Setelah saya mengaku-aku diri sebagai kritikus film, saya baru sadar bahwa saya seorang penonton film yang lumayan. Lumayan sering, maksud saya. Film “tertua” yang saya ingat saya tonton di bioskop adalah film Ratapan Anak Tiri (1974) dengan Faradilla Sandy sebagai bintangnya. Saya menonton film itu di bioskop Wira yang sekarang sudah menjadi showroom mobil. Yang paling saya ingat dari menonton film itu, selain saya menangis tentunya, adalah saya terduduk di hamparan box kaca tempat penjualan condiment yang berada di bagian belakang ruang bioskop. Rupanya saya – waktu itu rasanya umur saya belum 6 tahun – “hilang” dan terdampar di sana. Orangtua dan pengasuh saya, sibuk mencari dan menemukan saya ketika sedang intermission (istirahat di sela pertunjukan) terduduk dengan santai memandangi permen-permen di box kaca itu.
Banyak lagi pengalaman saya menonton yang mungkin akan saya cerita satu demi satu nanti sepanjang kisah-kisah kecil ini berjalan. Namun kali ini saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya menonton dan kaitannya dengan pernikahan saya.
Tanggal sudah dipilih yaitu 21 Februari.
Pada tahun 1994, tahun pernikahan saya, tanggal itu jatuh pada bulan puasa. Bukan puasanya yang ingin saya ceritakan benar, tetapi bulan puasa berpengaruh pada penjadawalan bioskop. Pada waktu Maghrib di bulan puasa, bioskop membuat break sehingga pertunjukan film jadi agak molor ke malam hari. Ini membawa pengaruh pada apa yang terjadi kemudian pada malam tanggal 20 Februari 1994 itu.
Sebelum menikah, saya menyempatkan diri menyambangi teman dekat saya, Hikmat Darmawan. Sejak ia memutuskan berhenti kuliah, saya (bersama dengan teman lain seperti Krisnadi Yuliawan) gemar mengunjungi Hikmat untuk ngobrol berlama-lama karena Hikmat memang salah satu orang paling enak di dunia untuk diajak ngobrol. Maka tanggal 20 Februari itu pun saya mengunjunginya.
Singkat cerita, ia berhasil memaksa saya untuk berkomitmen menonton film sebelum saya pulang. Lalu saya pun menuggu, tapi ia tak kunjung bersiap-siap. Sampai malam jadi agak larut, barulah Kami berangkat. Menumpang bis Kopaja dari depan rumah Hikmat di Cilandak, berangkatlah Kami berdua ke Mal Kalibata. Film yang Kami incar ada di sana: Drunken Master 2, dengan bintang Jackie Chen.
Saya sempat protes kepada Hikmat dan bilang padanya bahwa waktu sudah terlalu larut dan saya perlu persiapan buat besok untuk memastikan segala sesuatu. Namun Hikmat dengan gayanya sendiri (yang kenal baik Hikmat pasti tahu gaya apa yang saya maksud) berhasil membuat saya tetap menantikan film itu. Sampai akhirnya pintu bioskop dibuka jam 9 malam. Biasanya bioskop di mal buka terakhir jam 8.30, tetapi karena ada pergeseran waktu di bulan puasa, jadilah pertunjukan dimulai agak larut begini. Dan menontonlah saya malam itu.
Film ini kini menjadi film genre silat Hongkong terbaik bagi saya sepanjang masa. Namun tontonan tetap sebuah tontonan. Saya pulang dengan perasaan bersalah karena tak sempat mengabari rumah (waktu itu saya belum punya handphone dan alat itu belum populer) dan tak sempat melakukan pengecekan akhir soal persiapan pernikahan.
Dengan naik angkutan umum saya pulang ke rumah saya di sekitar kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Sampai di sana, sudah lewat jam 12 malam dan ternyata seluruh keluarga saya sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka semua bingung saya berada di mana dan apa yang saya lakukan menjelang pernikahan saya esok hari. Saya terdiam melihat wajah mereka yang cemas dan kemudian berubah cerah ketika melihat saya masuk. Semua bertanya ‘darimana’ dan sebagainya.
Tentu tak saya bilang kepada mereka bahwa saya menonton film Drunken Master 2 dan melihat Jackie Chen menggebuki orang dengan bambu pecah-pecah. Saya bilang bahwa saya melakukan persiapan ini itu sampai malam (semua hal relatif sudah dibereskan oleh beberapa teman di kampus, tempat saya melakukan pernikahan itu – terimakasih Komaruddin yang baik hati, saya belum sempat mengucapkan terimakasih yang pantas hingga hari ini kepadamu).
Tapi saya menyempatkan diri minta maaf pada semua orang di rumah dan mereka menarik napas lega. Agak lama saya merenung di tempat tidur malam itu mengenang betapa anehnya malam itu: “bachelor party” saya adalah adalah bersama Hikmat Darmawan menonton film Drunken Master 2. Dan esoknya saya berjanji mengikatkan diri sepanjang masa pada seorang perempuan yang kemudian menjadi teman menonton saya hingga kini.***














#1EkkyMay 17, 2011, 19:48
hehehe.jadi teringat pada agustus 2009. saya dan istri beserta kedua mertua saya jauh-jauh ke malaysia dengan 1 tujuan: menghadiri wisuda istri saya di UKM, Bangi. Besok subuh2 harusnya saya sudah siap2 (dan menyetir mobil) sehingga harus persiapan fisik dengan tidur lebih awal.
.
tapi apa yang terjadi? sehari sebelum hari wisuda, saya bertemu dgn amir muhammad yang mengajak saya ke chow kit dll. salah satu pembicaraan adalah tentang wafatnya Yasmin Ahmad, dan bahwa beberapa bioskop memutar Talentime untuk menghormatinya. Saya pun tentu ingin menonton Talentime yang diputar di bioskop dan belum ada DVD-nya kala itu.tapi hanya diputar pukul 11 malam, dan artinya saya akan tiba lewat tengah malam–bioskop di Kuala Lumpur, dan perlu sejam lebih untuk pulang ke Hentian Kajang. tapi Amir memanas-manasi dengan pernyataan:”kapan lagi menonton di bioskop, dan saya akan antar jemput deh!”. walhasil saya pun menonton, dengan janji ke istri saya bahwa segala rencana akan berjalan seperti yg direncanakan.
Dan memang, semua berjalan seperti yg direncanakan–tapi plus menonton Talentime, dan risiko mengantuk dan pegal-pegal di pagi hari karena kurang istirahat.
Begitulah cara saya menghormati almarhumah Kak Min