Eric Sasono
Bekerja sebagai konsultan komunikasi pada beberapa lembaga pemerintah, Eric Sasono menjadikan kritik film sebagai kegiatan sampingannya. Ia pernah menulis skenario film panjang dan menyutradari sendiri satu film pendek sebelum memfokuskan diri pada kritik film.
Ia juga aktif di sebagai sekretaris Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, yayasan yang menyelenggarakan Jiffest. Selain itu, Eric merupakan anggota kehormatan Asia Film Award yang berpusat di Hongkong dan kerap menjadi juri di beberapa festival film internasional.
Contact: eric.sasono@rumahfilm.org • Follow: @gemarnonton
Semua posting dari Eric Sasono
Tahun 2011 adalah tahun yang riuh rendah untuk perfilman Indonesia. Penghentian perdagangan film oleh Motion Picture of America (MPA) ke Indonesia telah menyebabkan bioskop lesu. Hal ini sedikit banyaknya berimbas kepada film Indonesia. Tahun ini tidak ada film Indonesia yang melewati angka 1 juta penonton. Para produser mungkin kini was-was untuk membuat film dengan anggaran yang mahal. Namun belum tentu hal ini berarti turunnya kualitas film Indonesia. Redaktur Rumah Film Eric Sasono mencatat 8 film tahun ini, berkurang dari 9 film yang ia catat tahun lalu. Beberapa film juga belum beredar di bioskop komersial dan masih beredar secara terbatas di festival-festival. Tapi jika kita baca baik-baik catatan Eric ini, tampak ia antusias mencatat ke-8 film itu.
Setelah reda segala ricuh seputar film ? (Tanda Tanya), redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono, mencoba merenungi film itu. Rupanya, film Hanung Bramantyo yang banyak mengundang pujian dan cacian ini memang rawan terhadap pembacaan jahil. Eric mencontohkan satu kejahilan itu di akhir renungannya ini. Tapi, dengan pernyataan pembuatnya bahwa film ini hendak bicara bangsa kita, Eric pun mencoba menempatkan dengan sungguh-sungguh film itu dalam persoalan kebangsaan kita. Agama adalah sebuah persoalan serius bangsa kita. Dan Hanung mencoba memberi jawaban lewat Tanda Tanya, yang justru membuat Eric –dan, semoga, kita– bertanya lebih jauh.
Berasal dari tweet seorang teman, Christian Razukas (@hellochris) yang menyampaikan [...]
Perbedaan agama jadi perhatian banyak sekali pembuat film, diantaranya Benni Setiawan. Lewat film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta ini, Benni mempersoalkan persilangan antara perbedaan agama dan perbedaan budaya dalam sebuah konflik cinta segitiga yang sederhana. Redaktur RumahFilm.Org, Eric Sasono, melihat usaha Benni ini penting sekali karena ia menyodorkan hal-hal yang tak biasa ada dalam film Indonesia sebelumnya.
Belakangan semakin sulit bagi saya untuk membuat daftar “film terbaik” [...]
Bukankah setiap orang punya seorang “ayah Pakistan” yang gagal mencapai [...]