Surat itu tiba dari jauh. Dari sebuah negeri yang warga negaranya tidak bisa sepenuhnya menikmati hak kebebasan berekspresi. Ditulis oleh Jafar Panahi dengan muram tapi tak kehilangan semangat. “The reality of being alive and the dream of keeping cinema alive motivated us to go through the existing limitations in Iranian cinema”.
Bersama surat itu, Jafar juga berhasil menyelesaikan dan mengirimkan filmnya In Film Nist (This Is Not Film), film yang mendokumentasikan hari-harinya sejak menyatakan banding terhadap keputusan hakim yang menghukumnya 6 tahun penjara dan 20 tahun larangan membuat film serta aktivitas aktivitas lainnya yang berhubungan dengan kebebasan berekspresinya sebagai sutradara. Bersama dengan In Film Nist yang akan diputar pada festival Film cannes Kamis 19 Mei mendatang juga akan ditayangkan Bé Omid é Didar (Goodbye) karya sutradara Iran lainnya, Mohammad Rasoulov yang ikut dihukum bersama Panahi.
Tidak ada yang tahu pasti akan bagaimana nasib Panahi dan Rasoulov di Iran nanti setelah film mereka nanti ditayangkan. Tapi upaya mereka mengirimkan film tersebut dalam kondisi dibawah tekanan adalah tindakan yang sungguh berani. In Film Nist dan Bé Omid é Didar adalah pesan kepada dunia bahwa sinema punya kekuatan yang tak bisa diukur dampaknya.
Kesediaan Festival Film Cannes untuk menayangkan film ini di seksi pemutaran khusus dan Un Certain Regards, menjawab banyak pertanyaan mengapa Festival Film Cannes akan selalu menjadi tempat prestisius sebagai etalase karya para pembuat film. Diusianya yang ke 64, festival film yang dimandori oleh Thierry Fremaux ini tidak hanya menunjukkan kepiawaiannya menjaring karya-karya maestro, mulai dari Terrence Malick hingga Lars Von Trier, tapi festival ini juga paham betul putaran dunia politik yang banyak mempengaruhi karya-karya pembuat film dari berbagai belahan dunia.
Dengan hadirnya film Jafar Panahi dan Mohammad Rasoulov, berarti juga menunjukkan sikap politik Festival Film Cannes. Dengan segala kemegahannya, festival ini juga menyediakan pentas terbuka bagi para pembuat film dari negara – negara yang sedang bergolak. Tahun ini giliran Mesir dan Tunisia. Bagaimana kondisi perfilman dinegeri-negeri yang sedang dalam masa transisi itu? Seberapa banyak yang kita tahu tentang industri film di negeri mereka? Bagaimana para sutradara ini berkarya di negeri-negeri yang tidak bisa menikmati kebebasan berekspresi seperti mereka yang di Eropa maupun Amerika?
Dari Festival Film Cannes ke 64, sepanjang 10 hari ke depan, selain melaporkan perkembangan festival ini setiap hari, Rumah Film juga akan menyoroti khusus fenomena karya-karya film dari negara-negara yang sedang dalam masa transisi politik. Ini sekaligus menunjukkan penghargaan atas upaya mereka mengangkat masalah dalam negeri mereka untuk menjadi bahan diskusi dan bisa jadi pelajaran bagi negeri negeri lain. Lewat sinema, mereka bicara. Lewat sinema, kita berdialog. Lewat sinema, kita berbagi, tanpa mengabaikan fakta bahwa orang-orang seperti Jafar Panahi inilah penghargaan dunia sinema sesungguhnya harus diberikan.
Let’s keep cinema alive, and welcome to Festival Film Cannes !














1 KOMENTAR