Call for papers: 7th Annual Southeast Asian Cinemas Conference(0)

Call for papers

7th Annual Southeast Asian Cinemas Conference

THE POLITICS, PRACTICES, AND POETICS OF THE ARCHIVE

SINGAPORE
19 – 22 JUNE, 2012

Eight years since the first Annual Southeast Asian Cinemas Conference which heralded the resurgence of cinematic new waves in the region, we turn our eyes to the state of film archiving and the relationship between cinema and the archives. Filipino film critic Alexis Tioseco’s 2009 open letter to the Film Development Council of the Philippines mentions current holdings stored in ‘deplorable conditions’. In his letter, Tioseco praises the National Film Archive of Thailand for its work in doing so much with so little. In Indonesia, the Sinematek Indonesia which was established in the early 1970s has also seen cuts that make the archive a shadow of its former glory. It is only in Singapore that a young Asian Film Archive (est. 2005) has taken root.

The 7th Southeast Asian Cinemas Conference (2012) emphasizes the politics, practices, and poetics of the archive. How does one define an archive? And who can be said to do archival work? Might DVD pirates, private collectors, cinephiles, film bloggers and film societies be considered film archivists of a sort when governments do not or no longer perceive the need to fund national film archives? If so, how does this change the public nature of an archive, and what implications does it have on the production of knowledge? What might film curators take into consideration when they select and preserve films for the archive? What are the social, political, aesthetic, and scholarly roles of the archive? How does the archive negotiate issues of power and accessibility? What is the role of the archive in the digital age of new media?

SELENGKAPNYA »

Kompetisi Film Pendek Fantasi Dibuka(0)


Kesempatan terbuka lebar bagi setiap orang yang ingin terjun di dunia film.  Tujuh orang yang berkecimpung di dunia film tergerak untuk mengadakan FISFiC (Fantastic Indonesian Short Film Competition) yang dimulai Jumat, 20 Mei. Mereka adalah Joko Anwar (Penulis/Sutradara Janji Joni, Arisan, Kala, Pintu Terlarang, ONROP!), Rusli Eddy (Direktur  Indonesia International Fantastic Film Festival/INAFFF), Gareth Evans (Sutradara Merantau, Serbuan Maut), Timo Tjahjanto & Kimo Stamboel-The Mo Brothers (Sutradara Rumah Dara), Sheila Timothy (Producer LifeLike Pictures,Pintu Terlarang), dan Ekky Imanjaya (Binus School of Film, Rumahfilm.org). SELENGKAPNYA »

Program Kineforum April 2011: Daulat Diri Pada Tanah, Tubuh, Jiwa(0)

Pada bulan April tahun ini kineforum mengundang kurator tamu Meninaputri Wismurti untuk menyusun program tematik tentang perempuan. Film-film dunia yang ia sajikan di kineforum bulan ini bercerita tentang hal-hal kecil, tentang kekurangan dan kelebihan menjadi perempuan. Ia ingin mengembalikan gagasan tentang perempuan kepada tubuh dan jiwa yang menjalani, bukan semata-mata mengulang mitos kepahlawanan atau tunduk pada stereotip.

Selain program tematik tentang perempuan, pada bulan ini kineforum menawarkan variasi film-film pendek dalam World Shorts, mulai dari dokumenter Indonesia mengenai tradisi tato, pengungkapan tentang pembunuhan massal komunitas Tionghoa sampai film-film animasi internasional. SELENGKAPNYA »

Bentara Budaya Jakarta Putar Film KRZYSZTOF KIESLOWSKI(0)

18 Apr – 20 Apr 2011

Salah satu tokoh perfilman yang paling menonjol di Eropa Timur adalah Krzysztof Kieslowski. Ia lahir di Warsawa, Polandia, 27 Juni 1941. Ia mengalami pahit getirnya hidup pada masa penjajahan Hitler dan periode kekuasaan komunis, Tahun 1965 ia akhirnya berhasil masuk ke Sekolah Film Lods setelah beberapa kali ditolak. Sekolah inilah yang melahirkan sutradara terkemuka seperti Roman Polanski dan Andrzej Wajda.

Kieslowski mulai dengan film-film dokumenter, karena film jenis inilah yang memungkinkan untuk diproduksi di Polandia yang sedang dikontrol ketat oleh rezim komunis pada dekade 1960-1970an. Baru tahun 1975 ia membuat film drama TV. Film cerita panjangnya untuk bioskop yang pertama adalah The Scar (1976). Disusul film Camera Buff (1979) yang memperoleh penghargaan tertinggi di Festival Film Moskwa dan Blind Chance (1981) yang mulai secara terbuka mengkritik kontrol penguasa komunis. Selepas darurat militer tahun 1981-1982 dan sulitnya memperoleh suplai roll film, Kieslowski tahun 1984 menghasilkan film No End. Setelah itu ia sempat absen beberapa tahun. Baru tahun 1988 ia memperoleh proyek untuk membuat film seri TV The Decalogue yang didasarkan pada Sepuluh Perintah Allah. Mengawali produksi film seri itu, Kieslowski menciptakan dua film, yaitu A Short Film About Killing dan A Short Film About Love. Film pertama memperoleh Jury Prize di Festival Film Cannes tahun 1988.

Dengan tumbangnya rezim komunis di seluruh Eropa timur dan naiknya Solidaritas di Polandia pada 1989, Polandia menjadi negara bebas sejak akhir Perang Dunia II. Karena sulitnya perekonomian Polandia, Kieslowski pindah ke Perancis. Di negeri ini tahun 1991 ia merampungkan The Double Life of Veronique yang memperoleh sukses global. Tahun 1993 ia mulai menyutradarai film pertama trilogi Tiga Warna-nya yang monumental (yang didasarkan pada tiga warna bendera Perancis), yaitu Blue dengan pemeran utama Juliette Binoche. Film yang dinilai sebagai meditasi kemerdekaan ini memenangkan beberapa Cesar Award (penghargaan Perancis yang setara Oscar) dan dinominasikan untuk beberapa Golden Globe Award. Tahun 1994 disusul film kedua, White, sebuah esai tentang persamaan dan dibintangi Julie Delphy, yang menghasilkan Silver Bear Award untuk penyutradaraan Kieslowski. Betapapun, adalah film terakhirnyalah, Red yang menghantar Kieslowski memperoleh penghargaan terbesar. Film yang bertema persaudaraan ini dibintangi Irene Jacob, bintang cantik yang juga membintangi The Double Life of Veronique. Selain memperoleh nominasi Cesar dan Golden Globe, Kieslowski juga dinominasikan di Academy Award untuk Sutradara Terbaik.

Ironisnya, pada puncak kariernya ini, Kieslowski mengumumkan pengunduran dirinya dari perfilman. Dikabarkan ia sebenarnya mempertimbangkan untuk kembali ke perfilman dengan proyek trologi kedua tentang surga, neraka, dan api pencucian. Namun tragisnya pada 13 Maret 1996 ia meninggal di meja operasi rumah sakit karena serangan jantung justru ketika ia masuk ke rumah sakit untuk menjalani operasi bedah jantung terbuka.

Untuk mengenang 15 tahun kepergian sutradara besar ini, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) akan memutar sembilan film Kieslowski secara retrospektif pada 18-20 April 2011. Akan tampil sebagai pembahas, Noorca M Massardi pada hari kedua pemutaran.

Senin, 18 April 2011

Jam 15.00 Camera Buff

Jam 17.00 Blind Chance

Jam 19.00 No End

Selasa, 19 April 2011

Jam 15.00 A Short Film About Killing

Jam 16.30 A Short Film About Love

Jam 18.00 Diskusi bersama Noorca M Massardi

Jam 19.00 The Double Life of Veronique

Rabu, 20 April 2011

Jam 15.00 Blue

Jam 17.00 White

Jam 19.00 Red

banner

Twitter @rumahfilmorg

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808