<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>.::Rumah Film::. &#187; Blog</title>
	<atom:link href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://new.rumahfilm.org</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 14:46:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pak Misbach</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 16:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>
		<category><![CDATA[misbah yusa biran]]></category>
		<category><![CDATA[sinematek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H Misbach Yusa Biran, di Sentul City. Saya pergi bersama rombongan Binus School of Film, yaitu Tito Imanda dan Adilla Amelia. Ini adalah beberapa sketsa pemikiran yang sempat saya rekam di ingatan tentang diskusi dengannya. Pak Misbach mulai membuat Sinematek Indonesia tahun 1971. Awalnya, saat ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H Misbach Yusa Biran, di Sentul City. Saya pergi bersama rombongan <a href="http://www.binus.ac.id/Programs/Undergraduate.Programs.(International)/Communication.and.Media.Programs/Film/English">Binus School of Film</a>, yaitu <a href="http://menjadi.multiply.com/">Tito Imanda</a> dan Adilla Amelia. Ini adalah beberapa sketsa pemikiran yang sempat saya rekam di ingatan tentang diskusi dengannya.</p>
<p><span id="more-1555"></span></p>
<ol>
<li>Pak Misbach mulai membuat <a href="http://ekkyij.multiply.com/journal/item/191/35_Tahun_Sinematek_IndonesiaMisbach_Yusa_Biran_Museum_Kita_dan_Media_Sosial">Sinematek Indonesia</a> tahun 1971. Awalnya, saat ia dan Asrul Sani bertemu untuk melayat seorang wartawan yang dikenal sangat rajin mendokumentasikan dan mengkliping berita-berita media seputar film dan seni.”Kalau dia sudah meninggal, terus siapa yang meneruskan upaya arsip ini? “. Mereka pun berdiskusi panjang, sebelum akhirnya Misbach yang ambil aksi.</li>
<li>Saat itu, bahkan hingga saat ini, filmmaker sangat susah untuk diyakinkan bahwa mengarsipkan karya mereka <a href="http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/the-social-life-and-death-of-film-%E2%80%93-and-why-archival-work-is-important/">sangat penting</a> agar generasi mendatang bisa belajar dari sejarah. Hanya Teguh Karya yang bersedia membantunya, dan karena itulah filmnya terlengkap di Sinematek Indonesia.</li>
<li>Untungnya, saat itu, untuk membuat film harus melapor, jadinya agak blessing in disguise Pak Misbach minta kopiannya dari Asrul Sani, yang kala itu ada di Dewan Film.</li>
<li>Awalnya, Misbach hendak membuat arsip seni, dan film hanyalah salah satunya. “sekarang, kalau kita mau tahu sejarah dan data-data teater dan musik, hendak kemana? Bagaimana penyimpanan lagu-lagu Bing Slamet, misalnya?” ujarnya.</li>
<li>Tahun 1973, Pak Misbach diajak ke Belanda untuk mengunjungi Filmmuseum Amsterdam selama beberapa hari. Dari situlah ia makin terinspirasi untuk membuat lembaga kearsipan film yang modern.</li>
<li>Di saat sekolah, Misbach berteman amat dekat dengan Sobron Aidit. Bahkan mereka sering naik sepeda makan nasi goreng di Pasar Rumput. &#8220;Makanannya murah, tapi jalannya jauh&#8221;.Polarisasi politik (Misbach aktif di Lesbumi, Sobron orang kiri) membuat mereka tidak mau bertegur sapa. Bahkan, saat Misbach ke Paris, Sobron sama sekali tidak mengontaknya, dan Misbach pun enggan menjenguk rumah Sobron. Hal ini berlangsung hingga Sobron wafat (Misbach menceritakannya dengan suara lirih dan sedih).</li>
<li>Suatu hari, ia ditelpon seseorang:”Misbach, apakabar? Saya sudah rindu. Kapan kita bertemu?”. Misbach, yang tidak tahu siapa penelponnya mempersilahkan datang, dengan penuh tanya. Telepon di seberang ditutup. Tak lama kemudian, istrinya, Nani Widjaya, pulang, seraya member tahu bahwa ia bertemu Sobron di sebuah acara dan Sobron langsung meminta nomor telepon Misbach dan langsung meneleponnya. Rupanya, yang barusan telepon adalah Sobron. Dan itu adalah kontak terakhir mereka. Keduanya tak pernah bertemu lagi.</li>
<li>Usmar Ismail pernah memberinya nasihat: “belajar untuk dilupakan”. Artinya: ilmu pengetahuan dan teori  memang penting tapi tidak boleh mengekang kreativitas, justru harus menunjangnya. “ Sekolah film harus mencetak seniman, bukan karyawan”, katanya. Dan itulah  tujuan utamanya membuat LPKJ yang kemudian menjadi IKJ.</li>
<li>Soal LPKJ, saat itu tercantum jelas bahwa salah satu fungsi Dewan Kesenian Jakarta adalah pendidikan film. Dan Misbah cukup cerewet untuk hal yang satu ini. Tujuannya: “selama ini saya belajar film sendiri.  saya mau juga belajar film yang ‘benar’, dari sekolah”. Maka ia mengundang 5 orang dari 5 cabang seni, yang sudah mengecap pendidikan seni di luar negeri. Beberapa kali pertemuan diadakan untuk membuat konsep, tapi karena masih hal baru, susah untuk membangun kurikulum dan sebagainya. Hingga muncullah orang yang mengambil alih yang bernama Dr. Umar Khayam.</li>
<li>Misbach sekarang  sedang menggarap buku  <a href="http://ekkyij.multiply.com/reviews/item/70">Sejarah Film </a>periode yang paling krusial: 1957-1965. Kini ia butuh bantuan orang untuk mendapatkan data-data sosial politik masa itu dari koran-koran. “Saya harus gerak cepat, karena ‘waktu’ saya tinggal sebentar lagi”,tuturnya</li>
<li>Nama Usmar Ismail di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail adalah usulan Misbach. Ia prihatin karena nyaris tidak ada nama filmmaker atau seniman yang dihargai dan diabadikan, minimal sebagai nama jalan (kecuali Benyamin Sueb). Kini Misbach sedang berjuang untuk memberikan nama Gedung Film dengan nama H. Djamaluddin Malik. “Ada sih studio H Djamaluddin Malik, tetapi orang lebih mengenalnya dengan mana studio Persari.</li>
<li>Bagi Misbach, Jamaluddin Malik sama pentingnya dengan Usmar Ismail. Yang satu bapak industri film, yang satu bapak kreativitas film. Jamaluddin secara teknis bagus film-filmnya tapi kurang di cerita. Usmar ceritanya bagus-bagus tapi tidak bisa jual film-filmnya. Keduanya penting”. Oh ya, ketiganya, plus Asrul Sani, bertemu di satu organisasi: <a href="http://ekkyij.multiply.com/reviews/item/62">Lesbumi</a>. Soal pertarungan ideologi ini, Misbach menyatakan:&#8221;Kami saling menakutkan satu dengan yang lain&#8221;.</li>
<li>Misbach pernah BT sama<a href="http://www.pia.gov.ph/seapavaa/new.asp"> SEAPAVAA,</a> asosiasi arsip audio visual se-Asia Pasifik. Pasalnya, itu pembentukan asosiasi itu adalah idenya saat ngobrol-ngobrol dengan beberapa aktivis arsip . “Tapi ternyata, mereka membentuknya di Philiphina, dan tidak melibatkan saya. Artinya, dana juga tercurah ke sana”.</li>
</ol>
<p>Adzan magrib pun tiba. Nani Wijaya, istrinya, pun baru saja pulang. Maka kami pun berfoto bersama, sebelum pulang. Dan, seperti yang ia lakukan saat saya dan rekan saya Krisnadi Kurniawan berkunjung tempo hari, justru Pak Misbach yang bersemangat segera beranjak masuk dan membawa kameranya sendiri. &#8220;Nanti hasilnya saya kirim ke Binus&#8221;, katanya. Ia pun mengulangi pesannya: Agar Binus sebagai sekolah film tidak hanya menghasilkan karyawan, tapi seniman. Tepatnya: Seniman yang mampu memahami (dan tidak berjarak dengan) masyarakatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/pak-misbah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiba-tiba Film Asia Tenggara</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/tiba-tiba-film-asia-tenggara/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/tiba-tiba-film-asia-tenggara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 07:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gemar Nonton Pangkal Pandai]]></category>
		<category><![CDATA[asia tenggara]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes]]></category>
		<category><![CDATA[Edwin]]></category>
		<category><![CDATA[Filipina]]></category>
		<category><![CDATA[Garin Nugroho]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Riri Riza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1437</guid>
		<description><![CDATA[Berasal dari tweet seorang teman, Christian Razukas (@hellochris) yang menyampaikan link di Hollywood Reporter, perbincangan jadi panjang di twitter dengan beberapa teman. Laporan itu – silakan baca lengkapnya – antara lain menyebutkan tentang festival film Cannes yang sedang jadi panggung utama bagi sutradara film Asia Tenggara seperti Brillante Mendoza dan Apichatpong Weeratasakul. Keduanya mencatat prestasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><strong><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/uncle-boonmee2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1440" title="uncle-boonmee2" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/05/uncle-boonmee2.jpg" alt="" width="600" height="287" /></a><br />
</strong></p>
<p>Berasal dari tweet seorang teman, Christian Razukas (@hellochris) yang menyampaikan link di <a href="http://www.hollywoodreporter.com/news/southeast-asia-starting-loosen-hollywoods-187909">Hollywood Reporter</a>, perbincangan jadi panjang di twitter dengan beberapa teman. Laporan itu – silakan baca lengkapnya – antara lain menyebutkan tentang festival film Cannes yang sedang jadi panggung utama bagi sutradara film Asia Tenggara seperti Brillante Mendoza dan Apichatpong Weeratasakul. Keduanya mencatat prestasi tak main-main, meraih sutradara terbaik di Cannes (Mendoza) dan meraih Palem Emas untuk film terbaik (Weeratasakul). Saya tak ingin bicara soal para programmer festival yang masih mewarisi pandangan &#8220;kolonialis&#8221; dalam mengeksplorasi <em>terra incognita</em> semisal Asia Tenggara di dekade pertama 2000-an dan sedang beralih ke Afrika di dekade ini. Itu perlu pembicaraan lebih panjang.</p>
<p>Perbincangannya kemudian: kenapa tak ada Indonesia dalam laporan ini? Mungkinkah negeri besar ini terlewat begitu saja? Sangat mungkin, dan bisa jadi saya ikut andil juga kenapa terjadi begitu. Mungkin karena saya tak banyak menulis dalam bahasa Inggris sehingga sedikit sekali perhatian terhadap film Indonesia oleh programmer Eropa. Memang dibandingkan dengan Filipina dan Thailand, kritikus film Indonesia (termasuk saya) masih pada jadi jago kandang.</p>
<p>Baiklah, itu satu faktor yang penting; dan saya: <em>guilty as charge</em>.</p>
<p>Namun saya yakin para pembuat film Indonesia tak akan menggantungkan nasib mereka kepada saya begitu saja. Selain itu, sepanjang tahu saya, nyaris setiap tahun ada programmer festival film dan kritikus serta wartawan film asing yang datang, baik di ajang seperti Jiffest ataupun kunjungan begitu saja. Mereka mencari sendiri film-film di sini – seperti juga di negeri-negeri lain – dan bertemu dengan para pembuat film. Seharusnya mereka juga bisa mendapat produk yang mereka anggap layak untuk “dijual” di festival maupun pasar komersial.</p>
<p>Nyatanya tidak semudah itu juga. Ingat <a href="http://www.fareastfilm.com/easyne2/LYT.aspx?Code=FEFJ&amp;IDLYT=7505&amp;ST=SQL&amp;SQL=ID_Documento=3020">catatan Paolo Bertolin</a> – programmer utama di Udine Far East Film Festival – tentang film Indonesia tahun ini? Ia menyebut bahwa di tahun 2010 ini, film Indonesia sedang mengalami krisis. Tentu ini dari pandangan Paolo, yang berkepentingan mencari film-film “populer” Indonesia untuk Udine Far East yang memang memutar film-film popular. Yang masuk ke sana malah Belkibolang, sebuah omnibus yang terdiri dari 9 film dari 9 sutradara. Uniknya, Belkibolang juga lolos ke Jeonju International Film Festival (JIFF) yang gemar memutar film yang bernuansa eksperimental. Artinya? Silakan terka sendiri.</p>
<p>Di luar itu, film yang tercatat di “pasar” International tahun ini (baik distribusi maupun sokongan produksi) adalah <em>Mirror Never Lies</em>, itu pun di Honorary di Mention Global Film Initiative (GFI, www.globalfilm.org). GFI setiap tahun memberi grant pada film-film yang sedang diproduksi berdasarkan pada proposal yang masuk Mirror didaftarkan untuk mendapat grant, tapi tampaknya gagal dan mendapat predikat tadi. Untuk predikat itu, menurut pembuat film Aryo Danusiri (@sirkulasi), tak ada uang yang diberikan, sekalipun biasanya GFI memberi kesempatan pada film yang jadi honorary mention untuk dapat distribusi alternatif di Amerika. Sebagai catatan saja, film seperti Opera Jawa dibuat DVD-nya oleh GFI dan diedarkan di kampus-kampus di Amerika. Dari pemutaran di kampus ini – yang saya tahu ketika bertemu dengan Santosh Sharma salah seorang direktur GFI tahun 2009 lalu – penonton Opera Jawa mencapai sekitar 23.000 orang.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dimana GFI memberi grant dan mengambil film seperti Opera Jawa, The Photograph dan Babi Buta untuk diedarkan di Amerika, tampaknya raihan Mirror masih terasa jauh di bawah itu. Ini daftar film Indonesia di GFI:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="34" valign="top">No</td>
<td width="57" valign="top">Tahun</td>
<td width="229" valign="top">Film</td>
<td width="106" valign="top">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">1</td>
<td width="57" valign="top">2006</td>
<td width="229" valign="top">3 Hari untuk Selamanya (Riri Riza)</td>
<td width="106" valign="top">Grant</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">2</td>
<td width="57" valign="top"></td>
<td width="229" valign="top">Jermal (Ravi Bharwani)</td>
<td width="106" valign="top">Grant</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">3</td>
<td width="57" valign="top">2007</td>
<td width="229" valign="top">Pesantren (Nurman Hakim) – judul akhir: 3 Doa 3 Cinta</td>
<td width="106" valign="top">Grant</td>
</tr>
<tr>
<td width="34" valign="top">4</td>
<td width="57" valign="top">2008</td>
<td width="229" valign="top">Babi Buta yang Ingin Terbang</td>
<td width="106" valign="top">Grant</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selain film-film ini, 3 film Indonesia diedarkan dalam bentuk DVD di Amerika oleh GFI: Rindu Kami Pada-Mu, Opera Jawa (Garin Nugroho) dan The Photograph (Nan Achnas).</p>
<p>Catatan-catatan di atas memperlihatkan bahwa film Indonesia kini semakin inward looking. Para pembuat film memang menjadikan pasar domestik untuk menjadi sasaran utama mereka, sehingga terasa tidak punya daya saing internasional. Saya sepakat dengan tweet dari Veronica Kusuma yang menyatakan hal itu.</p>
<p>Tampaknya memang bukan hanya festival. Film Indonesia yang diproduksi untuk pasar komersial juga tampaknya enggan mencari pasar di luar negeri, terutama jika dibandingkan dengan film Thailand. Saya tampilkan data dari proyek Lumiere, sebuah database yang mengumpulkan data penjualan tiket bioskop-bioskop di Eropa.</p>
<p>Silakan.</p>
<p style="text-align: center;">Tabel</p>
<p style="text-align: center;">Penjualan tiket bioskop di Eropa untuk film-film dari negara Asia Tenggara</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"><strong>Negara</strong></td>
<td width="135" valign="bottom"><strong>Judul   Film</strong></td>
<td width="71" valign="bottom"><strong>Sutradara</strong></td>
<td width="43" valign="bottom"><strong>Tahun</strong></td>
<td width="64" valign="bottom"><strong>Penjualan   dalam Euro</strong></td>
<td width="78" valign="bottom"><strong>Co-production   degan negara</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Indonesia</td>
<td width="135" valign="bottom">Jalan</td>
<td width="71" valign="bottom">Master   Bhagwan</td>
<td width="43" valign="bottom">1948</td>
<td width="64" valign="bottom">6,506</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">7</td>
<td width="135" valign="bottom">Lady   Dragon</td>
<td width="71" valign="bottom">David   Worth</td>
<td width="43" valign="bottom">1992</td>
<td width="64" valign="bottom">1,823</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Oeroeg</td>
<td width="71" valign="bottom">Hans   Hykelma</td>
<td width="43" valign="bottom">1993</td>
<td width="64" valign="bottom">1,590</td>
<td width="78" valign="bottom">Belgia,   Belanda</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Daun di   Atas Bantal</td>
<td width="71" valign="bottom">Garin   Nugroho</td>
<td width="43" valign="bottom">1998</td>
<td width="64" valign="bottom">8,966</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Opera   Jawa</td>
<td width="71" valign="bottom">Garin   Nugroho</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">6,716</td>
<td width="78" valign="bottom">Austria</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Babibuta   Yang Ingin Terbang</td>
<td width="71" valign="bottom">Edwin</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">169</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Merah   Putih</td>
<td width="71" valign="bottom">Yadi   Sugandi</td>
<td width="43" valign="bottom">2009</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">25,770</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Thailand</td>
<td width="135" valign="bottom">Nang Nak</td>
<td width="71" valign="bottom">Nonzee   Nimibutr</td>
<td width="43" valign="bottom">1999</td>
<td width="64" valign="bottom">227</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">32</td>
<td width="135" valign="bottom">6ixtynin9</td>
<td width="71" valign="bottom">Pan-Ek   Ratanaruang</td>
<td width="43" valign="bottom">1999</td>
<td width="64" valign="bottom">1,909</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Bang   Rajan</td>
<td width="71" valign="bottom">Tanit   Jitnukul</td>
<td width="43" valign="bottom">2000</td>
<td width="64" valign="bottom">121</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">The Iron   Ladies</td>
<td width="71" valign="bottom">Youngyooth   Thongkonthun</td>
<td width="43" valign="bottom">2000</td>
<td width="64" valign="bottom">13,412</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Bangkok   Dangerous</td>
<td width="71" valign="bottom">Oxide   Pang Chun &amp; Danny Pang</td>
<td width="43" valign="bottom">2000</td>
<td width="64" valign="bottom">22,190</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Tears of   The Black Tiger</td>
<td width="71" valign="bottom">Wisit   Sartsanatieng</td>
<td width="43" valign="bottom">2000</td>
<td width="64" valign="bottom">55,947</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Jan Dara</td>
<td width="71" valign="bottom">Nonzee   Nimibutr</td>
<td width="43" valign="bottom">2001</td>
<td width="64" valign="bottom">23</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Sud   Sanaeha</td>
<td width="71" valign="bottom">Apichatpong   Weerasethakul</td>
<td width="43" valign="bottom">2001</td>
<td width="64" valign="bottom">16,647</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Monrak   Transistor</td>
<td width="71" valign="bottom">Pan-Ek   Ratanaruang</td>
<td width="43" valign="bottom">2001</td>
<td width="64" valign="bottom">1,367</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Ong Bak:   The Thai Warrior</td>
<td width="71" valign="bottom">Prachya   Pinkaew</td>
<td width="43" valign="bottom">2003</td>
<td width="64" valign="bottom">1,670,251</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Beautiful   Boxer</td>
<td width="71" valign="bottom">Ekachai   Uekrongtham</td>
<td width="43" valign="bottom">2003</td>
<td width="64" valign="bottom">51,908</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Last Life   in the Universe</td>
<td width="71" valign="bottom">Pan-Ek   Ratanaruang</td>
<td width="43" valign="bottom">2003</td>
<td width="64" valign="bottom">20,463</td>
<td width="78" valign="bottom">Jepang</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">The   Overture</td>
<td width="71" valign="bottom">Ittisoontorn   Vichailak</td>
<td width="43" valign="bottom">2004</td>
<td width="64" valign="bottom">220</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Citizen   Dog</td>
<td width="71" valign="bottom">Wisit   Sartsanatieng</td>
<td width="43" valign="bottom">2004</td>
<td width="64" valign="bottom">19,021</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Tropical   Malady</td>
<td width="71" valign="bottom">Apichatpong   Weerasethakul</td>
<td width="43" valign="bottom">2004</td>
<td width="64" valign="bottom">35,285</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis,   Denmark, Italia</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Born to   Fight</td>
<td width="71" valign="bottom">Panna   Rittikrai</td>
<td width="43" valign="bottom">2004</td>
<td width="64" valign="bottom">61,791</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Shutter</td>
<td width="71" valign="bottom">Parkpoom   Wongpoom dan Banjong Pisanthanakun</td>
<td width="43" valign="bottom">2004</td>
<td width="64" valign="bottom">148,847</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Tom Yum   Goong</td>
<td width="71" valign="bottom">Prachya   Pinkaew</td>
<td width="43" valign="bottom">2005</td>
<td width="64" valign="bottom">741,748</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Dek Hor</td>
<td width="71" valign="bottom">Songyos</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">9,185</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Invisible   Waves</td>
<td width="71" valign="bottom">Pan-Ek   Ratanaruang</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">5,433</td>
<td width="78" valign="bottom">Belanda,   Hongkong, Korea</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Syndromes   and A Century</td>
<td width="71" valign="bottom">Apichatpong   Weerasethakul</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">4,298</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis,   Austria</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Alone</td>
<td width="71" valign="bottom">Parkpoom   Wongpoom dan Banjong Pisanthanakun</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Kuaile   Gongchang</td>
<td width="71" valign="bottom">Ekachai   Uekrongtham</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom">Belanda,   Hongkong</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Ploy</td>
<td width="71" valign="bottom">Pan-Ek   Ratanaruang</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">5,471</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Wonderful   Town</td>
<td width="71" valign="bottom">Aditya   Assarat</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">34,535</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Ong Bak 2</td>
<td width="71" valign="bottom">Panna Rittikrai   dan Tony Jaa</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">397,628</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Soi   Cowboy</td>
<td width="71" valign="bottom">Thomas   Clay</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">296</td>
<td width="78" valign="bottom">Inggris</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Chocolate</td>
<td width="71" valign="bottom">Prachya   Pinkaew</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">233</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">The Blue   Elephant</td>
<td width="71" valign="bottom">Kompin   Kemgumnird</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Coming   Soon</td>
<td width="71" valign="bottom">Sopon   Sukdapisit</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Art of   The Devil 3</td>
<td width="71" valign="bottom">Kongkiat   Khomsiri dan Pasith Buranajan</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Fireball</td>
<td width="71" valign="bottom">Thanakorn   Pongsuwan</td>
<td width="43" valign="bottom">2009</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">3,318,456</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Filipina</td>
<td width="135" valign="bottom">Midnight   Dancers</td>
<td width="71" valign="bottom">Mel   Chionglo</td>
<td width="43" valign="bottom">1994</td>
<td width="64" valign="bottom">2,090</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">6</td>
<td width="135" valign="bottom">Ang   Pagdadaiga ni Maximo Oliveros</td>
<td width="71" valign="bottom">Auraeus   Solito</td>
<td width="43" valign="bottom">2005</td>
<td width="64" valign="bottom">11,381</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">A Short   Film About The Indio Nacional</td>
<td width="71" valign="bottom">Raya   Martin</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">608</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Foster   Child</td>
<td width="71" valign="bottom">Brillante   Mendoza</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">31,227</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Serbis</td>
<td width="71" valign="bottom">Brillante   Mendoza</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">15,558</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Kinatay</td>
<td width="71" valign="bottom">Brillante   Mendoza</td>
<td width="43" valign="bottom">2009</td>
<td width="64" valign="bottom">11,338</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">72,202</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Malaysia</td>
<td width="135" valign="bottom">Mukhsin</td>
<td width="71" valign="bottom">Yasmin   Ahmad</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">6,436</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">3</td>
<td width="135" valign="bottom">Love   Conquers All</td>
<td width="71" valign="bottom">Tan Chui   Mui</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">85</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Flowers   in The Pocket</td>
<td width="71" valign="bottom">Liew Seng   Tat</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">6,521</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Vietnam</td>
<td width="135" valign="bottom">Xich Lo</td>
<td width="71" valign="bottom">Anh Hung   Tran</td>
<td width="43" valign="bottom">1995</td>
<td width="64" valign="bottom">153,838</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">10</td>
<td width="135" valign="bottom">Nostalgia   for Countryland</td>
<td width="71" valign="bottom">Nhat Minh   Dang</td>
<td width="43" valign="bottom">1995</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom">Jepang</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">An Ju</td>
<td width="71" valign="bottom">Bingliu Hu</td>
<td width="43" valign="bottom">1997</td>
<td width="64" valign="bottom">53</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Chung Chu</td>
<td width="71" valign="bottom">Linh Viet</td>
<td width="43" valign="bottom">1999</td>
<td width="64" valign="bottom">4,204</td>
<td width="78" valign="bottom">Prancis</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Nhung   Ngou To Xe</td>
<td width="71" valign="bottom">Vuong Duc</td>
<td width="43" valign="bottom">1999</td>
<td width="64" valign="bottom">5,067</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">The Guava   House</td>
<td width="71" valign="bottom">Nhat Minh   Dang</td>
<td width="43" valign="bottom">2000</td>
<td width="64" valign="bottom">24,355</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Vu Khoc   Con Co</td>
<td width="71" valign="bottom">Phan   Quang, Binh Nguyen dan Jonathan Foo</td>
<td width="43" valign="bottom">2001</td>
<td width="64" valign="bottom">1,098</td>
<td width="78" valign="bottom">Singapura</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Me Thao   Thoi Vang Bong</td>
<td width="71" valign="bottom">Linh Viet</td>
<td width="43" valign="bottom">2002</td>
<td width="64" valign="bottom">2,017</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Chuyen   Chua Po</td>
<td width="71" valign="bottom">Quang Hai   Ngo</td>
<td width="43" valign="bottom">2006</td>
<td width="64" valign="bottom">NA</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Owl and   The Sparrow</td>
<td width="71" valign="bottom">Stephane   Gauger</td>
<td width="43" valign="bottom">2007</td>
<td width="64" valign="bottom">13,922</td>
<td width="78" valign="bottom">USA</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">204,554</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">Singapura</td>
<td width="135" valign="bottom">12   Storeys</td>
<td width="71" valign="bottom">Eric Khoo</td>
<td width="43" valign="bottom">1997</td>
<td width="64" valign="bottom">9,530</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom">6</td>
<td width="135" valign="bottom">15: The   Movie</td>
<td width="71" valign="bottom">Royston   Tan</td>
<td width="43" valign="bottom">2003</td>
<td width="64" valign="bottom">612</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">4:30</td>
<td width="71" valign="bottom">Royston   Tan</td>
<td width="43" valign="bottom">2005</td>
<td width="64" valign="bottom">4,469</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Be With   Me</td>
<td width="71" valign="bottom">Eric Khoo</td>
<td width="43" valign="bottom">2005</td>
<td width="64" valign="bottom">26,990</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">My Magic</td>
<td width="71" valign="bottom">Eric Khoo</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">6,517</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Painted   Skin</td>
<td width="71" valign="bottom">Gordon   Chan</td>
<td width="43" valign="bottom">2008</td>
<td width="64" valign="bottom">95</td>
<td width="78" valign="bottom">China,   Hongkong</td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom">Total</td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom">48,213</td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="57" valign="bottom"></td>
<td width="135" valign="bottom"></td>
<td width="71" valign="bottom"></td>
<td width="43" valign="bottom"></td>
<td width="64" valign="bottom"></td>
<td width="78" valign="bottom"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: Lumiere, database on admissions of films released in Europe</p>
<p>Catatan: dua judul pertama dalam daftar untuk Indonesia ini tak pernah saya dengar sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/tiba-tiba-film-asia-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjumpaanku dengan Jafar Panahi</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 May 2011 13:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>
		<category><![CDATA[Cannes]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Jafar Panahi]]></category>
		<category><![CDATA[Jiffest]]></category>
		<category><![CDATA[Rotterdam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, melaporkan bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, In Film Nist (This [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, <strong><a href="http://new.rumahfilm.org/artikel-feature/revolusi-dan-dedikasi-jafar-panahi/">melaporkan</a></strong> bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, <em>In Film Nist (This is Not Film)</em> akan diputar 9 Mei, yang bercerita tentang hari-harinya setelah dihukum dan proses naik bandingnya. Selain itu, ada juga  <em>Bé Omid é Didar (Goodbye)</em> karya sutradara Iran lainnya, Mohammad Rasoulov, yang ikut dihukum bersama Panahi.</p>
<p>Saya adalah pengagum Jafar. Perjumpaan pertama saya tentu saja dari film-filmnya. Film pertama yang saya tonton adalah <em>White Balloon</em>,  yang skenarionya ditulis Abbas Kiarostami, yang menang di Cannes. Saya menontonnya dalam format Laser  Disc yang saya sewa di sebuah penyewaan milik koperasi  militer di daerah Guntur.  Film kedua adalah yang saya tonton adalah <em>Mirror</em> (film fiksi yang ditengah cerita berubah menjadi film dokumenter dengan cerita yang sama persis.edan! ), yang adalah VCD oleh-oleh  dari Agung Yudhawiranata yang baru pulang dari Hong Kong. Film ini, bersama <em>Color of Paradise</em> karya Majid Majidi saya putar di Kine28 pada 5 Oktober 2002.</p>
<p>Dan terbetiklah kabar bahwa Jafar akan menjadi tamu di Jiffest 2002. Maka, saya yang waktu itu adalah wartawan yang mengurusi kanal film di <a href="http://www.astaga.com">www.astaga.com</a> segera memburunya. Awalnya, saya menonton <em>The Circle</em>, ikut sesi tanya jawab, dan tentu saja berfoto bersama. Tapi kala itu sangat sulit untuk minta wawancara (kalau tidak salah, hanya bersedia diwawancara untuk Kompas, Tempo, dan RCTI). Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya dekati penerjemahnya, Hussein, seorang yang saleh dan lancar berbahasa Persia. Ngobrol punya obrol, saya membahas tentang tesis yang baru saya selesaikan, seputar pemikiran Ali Syariati, dan saya pernah mendekati Kang Jalaluddin Rahmat untuk mencari bahan-bahan seputar itu. Dan ia, yang saya duga sangat dekat dengan  pemikiran Syiah dan kuliah di Qum, bersimpati pada saya. “Wah Kamu kenal kang Jalal? Ya sudah, saya akan atur wawancara dengan Jakfar,”ujarnya.<span id="more-1391"></span></p>
<p>Dan tibalah saya berhadap-hadapan dengan Jafar Panahi—saya kira ini salah satu awal pencapaian jurnalistik saya—dan saya tanya banyak hal. Tentang visi dan misinya membuat film, tentang konsep film Islam (yang dijawab dengan: saya bikin film ya bikin film saja. Tidak ada urusan dengan Islam. Ada pun nantinya ada penafsiran ke arah situ, ya itu urusan lain).  Salah satu <em>endorsement </em>yang ada di buku saya,<em> A to Z about Indonesian Film</em>, berasal dari hasil wawancara ini, yang belum terpublikasi di astaga.com tapi nanti dimuat di layarperak.com (lihat hasil wawancara lengkapnya di bawah).</p>
<p>Wawancara berlangsung dalam bahasa Persia dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.  Ketika dinyatakan selesai, saya lanjutkan dengan tanya jawab informal (misalnya, dengan menebak nama akhirnya, saya tanya apakah pemeran gadis cilik di <em>Mirror</em> dan <em>White Balloon</em> adalah adik kakak? Dia jawab sambil tertawa:”iya! Tahu aja!”) dia menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar. Nah, kok tadi bahasa Persia?</p>
<p>Usut punya usut, saya tanya ke berbagai pihak, ternyata Jafar sepanjang JIFFEST itu sedang <em>ngambek</em>, sehingga malas berbahasa Inggris.  Apa pasal? Pertama kali ia menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno Hatta,  dia harus diperiksa oleh keamanan sedemikian rupa sehingga harus diborgol dan diinterogasi dengan waktu yang cukup lama. Karena itulah, dia menghibur diri dengan lebih banyak berjalan-jalan , salah satunya ke pasar antik Jalan Surabaya—tempat ia membeli Patung Budha.</p>
<p>Harry Dagoe juga bercerita pengalamannya mengajak Jafar ke restoran Delila. Ia juga mengirimkan foto bersama antara Jafar dengan filmmaker Indonesia (yang saya ingat: Harry Dagoe, Shanty Harmayn, Riri Riza, dan Mira Lesmana, ah di mana foto itu ya?)</p>
<p>Pertemuan  berikutnya adalah Januari 2008, di Festival Film Internasional Rotterdam. Kala itu, ia menjadi jurinya. Saya tidak mau mengganggunya lama-lama, cukup menyapanya dan mencoba mencari tahu apakah dia masih ingat saya.ternyata masih ingat juga.</p>
<p>Setelah itu, saya tidak ada kontak lagi.tapi saya tetap mengikuti filmnya, yaitu <em>Offside</em> yang saya beli DVD bajakannya. Dan muncullah kabar itu, bahwa ia dicekal di rumahnya kala ada perjamuan makan malam, bersama dengan para tamunya.  Dan ia pun dinyatakan dihukum 6 tahun penjara dan 20 tahun tidak boleh membuat film. Dan ia dengan tegas menyatakan tidak akan meninggalkan tanah airnya apa pun yang terjadi. Ia pun dicekal tak boleh menghadiri undangan Festival Film Venice (juga salah satu festival film paling bergengsi).</p>
<p>Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya setelah Pemerintah Iran mengetahui bahwa 2 film “terlarang”nya diputar di festival film paling prestisius  itu.</p>
<p>Berikut adalah sebagian hasil wawancara saya dengan Jafar Panahi pada 2002 yang pernah dimuat di situs <a href="http://www.layarperak.com">www.layarperak.com</a>.</p>
<p><strong>Jafar Panahi Bicara Film Iran, Hollywood, dan Indonesia</strong><br />
Oleh: Ekky Imanjaya</p>
<p>Pada Jiffest 2002, penulis berhasil mewawancarai Jafar Panahi, sutradara film asal Iran. Dari pertemuan sekitar 30 menit itu, banyak yang dibincangkan, tapi saat itu tidak semuanya diracik menjadi tulisan.</p>
<p>Berikut hasil perbincangan yang belum pernah dipublikasikan, antara penulis dengan pembuat <em>White</em> <em>Balloon</em><em> </em>(1995, meraih Camera d&#8217;Or, <a title="Cannes Film Festival" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cannes_Film_Festival">Cannes Film Festival</a> 1996), <em>The Mirror </em><em>(1997, meraih Golden Leopard Award di </em><a title="Locarno, Switzerland" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Locarno,_Switzerland"><em>Locarno</em></a><em> Film Festival dan Golden Tulip di Istanbul Film Festival), dan The Circle </em>(2000, menang Golden lion award, Venice Film Festival), <em>Crimson Gold</em><em> (2003, mendapat Gold Hugo, Chicago Film Festival), </em>dan yang terakhir<em> </em><em>Offside</em> (2006, juara Silver Berlin Bear, Berlin Film Festival<em>) itu.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em>Bedanya film Iran dengan film komersil seperti Hollywood adalah, film Hollywood menyajikan segalanya dari satu perspektif. Sehingga penonton pulang dengan perspektif yang sama. Sedangkan film Iran membiarkan para penonton awam dengan penonton lain yang lebih mengerti tentang film yang lebih akan kan berbeda penafsirannya.</em></p>
<p><em>Dalam <em>The Circle</em>, film saya, misalnya. Penonton tidak diberi kesempatan untuk diberitahu mengapa wanita-wanita ini dipenjara. Semua tergantung penafsiran.Misal lainnya. Tokoh pertama lebih dieksplorasi dan lebih panjang durasi ceritanya. Durasi ini akan menurun tokoh demi tokoh. Tokoh terakhir adalah yang paling sedikit durasinya. Bagi saya, ini menandakan bahwa yang pertama adalah wanita yang paling idealis, sedangkan yang terakhir adalah yang paling tidak idealis. Film semacam ini adalah alternatif dari menu yang biasa mendominasi bioskop dunia.</em></p>
<p><em>Iran dan Indonesia banyak persamaan. Keduanya Negara berkembang dan mayoritas muslim. Tetapi, mengapa film Iran lebih maju daripada Indonesia? Negeri Iran mempunya sejarah film yang lebih lama dari Indonesia. 108 tahun (kini 117 tahun-red) yang lalu kita sudah mulai perfilman. Kita mempunyai beberapa lembaga pendidikan perfilman. Dan setiap tahunnya ada setiap 60 film diproduksi. Fasilitas perfilman juga tersedia, misalnya labolatoriom film. </em></p>
<p><em>Indonesia harus berusaha mengambangkan sendiri perfilmannya. Di antaranya harus memperbanyak lembaga pendidikan perfilman. Negara Indonesia mestinya harus mendukung perkembangan filmnya sendiri. Supaya generasi muda Indonesia mempunyai antusias yang tinggi dalam melihat film dari negerinya sendiri. Mereka harus mendukung film Indonesia daripada film luar seperti Hollywood.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/perjumpaanku-dengan-jafar-panahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencatat Film Indonesia di tahun 2010</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/old-writings/mencatat-film-indonesia-di-tahun-2010/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/old-writings/mencatat-film-indonesia-di-tahun-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 07:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Old Writings]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1289</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan semakin sulit bagi saya untuk membuat daftar “film terbaik” karena rasanya tak adil membandingkan film satu dengan lain bagai sebuah kontes kecantikan atau seperti lomba lari. Setiap film tentu punya anasir dan masing-masing unsur itu tentu bekerja dalam ranah yang berbeda bagi penonton berbeda. Maka jika ingin membuat perbandingan antar film, hal yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Belakangan semakin sulit bagi saya untuk membuat daftar “film terbaik” karena rasanya tak adil membandingkan film satu dengan lain bagai sebuah kontes kecantikan atau seperti lomba lari. Setiap film tentu punya anasir dan masing-masing unsur itu tentu bekerja dalam ranah yang berbeda bagi penonton berbeda. Maka jika ingin membuat perbandingan antar film, hal yang paling jauh saya bisa lakukan adalah otentisitas pengalaman menonton ketimbang membandingkan anasir semisal sinematografi, editing dan sebagainya. Tentu saja otentisitas menonton itu kelewat subyektif tapi toh saya merasa sejauh ini saya sudah lumayan banyak menonton film untuk ikut memasukkan soal-soal teknis tadi dalam penilaian otentik tidaknya dalam menonton film.<span id="more-1289"></span> Misalnya, saya bisa memberi contoh. Ketika menonton sebuah film saya merasa bisa menebak apa kira-kira <em>shot</em> berikutnya dari film itu. Bahkan komposisi dan ritme editing juga sudah bisa saya perkirakan sebelum terjadi.</p>
<p>Jujur saja, hal di atas tadi termasuk pengalaman menonton yang sangat tidak asyik. Film jadi saya rasakan tidak otentik, pengalaman jadi seperti mudah terulangi. Hal semacam ini sebenarnya mengurangi kenikmatan menonton, tapi sudahlah. Mungkin saya dikutuk hingga hal seperti itu tak terhindarkan.</p>
<p>Kembali ke soal penilaian, maka ketimbang menilai mana yang paling baik di antara film-film yang saya tonton tahun 2010, maka saya memutuskan untuk mencatat saja, khusus untuk film-film Indonesia. Ada alasan lain kenapa saya hanya mencatat saja.</p>
<p>Tahun ini saya merasa agak kesulitan kalau membuat peringkat karena tahun ini keberatan saya terhadap film-film Indonesia, terutama yang saya tonton di bioskop, jauh lebih besar ketimbang rasa gembira ketika menontonnya. Maka saya berpikir ketimbang memilih “mana yang terbaik”, saya memutuskan untuk membuat daftar berdasar “mana film yang paling bergairah untuk saya catat”. Ini semacam daftar peringkat juga, tapi tentu bukan peringkat berdasar pencapaian kesempurnaan melainkan peringkat berdasarkan interaksi film-film itu dengan saya.</p>
<p>Oh, dan saya tak membedakan antara film dokumenter dan fiksi. Ini dia daftar catatan saya:</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/minggu-pagi1.jpg"><img class="alignleft" title="Minggu Pagi" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/minggu-pagi1.jpg?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>9.      <strong>Minggu Pagi di Victoria Park</strong> (Sutradara : Lola Amaria)</p>
<p>Filmmaking sebagai laku turisme ? Tentu saja. Sejak <em>Nanook of The North</em> tahun 1929, filmmaking selalu membawa keterpesonaan terhadap sesuatu yang jauh di sana, sekalipun apa yang disajikan sebenarnya hanya kisah hidup sehari-hari. Sayang sekali bahwa Lola Amaria masih memandang sebagian dari subyek filmnya dengan cara seperti ini. Mungkin karena ia merasa sudah pergi jauh dengan determinasi tinggi dan melihat banyak hal yang dirasakannya penting untuk diceritakan dalam membuat film ini. Ia masih merasa perlu menyajikan hal sehari-hari subyeknya sebagai tontonan untuk menciptakan sensasi aneh terhadap yang asing, bagai sebuah <em>curiosity cabinet</em> a la abad kesembilanbelas. Mungkin penonton Indonesia masih berada pada tahap seperti itu : penonton <em>curiosity cabinet</em> ? Puluhan tahun lalu Nya Abbas Akup sudah mengatakan hal itu, dan tak kelewat salah rasanya jika saya berharap tahun 2010 ada yang berubah.</p>
<p>8.      <strong>Ampun DJ</strong> (Sutradara : Agus Darmawan)</p>
<p>Saya tercengang pada fakta bahwa kamera dalam film ini bisa masuk ke tempat-tempat intim semisal kamar mandi, menandakan adanya sebuah kepercayaan besar dari para subyek terhadap pembuat film ini. Inilah sebuah observasi yang sangat sungguh-sungguh terhadap para subyek film tanpa ada prasangka apapun kecuali sang kamera itu sendiri. Tentu bisa ada salah sangka terhadap kamera terutama bahwa ia melakukan <em>gazing</em>, tapi itu selalu resiko sebuah filmmaking, bukan? Perhatikan bahwa pengabaian terhadap basa-basi teknis sudah membuat film ini menjadi wakil dari cara tutur film Indonesia era <em>new media</em> yang sudah memasukkan hal keseharian dan “tak penting” sama patut ditontonnya dengan drama.</p>
<p>Eh, tapi tunggu dulu, benarkah film ini tanpa prasangka? Inilah kelemahan utama film ini yang membuatnya jadi gagal total: kenapa fakta-fakta menarik yang sudah bicara banyak itu harus dibenturkan dengan slogan-slogan dangkal seperti “kota budaya” dan “kota pelajar”? Bagi saya, karya ini jadi kekanak-kanakan, padahal tanpa lirik rap menggurui dan slogan-slogan itu, seharusnya Ampun DJ berpeluang untuk menjadi salah satu film Indonesia paling kuat tahun ini.</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/sang-pencerah1.jpg"><img class="alignright" title="sang Pencerah" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/sang-pencerah1.jpg?w=300&amp;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a></p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/sang-pencerah1.jpg"></a>7.      <strong>Sang Pencerah</strong>(Sutradara: Hanung Bramantyo)</p>
<p>Film ini bukan yang pertama mengangkat tema pembaruan Islam, tapi inilah film yang paling punya sikap tegas terhadap keadaan kontemporer yang dihadapi Indonesia, terutama pasca Soeharto.  Ini kredit yang tinggi mengingat kritik politik bagai lama absen dalam film Indonesia. Kritik tegas ini, diiringi dengan<em>production value</em> yang jauh di atas rata-rata merupakan sesuatu yang sulit untuk ditemui tahun ini. Sayang saja bahwa film ini bersandar pada stereotip guna memudahkan persoalan dan pencernaan penonton – argumen yang selama ini juga dikembangkan oleh para pembuat opera sabun a la Indonesia alias sinetron. Bukan hanya tokoh utama film ini yang terasa bersifat satu dimensi, persoalan yang dihadapinya juga terasa datar dan terlalu dipermudah demi pemahaman instan. Tentu jika topiknya cinta monyet, tak apalah, toh dalam kasus seperti itu kita tahu penonton memang sekadar cari mimpi. Tapi apakah penonton juga cari mimpi ketika menonton film dengan tema pembaruan Islam? Rasanya tidak, dan dalam konteks ini saya terpaksa menyatakan tawaran pembuat film ini jadi tak bijak dalam jangka waktu yang lebih panjang. Untuk tahun ini, saya mencatat <em>Sang Pencerah</em>, tapi dalam jangka waktu lebih panjang – sejarah film Indonesia misalnya – saya akan mengunggulkan film semacam <em>Titian Serambut Dibelah Tujuh</em> atau <em>Para Perintis Kemerdekaan</em> atau <em>Nada dan Dakwah</em> sebagai film pembaharuan Islam favorit saya.</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/alni.jpg"><img class="alignleft" title="ALNI" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/alni.jpg?w=300&amp;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>6.      <strong>Alangkah Lucunya (Negeri Ini)</strong> (Sutradara: Dedi Mizwar)</p>
<p>Ada yang namanya sikap politik dan sinema tentu saja bisa menjadi salah satu penyaluran terpenting bagi hal itu. Dedi Mizwar, seorang yang pernah mencalonkan diri menjadi presiden, paham betul bahwa sinema adalah alat kuat  pembawa gagasan dan keprihatinan. Ia punya konsep jelas bahwa film adalah alat komunikasi dan sebaiknya dalam berkomunikasi, film tak salah dalam menyampaikan pesan. Maka film ini menjadi semacam khotbah, semacam teriakan yang mengandung vulgarisme pada pesan yang disampaikannya itu. Bukan sekadar tak keberatan, tapi memang efek itulah yang ingin disampaikan oleh Dedi Mizwar dari kisah tentang generasi muda dan jalan buntu harapan akibat segala sesuatu seperti salah tempat dan salah kelola ini. Untungnya Dedi tak mengorbankan cerita dan tak lupa pada rumus-rumus penguras emosi, sekalipun pen-<em>zhohir</em>-an beberapa pesannya terasa jadi ganjalan serius bagi kelancaran film ini dalam bertutur.</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/metamorfoblus.jpg"><img class="alignright" title="Metamorfoblus" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/metamorfoblus.jpg?w=249&amp;h=300" alt="" width="249" height="300" /></a>5.      <strong>Metamorfoblues</strong> (Sutradara : Dossy Omar)</p>
<p>Sayang sekali bahwa beberapa bagian terpenting film documenter ini sudah muncul di film <em>Generasi Biru</em> yang beredar tahun lalu. Maka saya tak lagi kelewat terkejut dengan pendadaran fakta tentang para Slanker yang sudah jadi subkultur yang hidup berurat berakar dengan sangat dalam, mungkin jauh lebih dalam ketimbang akar lembaga-lembaga politik kita. Namun dengan faktor kejutan yang berkurang, <em>Metamorfoblues</em> masih berhasil membawa saya menjadi seorang turis yang sabar dan dipenuhi rasa ingin tahu tentang apa itu Slankers dan bagaimana ia hidup serta menjadi daya hidup bagi banyak orang di negeri bernama Indonesia. Sutradara Dossy Umar berhasil dengan mulus mentransfer energi itu keluar layar, kepada penonton terutama karena ia tak berhenti di permukaan, tak puas dengan anekdot. Ia mencoba memahami mengapa para Slankers itu percaya dan ia berhasil membawa keyakinan itu keluar layar.</p>
<p>4.      <strong>Working Girls</strong> (Sutradara: Sammaria Simanjunta dan Sally Anom, Yosef Anggi Noen, Daud Sumolang dan Nita Nazyra C. Noer)</p>
<p>Para sutradara dalam film ini mampu membuktikan bahwa film yang diniatkan menjadi film kampanye selalu punya peluang mengatasi “niat propagandis” media ini dan bersikukuh bahwa manusia punya cerita yang kaya nuansa dan unik pada masing-masing kasusnya. Inilah kekuatan sinema yang sejak lama membuatnya terus mampu bertahan dari godaan untuk mendangkalkan persoalan dan turut serta mengabdi pada “tendens” yang kelewat kontekstual dan sempit. Para perempuan pekerja dalam film ini seperti diberi hidup oleh para filmmaker di kumpulan ini karena keberanian mereka – lagi-lagi – untuk menjadi observer alias pengamat yang baik, sabar dan ingin tahu. Maka momen-momen kecil ketika fakta kecil terungkap mampu membelokkan pandangan kita yang sudah ajeg terhadap banyak hal. Salut!</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/belkibolang.jpg"><img class="alignleft" title="belkibolang" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/belkibolang.jpg?w=300&amp;h=177" alt="" width="300" height="177" /></a>3.      <strong>Belkibolang</strong> (Sutradara: Agung Sentausa, Ifa Isfansyah, Tumpal Tampubolon, Rico Marpaung, Anggun Priambodo, Azhar Lubis, Wisnu Surya Pratama, Edwin, Sidi Saleh).</p>
<p>Jika sampai ada omnibus Gue Cinta Jakarta sebagaimana Sawasdee Bangkok yang mengambil insipirasi dari <em>Paris J’taime</em> atau <em>I Love New York</em>, maka <em>Belkibolang</em> adalah versi alternatifnya, kalau tak mau dikatakan sebagai sebuah sub-versi narasi tentang Jakarta yang dibangun oleh pandangan arus utama. Belkibolang atau “belok kiri boleh langsung” bisa dibaca sebagai sistem berlalulintas Jakarta sekaligus memberi konotasi “kiri” yang melawan “kanan” yang berkonotasi mapan. Film ini memang mampu menabrak langsung beberapa tabu. Ifa Isfansyah sengaja membuat kisah palindrome yang akhirnya mengajukan struktur elipisis  murni ketika peristiwa dan waktu tak terbedakan, dan film bisa dipandang dari “segala arah”.  Edwin sekali lagi (sesudah <em>Dajang Sumbi</em>) membuat pemeran utama perempuan dalam filmnya bugil, kali ini untuk merangsang adrenalin dan berspekulasi terhadap ketidakyakinan penonton. Maka jika “kanan” adalah sinema yang mapan lewat tema dan cara tutur yang seperti tak terganggu gugat, maka Belkibolang menegaskan bahwa penonton bisa belok ke “kiri” tanpa ragu dan menunggu.</p>
<p><a href="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/3-hati1.jpg"><img class="alignright" title="3 Hati" src="http://gemarnonton.files.wordpress.com/2010/12/3-hati1.jpg?w=300&amp;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>2.      <strong>3 Hati 2 Dunia 1 Cinta</strong>(Sutradara: Benny Setiawan)</p>
<p>Terlalu banyak catatan kaki yang membuat film ini kelewat penting untuk diabaikan. Pertama, film ini berlawanan dengan arus film Indonesia semasa yang mengidentikkan kesuksesan dengan bersekolah di perguruan tinggi atau jadi kaya. Film ini santai saja memandang aspirasi semacam itu dan berusaha untuk melihat sebuah alternatif tokoh <em>archetype</em> dalam film Indonesia yang bersifat etnis (ketimbang nasional), berpendidikan SMA (ketimbang perguruan tinggi) dan seorang (semi-) aktivis (ketimbang apolitis). Kedua, film ini mengedepankan sifat kosmopolitanisme Indonesia tanpa banyak cingcong, sebagai sebuah fakta yang harus dihadapi oleh setiap individu dalam merumuskan identitasnya. Identitas individu adalah proses negosiasi yang konstan dan film ini dengan tepat memberi gambaran itu. Ketiga, film ini adalah komedi yang segar dan dikerjakan dengan akting yang sangat mulus, membuat para tokoh di dalamnya bukan saja mudah untuk dipercaya, tapi bisa bikin penonton dengan tulus menjatuhi simpati. Maka catatan saya terhadap film ini sebetulnya tidak banyak dan saya menikmati film ini, terutama pada akting Laura Basuki yang bagi saya tahun ini menjadi salah satu pemain yang paling tak sadar (<em>less-conscious</em>) akan keberadaan kamera.</p>
<p>1.      <strong>On Broadway #1</strong> (Sutradara: Aryo Danusiri)</p>
<p>Berisi 41 menit <em>shot</em> tunggal tak terputus tentang sebuah ibadah sholat Jumat di sebuah basemen di Broadway, New York. Karya ini menunjukkan bahwa apa yang menjadi latar belakang dari penempatan kamera itu sama pentingnya dengan apa yang ada di dalam layar. Maka terhubunglah teks dan subteks film ini. Mudah sekali untuk tergoda menghubungkan kota New York, Islam, pembangunan mesjid di ground zero dan segala sirkus liputan media dengan film ini, dan terus terang saja subteks itu terbaca juga. Namun bagi saya, <em>On Broadway #1</em> punya sebuah titik berangkat yang lebih dari sekadar semata respons terhadap problem kontemporer semacam itu. Bagi saya, peristiwa apa saja bisa hadir dalam layar seperti ini, tetapi, pertama, film ini menegaskan bahwa gagasan peletakkan kamera sejak pertama sudah merupakan sebuah laku kreatif dan kedua, perekaman yang dilakukan menegaskan bahwa penonton diajak untuk menikmati peristiwa dan membebaskan diri memberi tafsirnya sendiri atas peristiwa itu. Sebuah sinema murni? Mungkin saja secara teori film ini bisa digolongkan begitu, tapi pesona yang muncul dari menyaksikan peristiwa itu terurai dalam durasinya bagai menyaksikan sebuah bunga mekar untuk mencapai kesempurnaannya. Tentu tak cocok bagi pendamba drama dan penikmat film Michael Bay. Namun dari film semacam ini kita seperti diingatkan bahwa peristiwa punya semacam hidupnya sendiri dan bagaimanapun intervensi pembuat film dalam menghadirkannya kembali punya keterbatasan yang amat serius. Dan itu patut dinikmati dengan sukacita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/old-writings/mencatat-film-indonesia-di-tahun-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Bachelor Party”</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/bachelor-party/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/bachelor-party/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 09:39:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eric Sasono</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gemar Nonton Pangkal Pandai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1262</guid>
		<description><![CDATA[Setelah saya mengaku-aku diri sebagai kritikus film, saya baru sadar bahwa saya seorang penonton film yang lumayan. Lumayan sering, maksud saya. Film “tertua” yang saya ingat saya tonton di bioskop adalah film Ratapan Anak Tiri (1974) dengan Faradilla Sandy sebagai bintangnya. Saya menonton film itu di bioskop Wira yang sekarang sudah menjadi showroom mobil. Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><strong><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Drunken-Master-2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1263" title="Drunken Master 2" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Drunken-Master-2.jpg" alt="" width="640" height="360" /></a></strong></p>
<p><strong><a href="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2011/04/Drunken-Master-2.jpg"></a></strong>Setelah saya mengaku-aku diri sebagai kritikus film, saya baru sadar bahwa saya seorang penonton film yang lumayan. Lumayan sering, maksud saya. Film “tertua” yang saya ingat saya tonton di bioskop adalah film <em>Ratapan Anak Tiri</em> (1974) dengan Faradilla Sandy sebagai bintangnya. Saya menonton film itu di bioskop Wira yang sekarang sudah menjadi showroom mobil. Yang paling saya ingat dari menonton film itu, selain saya menangis tentunya, adalah saya terduduk di hamparan box kaca tempat penjualan <em>condiment</em> yang berada di bagian belakang ruang bioskop. Rupanya saya – waktu itu rasanya umur saya belum 6 tahun – “hilang” dan terdampar di sana. Orangtua dan pengasuh saya, sibuk mencari dan menemukan saya ketika sedang <em>intermission</em> (istirahat di sela pertunjukan) terduduk dengan santai memandangi permen-permen di box kaca itu.<span id="more-1262"></span></p>
<p>Banyak lagi pengalaman saya menonton yang mungkin akan saya cerita satu demi satu nanti sepanjang kisah-kisah kecil ini berjalan. Namun kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya menonton dan kaitannya dengan pernikahan saya.</p>
<p>Tanggal sudah dipilih yaitu 21 Februari.</p>
<p>Pada tahun 1994, tahun pernikahan saya, tanggal itu jatuh pada bulan puasa. Bukan puasanya yang ingin saya ceritakan benar, tetapi bulan puasa berpengaruh pada penjadawalan bioskop. Pada waktu  Maghrib di bulan puasa, bioskop membuat break sehingga pertunjukan film jadi agak molor ke malam hari. Ini membawa pengaruh pada apa yang terjadi kemudian pada malam tanggal 20 Februari 1994 itu.</p>
<p>Sebelum menikah, saya menyempatkan diri menyambangi teman dekat saya, Hikmat Darmawan. Sejak ia memutuskan berhenti kuliah, saya (bersama dengan teman lain seperti Krisnadi Yuliawan) gemar mengunjungi Hikmat untuk ngobrol berlama-lama karena Hikmat memang salah satu orang paling enak di dunia untuk diajak ngobrol. Maka tanggal 20 Februari itu pun saya mengunjunginya.</p>
<p>Singkat cerita, ia berhasil memaksa saya untuk berkomitmen menonton film sebelum saya pulang. Lalu saya pun menuggu, tapi ia tak kunjung bersiap-siap. Sampai malam jadi agak larut, barulah Kami berangkat. Menumpang bis Kopaja dari depan rumah Hikmat di Cilandak, berangkatlah Kami berdua ke Mal Kalibata. Film yang Kami incar ada di sana: Drunken Master 2, dengan bintang Jackie Chen.</p>
<p>Saya sempat protes kepada Hikmat dan bilang padanya bahwa waktu sudah terlalu larut dan saya perlu persiapan buat besok untuk memastikan segala sesuatu. Namun Hikmat dengan gayanya sendiri (yang kenal baik Hikmat pasti tahu gaya apa yang saya maksud) berhasil membuat saya tetap menantikan film itu. Sampai akhirnya pintu bioskop dibuka jam 9 malam. Biasanya bioskop di mal buka terakhir jam 8.30, tetapi karena ada pergeseran waktu di bulan puasa, jadilah pertunjukan dimulai agak larut begini. Dan menontonlah saya malam itu.</p>
<p>Film ini kini menjadi film genre silat Hongkong terbaik bagi saya sepanjang masa. Namun tontonan tetap sebuah tontonan. Saya pulang dengan perasaan bersalah karena tak sempat mengabari rumah (waktu itu saya belum punya handphone dan alat itu belum populer) dan tak sempat melakukan pengecekan akhir soal persiapan pernikahan.</p>
<p>Dengan naik angkutan umum saya pulang ke rumah saya di sekitar kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Sampai di sana, sudah lewat jam 12 malam dan ternyata seluruh keluarga saya sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka semua bingung saya berada di mana dan apa yang saya lakukan menjelang pernikahan saya esok hari. Saya terdiam melihat wajah mereka yang cemas dan kemudian berubah cerah ketika melihat saya masuk. Semua bertanya ‘darimana’ dan sebagainya.</p>
<p>Tentu tak saya bilang kepada mereka bahwa saya menonton film <em>Drunken Master 2</em> dan melihat Jackie Chen menggebuki orang dengan bambu pecah-pecah. Saya bilang bahwa saya melakukan persiapan ini itu sampai malam (semua hal relatif sudah  dibereskan oleh beberapa teman di kampus, tempat saya melakukan pernikahan itu – terimakasih Komaruddin yang baik hati, saya belum sempat mengucapkan terimakasih yang pantas hingga hari ini kepadamu).</p>
<p>Tapi saya menyempatkan diri minta maaf pada semua orang di rumah dan mereka menarik napas lega. Agak lama saya merenung di tempat tidur malam itu mengenang betapa anehnya malam itu: “bachelor party” saya adalah adalah bersama Hikmat Darmawan menonton film <em>Drunken Master 2</em>. Dan esoknya saya berjanji mengikatkan diri sepanjang masa pada seorang perempuan yang kemudian menjadi teman menonton saya hingga kini.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/bachelor-party/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Artikel Pinsil Tebal</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/pinsil-tebal/contoh-artikel-pinsil-tebal/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/pinsil-tebal/contoh-artikel-pinsil-tebal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 03:16:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Krisnadi Yuliawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pinsil Tebal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1206</guid>
		<description><![CDATA[orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat libero non ligula. Sed risus tortor, nonummy non, gravida a, commodo in, felis. Vestibulum eu sapien. Cras non dui at justo euismod pharetra.<br />
<span id="more-1206"></span><br />
Phasellus in dui et diam pretium sodales. Fusce felis velit, adipiscing vitae, mattis nec, dictum vel, mi. In sit amet est. Ut pharetra tellus a massa. Nam vel purus. Maecenas neque urna, placerat non, tincidunt vitae, dapibus et, elit. Sed pulvinar congue nibh. Cras porta, augue ut pulvinar pharetra, nisl pede tempus tellus, ut consequat dui libero non leo. Nulla mattis vulputate ligula. Suspendisse tincidunt, nisl non aliquam convallis, dui augue mattis dui, sed pretium mauris est vel orci. Donec at nisi. Quisque sem tellus, congue vitae, vehicula malesuada, posuere eget, pede. Ut egestas ullamcorper arcu. Donec ut nunc ut justo laoreet semper. Praesent rhoncus, libero at feugiat congue, dui turpis iaculis sem, non placerat nulla purus ac ante. In hac habitasse platea dictumst. Maecenas mollis adipiscing dolor. Nulla ullamcorper diam at dui. Sed ornare, ante quis porta eleifend, urna justo porta nunc, non placerat risus nulla ac dui. Sed non nisl.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/pinsil-tebal/contoh-artikel-pinsil-tebal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Artikel Film is Not a Dream</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 02:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ekky Imanjaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film is Not a Dream]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1201</guid>
		<description><![CDATA[orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat libero non ligula. Sed risus tortor, nonummy non, gravida a, commodo in, felis. Vestibulum eu sapien. Cras non dui at justo euismod pharetra.<br />
<span id="more-1201"></span><br />
Phasellus in dui et diam pretium sodales. Fusce felis velit, adipiscing vitae, mattis nec, dictum vel, mi. In sit amet est. Ut pharetra tellus a massa. Nam vel purus. Maecenas neque urna, placerat non, tincidunt vitae, dapibus et, elit. Sed pulvinar congue nibh. Cras porta, augue ut pulvinar pharetra, nisl pede tempus tellus, ut consequat dui libero non leo. Nulla mattis vulputate ligula. Suspendisse tincidunt, nisl non aliquam convallis, dui augue mattis dui, sed pretium mauris est vel orci. Donec at nisi. Quisque sem tellus, congue vitae, vehicula malesuada, posuere eget, pede. Ut egestas ullamcorper arcu. Donec ut nunc ut justo laoreet semper. Praesent rhoncus, libero at feugiat congue, dui turpis iaculis sem, non placerat nulla purus ac ante. In hac habitasse platea dictumst. Maecenas mollis adipiscing dolor. Nulla ullamcorper diam at dui. Sed ornare, ante quis porta eleifend, urna justo porta nunc, non placerat risus nulla ac dui. Sed non nisl.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/film-is-not-a-dream/contoh-artikel-film-is-not-a-dream/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Artikel Stamboel Keramat</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/stamboel-keramat/contoh-artikel-stamboel-keramat/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/stamboel-keramat/contoh-artikel-stamboel-keramat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Mar 2011 02:13:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ifan Adriansyah Ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Stamboel Keramat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1197</guid>
		<description><![CDATA[Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque. In tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque. In tortor. Duis rutrum sollicitudin odio.<br />
<span id="more-1197"></span><br />
Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat libero non ligula. Sed risus tortor, nonummy non, gravida a, commodo in, felis. Vestibulum eu sapien. Cras non dui at justo euismod pharetra.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/stamboel-keramat/contoh-artikel-stamboel-keramat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Contoh Artikel on Everything Pop</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/on-everything-pop/contoh-artikel-on-everything-pop/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/on-everything-pop/contoh-artikel-on-everything-pop/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Mar 2011 09:18:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hikmat Darmawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[On Everything Pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=1195</guid>
		<description><![CDATA[Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps">Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Duis vestibulum, arcu sit amet varius faucibus, dui lorem varius neque, et rhoncus dolor velit fringilla elit. Vivamus nulla odio, porttitor sagittis, volutpat sed, dictum nec, neque.n tortor. Duis rutrum sollicitudin odio. Quisque malesuada sollicitudin elit. Etiam lacinia dapibus sapien. Donec luctus metus a ante. Sed volutpat libero non ligula. Sed risus tortor, nonummy non, gravida a, commodo in, felis. Vestibulum eu sapien. Cras non dui at justo euismod pharetra.<span id="more-1195"></span></p>
<p>Phasellus in dui et diam pretium sodales. Fusce felis velit, adipiscing vitae, mattis nec, dictum vel, mi. In sit amet est. Ut pharetra tellus a massa. Nam vel purus. Maecenas neque urna, placerat non, tincidunt vitae, dapibus et, elit. Sed pulvinar congue nibh. Cras porta, augue ut pulvinar pharetra, nisl pede tempus tellus, ut consequat dui libero non leo. Nulla mattis vulputate ligula. Suspendisse tincidunt, nisl non aliquam convallis, dui augue mattis dui, sed pretium mauris est vel orci. Donec at nisi. Quisque sem tellus, congue vitae, vehicula malesuada, posuere eget, pede. Ut egestas ullamcorper arcu. Donec ut nunc ut justo laoreet semper. Praesent rhoncus, libero at feugiat congue, dui turpis iaculis sem, non placerat nulla purus ac ante. In hac habitasse platea dictumst. Maecenas mollis adipiscing dolor. Nulla ullamcorper diam at dui. Sed ornare, ante quis porta eleifend, urna justo porta nunc, non placerat risus nulla ac dui. Sed non nisl.</p>
<p>Ut at enim. Quisque nec ligula. Pellentesque a elit ut nibh fringilla molestie. Nunc risus. Maecenas nunc. Nam leo urna, bibendum fermentum, semper quis, dignissim ac, augue. Vestibulum sit amet est. Maecenas vitae risus. Ut erat. Donec nibh nisi, euismod sed, faucibus in, aliquet non, lorem. Integer vulputate sollicitudin magna. Nulla facilisi.</p>
<p>Nunc sapien. Nam molestie dolor ac lorem. Donec libero. Fusce vestibulum cursus ipsum. Vivamus molestie, arcu sed semper nonummy, nulla nulla luctus diam, in placerat felis magna id est. Praesent pulvinar pede non lectus. Ut venenatis leo vitae arcu. Etiam porttitor, nulla at bibendum venenatis, sem ante auctor orci, et venenatis velit nisl in arcu. Proin elit. Sed eget arcu sit amet libero congue ornare. Praesent lacinia. Nunc tempus, odio quis tempor vehicula, dolor purus ultrices nisl, eget laoreet leo turpis non augue. Maecenas mollis convallis lectus. Duis quis pede. Vivamus tortor libero, molestie in, accumsan posuere, fermentum at, pede. Donec sollicitudin consectetuer metus.</p>
<p>Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Nulla sed ligula a nisi auctor mollis. Sed dui velit, varius quis, tristique id, consequat id, dui. Curabitur molestie nisi ac ligula. Sed scelerisque risus et urna. Nullam aliquam tortor nec massa. Proin faucibus ante dictum sapien. Vestibulum placerat risus id justo. Quisque vel enim. Donec justo urna, dapibus non, congue ac, pellentesque ut, nunc. Nullam in ipsum quis lacus gravida convallis. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Ut congue quam nec urna. Proin condimentum. Quisque ipsum neque, interdum ac, vestibulum vitae, pretium vel, quam. Ut quis felis. Vivamus ut nunc vitae tellus porttitor tempor. Sed quis est. Vestibulum commodo mi vitae diam. Sed id leo.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/on-everything-pop/contoh-artikel-on-everything-pop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Redaksi</title>
		<link>http://new.rumahfilm.org/blog/blog-redaksi/</link>
		<comments>http://new.rumahfilm.org/blog/blog-redaksi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Dec 2001 02:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://new.rumahfilm.org/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Obtaining wisdom from cinema all around with Eric Sasono FeedFollow on Twitter Merayakan yang pop bersama Hikmat Darmawan FeedFollow on Twitter Melacak potensi ekspor budaya pop Indonesia, sesinetron demi sinetron, bersama Ifan Adriansyah Ismail FeedFollow on Twitter Mengulas belakang layar dunia sinema, bersama Ekky Imanjaya FeedFollow on Twitter Pinsil Tebal, bersama Krisnadi Yuliawan FeedFollow on [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="caps"><a title="Gemar Nonton Pangkal Pandai" href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/"><img class="alignnone size-full wp-image-241" title="Gemar Nonton Pangkal Pandai" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2010/12/blog1.png" alt="Gemar Nonton Pangkal Pandai" width="400" height="80" /></a></p>
<p class="p_special_text">Obtaining wisdom from cinema all around with Eric Sasono</p>
<p class="p_special"><span class="subscribe_rss"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/gemar-nonton-pangkal-pandai/feed/">Feed</a></span><span class="follow_twitter"><a href="http://twitter.com/gemarnonton">Follow on Twitter</a></span></p>
<p><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/on-everything-pop/"><img class="alignnone size-full wp-image-242" title="on Everything  Pop" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2010/12/blog2.png" alt="on Everything  Pop" width="400" height="80" /></a></p>
<p class="p_special_text">Merayakan yang pop bersama Hikmat Darmawan</p>
<p class="p_special"><span class="subscribe_rss"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/on-everything-pop/feed/">Feed</a></span><span class="follow_twitter"><a href="http://twitter.com/hikmatdarmawan">Follow on Twitter</a></span></p>
<p><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/stamboel-keramat"><img class="alignnone size-full wp-image-243" title="Stamboel Keramat" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2010/12/blog3.gif" alt="Stamboel Keramat" width="400" height="80" /></a></p>
<p class="p_special_text">Melacak potensi ekspor budaya pop Indonesia, sesinetron demi sinetron, bersama Ifan Adriansyah Ismail</p>
<p class="p_special"><span class="subscribe_rss"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/stamboel-keramat/feed/">Feed</a></span><span class="follow_twitter"><a href="http://twitter.com/ifanismail">Follow on Twitter</a></span></p>
<p><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/film-is-not-a-dream"><img class="alignnone size-full wp-image-244" title="Film is Not a Dream" src="http://new.rumahfilm.org/wp-content/uploads/2010/12/blog4.gif" alt="Film is Not a Dream" width="405" height="80" /></a></p>
<p class="p_special_text">Mengulas belakang layar dunia sinema, bersama Ekky Imanjaya</p>
<p class="p_special"><span class="subscribe_rss"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/film-is-not-a-dream/feed/">Feed</a></span><span class="follow_twitter"><a href="http://twitter.com/ekkyij">Follow on Twitter</a></span></p>
<p class="p_special_text"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/pinsil-tebal/">Pinsil Tebal, bersama Krisnadi Yuliawan</a></p>
<p class="p_special"><span class="subscribe_rss"><a href="http://new.rumahfilm.org/category/blog/pinsil-tebal/feed/">Feed</a></span><span class="follow_twitter"><a href="http://twitter.com/krisnadi_y">Follow on Twitter</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://new.rumahfilm.org/blog/blog-redaksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

