Festival Cannes baru saja dimulai. Rekan saya, Asmayani Kusrini, melaporkan bahwa festival ini juga diwarnai dengan dukungan kepada Jafar Panahi, sutradara film asal Iran yang kritis terhadap negerinya. Ia dikenai hukuman 6 tahun penjara, dan selama 20 tahun dilarang untuk memberikan wawancara dan meninggalkan Iran. Tapi di Cannes tahun ini, filmnya, In Film Nist (This is Not Film) akan diputar 9 Mei, yang bercerita tentang hari-harinya setelah dihukum dan proses naik bandingnya. Selain itu, ada juga Bé Omid é Didar (Goodbye) karya sutradara Iran lainnya, Mohammad Rasoulov, yang ikut dihukum bersama Panahi.
Saya adalah pengagum Jafar. Perjumpaan pertama saya tentu saja dari film-filmnya. Film pertama yang saya tonton adalah White Balloon, yang skenarionya ditulis Abbas Kiarostami, yang menang di Cannes. Saya menontonnya dalam format Laser Disc yang saya sewa di sebuah penyewaan milik koperasi militer di daerah Guntur. Film kedua adalah yang saya tonton adalah Mirror (film fiksi yang ditengah cerita berubah menjadi film dokumenter dengan cerita yang sama persis.edan! ), yang adalah VCD oleh-oleh dari Agung Yudhawiranata yang baru pulang dari Hong Kong. Film ini, bersama Color of Paradise karya Majid Majidi saya putar di Kine28 pada 5 Oktober 2002.
Dan terbetiklah kabar bahwa Jafar akan menjadi tamu di Jiffest 2002. Maka, saya yang waktu itu adalah wartawan yang mengurusi kanal film di www.astaga.com segera memburunya. Awalnya, saya menonton The Circle, ikut sesi tanya jawab, dan tentu saja berfoto bersama. Tapi kala itu sangat sulit untuk minta wawancara (kalau tidak salah, hanya bersedia diwawancara untuk Kompas, Tempo, dan RCTI). Tetapi saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya dekati penerjemahnya, Hussein, seorang yang saleh dan lancar berbahasa Persia. Ngobrol punya obrol, saya membahas tentang tesis yang baru saya selesaikan, seputar pemikiran Ali Syariati, dan saya pernah mendekati Kang Jalaluddin Rahmat untuk mencari bahan-bahan seputar itu. Dan ia, yang saya duga sangat dekat dengan pemikiran Syiah dan kuliah di Qum, bersimpati pada saya. “Wah Kamu kenal kang Jalal? Ya sudah, saya akan atur wawancara dengan Jakfar,”ujarnya.
Dan tibalah saya berhadap-hadapan dengan Jafar Panahi—saya kira ini salah satu awal pencapaian jurnalistik saya—dan saya tanya banyak hal. Tentang visi dan misinya membuat film, tentang konsep film Islam (yang dijawab dengan: saya bikin film ya bikin film saja. Tidak ada urusan dengan Islam. Ada pun nantinya ada penafsiran ke arah situ, ya itu urusan lain). Salah satu endorsement yang ada di buku saya, A to Z about Indonesian Film, berasal dari hasil wawancara ini, yang belum terpublikasi di astaga.com tapi nanti dimuat di layarperak.com (lihat hasil wawancara lengkapnya di bawah).
Wawancara berlangsung dalam bahasa Persia dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ketika dinyatakan selesai, saya lanjutkan dengan tanya jawab informal (misalnya, dengan menebak nama akhirnya, saya tanya apakah pemeran gadis cilik di Mirror dan White Balloon adalah adik kakak? Dia jawab sambil tertawa:”iya! Tahu aja!”) dia menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar. Nah, kok tadi bahasa Persia?
Usut punya usut, saya tanya ke berbagai pihak, ternyata Jafar sepanjang JIFFEST itu sedang ngambek, sehingga malas berbahasa Inggris. Apa pasal? Pertama kali ia menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno Hatta, dia harus diperiksa oleh keamanan sedemikian rupa sehingga harus diborgol dan diinterogasi dengan waktu yang cukup lama. Karena itulah, dia menghibur diri dengan lebih banyak berjalan-jalan , salah satunya ke pasar antik Jalan Surabaya—tempat ia membeli Patung Budha.
Harry Dagoe juga bercerita pengalamannya mengajak Jafar ke restoran Delila. Ia juga mengirimkan foto bersama antara Jafar dengan filmmaker Indonesia (yang saya ingat: Harry Dagoe, Shanty Harmayn, Riri Riza, dan Mira Lesmana, ah di mana foto itu ya?)
Pertemuan berikutnya adalah Januari 2008, di Festival Film Internasional Rotterdam. Kala itu, ia menjadi jurinya. Saya tidak mau mengganggunya lama-lama, cukup menyapanya dan mencoba mencari tahu apakah dia masih ingat saya.ternyata masih ingat juga.
Setelah itu, saya tidak ada kontak lagi.tapi saya tetap mengikuti filmnya, yaitu Offside yang saya beli DVD bajakannya. Dan muncullah kabar itu, bahwa ia dicekal di rumahnya kala ada perjamuan makan malam, bersama dengan para tamunya. Dan ia pun dinyatakan dihukum 6 tahun penjara dan 20 tahun tidak boleh membuat film. Dan ia dengan tegas menyatakan tidak akan meninggalkan tanah airnya apa pun yang terjadi. Ia pun dicekal tak boleh menghadiri undangan Festival Film Venice (juga salah satu festival film paling bergengsi).
Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya setelah Pemerintah Iran mengetahui bahwa 2 film “terlarang”nya diputar di festival film paling prestisius itu.
Berikut adalah sebagian hasil wawancara saya dengan Jafar Panahi pada 2002 yang pernah dimuat di situs www.layarperak.com.
Jafar Panahi Bicara Film Iran, Hollywood, dan Indonesia
Oleh: Ekky Imanjaya
Pada Jiffest 2002, penulis berhasil mewawancarai Jafar Panahi, sutradara film asal Iran. Dari pertemuan sekitar 30 menit itu, banyak yang dibincangkan, tapi saat itu tidak semuanya diracik menjadi tulisan.
Berikut hasil perbincangan yang belum pernah dipublikasikan, antara penulis dengan pembuat White Balloon (1995, meraih Camera d’Or, Cannes Film Festival 1996), The Mirror (1997, meraih Golden Leopard Award di Locarno Film Festival dan Golden Tulip di Istanbul Film Festival), dan The Circle (2000, menang Golden lion award, Venice Film Festival), Crimson Gold (2003, mendapat Gold Hugo, Chicago Film Festival), dan yang terakhir Offside (2006, juara Silver Berlin Bear, Berlin Film Festival) itu.
Bedanya film Iran dengan film komersil seperti Hollywood adalah, film Hollywood menyajikan segalanya dari satu perspektif. Sehingga penonton pulang dengan perspektif yang sama. Sedangkan film Iran membiarkan para penonton awam dengan penonton lain yang lebih mengerti tentang film yang lebih akan kan berbeda penafsirannya.
Dalam The Circle, film saya, misalnya. Penonton tidak diberi kesempatan untuk diberitahu mengapa wanita-wanita ini dipenjara. Semua tergantung penafsiran.Misal lainnya. Tokoh pertama lebih dieksplorasi dan lebih panjang durasi ceritanya. Durasi ini akan menurun tokoh demi tokoh. Tokoh terakhir adalah yang paling sedikit durasinya. Bagi saya, ini menandakan bahwa yang pertama adalah wanita yang paling idealis, sedangkan yang terakhir adalah yang paling tidak idealis. Film semacam ini adalah alternatif dari menu yang biasa mendominasi bioskop dunia.
Iran dan Indonesia banyak persamaan. Keduanya Negara berkembang dan mayoritas muslim. Tetapi, mengapa film Iran lebih maju daripada Indonesia? Negeri Iran mempunya sejarah film yang lebih lama dari Indonesia. 108 tahun (kini 117 tahun-red) yang lalu kita sudah mulai perfilman. Kita mempunyai beberapa lembaga pendidikan perfilman. Dan setiap tahunnya ada setiap 60 film diproduksi. Fasilitas perfilman juga tersedia, misalnya labolatoriom film.
Indonesia harus berusaha mengambangkan sendiri perfilmannya. Di antaranya harus memperbanyak lembaga pendidikan perfilman. Negara Indonesia mestinya harus mendukung perkembangan filmnya sendiri. Supaya generasi muda Indonesia mempunyai antusias yang tinggi dalam melihat film dari negerinya sendiri. Mereka harus mendukung film Indonesia daripada film luar seperti Hollywood.












