanpa prasangka. Seperti kata tagline film itu, “Masih pentingkah kita berbeda?”, film ini mencoba untuk mengubah fakta itu menjadi sebuah pertanyaan penting bagi kehidupan bersama kita sebagai bangsa. Terlalu banyak hal yang sudah kita alami bersama yang memperlihatkan bahwa keragaman negeri bernama Indonesia ini sedang diguyah dan sebuah gagasan baru tentang Indonesia yang monolitik tanpa wilayah abu-abu sedang dipromosikan besar-besaran. Ini sebuah pertanyaan serius. SELENGKAPNYA »

Matematika Cinta Beda Agama(0)
Oleh Eric Sasono | 08.04.2011| Layar Lebar, Resensi

1
Nasehat saya tentang film ini: tak perlu menghubung-hubungkan judul dengan jalan cerita karena kita akan dibuat bingung: 3 hati itu milik siapa, buat apa ada 2 dunia dan kenapa hanya satu cinta. Entah kenapa para pembuatnya mengubah judul awal Komidi Puter menjadi 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Mungkin lantaran judul terakhir ini dianggap lebih mengundang penonton, lebih komersial. Tapi buat saya judul dengan angka-angka itu cenderung terlihat canggih ketimbang Komidi Puter yang sederhana dan mudah diucapkan dalam percakapan sehari-hari (soal ini penting kalau mau mengandalkan pemasaran ‘dari mulut ke mulut’ yang selama ini dianggap ampuh dalam mendongkrak angka penonton).

SELENGKAPNYA »

Mencari Babi Cemas dalam Diri(1)
Oleh Eric Sasono | 03.04.2011| Layar Lebar, Resensi

Bukankah setiap orang punya seorang “ayah Pakistan”
yang gagal mencapai cita-citanya untuk menjadi penulis?

(Hanif Kureishi, penulis Inggris keturunan Pakistan)

1: Keluarga
Jika ada orang yang beranggapan bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan, maka bagi Edwin keluarga adalah sumber kutukan. Hingga kini ia relatif konsisten dengan mind-map bahwa asosiasi bagi istilah keluarga adalah kesedihan, keputusasaan, pengabaian, kesendirian, perasaan ditinggalkan, atau ketidakberdayaan yang kronis. Sebagaimana dalam film-film pendeknya yang pernah saya bahas di situs Rumah Film, Edwin tak percaya bahwa dalam keluarga bisa berlangsung komunikasi yang wajar.

SELENGKAPNYA »

Alangkah Lucunya (Negeri Ini): Tanah Airku, Film Ini Tak Lari Meninggalkanmu(0)

image

“Jadi, kamu menyarankan agar kita pasif dalam perang ini?”
“Tidak. Saya menyarankan agar kita aktif lari dari perang ini!”
— Woody Allen, Love and Death (1975)

Pendidikan bisa jadi alat untuk mengentaskan kemiskinan. Pendidikan juga bisa jadi iming-iming untuk meraih kemakmuran. Namun sebagai iming-iming, pendidikan bisa kebablasan menjadi alat untuk lari dari kenyataan.

“Pendidikan adalah alat untuk melompat,” kata Syamsul, tokoh dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini), film terbaru Deddy Mizwar, kepada sekumpulan anak jalanan pencopet profesional. Syamsul (Syahrul Dahlan) adalah sarjana pendidikan, tapi jadi pengangguran dan kerjanya tiap hari cuma sibuk main gaple. SELENGKAPNYA »

Saia: Musik Kamar yang Berani(1)
Oleh Hikmat Darmawan | 19.01.2010| Lain-lain, Resensi

SAIA - Dir: Djenar Maesa Ayu

Film kedua Djenar Maesa Ayu, Saia, sungguh berani. Tapi, keberanian film ini bukan pada sikapnya yang (sangat) terbuka pada seks. SELENGKAPNYA »

Mata Rabun tapi Hati Celik (Clouded Eyes, Clear Heart): An Appreciation of Yasmin Ahmad’s Rabun(0)
Oleh admin | 06.01.2010| Lain-lain, Resensi

Pak Atan with Mak Inom

INTRODUCTION

“Entertainment and enlightenment are ideally (if often deviously) interconnected.” —JONATHAN ROSENBAUM [1]

With the emergence of the novel in the 16th century, storytelling took a new turn. Those unhappy with the world began to express themselves with the written word. Gulliver’s Travels by Jonathan Swift was in reality, a veiled attack on certain people at the time who felt that they were above others intellectually. Putera Gunung Tahan by Pak Sako, made fun of the British colonialists via a fantasy tale. Nevertheless, both these stories have been entertaining, and for discerning readers – enlightening. As Rosenbaum has remarked, entertainment and enlightenment can actually be bedfellows. That is what art needs to be if it is intended to reach the masses. SELENGKAPNYA »

banner

Twitter @rumahfilmorg

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808