Mereka yang Menolak untuk Menjadi Korban: Perihal dr. Kartini SpOk dan Percakapan di Ruang Melati(0)

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita

Salah satu tugas film adalah menjadi alat untuk bercerita. Dan sumber cerita sesungguhnya ada di mana-mana: di jalan, di rumah, di sekolah, di kantor, dan… di rumah sakit. Masalahnya, berapa banyak film Indonesia yang merepresentasikan kisah kaum wanita dengan berbagai seluk beluknya? Lebih fokus lagi: berapa banyak yang bercerita pasal problematika para perempuan yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka? SELENGKAPNYA »

Melancholia(0)

Melancholia

Director / Writer : Lars Von Trier
Kirsten Dunst, Charlotte Gainsbourg, Kiefer Shuterland

I’ve been waiting too long to write this note about Lars Von Trier’s Melancholia. When I first saw it, I remember I really, really, really liked it without knowing why, yet. I had as mixed feelings as Melancholia’s reception in Cannes that year. Lars Von Trier made it even worse by making a scandal, –ended up being kicked out from the festival–, which had grown bigger than the movie itself. So I waited. I thought, maybe I will change my mind after a few days, or months, or even years. SELENGKAPNYA »

“?” (Tanda Tanya): Pertanyaan Retoris Hanung(13)
Oleh Eric Sasono | 25.05.2011| Layar Lebar, Resensi

Anda pikir Anda sanggup menghadapi fakta? Tunggu sampai Anda menonton ? (Tanda Tanya), sebuah film yang mencoba menghadirkan fakta sementah-mentahnya tanpa prasangka. Seperti kata tagline film itu, “Masih pentingkah kita berbeda?”, film ini mencoba untuk mengubah fakta itu menjadi sebuah pertanyaan penting bagi kehidupan bersama kita sebagai bangsa. Terlalu banyak hal yang sudah kita alami bersama yang memperlihatkan bahwa keragaman negeri bernama Indonesia ini sedang diguyah dan sebuah gagasan baru tentang Indonesia yang monolitik tanpa wilayah abu-abu sedang dipromosikan besar-besaran. Ini sebuah pertanyaan serius. SELENGKAPNYA »

Matematika Cinta Beda Agama(0)
Oleh Eric Sasono | 08.04.2011| Layar Lebar, Resensi

1
Nasehat saya tentang film ini: tak perlu menghubung-hubungkan judul dengan jalan cerita karena kita akan dibuat bingung: 3 hati itu milik siapa, buat apa ada 2 dunia dan kenapa hanya satu cinta. Entah kenapa para pembuatnya mengubah judul awal Komidi Puter menjadi 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta. Mungkin lantaran judul terakhir ini dianggap lebih mengundang penonton, lebih komersial. Tapi buat saya judul dengan angka-angka itu cenderung terlihat canggih ketimbang Komidi Puter yang sederhana dan mudah diucapkan dalam percakapan sehari-hari (soal ini penting kalau mau mengandalkan pemasaran ‘dari mulut ke mulut’ yang selama ini dianggap ampuh dalam mendongkrak angka penonton).

SELENGKAPNYA »

Mencari Babi Cemas dalam Diri(1)
Oleh Eric Sasono | 03.04.2011| Layar Lebar, Resensi

Bukankah setiap orang punya seorang “ayah Pakistan”
yang gagal mencapai cita-citanya untuk menjadi penulis?

(Hanif Kureishi, penulis Inggris keturunan Pakistan)

1: Keluarga
Jika ada orang yang beranggapan bahwa keluarga adalah sumber kebahagiaan, maka bagi Edwin keluarga adalah sumber kutukan. Hingga kini ia relatif konsisten dengan mind-map bahwa asosiasi bagi istilah keluarga adalah kesedihan, keputusasaan, pengabaian, kesendirian, perasaan ditinggalkan, atau ketidakberdayaan yang kronis. Sebagaimana dalam film-film pendeknya yang pernah saya bahas di situs Rumah Film, Edwin tak percaya bahwa dalam keluarga bisa berlangsung komunikasi yang wajar.

SELENGKAPNYA »

Alangkah Lucunya (Negeri Ini): Tanah Airku, Film Ini Tak Lari Meninggalkanmu(0)

image

“Jadi, kamu menyarankan agar kita pasif dalam perang ini?”
“Tidak. Saya menyarankan agar kita aktif lari dari perang ini!”
— Woody Allen, Love and Death (1975)

Pendidikan bisa jadi alat untuk mengentaskan kemiskinan. Pendidikan juga bisa jadi iming-iming untuk meraih kemakmuran. Namun sebagai iming-iming, pendidikan bisa kebablasan menjadi alat untuk lari dari kenyataan.

“Pendidikan adalah alat untuk melompat,” kata Syamsul, tokoh dalam Alangkah Lucunya (Negeri Ini), film terbaru Deddy Mizwar, kepada sekumpulan anak jalanan pencopet profesional. Syamsul (Syahrul Dahlan) adalah sarjana pendidikan, tapi jadi pengangguran dan kerjanya tiap hari cuma sibuk main gaple. SELENGKAPNYA »

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808