Asmayani Kusrini
Rini pernah bekerja sebagai wartawan majalah berita mingguan Gatra selama 5 tahun sebelum kemudian bekerja sebagai penulis pada program dokumenter Saksi Hidup di TV7. Lalu ia sempat magang di Deutsche Welle, Bonn, Jerman.
Kini Rini tinggal di Brussel, Belgia dan bekerja sebagai koresponden majalah berita mingguan Tempo. Rini banyak melakukan peliputan berbagai festival film, terutama di Eropa.
Contact: asmayani.kusrini@rumahfilm.org • Follow: @
Semua posting dari Asmayani Kusrini
Is it another absurd movie by a crazy Denmark director? Is it a fantastic movie about the end of the world? Is it a feminist movie? Is it a psychological movie?
Para pemenang sudah diumumkan. Gedung Palais Du Cinema sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Redaksi Rumah Film Asmayani Kusrini memberikan refleksi penutupnya dari Festival Film Cannes ke-64 yang diramaikan oleh kontroversi, dari yang beraroma sensasi seperti insiden Von Trier, hingga ke sikap politik yang tegas dengan membela pembuat film yang dibungkam di Iran. Tak lupa, amatan tentang munculnya tema kekhawatiran kita menyangkut masa depan anak-anak di dunia yang kian bergejolak.
Saat di Cannes, Asmayani Kusrini sempat berbincang dengan Nadine Labaki, seorang perempuan sutradara Lebanon yang membuat sebuah film tentang konflik agama di negaranya. Rini terkesan dengan pendekatan Nadine yang mengajukan dongeng yang naif. Kenapa pendekatan naif seperti itu dipakai untuk membincangkan soal keagamaan dan kebangsaan begitu rupa?
Sekali, soalnya adalah kebebasan: betapa sering kita melupakannya sebagai sesuatu yang mahal. Film, kadang-kadang harus menghadapi risiko yang tak kecil. Film, kadang-kadang harus menjadi politik. Dua film politik yang paling ditunggu tahun ini akhirnya diputar di Festival Film Cannes. Kecaman internasional terhadap Pemerintah Iran meningkat. Redaktur Rumah Film, Asmayani Kusrini, melaporkan langsung dari Festival Film Cannes ke-64.

Kebebasan masihlah sebuah kata yang ilusif, di beberapa tempat. Di Iran, misalnya, kata itu jadi terasa mahal bagi beberapa sutradara dan aktivis yang berseberangan dengan pemerintah. Jafar Panahi, sutradara yang telah ikut mengharumkan nama Iran di pentas sinema dunia, kini dilarang membuat film oleh pemerintahnya. Para pencinta film di seantero dunia, bertanya-tanya, bagaimana nasibnya. In Film Nist (This Is Not Film) menjawab tanya itu, tapi juga menerbitkan berbagai pertanyaan menarik. Ini film yang boleh dibilang salah satu film politik terpenting tahun ini di Cannes, dibuat oleh Mojtaba Mirtahmasb yang sebetulnya hendak membuat dokumenter, dan terasa seperti film komedi. Film itu bergerak dalam berbagai kecemasan, Negara bisa menyergap setiap saat, tapi justru menghasilkan permainan-permainan konseptual. Redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini menemui Mojtaba seusai pemutaran perdananya yang, menurut Mojtaba, telah melalui proses mendebarkan, di Palais Du Cinema, Cannes. Rini juga sempat menyaksikan laporan Mojtaba secara online tentang pemutaran perdana itu pada Jafar Panahi, nun di Iran sana. Obrolan dengan Mojtaba ini bisa jadi cermin tentang makna kebebasan kita sendiri, dalam hal pembuatan film, di Indonesia.
Asmayani Kusrini tak bisa menuntaskan rasa penasarannya soal dagang film di Cannes ini sebelum mengunjungi booth milik pemerintah Thailand. “Mari berkunjung ke Thailand,” ajaknya. Terus terang, kunjungan ini membuat rada iri hati. Simak laporannya.