<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>.::Rumah Film::. &#187; Film is Not a Dream</title>
	<atom:link href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/film-is-not-a-dream/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://new.rumahfilm.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 14:46:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pak Misbach</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 16:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>
		<category><![CDATA[misbah yusa biran]]></category>
		<category><![CDATA[sinematek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H Misbach Yusa Biran, di Sentul City. Saya pergi bersama rombongan Binus School of Film, yaitu Tito Imanda dan Adilla Amelia. Ini adalah beberapa sketsa pemikiran yang sempat saya rekam di ingatan tentang diskusi dengannya. Pak Misbach mulai membuat Sinematek Indonesia tahun 1971. Awalnya, saat ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H Misbach Yusa Biran, di Sentul City. Saya pergi bersama rombongan <a href="http://www.binus.ac.id/Programs/Undergraduate.Programs.(International)/Communication.and.Media.Programs/Film/English">Binus School of Film</a>, yaitu <a href="http://menjadi.multiply.com/">Tito Imanda</a> dan Adilla Amelia. Ini adalah beberapa sketsa pemikiran yang sempat saya rekam di ingatan tentang diskusi dengannya.</p>
<p><span id="more-1555"></span></p>
<ol>
<li>Pak Misbach mulai membuat <a href="http://ekkyij.multiply.com/journal/item/191/35_Tahun_Sinematek_IndonesiaMisbach_Yusa_Biran_Museum_Kita_dan_Media_Sosial">Sinematek Indonesia</a> tahun 1971. Awalnya, saat ia dan Asrul Sani bertemu untuk melayat seorang wartawan yang dikenal sangat rajin mendokumentasikan dan mengkliping berita-berita media seputar film dan seni.”Kalau dia sudah meninggal, terus siapa yang meneruskan upaya arsip ini? “. Mereka pun berdiskusi panjang, sebelum akhirnya Misbach yang ambil aksi.</li>
<li>Saat itu, bahkan hingga saat ini, filmmaker sangat susah untuk diyakinkan bahwa mengarsipkan karya mereka <a href="http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/the-social-life-and-death-of-film-%E2%80%93-and-why-archival-work-is-important/">sangat penting</a> agar generasi mendatang bisa belajar dari sejarah. Hanya Teguh Karya yang bersedia membantunya, dan karena itulah filmnya terlengkap di Sinematek Indonesia.</li>
<li>Untungnya, saat itu, untuk membuat film harus melapor, jadinya agak blessing in disguise Pak Misbach minta kopiannya dari Asrul Sani, yang kala itu ada di Dewan Film.</li>
<li>Awalnya, Misbach hendak membuat arsip seni, dan film hanyalah salah satunya. “sekarang, kalau kita mau tahu sejarah dan data-data teater dan musik, hendak kemana? Bagaimana penyimpanan lagu-lagu Bing Slamet, misalnya?” ujarnya.</li>
<li>Tahun 1973, Pak Misbach diajak ke Belanda untuk mengunjungi Filmmuseum Amsterdam selama beberapa hari. Dari situlah ia makin terinspirasi untuk membuat lembaga kearsipan film yang modern.</li>
<li>Di saat sekolah, Misbach berteman amat dekat dengan Sobron Aidit. Bahkan mereka sering naik sepeda makan nasi goreng di Pasar Rumput. &#8220;Makanannya murah, tapi jalannya jauh&#8221;.Polarisasi politik (Misbach aktif di Lesbumi, Sobron orang kiri) membuat mereka tidak mau bertegur sapa. Bahkan, saat Misbach ke Paris, Sobron sama sekali tidak mengontaknya, dan Misbach pun enggan menjenguk rumah Sobron. Hal ini berlangsung hingga Sobron wafat (Misbach menceritakannya dengan suara lirih dan sedih).</li>
<li>Suatu hari, ia ditelpon seseorang:”Misbach, apakabar? Saya sudah rindu. Kapan kita bertemu?”. Misbach, yang tidak tahu siapa penelponnya mempersilahkan datang, dengan penuh tanya. Telepon di seberang ditutup. Tak lama kemudian, istrinya, Nani Widjaya, pulang, seraya member tahu bahwa ia bertemu Sobron di sebuah acara dan Sobron langsung meminta nomor telepon Misbach dan langsung meneleponnya. Rupanya, yang barusan telepon adalah Sobron. Dan itu adalah kontak terakhir mereka. Keduanya tak pernah bertemu lagi.</li>
<li>Usmar Ismail pernah memberinya nasihat: “belajar untuk dilupakan”. Artinya: ilmu pengetahuan dan teori  memang penting tapi tidak boleh mengekang kreativitas, justru harus menunjangnya. “ Sekolah film harus mencetak seniman, bukan karyawan”, katanya. Dan itulah  tujuan utamanya membuat LPKJ yang kemudian menjadi IKJ.</li>
<li>Soal LPKJ, saat itu tercantum jelas bahwa salah satu fungsi Dewan Kesenian Jakarta adalah pendidikan film. Dan Misbah cukup cerewet untuk hal yang satu ini. Tujuannya: “selama ini saya belajar film sendiri.  saya mau juga belajar film yang ‘benar’, dari sekolah”. Maka ia mengundang 5 orang dari 5 cabang seni, yang sudah mengecap pendidikan seni di luar negeri. Beberapa kali pertemuan diadakan untuk membuat konsep, tapi karena masih hal baru, susah untuk membangun kurikulum dan sebagainya. Hingga muncullah orang yang mengambil alih yang bernama Dr. Umar Khayam.</li>
<li>Misbach sekarang  sedang menggarap buku  <a href="http://ekkyij.multiply.com/reviews/item/70">Sejarah Film </a>periode yang paling krusial: 1957-1965. Kini ia butuh bantuan orang untuk mendapatkan data-data sosial politik masa itu dari koran-koran. “Saya harus gerak cepat, karena ‘waktu’ saya tinggal sebentar lagi”,tuturnya</li>
<li>Nama Usmar Ismail di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail adalah usulan Misbach. Ia prihatin karena nyaris tidak ada nama filmmaker atau seniman yang dihargai dan diabadikan, minimal sebagai nama jalan (kecuali Benyamin Sueb). Kini Misbach sedang berjuang untuk memberikan nama Gedung Film dengan nama H. Djamaluddin Malik. “Ada sih studio H Djamaluddin Malik, tetapi orang lebih mengenalnya dengan mana studio Persari.</li>
<li>Bagi Misbach, Jamaluddin Malik sama pentingnya dengan Usmar Ismail. Yang satu bapak industri film, yang satu bapak kreativitas film. Jamaluddin secara teknis bagus film-filmnya tapi kurang di cerita. Usmar ceritanya bagus-bagus tapi tidak bisa jual film-filmnya. Keduanya penting”. Oh ya, ketiganya, plus Asrul Sani, bertemu di satu organisasi: <a href="http://ekkyij.multiply.com/reviews/item/62">Lesbumi</a>. Soal pertarungan ideologi ini, Misbach menyatakan:&#8221;Kami saling menakutkan satu dengan yang lain&#8221;.</li>
<li>Misbach pernah BT sama<a href="http://www.pia.gov.ph/seapavaa/new.asp"> SEAPAVAA,</a> asosiasi arsip audio visual se-Asia Pasifik. Pasalnya, itu pembentukan asosiasi itu adalah idenya saat ngobrol-ngobrol dengan beberapa aktivis arsip . “Tapi ternyata, mereka membentuknya di Philiphina, dan tidak melibatkan saya. Artinya, dana juga tercurah ke sana”.</li>
</ol>
<p>Adzan magrib pun tiba. Nani Wijaya, istrinya, pun baru saja pulang. Maka kami pun berfoto bersama, sebelum pulang. Dan, seperti yang ia lakukan saat saya dan rekan saya Krisnadi Kurniawan berkunjung tempo hari, justru Pak Misbach yang bersemangat segera beranjak masuk dan membawa kameranya sendiri. &#8220;Nanti hasilnya saya kirim ke Binus&#8221;, katanya. Ia pun mengulangi pesannya: Agar Binus sebagai sekolah film tidak hanya menghasilkan karyawan, tapi seniman. Tepatnya: Seniman yang mampu memahami (dan tidak berjarak dengan) masyarakatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjumpaanku dengan Jafar Panahi</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 13:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Jafar Panahi]]></category>
		<category><![CDATA[Jiffest]]></category>
		<category><![CDATA[Rotterdam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, melaporkan bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, In Film Nist (This [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, <strong><a href="http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/revolusi-dan-dedikasi-jafar-panahi/">melaporkan</a></strong> bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, <em>In Film Nist (This is Not Film)</em> akan diputar 9 Mei, yang bercerita tentang hari-harinya setelah dihukum dan proses naik bandingnya. Selain itu, ada juga  <em>Bé Omid é Didar (Goodbye)</em> karya sutradara Iran lainnya, Mohammad Rasoulov, yang ikut dihukum bersama Panahi.</p>
<p>Saya adalah pengagum Jafar. Perjumpaan pertama saya tentu saja dari film-filmnya. Film pertama yang saya tonton adalah <em>White Balloon</em>,  yang skenarionya ditulis Abbas Kiarostami, yang menang di Cannes. Saya menontonnya dalam format Laser  Disc yang saya sewa di sebuah penyewaan milik koperasi  militer di daerah Guntur.  Film kedua adalah yang saya tonton adalah <em>Mirror</em> (film fiksi yang ditengah cerita berubah menjadi film dokumenter dengan cerita yang sama persis.edan! ), yang adalah VCD oleh-oleh  dari Agung Yudhawiranata yang baru pulang dari Hong Kong. Film ini, bersama <em>Color of Paradise</em> karya Majid Majidi saya putar di Kine28 pada 5 Oktober 2002.</p>
<p>Dan terbetiklah kabar bahwa Jafar akan menjadi tamu di Jiffest 2002. Maka, saya yang waktu itu adalah wartawan yang mengurusi kanal film di <a href="http://www.astaga.com">www.astaga.com</a> segera memburunya. Awalnya, saya menonton <em>The Circle</em>, ikut sesi tanya jawab, dan tentu saja berfoto bersama. Tapi kala itu sangat sulit untuk minta wawancara (kalau tidak salah, hanya bersedia diwawancara untuk Kompas, Tempo, dan RCTI). Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya dekati penerjemahnya, Hussein, seorang yang saleh dan lancar berbahasa Persia. Ngobrol punya obrol, saya membahas tentang tesis yang baru saya selesaikan, seputar pemikiran Ali Syariati, dan saya pernah mendekati Kang Jalaluddin Rahmat untuk mencari bahan-bahan seputar itu. Dan ia, yang saya duga sangat dekat dengan  pemikiran Syiah dan kuliah di Qum, bersimpati pada saya. “Wah Kamu kenal kang Jalal? Ya sudah, saya akan atur wawancara dengan Jakfar,”ujarnya.<span id="more-1391"></span></p>
<p>Dan tibalah saya berhadap-hadapan dengan Jafar Panahi—saya kira ini salah satu awal pencapaian jurnalistik saya—dan saya tanya banyak hal. Tentang visi dan misinya membuat film, tentang konsep film Islam (yang dijawab dengan: saya bikin film ya bikin film saja. Tidak ada urusan dengan Islam. Ada pun nantinya ada penafsiran ke arah situ, ya itu urusan lain).  Salah satu <em>endorsement </em>yang ada di buku saya,<em> A to Z about Indonesian Film</em>, berasal dari hasil wawancara ini, yang belum terpublikasi di astaga.com tapi nanti dimuat di layarperak.com (lihat hasil wawancara lengkapnya di bawah).</p>
<p>Wawancara berlangsung dalam bahasa Persia dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Ketika dinyatakan selesai, saya lanjutkan dengan tanya jawab informal (misalnya, dengan menebak nama akhirnya, saya tanya apakah pemeran gadis cilik di <em>Mirror</em> dan <em>White Balloon</em> adalah adik kakak? Dia jawab sambil tertawa:”iya! Tahu aja!”) dia menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar. Nah, kok tadi bahasa Persia?</p>
<p>Usut punya usut, saya tanya ke berbagai pihak, ternyata Jafar sepanjang JIFFEST itu sedang <em>ngambek</em>, sehingga malas berbahasa Inggris.  Apa pasal? Pertama kali ia menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno Hatta,  dia harus diperiksa oleh keamanan sedemikian rupa sehingga harus diborgol dan diinterogasi dengan waktu yang cukup lama. Karena itulah, dia menghibur diri dengan lebih banyak berjalan-jalan , salah satunya ke pasar antik Jalan Surabaya—tempat ia membeli Patung Budha.</p>
<p>Harry Dagoe juga bercerita pengalamannya mengajak Jafar ke restoran Delila. Ia juga mengirimkan foto bersama antara Jafar dengan filmmaker Indonesia (yang saya ingat: Harry Dagoe, Shanty Harmayn, Riri Riza, dan Mira Lesmana, ah di mana foto itu ya?)</p>
<p>Pertemuan  berikutnya adalah Januari 2008, di Festival Film Internasional Rotterdam. Kala itu, ia menjadi jurinya. Saya tidak mau mengganggunya lama-lama, cukup menyapanya dan mencoba mencari tahu apakah dia masih ingat saya.ternyata masih ingat juga.</p>
<p>Setelah itu, saya tidak ada kontak lagi.tapi saya tetap mengikuti filmnya, yaitu <em>Offside</em> yang saya beli DVD bajakannya. Dan muncullah kabar itu, bahwa ia dicekal di rumahnya kala ada perjamuan makan malam, bersama dengan para tamunya.  Dan ia pun dinyatakan dihukum 6 tahun penjara dan 20 tahun tidak boleh membuat film. Dan ia dengan tegas menyatakan tidak akan meninggalkan tanah airnya apa pun yang terjadi. Ia pun dicekal tak boleh menghadiri undangan Festival Film Venice (juga salah satu festival film paling bergengsi).</p>
<p>Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya setelah Pemerintah Iran mengetahui bahwa 2 film “terlarang”nya diputar di festival film paling prestisius  itu.</p>
<p>Berikut adalah sebagian hasil wawancara saya dengan Jafar Panahi pada 2002 yang pernah dimuat di situs <a href="http://www.layarperak.com">www.layarperak.com</a>.</p>
<p><strong>Jafar Panahi Bicara Film Iran, Hollywood, dan Indonesia</strong><br />
Oleh: Ekky Imanjaya</p>
<p>Pada Jiffest 2002, penulis berhasil mewawancarai Jafar Panahi, sutradara film asal Iran. Dari pertemuan sekitar 30 menit itu, banyak yang dibincangkan, tapi saat itu tidak semuanya diracik menjadi tulisan.</p>
<p>Berikut hasil perbincangan yang belum pernah dipublikasikan, antara penulis dengan pembuat <em>White</em> <em>Balloon</em><em> </em>(1995, meraih Camera d&#8217;Or, <a title="Cannes Film Festival" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cannes_Film_Festival">Cannes Film Festival</a> 1996), <em>The Mirror </em><em>(1997, meraih Golden Leopard Award di </em><a title="Locarno, Switzerland" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Locarno,_Switzerland"><em>Locarno</em></a><em> Film Festival dan Golden Tulip di Istanbul Film Festival), dan The Circle </em>(2000, menang Golden lion award, Venice Film Festival), <em>Crimson Gold</em><em> (2003, mendapat Gold Hugo, Chicago Film Festival), </em>dan yang terakhir<em> </em><em>Offside</em> (2006, juara Silver Berlin Bear, Berlin Film Festival<em>) itu.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>Bedanya film Iran dengan film komersil seperti Hollywood adalah, film Hollywood menyajikan segalanya dari satu perspektif. Sehingga penonton pulang dengan perspektif yang sama. Sedangkan film Iran membiarkan para penonton awam dengan penonton lain yang lebih mengerti tentang film yang lebih akan kan berbeda penafsirannya.</em></p>
<p><em>Dalam <em>The Circle</em>, film saya, misalnya. Penonton tidak diberi kesempatan untuk diberitahu mengapa wanita-wanita ini dipenjara. Semua tergantung penafsiran.Misal lainnya. Tokoh pertama lebih dieksplorasi dan lebih panjang durasi ceritanya. Durasi ini akan menurun tokoh demi tokoh. Tokoh terakhir adalah yang paling sedikit durasinya. Bagi saya, ini menandakan bahwa yang pertama adalah wanita yang paling idealis, sedangkan yang terakhir adalah yang paling tidak idealis. Film semacam ini adalah alternatif dari menu yang biasa mendominasi bioskop dunia.</em></p>
<p><em>Iran dan Indonesia banyak persamaan. Keduanya Negara berkembang dan mayoritas muslim. Tetapi, mengapa film Iran lebih maju daripada Indonesia? Negeri Iran mempunya sejarah film yang lebih lama dari Indonesia. 108 tahun (kini 117 tahun-red) yang lalu kita sudah mulai perfilman. Kita mempunyai beberapa lembaga pendidikan perfilman. Dan setiap tahunnya ada setiap 60 film diproduksi. Fasilitas perfilman juga tersedia, misalnya labolatoriom film. </em></p>
<p><em>Indonesia harus berusaha mengambangkan sendiri perfilmannya. Di antaranya harus memperbanyak lembaga pendidikan perfilman. Negara Indonesia mestinya harus mendukung perkembangan filmnya sendiri. Supaya generasi muda Indonesia mempunyai antusias yang tinggi dalam melihat film dari negerinya sendiri. Mereka harus mendukung film Indonesia daripada film luar seperti Hollywood.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Artikel Film is Not a Dream</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 02:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1201</guid>
		<description><![CDATA[orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat libero non ligula. Sed risus tortor, nonummy non, gravida a, commodo in, felis. Vestibulum eu sapien. Cras non dui at justo euismod pharetra.<br />
<span id="more-1201"></span><br />
Phasellus in dui et diam pretium sodales. Fusce felis velit, adipiscing vitae, mattis nec, dictum vel, mi. In sit amet est. Ut pharetra tellus a massa. Nam vel purus. Maecenas neque urna, placerat non, tincidunt vitae, dapibus et, elit. Sed pulvinar congue nibh. Cras porta, augue ut pulvinar pharetra, nisl pede tempus tellus, ut consequat dui libero non leo. Nulla mattis vulputate ligula. Suspendisse tincidunt, nisl non aliquam convallis, dui augue mattis dui, sed pretium mauris est vel orci. Donec at nisi. Quisque sem tellus, congue vitae, vehicula malesuada, posuere eget, pede. Ut egestas ullamcorper arcu. Donec ut nunc ut justo laoreet semper. Praesent rhoncus, libero at feugiat congue, dui turpis iaculis sem, non placerat nulla purus ac ante. In hac habitasse platea dictumst. Maecenas mollis adipiscing dolor. Nulla ullamcorper diam at dui. Sed ornare, ante quis porta eleifend, urna justo porta nunc, non placerat risus nulla ac dui. Sed non nisl.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

