
Film Ayat Ayat Cinta (AAC) yang sejatinya akan dirilis pada tanggal 29 Desember 2007, seperti yang dipromosikan selama ini, mengalami penundaan jadwal tayang. Hanung Bramantyo sebagai sutradara AAC memberi keterangan bahwa film ini akan tayang bulan Januari karena masih adanya kendala teknis dalam proses penyelesaiannya. Hanung tidak merinci apa yang disebutnya dengan kendala teknis itu. Hanung hanya menambahkan bahwa AAC adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibanding dengan 6 film yang pernah dibuatnya sebelumnya.
Film ini sepertinya telah menjadi sangat personal bagi Hanung sendiri. Membaca tulisan di blognya kita akan merasakan itu. Termasuk di dalamnya adalah kekuatiran akan diterima atau tidaknya film ini. Terlebih kepada pembaca fanatik novel Ayat-Ayat Cinta, novel yang menjadi sumber adaptasi. Hanung menulis dengan emosional “Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan film dengan novelnya. Lantas jika tidak sama dengan novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal islami dalam novel tidak tampak, tidak terasa.” Lebih dalam lagi ketika Hanung menyitir kata-kata ibunya yang menurutnya terus menerus terngiang “ Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu”.
Hanung merasa tidak sedang membuat film kodian. Ini adalah idealismenya. Dia sedang membuat film yang diadaptasi dari novel best seller yang kemunculannya sangat fenomenal. Novel yang ada di tangan saya ini sudah cetakan XXVII bulan November 2007. Cetakan pertamanya adalah desember 2004. Tidak salah jika dibilang fenomenal. Selain sebagai novel best seller, novel ini disebut juga sebagai novel pembangun jiwa yang tujuan utamanya adalah dakwah. Mengadaptasi novel berbobot menjadi film adalah sebuah tantangan besar bagi sutradara, menurut Susan Sontag ini adalah kerja seni yang terhormat. Karena pesan dakwah yang kental dalam novel ini tantangan itu menjadi ganda. Mengerti saya kemudian kenapa Hanung menjadi kuatir.
Faktor di atas membuat film ini wajib ditunggu. Dari hasil googling saya tampaknya resmi bahwa AAC akan dirilis pada tanggal 14 Februari 2008 bertepatan dengan hari Valentine yang tidak sedikit mengundang protes karena dinilai tidak tepat secara Ayat-Ayat Cinta adalah film yang bernafaskan islam dan penuh dengan dakwah di dalamnya.
Mungkin jika novel ini bukanlah sebuah novel best seller yang pencapaian sastranya menurut beberapa kritikus juga bagus dan tidak punya beban dakwah, Hanung tidak akan menjadi kuatir. Hanung sebelumnya telah membuat film yang ceritanya mengadapatasi dari novel yaitu Jomblo yang “hanya” berhasil secara komersil. Novel ini tidak mempunyai beban untuk diadaptasi menjadi film. Dalam bahasa Susan Sontag adalah “ It became a dictum that cinema was better nourished by pulp fiction than by a literature “
Sebagai contoh Birth of Nation (D.W. Griffith, 1915) yang banyak dipuji sebagai film modern pertama merupakan adaptasi novel sampah karya Thomas Dixon. Sedang film Darah dan Mahkota Ronggeng (Yazman Yazid) merupakan sebuah contoh kegagalan sutradara dalam mengadaptasi novel sastra, yaitu Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.
Louis Giannetti membuat tiga model bagaimana seorang sutradara melakukan pendekatan dalam proses adapatasi novel ke film, yaitu loose, faithful dan literal. Loose adalah pendekatan di mana sutradara hanya mengambil ide, situasi atau karakter dari sumber literatur kemudian mengembangkannya secara bebas dan independen. Contoh yang paling terkenal adalah Throne of Blood karya Akira Kurosawa yang diadaptasi dari Macbeth karya Shakespeare. Adaptasi ini dianggap berhasil malahan karena Kurosawa tidak berusaha mengikuti sepenuhnya Macbeth, kekuatannya bertumpu pada sinematik dan bukan verbal.
Faithful adalah mencoba untuk menciptakan kembali sama seperti sumber literaturnya dalam bahasa film. Andre Bazin, seorang krikus film yang besar di masa French New Wave, menganalogikannya sebagai seperti seorang penerjemah buku yang mencari padanan kata. Walau sebenarnya tidak terlalu pas tapi semangatnya seperti itu. Film-film John Huston termasuk dalam pendekatan ini. Rainer Werner Fassbinder, seorang sutradara Jerman yang terkenal, melakukan yang lebih ketat lagi. Dalam filmnya yang berjudul Berlin Alexanderplatz, Fassbinder sangat setia pada bukunya hingga perparagraf tidak heran kemudian jika durasi film tersebut menjadi 15 jam 21 menit.
Literal biasanya merupakan adaptasi dari naskah-naskah drama. Karena dalam drama juga terdapat sebuah aksi dan dialog di dalamnya, sutradara hanya akan mempunyai tantangan dalam persoalan ruang dan waktu. Hal ini akan berhubungan dengan pemilihan gerak kamera dan teknik editing.
Sejarah sudah membuktikan bahwa pendekatan metode apapun yang dilakukan dalam proses adaptasi, mampu dan bisa untuk menghasilkan film yang baik. Namun kendala-kendala di luar film sebagai media membuat kebebasan itu terpasung. Sutradara menjadi tidak independen. Nabi film di belahan Perancis memang menyerukan konsep auteur tapi menjadi tidak berarti karena kendala tadi, seperti pemegang modal dan penulis buku aslinya sendiri untuk menyebut sedikit contoh.
Novel Ayat-Ayat Cinta ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy biasa dipanggil Kang Abik. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda desa miskin bernama Fahri bin Abdillah yang merantau ke Mesir, Kairo untuk bersekolah di Universitas Al Azhar. Dalam novelnya, periode waktu yang dipakai adalah masa ketika Fahri sedang menyusun tesis untuk S-2nya. Fahri adalah sosok islam yang berperilaku Islami. Dalam pengenalan tokoh ini, Kang Abik memulai dengan menggambarkan karakter Fahri yang berkemauan kuat dan teguh memegang janji.
Hari itu sangat panas di Kairo,cuaca sangat buruk. Suhu 41 derajat celcius. Padahal hari itu adalah jadwal untuk talaqqi (belajar langsung face to face dengan seorang syaikh atau ulama) pada Syaikh Utsman Abdul Fattah seorang ulama besar di Mesir. Pada Ulama besar ini, Fahri belajar ilmu tafsir dan membaca Al-quran dengan riwayat tujuh imam. Tidak sembarang orang yang bisa diterima menjadi murid Syaikh Utsman. Mereka diuji secara ketat. Yang diuji adalah hafalan Al-Quran tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Di tahun itu hanya sepuluh orang yang diterima salah satunya adalah Fahri. Di sini Kang Abik juga mengenalkan Fahri sebagai seorang yang cerdas. Pengenalan karakter Fahri menjadi sentral dan teramat penting dalam novel ini. Karena karakter Fahri adalah pengerak dari semua peristiwa menjadi pesan moral yang ingin disampaikan penulisnya kepada pembacanya. Pendeknya karakter Fahri adalah karakter seorang islam yang Kaffah. Fahri juga tidak bersentuhan dengan perempuan yang bukan istri atau mahramnya.
Fahri bersama teman-temannya tinggal bertetangga dengan keluarga Mesir beragama Kristen Koptik yang sangat bersahabat. Yang paling dekat dengan keluarga itu adalah Fahri. Kamar Fahri tepat di bawah kamar anak perempuan keluarga Kristen Koptik itu. Namanya Maria. Walau berstatus Kristen, Maria suka Al-Quran bahkan dia hafal beberapa surat Al-Quran. Yang paling disukainya adalah surat Maryam seperti namanya. Maria sulit bergaul dengan lelaki tetapi dengan Fahri dia merasa nyaman dan kemudian jatuh cinta kepadanya. Di sini Fahri digambarkan seorang yang inklusif dalam bermasyarakat tapi tetap eksklusif dalam beriman.
Karena karakternya yang sangat sempurna Fahri dicintai oleh empat wanita sekaligus. Fahri yang juga mahir menyitir puisi-puisi romantis dari penyair Perancis, bukan cuma membuat perempuan berbunga-bunga didekatnya tapi tergila-gila bahkan jatuh koma. Perempuan yang menjadi kehilangan akal sehat karena cinta adalah Noura, perempuan yang sangat naas hidupnya. Noura mengalami kekerasan oleh ayahnya dan waktu bayi tertukar di rumah sakit. Berkat pertolongan Fahri, Noura menemukan kebahagian dan ayah sebenarnya. Namun cinta menggelapkan akal sehatnya, dia hamil dan menuduh Fahri yang melakukannya. Di Mesir seorang pemerkosa warga asli Mesir hukumannya adalah gantung. Berbeda bila yang diperkosa misalhnya adalah warga negara lain. Fahri dalam kesusahan. Dia dipenjara dan disiksa. Tapi Fahri masih dapat bersyukur dan bertakwa.
Fahri saat itu sudah menikah dengan Aisha, perempuan bercadar ber ayah Jerman, beribu Turki dan nenek Palestina. Fahri mengenalnya di sebuah trem, dalam perjalanan belajar ke Syaikh Utsman. Aisha adalah seorang mahasiswi jurusan psikologi. Aisha sangat sedih. Dia sedang hamil. Dia tidak ingin anaknya yatim. Aisha yang juga seorang islam yang taat kehilangan pegangan. Kesedihan menggelapkan imannya. Aisha mengutarakan rencanannya kepada Fahri untuk berdamai dengan keluarga Noura dengan memberikan sejumlah uang untuk menarik tuduhan. Uang bukanlah masalah. Aisha diwarisi kekayaan jutaan dolar dari keluarganya. Fahri menolak. Tidak mungkin baginya melanggar perintah Tuhan. Tidak mungkin baginya untuk menyuap.
Satu-satunya saksi yang bisa membebaskan Fahri dengan membuktikan bahwa Noura berbohong dan merekayasa kejadian pemerkosaan itu adalah Maria namun sayangnya Maria dalam keadaan koma. Satu perempuan lagi yang jatuh cinta pada Fahri adalah Nurul, seorang anak kyai yang juga sedang belajar di Al-Azhar. Lika-liku cinta, romantisme dan Fahri sebagai seorang pemuda islam yang sempurna menjadi tema besar novel ini.
Dalam film AAC rasanya memang tidak ada pilihan bagi Hanung untuk setia kepada novelnya. Saya tidak melihat alternatif lain. Ini adalah film dakwah. Film yang seharusnya membangun jiwa. Hanung tidak bisa bermain-main ala Kubrick. Dan tampaknya Hanung tidak akan bermain-main. Selain memang novel ini tidak punya lapisan (layer) yang banyak untuk ekplorasi cerita. Usaha untuk syuting di Kairo sudah dicoba walaupun akhirnya gagal karena anggaran yang tidak mencukupi dan izin yang tidak didapat. Usaha untuk setia pada novelnya yang bersetting Kairo telah dilakukan. Syuting diputuskan di India untuk menangkap daya magis Kairo dan sungai Nil. Sebagian lagi di syut di Jakarta dan sisanya akan dilakukan dengan tehnik CGI.
Melihat castingnya, Fedi Nuril sebagai Fahri membuat beberapa orang berkomentar bahwa Fedi Nuril bukan sosok dalam bayangan mereka tentang Fahri. Itu biasa. Yang lebih menjadi perhatian saya adalah kualitas Fedi Nuril sebagai seorang aktor. Belum pernah saya melihat aktor satu ini tampil cemerlang dan ngerinya dia memainkan karakter utama yang sangat kuat bahkan berkarisma. Sangat disayangkan bahwa untuk sesuatu yang menjadi kekuatan yang maha penting dalam naratifnya, dipasang pemain berkelas sinetron. Semoga saya salah dan ada anomali dalam kasus ini.
Sesuatu yang baru dan akan menarik dalam film ini adalah bahasa yang digunakan. Ini jika Hanung akan setia pada cerita novelnya. Karena tokoh-tokohnya banyak orang asing maka bahasa yang digunakan harusnya asing juga. Aisha (Rianti Cartwright) istri Fahri fasih berbahasa Jerman dan sedikit patah-patah dalam berbahasa Arab. Sebaliknya Fahri sedikit berbahasa Jerman dan mahir berbahasa Arab. Mayoritas bahasa yang digunakan dalam imajinasi novel adalah bahasa Arab. Tentu saja dalam novel secara tulisan adalah bahasa Indonesia. Karena media novel dan film berbeda maka tidak bisa di film hanya diimajinasikan saja dalam bahasa Arab. Dalam cerita novel, kata diproses lewat imajinasi pembacanya sedangkan dalam film kata telah diubah langsung menjadi gambar, tanpa ada hutang budi imajinasi penontonnya. Jika di film dialog yang digunakan adalah bahasa Indonesia maka film ini bisa disebut gagal. Konteks pembauran dan nilai-nilai sosiologis dalam film ini sangat kental. Penggunaan dialog bahasa Indonesia menciderai maksud-maksud itu.
Kalau melihat komposisi pemainnya, rasanya akan lebih tepat penggunaan dubbing. Ini merupakan praktik yang biasa. Sutradara besar macam Fellini pun melakukannya. Jadi pemakaian bahasa asing dalam film ini harusnya bukan bagian kendala seperti yang saya sebutkan di atas. Penonton Indonesia bisa menikmati lewat subtitle.
Catatan penting lain adalah romantisme yang akan dibangun oleh film ini. Romantisme merupakan elemen penting dalam cerita di novel. Ia adalah bagian dakwah yang penting. Dalam novel, Kang Abik ingin menunjukkan menjadi islam yang kaffah bukan berarti tidak bisa romantis. Ada penerjemahan ulang atas romantisme itu sebagai romantisme ala timur bukan barat: romantisme yang “Islami”. Dalam percakapan dengan seorang teman saya, dia bilang dia suka buku ini karena begitu romantisnya Fahri. Penggambaran romantisme dalam teks menjadi terasa wajar. Lain ceritanya ketika romantisme itu muncul dalam bentuk gambar. Ada pemahaman yang harus disiasati secara bijak. Bagaimana sutradara akan menampilkan romantisme ini lewat gambar akan menjadi sebuah tantangan. Jika Aisha saja menutup auratnya saat mandi, apakah dalam film Fahri dan Aisha yang sedang berpelukan mesra di jendela sambil minum dan memandang sungai Nil akan menjadi bagian dalam adegan film? Dalam novel deskripsi romantisme di adegan jendela kamar itu begitu kuat. Tentu pada prosesi perkawinan yang penuh aura cinta juga butuh kemampuan mengolah mise en scene yang baik. Sehingga proses transformasi kata menjadi gambar dalam konsep romantisme itu bisa hadir dalam layar dan menggugah penonton.
Karena dalam bayangan saya, romantisme islam adalah romantisme yang privat. Apa saya akan melihat seorang berjilbab yang melepas cadarnya dan menjatuhkan kepalanya di dada lalu sang suami mengecup keningnya? Bagaimana Hanung membuatnya? Ini adalah bagian lain yang saya sangat tunggu-tunggu.
Seseorang di sebuah forum dunia maya berujar,“ sudah jamak buku yang bagus ketika diadaptasi menjadi film hasilnya malah buruk “. Saya sebaliknya malah berharap banyak dengan film ini. Membaca blog Hanung membuat saya semakin ingin menontonnya. Fassbinder mampu membuat Berlin Alexanderplatz dengan kesetiaan yang sangat pada bukunya. Dia mencintai buku itu sejak dia berumur 15 tahun, membuatnya menjadi sangat personal. Katanya dalam hatinya, dia akan membuat film berdasarkan buku itu. Film berdurasi 15 jam lebih tercipta dan dipuji oleh kritikus.
Hanung menulis bahwa AAC adalah film idealismenya. Dia menyitir kata-kata ibunya. Ini adalah film yang personal. Ini tidak akan seperti film-film remaja dan horror yang banyak beredar di bioskop, begitu tulisnya. Jadi tidak ada alasan lagi bahwa film ini akan menjadi film sinetron. Jadi Hanung, Saya tunggu 14 Februari.












