Pak Misbach

Oleh Ekky Imanjaya | 07.06.2011| Komentar (2)

Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H Misbach Yusa Biran, di Sentul City. Saya pergi bersama rombongan Binus School of Film, yaitu Tito Imanda dan Adilla Amelia. Ini adalah beberapa sketsa pemikiran yang sempat saya rekam di ingatan tentang diskusi dengannya.

  1. Pak Misbach mulai membuat Sinematek Indonesia tahun 1971. Awalnya, saat ia dan Asrul Sani bertemu untuk melayat seorang wartawan yang dikenal sangat rajin mendokumentasikan dan mengkliping berita-berita media seputar film dan seni.”Kalau dia sudah meninggal, terus siapa yang meneruskan upaya arsip ini? “. Mereka pun berdiskusi panjang, sebelum akhirnya Misbach yang ambil aksi.
  2. Saat itu, bahkan hingga saat ini, filmmaker sangat susah untuk diyakinkan bahwa mengarsipkan karya mereka sangat penting agar generasi mendatang bisa belajar dari sejarah. Hanya Teguh Karya yang bersedia membantunya, dan karena itulah filmnya terlengkap di Sinematek Indonesia.
  3. Untungnya, saat itu, untuk membuat film harus melapor, jadinya agak blessing in disguise Pak Misbach minta kopiannya dari Asrul Sani, yang kala itu ada di Dewan Film.
  4. Awalnya, Misbach hendak membuat arsip seni, dan film hanyalah salah satunya. “sekarang, kalau kita mau tahu sejarah dan data-data teater dan musik, hendak kemana? Bagaimana penyimpanan lagu-lagu Bing Slamet, misalnya?” ujarnya.
  5. Tahun 1973, Pak Misbach diajak ke Belanda untuk mengunjungi Filmmuseum Amsterdam selama beberapa hari. Dari situlah ia makin terinspirasi untuk membuat lembaga kearsipan film yang modern.
  6. Di saat sekolah, Misbach berteman amat dekat dengan Sobron Aidit. Bahkan mereka sering naik sepeda makan nasi goreng di Pasar Rumput. “Makanannya murah, tapi jalannya jauh”.Polarisasi politik (Misbach aktif di Lesbumi, Sobron orang kiri) membuat mereka tidak mau bertegur sapa. Bahkan, saat Misbach ke Paris, Sobron sama sekali tidak mengontaknya, dan Misbach pun enggan menjenguk rumah Sobron. Hal ini berlangsung hingga Sobron wafat (Misbach menceritakannya dengan suara lirih dan sedih).
  7. Suatu hari, ia ditelpon seseorang:”Misbach, apakabar? Saya sudah rindu. Kapan kita bertemu?”. Misbach, yang tidak tahu siapa penelponnya mempersilahkan datang, dengan penuh tanya. Telepon di seberang ditutup. Tak lama kemudian, istrinya, Nani Widjaya, pulang, seraya member tahu bahwa ia bertemu Sobron di sebuah acara dan Sobron langsung meminta nomor telepon Misbach dan langsung meneleponnya. Rupanya, yang barusan telepon adalah Sobron. Dan itu adalah kontak terakhir mereka. Keduanya tak pernah bertemu lagi.
  8. Usmar Ismail pernah memberinya nasihat: “belajar untuk dilupakan”. Artinya: ilmu pengetahuan dan teori  memang penting tapi tidak boleh mengekang kreativitas, justru harus menunjangnya. “ Sekolah film harus mencetak seniman, bukan karyawan”, katanya. Dan itulah  tujuan utamanya membuat LPKJ yang kemudian menjadi IKJ.
  9. Soal LPKJ, saat itu tercantum jelas bahwa salah satu fungsi Dewan Kesenian Jakarta adalah pendidikan film. Dan Misbah cukup cerewet untuk hal yang satu ini. Tujuannya: “selama ini saya belajar film sendiri.  saya mau juga belajar film yang ‘benar’, dari sekolah”. Maka ia mengundang 5 orang dari 5 cabang seni, yang sudah mengecap pendidikan seni di luar negeri. Beberapa kali pertemuan diadakan untuk membuat konsep, tapi karena masih hal baru, susah untuk membangun kurikulum dan sebagainya. Hingga muncullah orang yang mengambil alih yang bernama Dr. Umar Khayam.
  10. Misbach sekarang  sedang menggarap buku  Sejarah Film periode yang paling krusial: 1957-1965. Kini ia butuh bantuan orang untuk mendapatkan data-data sosial politik masa itu dari koran-koran. “Saya harus gerak cepat, karena ‘waktu’ saya tinggal sebentar lagi”,tuturnya
  11. Nama Usmar Ismail di gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail adalah usulan Misbach. Ia prihatin karena nyaris tidak ada nama filmmaker atau seniman yang dihargai dan diabadikan, minimal sebagai nama jalan (kecuali Benyamin Sueb). Kini Misbach sedang berjuang untuk memberikan nama Gedung Film dengan nama H. Djamaluddin Malik. “Ada sih studio H Djamaluddin Malik, tetapi orang lebih mengenalnya dengan mana studio Persari.
  12. Bagi Misbach, Jamaluddin Malik sama pentingnya dengan Usmar Ismail. Yang satu bapak industri film, yang satu bapak kreativitas film. Jamaluddin secara teknis bagus film-filmnya tapi kurang di cerita. Usmar ceritanya bagus-bagus tapi tidak bisa jual film-filmnya. Keduanya penting”. Oh ya, ketiganya, plus Asrul Sani, bertemu di satu organisasi: Lesbumi. Soal pertarungan ideologi ini, Misbach menyatakan:”Kami saling menakutkan satu dengan yang lain”.
  13. Misbach pernah BT sama SEAPAVAA, asosiasi arsip audio visual se-Asia Pasifik. Pasalnya, itu pembentukan asosiasi itu adalah idenya saat ngobrol-ngobrol dengan beberapa aktivis arsip . “Tapi ternyata, mereka membentuknya di Philiphina, dan tidak melibatkan saya. Artinya, dana juga tercurah ke sana”.

Adzan magrib pun tiba. Nani Wijaya, istrinya, pun baru saja pulang. Maka kami pun berfoto bersama, sebelum pulang. Dan, seperti yang ia lakukan saat saya dan rekan saya Krisnadi Kurniawan berkunjung tempo hari, justru Pak Misbach yang bersemangat segera beranjak masuk dan membawa kameranya sendiri. “Nanti hasilnya saya kirim ke Binus”, katanya. Ia pun mengulangi pesannya: Agar Binus sebagai sekolah film tidak hanya menghasilkan karyawan, tapi seniman. Tepatnya: Seniman yang mampu memahami (dan tidak berjarak dengan) masyarakatnya.

Ekky Imanjaya

Pengajar pada Binus Film School, Universitas Bina Nusantara ini memegang dua gelas master: bidang filsafat dari UI dan film studies dari Universitet Van Amsterdam, Belanda. Ekky dikenal sebagai penulis yang produktif dan sudah menghasilkan beberapa buku dalam bidang film seperti A to Z Film Indonesia, The Backdoors of Jakarta: Jakarta and Its Social Issue in Post-Reform Indonesian Cinema dan beberapa lagi. Ekky juga menyutradarai beberapa film, seperti Macet yang mendapat penghargaan GTZ Sustainable Urban Transport Project, Thailand. Belum lama ini ia menyelesaikan film dokumenternya tentang kelompok musik Tielman Brothers.
Tag/kata kunci: ,

2 KOMENTAR

    #1nurhablisyahApril 11, 2012, 11:24

    Mas, tulisannya keren…pengalaman yang berharga untuk share, mudah-mudahan kita jadi bagian dari cita-cita luhur beliau..Salam

    #2Daniel TuranganApril 13, 2012, 11:40

    saya setuju dengan mas Ekky Imanjaya. kalau ada job ajak ya mas, jadi apa aja siap. saya wartawan tabloid mingguan. saya siap bantu mas ekky. thank’s. daniel. 085883740448 / email dturangan@ymail.com

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808