Rumah bagi Sinema Obskur – Catatan II dari 11th Jeonju International Film Festival 2010

Oleh Eric Sasono | 10.07.2010| Komentar (1)

Dinding toko di Cinema Street sepanjang tahun

Setiap festival film punya karakter berbeda, sebagaimana setiap film juga punya sasaran penonton berbeda. Maka pembedaan “film festival” dan “film komersil” seperti yang dikenal di lapak-lapak DVD bajakan di negeri kita sebaiknya dibuang jauh-jauh karena pembedaan seperti ini hanya bikin salah kaprah berkepanjangan. Lihat bagaimana ragam film diputar di berbagai festival film di Korea Selatan. Selain Pusan yang berusaha mencakup semua jenis film, ada Pucheon International Film Festival (PIFFAN) yang memutar film-film fantastik (Pintu Terlarang karya Joko Anwar menang di seksi kompetisi festival ini tahun ini) dan ada JIFF yang memang ditujukan untuk memutar film independen dan eksperimental. Selain ketiga festival besar di Korea ini, ada lagi festival film lain yang lebih kecil seperti Cinema Digital Seoul yang dikenal dengan akronim Cindi, ada Jecheon Film and Music Festival di kota Jecheon dan masih banyak lagi.

Karena JIFF adalah rumah bagi sinema independen dan eksperimental, maka tentu film semacam itu pula yang saya harapkan akan bisa saya tonton di sini. Visi itu tercermin dalam berbagai program JIFF 2010, juga pada film pembuka festival. Film pembuka JIFF 2010 adalah sebuah film berjudul Should’ve Kissed karya sutradara Korea, Jinoh Park, yang bersekolah dan tinggal di Amerika Serikat.

Should’ve Kissed mengisahkan tentang seorang Korea yang tinggal di New York. Ia berambisi menjadi seorang aktor. Ia pergi dari satu audisi ke audisi lainnya tanpa hasil. Sambil menunggu datangnya pekerjaan berakting, ia menyanyi di sebuah bar. Suatu malam ia bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki pengalaman serupa dengannya: ingin menjadi aktris tetapi tak kunjung mendapat peran. Akhirnya mereka menjalani malam itu berduaan di kota New York.

Sepintas sinopsis ini terbaca seperti sebuah kisah cinta biasa. Namun Should’ve Kissed sama sekali bukan kisah cinta. Film ini dibuka dengan solilokui tokoh laki-laki Korea itu (diperankan oleh Jinoh sendiri) di depan poster film Taxi Driver. Ia seperti berbincang dengan Travis Bickle, tokoh yang diperankan oleh Robert DeNiro dalam film ini. Ia bercakap-cakap sendirian tentang sulitnya menjadi aktor dan betapa kagumnya ia pada DeNiro yang disapanya “Bob”. Semua ini disajikan di shot pertama film itu. Lalu kebanyakan shot di film ini adalah close-up, dan tak ada sama sekali shot landscape kota New York. Tokoh-tokohnya egotistik, melulu bicara tentang diri mereka sendiri, bagai sebuah cara Jinoh untuk meledek stereotype New Yorker. Homage terhadap Taxi Driver terlihat dimana-mana, tentu termasuk line “are you talking to me?” yang monumental itu. Jinoh juga tak pusing pada plot, drama, bahkan konteks bagi karakter. Tak ada karakterisasi dan perkembangan karakter. Film ini berjalan bagai fragmen demi fragmen yang menegaskan keterbatasan sekaligus previlese individu untuk bisa menjadi subyek sebuah karya sinema. Terus terang saja, Should’ve Kissed adalah sebuah film yang sulit untuk jadi film pembuka sebuah festival.

Tapi inilah Jeonju International Film Festival! Jika festival lain akan berkompromi memberi crowd pleasure pada film pembuka, festival ini menjadikan film pembuka sebagai penegas karakter festival mereka yang berpusat pada semangat independen dan eksperimen. Pilihan-pilihan mereka memang mencerminkan semangat itu.

Selain seksi Stranger than Cinema yang sepenuhnya berisi sinema eksperimental, seksi retrospeksi dan homage diberikan kepada para sutradara obskur. Tahun ini, sutradara yang diretrospeksi adalah Pedro Costa dari Portugal – yang dijuluki Samuel Beckett-nya sinema – dan Romuald Karmakar dari Jerman (yang salah satu filmnya Himmler Project berisi orang membaca buku sepanjang durasi sekitar 120-an menit) serta sutradara film dokumenter Korea, Kim Dong-Won. Homage diberikan kepada Miklos Jancso, sutradara asal Hungaria yang sudah berusia 90 tahun.

Eksperimen yang menabrak batas terluar sinema juga bisa dilihat pada Jeonju Digital Project (JDP) yang merupakan proyek unggulan festival ini. Dan JDP inilah yang akan saya ceritakan di sini.

JDP adalah proyek inti yang dibanggakan oleh Jeonju International Film Festival. Sejak tahun 2000, festival ini memilih tiga sutradara untuk diberi dana 50 juta won (sekitar Rp 450 juta) guna membuat film berdurasi sekitar 30 menit dengan menggunakan teknologi digital. Proyek ini diberikan kepada sutradara yang pada buku program disebut sebagai “paling bergairah untuk menemukan estetika baru dalam karya-karya mereka”. Dengan berdasar pada gairah itu, maka diharapkan bahwa teknologi digital tidak semata-mata dipandang secara deterministik mendefinisikan bentuk sinema, tetapi dilihat sebagai salah satu kemungkinan yang harus diakrabi oleh pencarian estetika baru itu. Sebuah upaya yang menarik untuk mengeksplorasi terus sinema sebagai bentuk seni, apapun bentuk teknologinya.

Tiga sutradara yang dipilih tahun ini untuk berkarya dengan dana dari JDP adalah sutradara film eksperimental Amerika James Benning, sutradara Kanada Denis Côté serta sutradara muda Argentina Matiás Piñero. Saya sempat menonton ketiga film proyek JDP tahun ini.

Film James Benning, Pig Iron, adalah film berdurasi 31 menit berisi satu shot tunggal dengan kamera tak bergerak yang memperlihatkan lori raksasa pengangkut bijih besi yang pergi dan datang dengan sangat lambat meninggalkan tempat peleburan besi di pabrik besi di HKL Steelwork, Duisburg, Jerman. Lori raksasa itu berada di latar depan sementara di latar belakang terlihat bunga api berpercikan dari peleburan besi itu, memberi kesan terjadinya proses pembentukan bijih besi. Lori itu berangkat dengan lambat dan ruang jadi kosong. Beberapa saat layar hanya berisi gambar terowongan kosong, imaji pabrik dan percikan api di kejauhan. Kemudian lori itu kembali, lantas kita berhadapan kembali dengan mesin besar yang tampak mengerikan itu, tetap dengan percikan api yang tak teratur di latar belakang.

Jelas sekali bahwa Benning memberi homage kepada “film kereta”. Kereta yang datang dan pergi ke stasiun adalah salah satu subyek yang paling sering difilmkan di awal sejarah medium ini. Lumiere bersaudara hingga Ozu Yasujiro pernah membuat “film kereta”, dan salah satu “film naratif” paling awal bercerita tentang perampokan di kereta api, The Great Train Robbery. Tapi jika “film kereta” umumnya menggambarkan kereta yang sedang bergerak cepat dan sinema jadi simbol bagi gerak cepat itu, Benning mengubahnya menjadi kereta yang stabil diam dan nyaris tak bergerak selama sekitar sepuluh menit sebelum akhirnya bergerak dengan sambat lambat seperti ulat bulu. Pada saat kereta diam, tak ada pergerakan (movement) sebagaimana prasyarat definisi film sebagai sebuah moving pictures, kecuali gambar percikan api yang tampak seperti proses yang panas dan keras. Pendefinisian “gerakan” pada moving pictures ini berada pada gerakan kereta itu sendiri dan pada obyek “yang berada di luar layar” sebagaimana kredo filmmaking yang dipakai Ozu. Namun dengan tiadanya drama dan minimnya gerak dalam Pig Iron, maka karya Benning ini benar-benar memberi tantangan terhadap batas pengertian sinema dan moving pictures.

Karya Denis Côté, Enemy Lines, memberi tantangan yang berbeda. Ia mencoba menggambarkan maskulinisme melalui tiruan adegan perang. Enam orang laki-laki berpakaian tentara tampak bersiap dengan senjata terkokang di tengah hutan. Mereka menunggu dan melempar granat asap ke dalam rumah-rumah gubuk yang tampak ditinggalkan. Tak ada yang keluar dari rumah-rumah itu, karena memang tak ada musuh. Tentara-tentara itu menyerbu dan tak menembak sesiapa di dalam gubuk. Denis, seperti pertanyaannya di buku program, sedang menggambarkan bagaimana maskulinitas sebagai hal yang tersia-sia. Filmnya berpusar pada gagasan tentang maskulinitas dan tindakan yang dilakukan maupun yang tidak dilakukan oleh karakter-karakternya. Lewat tiruan adegan perang-perangan ini, ia ingin bercerita bahwa ide tentang perang lebih menarik ketimbang perang itu sendiri.

Terus terang saja, karya Denis Côté membuat kening saya berkerut. Ungkapan yang digunakannya memang mengacu pada film-film perang Hollywood yang mengandalkan otot dan senjata besar. Penyerupaan perang dengan ide maskulinitas terasa guyah sekali mengingat ada film perang yang tak selalu mengandalkan otot bagai Rambo. Ada film-film perang lain semisal The Thin Red Line (Terrence Malick) atau Ivan’s Childhood (Andrei Tarkovsky) yang jauh dari penggambaran maskulinitas. Maka karya Denis Côté ini jadi seperti kritik terhadap agama dengan hanya menyandarkan argumen semata pada manipulasi kaum fundamentalis terhadap agama. Landasan yang menjadi pijakan bagi subyek film Denis ini lemah bagi saya. Intinya, saya tak suka pada film ini.

Film ketiga dalam proyek ini adalah Rosalind karya Matiás Piñero. Melihat karya ini, yang terjadi pada diri saya mirip sebuah proses jatuh cinta: dari mata turun ke hati. Sinematografi yang dipilih Piñero adalah sebuah pintu masuk yang hangat, intim dan akrab bagi pengenalan subyek film ini yaitu Luisa (Maria Villar) seorang aktris drama yang memerankan tokoh Rosalind dalam latihan pementasan drama Shakespeare, As You Like It. Piñero membiarkan sinar matahari berwarna kuning emas jatuh ke kulit Latin yang kecoklatan. Suasana hangat tercipta, apalagi lokasi yang digunakan Piñero adalah hutan sub-tropika dengan daun warna-warni.

Luisa bersama sekelompok aktor dan aktris lain sedang berlatih untuk pementasan drama itu dan mereka membaca naskah Shakespeare itu dalam terjemahan bahasa Spanyol. Mereka membaca dengan sangat lincah dan cepat sehingga saya tak bisa mengikuti cerita dengan baik. Apalagi saya belum membaca kisah asli As You Like It, sehingga sebagian besar saya tak mengerti isi dialog mereka.

Namun yang ajaib, dialog itu membentuk sesuatu yang lain: ritme. Ritme ini berubah-ubah sepanjang 43 menit durasi film dan ia menjadi semacam musik yang mengiringi gambaran karakter Luisa yang berkembang sepanjang latihan itu berlangsung. Gaya baroque Piñero terlihat sekali dengan kecenderungan ketidakteraturan plot – belakangan saya temukan gaya baroque yang lebih kuat dalam film panjangnya yang saya tonton di JIFF 2010 juga, They All Lie.

Ketika Luisa dan kelompoknya selesai latihan, mereka bermain kartu yang saya tak ketahui aturannya. Sekali lagi, Piñero membuat ritme lewat dialog cepat dan kamera yang tak berambisi mengoreksi gambar. Hasilnya adalah sesuatu yang saya rasa menjadi keunggulan besar Piñero: filmmaking sebagai sarana untuk menggambarkan dan membagi rasa kebersamaan. Belakangan saya ketahui bahwa ternyata memang itulah kredo Piñero: filmmaking sebagai perwujudan rasa kebersamaan. Dan ketika cerita tiba-tiba terputus, saya merasa keriangan sekalgus misteri film itu masih tertinggal, sebuah aftertaste yang menyenangkan dan tak ingin segera terhapus.

Menonton ketiga karya dalam Jeonju Digital Project ini, saya tahu saya sedang berhadapan dengan garis depan sinema. Sinema, dengan memanfaatkan teknologi digital, masih terus berkembang dan berpeluang mengeksplorasi kemungkinan medium itu menjadi karya seni yang tak semata menjadikan konsep audience sebagai landasan berkarya, apatah lagi memandang audience semata-mata sebagai konsumen.

JIFF dan Jeonju Digital Project tampak sekali percaya pada daya hidup sinema sebagai seni dan memberi tempat besar untuk itu.

* * *

Eric Sasono

Bekerja sebagai konsultan komunikasi pada beberapa lembaga pemerintah, Eric Sasono menjadikan kritik film sebagai kegiatan sampingannya. Ia pernah menulis skenario film panjang dan menyutradari sendiri satu film pendek sebelum memfokuskan diri pada kritik film. Ia juga aktif di sebagai sekretaris Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, yayasan yang menyelenggarakan Jiffest. Selain itu, Eric merupakan anggota kehormatan Asia Film Award yang berpusat di Hongkong dan kerap menjadi juri di beberapa festival film internasional.
Tag/kata kunci: , ,

1 KOMENTAR

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808