Catatan IV Festival Film Cannes ke 64: “Kita yang Harus Mendidik Pemerintah”

Oleh Asmayani Kusrini | 19.05.2011| Komentar (0)

Teras paviliun Thailand, Cannes 2011

Ketika nama Apichatpong Weerashetakul disebut sebagai penerima Palme D’Or pada Festival Film Cannes tahun lalu, dunia sinema terperanjat. Tapi yang tak kalah kaget dari peristiwa itu adalah Pemerintah Thailand sendiri. Tiba-tiba semua mata seperti tertuju pada negeri mereka, padahal mereka nyaris tak sadar bahwa film Apichatpong ikut berkompetisi. Maklum, film Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives murni hasil upaya Apichatpong sendiri. Tapi di dunia perfilman, ia sudah dianggap sebagai ikon dari Thailand. Mau tak mau Pemerintah Thailand harus berbenah diri. Tahun ini, Thailand mulai berusaha berbenah diri dengan memberi perhatian khusus kepada para sutradara independennya.

Letak stan jualan mereka tidak strategis. Terletak di lantai dua Marché Du Cinema atau Pasar Film, Cannes, di pojok paling belakang, terpencil dan jauh dari keramaian aksis utama. Tapi dengan semangat reformasi yang terlihat nyata, stan yang didirikan atas kerjasama Departemen Ekspor bagian perdagangan, Departemen Kebudayaan bagian seni dan budaya kontemporer, serta Departemen Pariwisata ini pun terlihat ‘hidup’ dengan berbagai aktivitas.

Bahkan jika anda sekedar melongokkan wajah sejenak, para pegawai yang bertugas saat itu tidak akan membiarkan Anda pergi begitu saja. “Halo, selamat siang. Silahkan masuk jangan ragu-ragu,” begitu sapaan ramah seorang penjaga stan. Stan yang berdiri dikiri kanan jalan setapak berkarpet ini hari itu sedang ramai oleh para tamu. “Stan ini khusus untuk aktivitas bisnis, segala hal yang berhubungan dengan industri film maupun pariwisata. Namanya juga pasar, ya fungsinya sebagai tempat jualan. Sementara paviliun kami di Village International adalah tempat khusus untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni dan kebudayaan,” kata Onanood Phadoongvitee, pegawai senior dari Kantor Perdagangan Thailand.

Onanood  adalah salah satu delegasi yang ditunjuk untuk jadi juru bicara di stan Thailand. Sehari-hari ia bisa ditemui di stan berukuran kurang lebih 60 meter persegi ini. Jika waktu istirahat tiba, atau Onanood harus menghadiri acara yang berhubungan dengan pengembangan jaringan sosial di Cannes, maka ia akan digantikan oleh wakilnya yang juga selalu siap di area pasar ini. Menurut Onanood, keberadaan stan dan paviliun Thailand sebetulnya sudah sejak 3 tahun lalu.”Tapi kami memang baru tahun ini membuat kegiatan yang lebih aktif, kami ingin membuatnya lebih maksimal. Stan dan paviliun yang kami dirikan disini adalah salah satu bagian dari agenda nasional untuk lebih fokus pada peningkatan kreativitas,” kata Onanood.

Tak tanggung-tanggung, mereka juga menyewa jasa event organizer untuk memastikan kesuksesan setiap acara yang mereka jadwalkan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kami punya pondasi yang kuat, tim produksi yang tak kalah berbakat, dan lokasi syuting di Thailand yang selalu siap disewa.” Dengan fasih, Onanood menjelaskan konsep strategis pengembangan aktivitas perfilman yang sedang dicanangkan oleh pemerintahnya.

“Apakah ini karena kemenangan Apichatphong tahun lalu?” Tidak juga, kata Onanood. Menurutnya, kemenangan itu memang mengakibatkan semacam gelombang kesadaran baru khususnya bagi para tokoh perfilman di Thailand. “Penghargaan itu menjadi inspirasi dan pemberi semangat khususnya bagi sutradara-sutradara baru. Dan kami dari pihak pemerintah ingin menjadi bagian dari semangat itu dengan mendukung mereka,” kata Onanood.

Sebulan sebelum Festival Film Cannes dibuka misalnya, mereka sudah aktif mengirimkan ke milis-milis wartawan tentang acara-acara yang akan mereka gelar antara lain Thai Film Pitching Project, Thai Film Screening yang dibiayai oleh pemerintah, hingga Thai Fight Boxing Contest sebagai acara hiburan untuk membangun jaringan sosial di lingkaran dunia perfilman dunia. “Acara-acara ini memang baru tahun ini kami selenggarakan di Cannes, karena sekali lagi kami ingin menunjukkan dukungan kami kepada dunia perfilman,” kata Onanood.

Onanood mengklaim bahwa saat ini jumlah bioskop di Thailand nyaris mencapai angka 600. “Dan saya mengundang anda untuk datang ke Thailand untuk melihat sendiri bioskop-bioskop yang dibangun. Salah satu pelayanan bioskop terbaik di dunia. Pengalaman menonton film di bioskop Thailand tidak akan anda lupakan,” kata Onanood.  Ini antara lain menonton sambil minum champagne, berbaring di sofa empuk, hingga menonton sambil dipijat.

Toh meningkatnya pelayanan yang super mewah ini, belum bisa diikuti dengan peningkatan dukungan  terhadap produksi-produksi lokal khususnya proyek-proyek film art house. “Karena itulah kami punya Thai Film Pitching, sebuah proyek idealis khusus untuk proyek-proyek dari sutradara-sutradara independen,” kata Onanood.  Untuk mengetahui lebih jauh tentang Thai Film Pitching proyek serta segala hal yang menyangkut proyek-proyek film lainnya, Onanood kemudian menyarankan untuk berkunjung ke Paviliun Thailand, di Village International nomor 139. Proyek Thai Film Pitching sudah lama mengirimkan undangan yang sangat bersemangat :

WE are READY TO MEET YOU at CANNES FILM FESTIVAL 2011 (11-17 May 2011). We Offer the best Thai film’s projects to the world’s investment selection.

Seiring dengan pengumuman itu, juga diindikasikan bahwa untuk tahu lebih banyak tentang proyek-proyek mereka, setiap orang yang tertarik bisa datang ke paviliun mereka.

Menjadi bagian dari Village International adalah kebanggaan tersendiri bagi pemerintah Thailand. Bukan hanya karena lokasi paviliun yang berada di bibir pantai Croisette dengan teras yang menghadap ke laut, tapi keberadaan paviliun ini juga membuktikan bahwa mereka berniat menjadi bagian dari dunia perfilman dunia. Nama Village International sudah jelas menunjukkan fungsi area ini.

Area Village International yang mulai dibuka tahun 2000 ini diniatkan menjadi tempat di mana setiap negara yang ikut berpartisipasi bisa mempromosikan dan menginformasikan tentang program pengembangan identitas budaya dan institusi di negara mereka, industri film, dan tentu saja para pekerja film. Paviliun ini juga menjadi tempat saling bertukar pengalaman. Tahun ini, sebanyak 46 negara berpartisipasi dengan 4 negara yang baru bergabung yaitu Albania, Cina, Cyprus dan Macedonia. Selain paviliun nasional, di area ini juga berdiri paviliun Cinemas Du Monde, Uni Eropa, serta institusi-institusi international yang bergerak dalam dunia perfilman.

“Paviliun ini tentu saja lebih bergengsi. Stan di Pasar Film kan untuk jualan, untuk bisnis. Paviliun ini untuk bergaul,” kata Phantam Thongsang, produser dari Aukao Aunam Films Co. Phantam adalah produser film Enemies karya sutradara Ekachai Uekrongtham. Ekachai adalah sutradara Thailand yang berkarir sebagai sutradara teater di Singapura. Film keduanya Pleasure Factory masuk seleksi di Festival Film Cannes 2007 lalu.

Phantam Thongsang

Informasi detail tentang proyek film ini bisa didapatkan di Paviliun Thailand lengkap dengan daftar investor, biaya yang dibutuhkan hingga perhitungan biaya yang diharapkan dari investor asing. Menurut Phantam, salah satu perubahan berarti yang dilakukan oleh pemerintah Thailand terhadap industri film adalah dengan menciptakan platform yang mendukung sutradara-sutradara independen. “Dan ini untuk pertama kalinya dalam sejarah perfilman kami,” kata Phantam. Tahun ini ada 4 proyek film dari 80 proyek film di Thai Film Pitching yang dibawa ke Cannes karena dianggap potensial untuk menarik perhatian investor asing.

Perubahan yang dilakukan ini, menurut Phantam bukan datang dari pemerintah, tapi justru inisiatif dari para pekerja film sendiri. “Pemerintah Thailand tidak tahu banyak tentang industri film, karena itu kita yang harus mendidik pemerintah. Kita harus memberi informasi kepada mereka apa yang kita butuhkan dalam industri ini. Sebagai permulaan, menurut saya, dengan membawa Thai Film Pitching proyek ke paviliun ini adalah langkah awal yang baik,” kata Phantam.

(Ikuti wawancara lengkap dengan Phantam Thongsang dalam beberapa hari mendatang di Rumah Film).

Asmayani Kusrini

Rini pernah bekerja sebagai wartawan majalah berita mingguan Gatra selama 6 tahun sebelum kemudian bekerja sebagai penulis pada program dokumenter Saksi Hidup di TV7. Lalu ia sempat magang di Deutsche Welle, Bonn, Jerman. Kini Rini tinggal di Brussel, Belgia dan bekerja sebagai koresponden majalah berita mingguan Tempo. Rini banyak melakukan peliputan berbagai festival film, terutama di Eropa.
Tag/kata kunci: , , ,

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808