Dilihat dari posisinya, Pojok Indonesia di Cannes itu sangat strategis. Pojok ini berada di poros utama hall Marché Du Cinema (Pasar Film), langsung terlihat begitu kaki melangkahkan masuk melewati gerbang. Jadi meskipun ruangnya kecil, pojok ini –seharusnya– bisa jadi menarik perhatian pengunjung pasar.
Terlihat ada upaya untuk itu. Pojok kecil ini didekorasi ala Indonesia: bendera Indonesia dengan umbul-umbul warna-warni, beberapa figur wayang, jajaran poster film-film Indonesia, serta tulisan di jidat pojok, Wonderful Indonesia dan Cinema di bawahnya. Di dalamnya terdapat sebuah TV dan dua perangkat meja kursi yang juga tersedia bagi para tamu atau calon pembeli yang ingin datang berkunjung. Sehari-harinya seperti juga pedagang film lainnya di Pasar Film, booth ini dibuka, brosur-brosur film Indonesia ditata di atas meja tamu yang di atasnya tersedia permen dan dodol.
“Stan ini adalah sumbangan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Ahmad Darby, staf konsulat jenderal RI dari Marseille. Menurut Darby, biaya pendirian stan berukuran kurang lebih 3 x 7 meterpersegi ini adalah sekitar 10.000 Euro (kurang lebih Rp 120 juta). Sudah lima tahun berturut-turut stan Indonesia berdiri di Marche Du Cinema, tapi sepanjang lima tahun itu pula tak banyak perkembangan berarti.
Biasanya, seorang staf konjen akan bertugas sebagai penjaga booth dan penerima tamu. Sehari-hari tugasnya merapikan booth Indonesia sekaligus jadi juru bicara, jika ada pertanyaan seputar film-film yang dibawa kontingen Indonesia ke pasar ini. Meski tahun ini booth Indonesia menjajakan 12 judul film, tapi tidak ada satu judulpun yang akan diputar di teater-teater khusus yang berada di Marché yang biasa dipesan untuk pemutaran film bagi calon pembeli. Beberapa tahun lalu, Shanty Harmayn datang menjajakan dan memutar film The Photograph di Marché, tapi itupun atas inisiatif sendiri. “Kalau ada yang berminat, kami putarkan DVD nya di sini saja,” kata Darby. Lantas, bagaimana caranya menarik minat pembeli?. “Kan ada brosur dan DVD screening,” kata Darby. Selain itu, tidak banyak lagi yang bisa dibicarakan.
Sebagai perbandingan saja, pemerintah Thailand yang tidak hanya membuka booth di Pasar tapi juga mendirikan paviliun di Village International, tahun ini menyelenggarakan 3 acara, yaitu Thai Night, Thai Party, dan Thai Fight. Dalam setiap acara itu, turut diundang sejumlah distributor-distributor potensial, programmer-programmer festival, dan banyak lagi orang-orang dari Industri film yang memang membanjiri Festival Film Cannes setiap tahunnya. Tak lupa, untuk membuat acara ini terlihat mewah, turut hadir pula Putri kerajaan Thailand, Ubol Ratana yang ikut menyambut para tamu.
“Kami bikin acara kalau ada pak Menteri datang. Biasanya ada acara makan siang. Tapi kalau tidak ada yang datang, yah kami bikin booth ini saja,” jelas Darby yang sering bergantian dengan staf konjen yang lain untuk datang menjaga booth. Kebetulan, kemarin, beliau inilah yang sedang berada di tempat. Melihat perkembangan pojok Indonesia ini dari tahun ke tahun, kita bisa maklum kalau majalah The Economist menyebutkan bahwa kondisi perfilman di Indonesia adalah satu-satunya sektor yang belum mengalami reformasi setelah tahun 1980, sejak kejatuhan Soeharto.
Jika mau dipersingkat, hasil dari berdirinya stan ini hanya selalu sampai pada taraf “negosiasi” atau “ada yang tertarik”. Demikian pula ke-12 judul film yang dibawa tahun ini yaitu Love Story, Purple Love, Virgin 3, Evil Nurse, Love In Perth, Di Bawah Lindungan Kabah, Goyang Jupe Depe (Sexy Spirit Dancers), Skandal, Sang Pencerah (The Enlightened One), Dark Forrest, Evil Rises, dan Uninvited (Pocong Ngesot). Hingga saat ini, situasi film Indonesia di Pasar Film lagi-lagi hanya sampai pada posisi “ada yang tertarik”.
Dengan biaya sekitar 10.000 Euro yang diambil dari anggaran pemerintah (yang berarti pula berasal dari pajak rakyat), maka bukankah kita sebagai rakyat berhak tahu laporan perkembangan stan Indonesia di Cannes? Tapi adakah atau siapakah yang membuat laporan ini?
“Barangkali disana ada jawabnya,” kata Ebiet G Ade.















#1PrimaMay 16, 2011, 21:13
Biarpun telat, barangkali masih bisa ‘titip’ tanya ke bapak-bapak dari Budpar yang ditugaskan jaga booth di Cannes? Apa beliau juga sempat observasi kanan-kiri?Terutama booth negara-negara jiran terdekat (Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dll)? Kalau dari negara lain tidak mengutus pihak pemerintah mereka buat repot jaga booth, bisa jadi itu indikasi urusan film sebaiknya diurus ‘orang film’, supaya bapak-bapak bisa lebih fokus mengurus negara yang gebyar problem seperti sekarang ini. Kalau booth Thailand bisa aktif membuat acara, barangkali karena mereka tidak tergantung dengan jadwal pak menterinya. Barangkali. Lagipula, membayangkan sosok wakil pemerintah menjaga booth ‘hari gini’ sungguh mument, terkesan seolah-olah booth itu harus dipertahankan supaya tidak ‘direbut’ pihak lain. Itu perbedaan ‘booth’ dengan ‘benteng’. Fungsi dan tujuannya jelas beda. Kalau booth seperti di Cannes, jelas berniat ‘jualan’ dan yang dijual adalah ‘produk’ dalam hal ini ‘produk budaya’ alias film, bukan ‘negara’. Jadi, sekali lagi pertanyaan saya, buat apa merepotkan wakil negara dari pihak pemerintah? Apalagi dengan dukungan ‘sponsor’ dalam bentuk pajak rakyat berpenghasilan minimalis seperti kebanyakan dari kita-kita ini.
#2nockzeeMay 17, 2011, 21:09
Hmm… ternyata nggak cuma di negeri sendiri ya nggak diminati …. ayo para insan film…. tingkatkan kualitas film kita… jangan berlomba bikin sinetron yg selalu dihiasi adegan melotot , bentak2 atau maki2 …