OPEN SUBMISSION:OK. Video FLESH – 5th Jakarta International Video Festival 2011(0)

OPEN SUBMISSION!

OK. Video FLESH – 5th Jakarta International Video Festival 2011
Exhibition / Competition / Discussion / Public Program
6 – 17 October 2011 / National Gallery of Indonesia, Jakarta

CALL FOR ENTRIES / PENDAFTARAN KARYA VIDEO

OK. Video Festival 2011 conceives flesh as a metaphor of biological entity of the human body that transforms into digital entity (images, sounds, texts) through the advancement of audiovisual technology. It also represents video that progressively shows its organic characters: grow in virtual sphere across the dimensional and temporal boundaries, metamorphoses into various medium and consistently reproduces itself by the reason of virality. This phenomena is continuously celebrated by the contemporary society within the progression of information and communication technology.

The festival invites public to discuss various questions: how far this kind of new flesh interacts with social, political and cultural aspects? Are we really celebrating democracy or is it just another virtual euphoria? How does the intersection between private and public domain continuously expand and shift? How do social and power structure cope with these changes? Thus, what are the consequences in relation with the discourses of history, tradition, religion, urban and rural culture, popular culture, mass media, sexuality, identity and violence? OK. Video placed these phenomena as a possibility to be celebrated, read, and interpreted critically.

OK. Video Festival focuses on non-narratives video works and opens for reconstructions, recording manipulations and an array of experiments of the audiovisual language. We accept video works with various approaches. Three best video works will be rewarded and announced at the opening ceremony of OK. Video FLESH – 5th Jakarta International Video Festival 2011.

download registration form: http://okvideofestival.org/

OK. Video FLESH melihat daging sebagai metafora dari entitas biologis tubuh manusia yang berubah menjadi entitas digital (citraan, suara, teks) melalui perkembangan teknologi audiovisual. Ia juga merepresentasikan video yang semakin memperlihatkan sifat-sifat organik: tumbuh dan berkembang di dalam ruang virtual yang melampaui batas spasial dan temporal, bertransformasi ke dalam berbagai medium, dan terus-menerus bereproduksi karena sifatnya yang viral. Fenomena ini terus dirayakan oleh masyarakat dalam beberapa tahun terakhir melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Festival ini mengajak siapapun untuk sama-sama merefleksikan berbagai pertanyaan: sejauh mana video dalam sifatnya yang organik bersinggungan dengan aspek sosial, politik, dan budaya kontemporer? Apakah masyarakat sedang betul-betul merayakan demokrasi atau sekadar ilusi virtual?, bagaimana persilangan antara yang privat dan yang publik terus bergerak dan berkembang?, bagaimana sistem sosial dan kekuasaan berhadapan dengan perubahan?, konsekuensi apa yang kemudian terjadi dalam kaitannya dengan isu sejarah, tradisi, agama, budaya urban dan rural, budaya populer, media massa, seksualitas, identitas, bahkan kekerasan? OK. Video menempatkan fenomena tersebut sebagai kemungkinan yang hadir untuk dirayakan, dibaca, dan dimaknai secara kritis.

OK. Video Festival fokus pada karya-karya non-naratif dan terbuka bagi rekonstruksi, manipulasi rekaman, juga berbagai eksperimen bahasa audiovisual. Kami menerima karya video dengan berbagai pendekatan. Tiga karya terbaik akan mendapat penghargaan khusus dan diumumkan pada pembukaan OK. Video 2011 di Galeri Nasional Indonesia.

We accept your video work(s) in a format: DVD (hardcopy) & softcopy (video Link(s) for download) / Duration 3 – 15 minutes / Production 2009 – 2011 / Deadline 31st August 2011 / Free registration fee

Kami menerima karya video dalam format: DVD (hardcopy) & data lunak (softcopy melalui tautan video untuk diunduh) / Durasi 3 – 15 menit / Produksi 2009 – 2011 / Batas waktu pengiriman 31 Agustus 2011 / Pendaftaran karya gratis

download registration form: http://okvideofestival.org/

Call for Enries: JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL 2011(0)

ASIAN FEATURE FILM COMPETITION

1. All genres are accepted.
2. Must be produced in Asian countries and regions or be Asia-related.
3. Films related to Asian people or Asian countries are aso eligible for
entry, even if the films are made outside Asia by non-Asian filmmakers.
4. Each entry must has the minimal duration of 40 minutes.
5. Entries must be completed after January 1st, 2010.
6. Entries made in languages other than English must have English subtitles.
7. Applicants are responsible for all necessary copyright clearances for their film.
8. All shipping expenses for the materials addressed to Jogja-NETPAC Asian  Film Festival are the applicants responsibility.
9. All entries must be accepted the Festival committe by July 7th, 2011.
The committe has the right to reject late entries.

ASIAN SHORT FILM COMPETITION

1. All genres are accepted.
2. Must be produced in Asian countries and regions or be Asia-related.
3. Films related to Asian people or Asian countries are also eligible for
entry, even if the films are made outside Asia by non-Asian filmmakers.
4. Each entry must not exceed running time of 30 minutes.
5. Entries must be completed after January 1st, 2010.
6. Entries made in languages other than English must have English subtitles.
7. Applicants are responsible for all necessary copyright clearances for  their film.
8. All shipping expenses for the materials addressed to Jogja-NETPAC Asian  Film Festival are the applicants responsibility.
9. All entries must be accepted the Festival committe by July 7th, 2011.
The committe has the right to reject late entries.

For further inquiries for film submission, please visit the official
JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL website: http://www.jaff-filmfest.com/ or  contact us by email at: info@jaff-filmfest.com

Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) is the only film festival in
Indonesia which focuses on the development of Asian cinemas, with a humble  character and its role for the society, education, entertainment, tourism  and cultural arts. The films presented in JAFF are curated by Philip Cheah.

Each year, JAFF gives awards to the best film in Asia through several
awards such as Golden Hanoman Awards, Silver Hanoman Awards, NETPAC  Awards, Geber Awards, and Blencong Awards.

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL
Jl. Jayeng Prawiran No. 18B, Pakualaman,
Yogyakarta, Indonesia 55112
Telp: +62 274 540249
E-mail: info@jaff-filmfest.com
Website: http://www.jaff-filmfest.com/

Jadwal Festival Film Purbalingga 2011(0)

Festival Film Purbalingga hadir kembali.

Berikut adalah jadwalnya:

30 April 2011

Pembukaan Jam 07.00-23.30 WIB

Desa Palumbungan Wetan, Bobotsari, Purbalingga

  • Pameran Pangan Tradisional
  • Diskusi Pangan Tradisional
  • Pameran Seni Rupa
  • Pentas Seni
  • Layar Tanjleb

Layar Tanjleb di Cilacap

  • 2 Mei 2011 >Alun-Alun Majenang
  • 3 Mei 2011 >Lapangan SMK Dr. Sutomo
  • 4 Mei 2011 >Lapangan Lomanis

Layar Tanjleb di Banjarnegara

  • 7 Mei 2011 >Desa Gumiwang, Purwanegara
  • 8 Mei 2011 >Desa Gemuruh, Bawang
  • 9 Mei 2011 >Desa Badakarya, Punggelan

Layar Tanjleb di Banyumas

  • 12 Mei 2011>Desa Samudera Kulon, Gumelar
  • 13 Mei 2011>Desa Pageraji, Cilongok
  • 14 Mei 2011>Desa Kotayasa, Sumbang

Layar Tanjleb di Purbalingga

  • 17 Mei 2011 >Desa Wanogara Wetan, Rembang
  • 18 Mei 2011 >Desa Adiarsa, Kertanegara
  • 19 Mei 2011 >Desa Pagerandong, Mrebet
  • 21 Mei 2011 >Desa Bojanegara, Padamara
  • 22 Mei 2011 >Desa Grecol, Kalimanah

26-28 Mei 2011

Hall Hotel Kencana

Jl. Pujowiyoto No. 44 Purbalingga

  • Kompetisi SMA se-Banyumas Raya
  • Kompetisi Video Mantenan se-Banyumas Raya
  • Pemutaran Non-Kompetisi
  • Diskusi
  • Pameran
  • Temu Komunitas
  • Pentas “Wayang Suket”
  • Penganugerahan
Rhoda Grauer Hadir di Jakarta(0)

Pembuat Dokumenter Seni, Rhoda Grauer akan hadir di Jakarta. Grauer akan diskusi soal karya dan pencapaiannya sebagai produser, penulis, dan  sutradara film dokumenter di Atamerica, Pacific Place, Jakarta, pada hari Sabtu, 28 Mei 2011, pukul 13.00-15.00. Tema ajang ini adalah “Capturing Art from Film”.

Sebagai produser, ia mendapatkan beberapa spenghargaan Emmy Award di acara serial “Great Performances: Dance in America” (1976).

Ia pernah juga menjadi dekan School of Visual and Performing Arts di  the C.W. Post Campus of Long Island University,  Brookville, New York. Untuk konteks Indonesia, Grauer pernah membuat documenter kesenian marjinal, yaitu “RASINAH: The Enchanted Mask” dan “THE LAST BISSU: Sacred Transvestites of South Sulawesi.”, di samping menjadi salah satu pendiri Yayasan Kelola. Dan, ia yang menulis  adaptasi teks dan dramaturgi  “I La Galigo” yang dibesut  sutradara Robert Wilson.

Acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Bentara Budaya Jakarta Putar Film KRZYSZTOF KIESLOWSKI(0)

18 Apr – 20 Apr 2011

Salah satu tokoh perfilman yang paling menonjol di Eropa Timur adalah Krzysztof Kieslowski. Ia lahir di Warsawa, Polandia, 27 Juni 1941. Ia mengalami pahit getirnya hidup pada masa penjajahan Hitler dan periode kekuasaan komunis, Tahun 1965 ia akhirnya berhasil masuk ke Sekolah Film Lods setelah beberapa kali ditolak. Sekolah inilah yang melahirkan sutradara terkemuka seperti Roman Polanski dan Andrzej Wajda.

Kieslowski mulai dengan film-film dokumenter, karena film jenis inilah yang memungkinkan untuk diproduksi di Polandia yang sedang dikontrol ketat oleh rezim komunis pada dekade 1960-1970an. Baru tahun 1975 ia membuat film drama TV. Film cerita panjangnya untuk bioskop yang pertama adalah The Scar (1976). Disusul film Camera Buff (1979) yang memperoleh penghargaan tertinggi di Festival Film Moskwa dan Blind Chance (1981) yang mulai secara terbuka mengkritik kontrol penguasa komunis. Selepas darurat militer tahun 1981-1982 dan sulitnya memperoleh suplai roll film, Kieslowski tahun 1984 menghasilkan film No End. Setelah itu ia sempat absen beberapa tahun. Baru tahun 1988 ia memperoleh proyek untuk membuat film seri TV The Decalogue yang didasarkan pada Sepuluh Perintah Allah. Mengawali produksi film seri itu, Kieslowski menciptakan dua film, yaitu A Short Film About Killing dan A Short Film About Love. Film pertama memperoleh Jury Prize di Festival Film Cannes tahun 1988.

Dengan tumbangnya rezim komunis di seluruh Eropa timur dan naiknya Solidaritas di Polandia pada 1989, Polandia menjadi negara bebas sejak akhir Perang Dunia II. Karena sulitnya perekonomian Polandia, Kieslowski pindah ke Perancis. Di negeri ini tahun 1991 ia merampungkan The Double Life of Veronique yang memperoleh sukses global. Tahun 1993 ia mulai menyutradarai film pertama trilogi Tiga Warna-nya yang monumental (yang didasarkan pada tiga warna bendera Perancis), yaitu Blue dengan pemeran utama Juliette Binoche. Film yang dinilai sebagai meditasi kemerdekaan ini memenangkan beberapa Cesar Award (penghargaan Perancis yang setara Oscar) dan dinominasikan untuk beberapa Golden Globe Award. Tahun 1994 disusul film kedua, White, sebuah esai tentang persamaan dan dibintangi Julie Delphy, yang menghasilkan Silver Bear Award untuk penyutradaraan Kieslowski. Betapapun, adalah film terakhirnyalah, Red yang menghantar Kieslowski memperoleh penghargaan terbesar. Film yang bertema persaudaraan ini dibintangi Irene Jacob, bintang cantik yang juga membintangi The Double Life of Veronique. Selain memperoleh nominasi Cesar dan Golden Globe, Kieslowski juga dinominasikan di Academy Award untuk Sutradara Terbaik.

Ironisnya, pada puncak kariernya ini, Kieslowski mengumumkan pengunduran dirinya dari perfilman. Dikabarkan ia sebenarnya mempertimbangkan untuk kembali ke perfilman dengan proyek trologi kedua tentang surga, neraka, dan api pencucian. Namun tragisnya pada 13 Maret 1996 ia meninggal di meja operasi rumah sakit karena serangan jantung justru ketika ia masuk ke rumah sakit untuk menjalani operasi bedah jantung terbuka.

Untuk mengenang 15 tahun kepergian sutradara besar ini, Bentara Budaya Jakarta (BBJ) akan memutar sembilan film Kieslowski secara retrospektif pada 18-20 April 2011. Akan tampil sebagai pembahas, Noorca M Massardi pada hari kedua pemutaran.

Senin, 18 April 2011

Jam 15.00 Camera Buff

Jam 17.00 Blind Chance

Jam 19.00 No End

Selasa, 19 April 2011

Jam 15.00 A Short Film About Killing

Jam 16.30 A Short Film About Love

Jam 18.00 Diskusi bersama Noorca M Massardi

Jam 19.00 The Double Life of Veronique

Rabu, 20 April 2011

Jam 15.00 Blue

Jam 17.00 White

Jam 19.00 Red

Jadwal/Schedule for Madani Film Festival 2009(2)
Oleh Redaksi Rumah Film | 03.12.2009| Agenda Film

Opening Film/Gala Premiere:
Letters to the President
Dir.: Petr Lom
Iran. 2009. Documentary. 74 min. Color. Beta SP. Persian (with English subtitles)
DEC 5 / BLZ 11 / 18:30 (by invitation only) • DEC 7 / BLZ 11 / 15:30

Every year nearly 10 million Iranians send their letters to President Mahmoud Ahmadinejad with hopes of better lives. Despite his growing popularity, the president’s populist policies are yet to prove themselves since most Iranians are still living in poverty. Petr Lom, the director of the film, was allowed to accompany the president on several countryside trips (the only foreigner given such access), and the result is an astounding look of Iran beyond the news.

Setiap tahun hampir 10 juta warga Iran mengirimkan surat kepada sang Presiden Mahmoud Ahmadinejad dengan harapan akan membawa kehidupan yang lebih baik. Walaupun popularitasnya mulai berkembang, kebijakan populis sang presiden belum dapat terbukti ampuh karena masih banyak warga Iran yang hidup dalam kemiskinan. Petr Lom, sang sutradara, adalah orang asing satu-satunya yang mendapatkan izin untuk mengikuti sang presiden dalam beberapa perjalanannya ke berbagai daerah di Iran. Hasilnya adalah sebuah dokumenter yang memperlihatkan sisi lain dari Iran yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Petr Lom is an independent documentary director and producer. Entirely self-taught, he directs, shoots and edits his own films. He is a former academic with a Ph.D. in political philosophy from Harvard University. His previous films are BRIDE KIDNAPPING IN KYRGYZSTAN (2004), ON A TIGHTROPE (2007), YOU CANNOT HIDE FROM ALLAH (2007). The latter two films will be screened in JIFFest this year. Petr Lom will attend the screenings of the film. (screened together with YOU CANNOT HIDE FROM ALLAH)

Gala Premiere
Muallaf (The Convert)
Dir.: Yasmin Ahmad
Malaysia. 2008. Drama. 80 min. Color. 35 mm. English / Malay / Cantonese (with English subtitles for non-English languages)
DEC 12 / BLZ 4 / 19:00 (by invitation only) • DEC 11 / BLZ 11 / 16:00

This is a tale of three souls who find solace in religion. Brian has lost his faith in Christianity since he was 12 after being humiliated by his father, a strict Catholic. During his teaching days at the school, he meets the two sisters who often recite verses from the holy Qur’an and gain simple knowledge of Islam. Each of their life journeys will never be the same again.

Sebuah kisah dari tiga jiwa yang menemukan kedamaian di dalam agama. Brian kehilangan kepercayaannya pada Kristianitas sejak berusia 12 tahun saat ia dipermalukan ayahnya sendiri, seorang pemeluk Katolik yang taat. Selama masa kerjanya mengajar di sebuah sekolah, ia bertemu dua gadis kakak-beradik yang sering membacakan ayat-ayat dari Al-Qur’an, dan mendapatkan sebuah pemahaman yang sederhana tentang Islam. Perjalanan hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.

Special Mention, Asian Film Award, Tokyo International Film Festival, 2008.

The 10 Conditions of Love
Dir.: Jeff Daniels
USA / Australia. 2009. Documentary / Biography. 54 min. Color. Digital. English
DEC 5 / BLZ 11 / 15:30 • DEC 9 / BLZ 11 / 18:30

A personal story of Rabeeya Kadeer, the leader of the Uyghur people, China’s moslem minority. Years of oppression from the Chinese Government had forced to live in exile in the United States. She did not stop her struggle, by turning words into weapons, she gains international attention to her people’s suffering.

Kisah tentang Rabeeya Kadeer, pemimpin dari suku Uyghur, kaum muslim minoritas di China. Setelah mendapatkan tekanan dari pemerintah China selama bertahun-tahun, ia terpaksa hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat. Ia tidak menghentikan perjuangannya. Ia berhasil mendapatkan perhatian dunia internasional tentang penderitaan yang dialami oleh kaumnya.

The film raised a controversy when being screened at Melbourne International Film Festival. The Chinese government demanded the organizer to pull off the film. Several Chinese filmmakers withdrew their films from the festival’s lineup. The festival’s website even got hacked by Chinese hackers. Jeff Daniels is scheduled to attend the screenings.

Dernier Maquis (Adhen)
Dir.: Rabah Ameur-Zaïmeche
France. 2008. Drama. 93 min. Color. 35 mm. French / Arabic (with English subtitles)
DEC 7 / BLZ 4 / 16:00 • DEC 10 / BLZ 4 / 22:00

In a rundown industrial park, Mao, a Muslim boss, owns a company specializes in repairing trucks and pallets. His latest strategy is to convert an empty room into a mosque where the workers can pray. So he decides to open a mosque anddesignates the Imam without consulting the workforce. Already unhappy with their poor working conditions and meager salaries, his employees rebel, reminding him of their time-honored right to select their own religious leader.

Di sebuah kawasan industri yang kumuh, Mao yang beragama Islam memiliki sebuah bengkel yang khusus memperbaiki truk dan peralatannya. Ia ingin mengubah sebuah ruang kosong menjadi sebuah masjid tempat para pegawainya dapat menjalankan ibadah. Ia pun membuka masjidnya dan memilih sang Imam tanpa bertanya kepada para pegawainya. Kondisi lingkungan kerja yang buruk ditambah dengan gaji yang kecil menyebabkan para pegawainya memberontak untuk mengingatkan Mao bahwa mereka ingin memilih sendiri pemimpin mereka.

Won Muhr Award for Best Composer and Best Editor at the 2008 Dubai International Film Festival

99% Honest (99% ærlig)
Dir.: Rune Denstad Langlo
Norway. 2008. Documentary. 70 min. Color. Digital. Norwegian (with English subtitles)
DEC 9 / BLZ 6 / 19:00 • DEC 11 / BLZ 6 / 13:45

Emir, Amina, Haji and Assad are all members of the hip hop group Forente Minoriteter (United Minorities). The film follows them through their musical process, with its ups and downs. The film crew has followed the band for two years, resulting in an intimate encounter with some very charming and open young people. They are all different but still find common ground through their passion for music and, not least, in finding their own space and identity amid conflicting demands from friends, family and Norwegian society.

Emir, Amina, Haji dan Assad adalah anggota dari sebuah kelompok hip-hop bernama Forente Minoriteter (United Minorities). Sutradara film ini mengikuti mereka selama 2 tahun melalui segala lika-liku kehidupan mereka sebagai sebuah kelompok musik. Mereka bertemu dengan orang-orang muda yang menawan dan terbuka pemikirannnya. Perbedaan pada diri masing-masing anggota tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berkarya, karena mereka disatukan oleh kecintaan mereka terhadap musik.

Forente Minoriteter, the main subject of this documentary, are a group of people from different backgrounds who strive to raise awareness and promote cultural diversity in music, dance, film, theater and writing. They work mainly for children and young people to catch their interest to work further with different art forms. Nominated for Best Documentary and Best Score at the 2009 Amanda Awards, Norway. (screened together with COFFEE & ALLAH)

A Dream For Kabul
Dir.: Phillippe Baylaucq
Canada. 2009. Drama. 81 min. Color. Digital. English/Dari/ Japanese (with English subtitles for non-English languages)
DEC 7 / BLZ 11 / 18:30 • DEC 10 / BLZ 6 / 13:00

In 2001, Haruhiro Shiratori lost his only child in the attacks on the World Trade Center. Instead of isolating himself in grief, he decides to meet the Afghan people and help them prevent such attacks from happening again. A Japanese Don Quixote, he dreams of building a cultural centre for the children of Kabul. A Dream for Kabul charts Shiratori’s double effort – to advance a humanist project in the face of adversity while seeking reconciliation with his dead son. A Dream for Kabul is part of a National Film Board series called “”The Many Faces of Afghanistan””. Sponsored by the Canadian Embassy, a discussion on Afghanistan will follow the screening of this film.

Pada tahun 2001, Haruhito Shiratori kehilangan anak laki-laki satu-satunya akibat serangan teroris di gedung World Trade Center. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, ia memutuskan untuk bertemu dengan rakyat Afghanistan dan membantu mereka untuk mencegah terjadinya penyerangan seperti yang ia alami. Seorang warga negara Jepang yang bermimpi untuk membangun sebuah pusat kebudayaan bagi anak-anak di Kabul. A Dream For Kabul menceritakan tentang dua usaha Shiratori – untuk membangun sebuah usaha kemanusiaan di tengah kemalangan sembari mencari perdamaian dengan anaknya yang telah tiada. A Dream For Kabul adalah bagian dari seri National Film Boardyang berjudul “The Many Faces of Afghanistan”. Disponsori oleh Kedutaan Kanada, sebuah diskusi tentang Afghanistan akan dilakukan setelah pemutaran film ini.

Phillippe Baylaucq’s films Lodela (1996) and Mystère B (1997) won the Telefilm Canada award, at the 15th and 16th FIFAs respectively. In 2001, he made Hugo and the Dragon, a musical fable for all audiences, a critical success that also won the Telefilm Canada prize at the Banff Television Festival and the Gémeau for best children’s feature. Outstanding Canadian Documentary Award at the 2009 ReelWorld Film Festival in Toronto.

A Road to Mecca: The Journey of Muhammad Asad (Der Weg nach Mekka – Die Reise des Muhammad Asad)
Dir: Georg Misch
Austria. 2008. Documentary. 93 min. Color. 35 mm. English / German / Urdu / Ukrainian / Arabic (with English subtitles for non-English languages)
DEC 6 / BLZ 4 / 16:00 • DEC 10 / BLZ 4 / 19:00

In 1926, an Austrian-born Jew, journalist Leopold Weiss, decided to convert to Islam. Having been raised in a Jewish family, Weiss – or Muhammad Asad as he became known -found himself fascinated by his adopted home of Palestine and the lives of the Bedouin Arabs he encountered. Asad become one of the most influential and inspirational Muslims of the century and a key thinker of his time. The film follows his footsteps, retracing the journey Asad made through the Arab world to Mecca, as a way of reflecting on today’s Arab world and contemporary relations between East and West.

Seorang jurnalis Yahudi kelahiran Austria bernama Leopold Weiss memutuskan untuk menganut Islam di tahun 1926. Dibesarkan di keluarga Yahudi, Weis – atau lebih dikenal kemudian dengan Muhammad Asad – terpukau oleh keluarga angkatnya di Palestina dan kehidupan para kaum Arab Badui yang ditemuinya. Asad menjadi seorang Muslim yang paling berpengaruh dan berpikiran paling maju di masanya. Film ini mencoba mengikuti tapak langkah Asad menuju tanah suci Mekah sebagai sebuah refleksi dari dunia Arab di masa kini serta hubungan kontemporer antara dunia Barat dan Timur.

Georg Misch made a documentary about Hollywood leading lady Hedy Lamarr in CALLING HEDY LAMARR (2004). He won Special Mention of Critics’ Week Award in Locarno Film Festival of the same year.

On a Tightrope
Dir: Petr Lom
Canada / Norway. 2007. Documentary. 74 min. Color. Digital. Norwegian (with English subtitles)
DEC 6 / BLZ 11 / 15:30 • DEC 8 / BLZ 6 / 22:00

The children from the Uyghur tribe in the Chinese province of Xinjiang are studying tightrope walking. The Chinese government rule them on a strict terms, fearing that they will rebel against them. The learning process of tightrope walking was nothing but a scheme to broke the children’s spirit into pieces.

Anak-anak dari suku Uyghur di provinsi Xinjiang, China mempelajari seni berjalan di atas tali. Pemerintah China menerapkan hukum yang ketat terhadap suku Uighur karena takut mereka akan memberontak. Proses belajar berjalan di atas tali tersebut tidak lebih dari sekadar akal licik untuk menghancurkan semangat hidup anak-anak tersebut.

This is the first film to ever document Chinese policy on religion in Xinjiang. Nominated for Grand Jury Prize for World Cinema – Documentary at the 2007 Sundance Film Festival.

You Cannot Hide from Allah
Dir.: Petr Lom
South Africa / Germany. 2007. Documentary / Short. 12 min. Color. Digital. Pashtu / English
DEC 5 / BLZ 11 / 18:30 (by invitation only) • DEC 7 / BLZ 11 /15:30

An immigrant from Pakistan who had worked for over twenty years as a taxi driver in Washington DC won a lottery in 2001. Suddenly he’s $54 million richer. He returned to his hometown in Pakistan and became a Mayor. Politics is a messy business.

Seorang imigran dari Pakistan yang telah bekerja sebagai pengemudi taksi di Washington DC selama lebih dari 20 tahun tiba-tiba menang lotere sebesar 54 juta dollar. Ia kembali ke kampung halamannya dan menjadi wali kota. Politik adalah bisnis yang kotor.

(screened together with LETTERS TO THE PRESIDENT)

Coffee & Allah
Dir.: Sima Urale
New Zealand. 2007. Short. 14 min. Color. Digital. English
DEC 9 / BLZ 6 / 19:00 • DEC 11 / BLZ 6 / 13:45

A young Muslim woman’s appetite for coffee, Islam and a good game of badminton. When Oromo Ethiopian Abeba Mohammed moves to suburban Mt Albert, she has nothing but her faith in Allah, a taste for Ethiopian coffee, and a zest for life to sustain her. From behind her purdah, and no knowledge of English, Abeba struggles to make a connection with the people of her new homeland.

Seorang perempuan muslim mencintai aroma kopi dan bermain badminton. Abeba Mohammed yang berasal dari suku Oromo di Ethiopia pindah ke daerah Mt. Albert di New Zealand,ia hanya membawa keyakinannya pada Allah, rasa cintanya akan kopi Ethiopia, dan gairah untuk tetap hidup. Dari balik jilbabnya dan tanpa kemampuan untuk berbahasa Inggris, Abeba berjuang untuk beradaptasi dengan orang-orang di tanah tempat tinggalnya yang baru.

Coffee & Allah is not her only award-winning short film. Her 1996 short O Tamaiti won an award from New Zealand Film and TV Awards in 1996, while her 2001 short Still Life was awarded First Prize for Short Films at the 2001 Montréal World Film Festival. Best Short Film at the 2008 Hawaii International Film Festival (screened together with 99% HONEST)

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808