Ekky Imanjaya
Pengajar pada Binus Film School, Universitas Bina Nusantara ini memegang dua gelas master: bidang filsafat dari UI dan film studies dari Universitet Van Amsterdam, Belanda. Ekky dikenal sebagai penulis yang produktif dan sudah menghasilkan beberapa buku dalam bidang film seperti A to Z Film Indonesia, The Backdoors of Jakarta: Jakarta and Its Social Issue in Post-Reform Indonesian Cinema dan beberapa lagi.
Ekky juga menyutradarai beberapa film, seperti Macet yang mendapat penghargaan GTZ Sustainable Urban Transport Project, Thailand. Belum lama ini ia menyelesaikan film dokumenternya tentang kelompok musik Tielman Brothers.
Contact: ekky.imanjaya@rumahfilm.org • Follow: @ekkyij
Semua posting dari Ekky Imanjaya
Pekan-pekan lalu, Rumah Film membagi daftar peringkat versi kami untuk mencatat film-film Indonesia terpenting dalam kurun waktu dekade 2000-2009 di dunia Twitter. Dalam urutan peringkat pula. Ada yang pro dan ada yang kontra, tentu. Namun itu risiko dari bersikap, dan kami siap mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan ini. Mulai hari ini, Rumah Film akan memuat pengantar umum dari masing-masing redaksinya yang terlibat dalam daftar yang “kurang ajar” ini. Dilanjutkan dengan pemaparan singkat untuk setiap film di daftar itu nanti.
Pertama, kami sajikan pandangan dan pengantar dari salah satu redaktur kami, Ekky Imanjaya.
Seperti halnya film, festival film tak sekadar soal menonton. Festival film juga bisa “dibaca” dalam konteks sosial politik yang mengiringinya, seperti yang dilakukan oleh redaktur Rumah Film Ekky Imanjaya yang diundang ke Festival Film Arab di Banda Aceh. Festival film Arab? Kenapa diadakan di Banda Aceh? Apa kaitan Aceh dan Arab? Inilah sepenggal Indonesia yang lain, dan Ekky mengajak kita menengoknya dalam sebuah kunjungan singkat.
Perempuan itu banyak wajahnya dan seolah masalahnya tak ada habisnya: wanita karir, pelacur yang terkena kanker rahim, pelajar SMP yang hamil, ibu rumah tangga yang gendut dan belum punya anak, dan yang sering terdengar: istri yang mendapatkan perlakuan kasar dan zalim suaminya. Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita bercerita tentang para wanita dengan problematikanya yang khas: karena mereka mempunyai rahim, dan karenanya punya peran reproduksi. Para karakter di atas ditangani seorang dokter perempuan.
Redaktur Rumah Film Ekky Imanjaya mengulas film ini dengan menggarisbawahi upaya sang sutradaranya untuk mengubah paradigma kasus gender: dari “korban” menjadi “survivor”. Mereka berupaya melepaskan diri dari kungkungan Bapakisme dan State Ibuism, dua istilah ideologis Orde Baru. Dan kami mengunggahnya di Hari Ibu, ketika seluruh bangsa Indonesia merayakan serta merenungi gerakan perempuan, dan profesi termulia di muka bumi: Ibu.
OPEN SUBMISSION! OK. Video FLESH – 5th Jakarta International Video [...]
ASIAN FEATURE FILM COMPETITION 1. All genres are accepted. 2. [...]
Tadi sore baru saja saya sowan ke rumah pak H [...]