1
Pada 1983, terjadi sesuatu yang jarang saya temui lagi: saya sekeluarga menonton film Teguh Karya, Di Balik Kelambu, di Pasar Minggu Theatre. Kejadian ini unik di beberapa level.
Pertama, Di Balik Kelambu adalah film drama yang “dewasa” –film yang mengolah persoalan-persoalan orang dewasa, di mana inti persoalan adalah sulitnya pasangan muda tinggal di rumah mertua. Ketegangan-ketegangan yang terjadi, spiral konflik yang merumit, emosi-emosi yang tercuat, semua terasa sangat “Indonesiawi”. Padahal Teguh sendiri, sebagaimana biasa, membesut ragam soal rumah tangga ini dengan latar ilmu teater klasiknya. Ilmu teater yang ditranformasikan pada sebuah bahasa film yang menekankan pada akting dan tidak pada akrobat kamera atau editing. Dalam mazhab sinema ini, boleh dibilang kamera dan gambar diarahkan untuk melayani akting. SELENGKAPNYA »
Ketika saya tahu bahwa Minor Theatre di Arcata ini adalah gedung bioskop yang pertamakali dibangun di Amerika untuk keperluan pertunjukan feature film (dan bukan pertunjukan lain seperti teater atau vaudeville), saya pun googling. Saya ringkaskan di bawah ini. SELENGKAPNYA »
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
