100 Film Terbaik 2000-2009, Bag. 5

Oleh Redaksi Rumah Film | 17.03.2011| Komentar (8)

81. Sud pralad / Tropical Malady [2004, Apichatpong Weerasathakul]

Sud pralad / Tropical Malady

Mungkin perlu banyak dekade agar film bernarasi ‘abstrak’ mendapat perhatian dunia. Bukan kebetulan jika karya yang berhasil melakukannya adalah karya sutradara Thailand ini. Sepintas Apichatpong seperti sedang “mengurai lagi benang yang sudah dipilinnya” ketika kedua tokoh dalam filmnya ini ia biarkan masuk ke dalam hutan dan narasi film jadi tak berarti lagi. Ia bermain-main dalam batas antara sinema dan non-sinema atau mungkin tepatnya narasi dan non-narasi. Maka pertanyaan yang diajukan terhadap film bukan “film apakah ini?”, tapi “apakah ini film?”. Jika sinema diibaratkan agama yang sudah mapan dengan estetika dan cara tutur yang ada selama ini, maka Apichatpong seperti bersiap menyusun sebuah agama baru melalui film ini. Anda merasakan hasilnya ketika menonton Uncle Boonmee Who Can Recal His Past Lives? (ES)

Metacritic: 78, Rottentomatoes: 76, IMDB: 70

82. Syriana [2005, Stephen Gaghan]

Syriana

Roger Ebert menyebut struktur cerita multiplot film ini sebagai cerita hyperlink. Dekade 2000-2009 menyaksikan banyak film yang menggunakan teknik ini yang menurut Ebert juga sering diterapkan oleh Robert Altman. Intinya, sejumlah karakter punya cerita yang saling terkait, membangun suasana film keseluruhan. Suasana total film ini adalah kecemasan khas pasca-9/11, ketika jelas bagi sebagian orang Amerika sendiri bahwa Amerika bukan hanya korban tapi juga masalah dalam Tatanan Dunia saat ini. Minyak dan politik, itulah subjek ambisius Syriana. Dengan kata lain: sebuah korupsi berskala global, yang menelan korban orang-orang baik di semua sisi. Dan film ini berhasil memberi wajah pada kekacauan tak terbayangkan itu. (HD)

Metacritic: 76, Rottentomatoes: 72, IMDB: 71

83. Takhté siah / The Blackboard [2000, Samira Makhmalbaf]

Takhté siah / The Blackboard

Samira Makhmalbaf, si anak ajaib itu, menempatkan papan tulis sebagai pusat peradaban. Alas untuk menulis itu bisa dipakai seorang guru untuk menjajakan ilmunya secara ngeteng di berbagai bukit dan dusun—dan para murid yang tidak fokus belajar— sebagai alat kamuflase agar terhindar dari militer, bisa juga untuk menikah. Samira yang kala itu baru 18 tahun berkolaborasi dengan sang ayah, Mohsen, menghasilkan tidak hanya cerita yang kuat, tetapi juga bahasa audiovisual yang merepresentasikan kenyataan lain dari suku Kurdi/pengungsi di perbatasan Irak—yang kala itu sedang digempur pasukan sekutu. (EI)

Metacritic: 64, Rottentomatoes: 74, IMDB: 69

84. Teak Leaves at the Temple [2008, Garin Nugroho]

Teak Leaves at the Temple

Sebaiknya ditonton bersanding dengan Opera Jawa. Dalam ulasan tentang keduanya di Rumah Film, saya memandang film ini sebagai sebuah upaya memahami bagaimana musik/bunyi yang tertata mampu menghidupkan ruang. Film ini mendokumentasi kerjasama musikal (dan filosofis) trio free jazz Mozzola-Geisser- Jones, dengan lima komunitas seni di kaki Gunung Merapi. Garin tak membuat dokumenter kegiatan, tapi dokumenter gagasan. Sejak tari dan gasing di permulaan, hingga pertunjukan spontan seusai gempa Jogja, kita diajak naik ke langit nirwana, seperti tingkatan-tingkatan candi yang diterangkan oleh Mozzola. Sebuah karya puncak yang agaknya oleh Garin sendiri tak terlalu dianggap penting. (HD)

Metacritic: NA, Rottentomatoes: NA, IMDB: 81

85. Ten [2002, Abbas Kiarostami]

Ten

Sebuah pelucutan habis-habisan unsur-unsur film yang lazim. Dengan kamera digital “alakadarnya”, yang statis hanya merekam satu wajah setiap babak, film ini berhasil merekam sebuah keseharian yang emosional. Kamera hanya ditaruh di dashboard mobil, merekam percakapan seorang ibu muda Iran dengan penumpang mobilnya yang berganti-ganti (termasuk, seorang pelacur). Dalam keterbatasan kamera itu, Kiorestami menunjukkan bahwa sesuatu bisa bergerak: misalnya, simpati penonton, yang perlahan bergeser, dari tertuju pada sang anak kemudian menjadi kepada sang ibu. Juga, film ini membeber sebuah dunia perempuan yang khas Iran, tapi sekaligus bisa kita jumpai di kota mana pun di dunia ini. (HD)

Metacritic: 86, Rottentomatoes: 86, IMDB: 72

86. The Dark Knight [2008, Christopher Nolan]

The Dark Knight

Batman bukan sebagai superhero, tapi sebagai kisah kriminal (crime story)? Maka semua elemen dalam mitologi Batman pun jadi masuk akal, realistis, dan relevan. Penjahat-penjahat yang melampaui definisi sakit jiwa yang ada. Kebengisan yang selalu mengintip. Kemusykilan bersikukuh pada moral dan etika. Pertempuran abadi antara “bukan kejahatan vs. kebaikan, tapi “ kebermainan vs. keseriusan”. Antara chaos vs. tata. Dan penampilan abadi sang nabi kekacauan, Joker (Heath Ledger marhum) sebagai wajah buruk yang selalu mungkin jadi wajah kita. Keberhasilan utama Nolan adalah menjadikan film sebagai risalah didaktik filsafat, tanpa kehilangan cerita dan keasyikan penuturan. Sesuatu yang dengan sukses diolahnya lagi dalam Inception, di dekade sesudahnya. (HD)

Metacritic: 82, Rottentomatoes: 93, IMDB: 89

87. The Royal Tenenbaums [2001, Wes Anderson]

The Royal Tenenbaums

“Keluarga disfungsi” adalah istilah yang kelewat mainstream untuk mendefinisikan keluarga Tenenbaum ini. Jika keluarga diukur dari hubungan-hubungan para anggotanya, maka keluarga “bangsawan” Tenenbaum adalah sebuah gambaran hasil proses saling adaptasi yang membuat kegilaan diterima menjadi sebuah kenormalan baru. Maka menikmati apa yang biasa dan tidak biasa dari mereka mirip perjalanan kontemplasi tentang keberadaan diri sendiri di tengah lingkungan terdekat kita. Hanya saja, kontemplasi biasanya dilakukan dengan hening. Tapi film ini melakukannya dengan riuh rendah bagai sebuah pesta kacau balau. (ES)

Metacritic: 75, Rottentomatoes: 79, IMDB: 76

88. The Squid and The Whale [2005, Noah Baumbach]

The Squid and The Whale

Film ini memperlihatkan bahwa Amerika, sebuah bangsa dengan lapis kelas menengah yang tebal, disusun oleh kerapuhan-kerapuhan para individu yang berkumpul di bawah satu atap dalam waktu lama – atau sebut saja keluarga.  Tapi ada apa dengan judul paus dan cumi-cumi? Keduanya bertarung di laut dalam yang jauh dan gelap, bagai tak peduli bahwa dari pertarungan itu ada korban yang memandangi dengan rasa takut dan rindu pada saat yang sama. Maka bukan sekadar Mimpi Amerika yang guyah digambarkan di sini, tapi yang katanya kelas menengah itu sesungguhnya adalah sebuah pengasuhan dalam suasana mimpi buruk terus menerus. (ES)

Metacritic: 82, Rottentomatoes: 93, IMDB: 76

89. Time Code [2000, Mike Figgis]

Time Code

Seluruh film disyut oleh kamera digital, secara real time (durasi = waktu adegan). Terdiri empat adegan yang ditampilkan di layar serentak secara split screen, masing-masing direkam dalam single take (sekali ambil) selama 98 menit. Kadang, tokoh di satu frame masuk dan berhubungan dengan tokoh di frame lain. Mike Figgis, sang sutradara gila ini, adalah “nabi” bagi pembuatan film secara digital. Kita mengenalnya sebagai sutradara film pemenang Oscar, Leaving Las Vegas (1995) yang disyut dalam kamera 16 mm, karena murah dan leluasa. Figgis selalu bereksperimen di tiap filmnya, mencipta sendiri musik untuk film-filmnya, dan mencipta alat bantu kamera digital agar ajeg. Ia tak mementingkan cerita dalam film ini (walau cerita itu ada, dan cukup menarik). Ia hanya menunjukkan bahwa film semacam ini bisa dibikin. Ia menegaskan, moda digital adalah juga sebuah estetika. Selamat datang di masa depan film. (HD)

Metacritic: 67, Rottentomatoes: 68, IMDB: 61

90. Tokyo Sonata [2008, Kiyoshi Kurosawa]

Tokyo Sonata

Jepang sedang berubah. Film ini memberi gambaran yang kuat tentang itu. Kekacauan dimulai saat Ryuhei dipecat. Di permukaan, ini hanya masalah krisis ekonomi. Tapi, ada arus bawah yang lebih mencemaskan. Ryuhei adalah kepala keluarga. Ia adalah Jepang lama. Perlahan, ia tak bisa menggenggam keluarganya. Posisi-posisi sosial yang lazim perlahan membuyar. Anak sulungnya jadi tentara Amerika dan ikut dalam Perang Teluk di Irak. Istrinya menemukan pembebasan seksual yang eksistensial dari tempat yang sama sekali tak terduga. Anaknya yang bungsu tak ia pahami. Sampai seakan tiba-tiba, kita tiba di akhir film: si bungsu memainkan Claire de Lune karya Claude Debussy secara lengkap, dan kita terpana pada si jenius piano, pada sang musik, pada film ini, pada hidup itu sendiri. (HD)

Metacritic: 80, Rottentomatoes: 94, IMDB: 76

91. Trilogi Orked: Sepet / Chinese Eyes, Gubra, Mukhsin [2004, 2006, Yasmin Ahmad]

Sepet

Yasmin Ahmad adalah harta karun sinema dunia dari Malaysia. Dengan memakai karakter Orked dan keluarganya, ia mengungkap sisi lain dari negerinya sembari melakukan kritik sosial. Keluarga Pak Atam dan Mak Inom—nama asli kedua orang tua Yasmin—adalah tipe yang dianggap keluarga “gila”, kebarat-baratan, jauh dari akar Melayu, tapi penonton bisa melihat pancaran ketulusan dan kebahagiaan di sana. Sejak Sepet, ia sudah menyentil wacana multikulturalisme dengan menjodohkan Orked dengan Jason, ras Cina yang penjual VCD bajakan. Di Gubra, Orked bilang kalau di negerinya hanya ada lagu dengan lirik melayu, itu akan membosankan dan membuatnya hijrah ke tempat lain. Pada Mukhsin, ia menyoroti juga bagaimana perilaku warga “Melayu” yang senang bergunjing namun yang bergosip tak lebih baik dari yang dibincangkan.  Baik ditonton terpisah atau bersamaan, ketiga film ini mendapatkan tempat yang istimewa di banyak penonton. Rumusnya sederhana: ketulusan dan keinginan yang kuat untuk menyebarkan cinta dan semangat saling memahami. (EI)

Sepet – Metacritic: NA, Rottentomatoes: NA, IMDB: 74
Gubra – Metacritic: NA, Rottentomatoes: NA, IMDB: 74
Mukhsin – Metacritic: NA, Rottentomatoes: NA, IMDB: 75

92. Un Prophète / A Prophet [2009, Jacques Audiard]

Un prophète / A Prophet

Eropa, terutama Prancis, sedang menyaksikan tumbuhnya komunitas imigran yang selama ini tak mampu mencapai puncak tertinggi dalam struktur sosial-multikultural mereka. Maka perhatikan bagaimana di institusi informal semisal organized crime, komunitas itu mendapat jalan keluar dari saluran mampat itu. Komunitas imigran –dalam hal Prancis adalah komunitas Arab Muslim– selama ini menempati tempat pinggiran, padahal sudah ada komunitas Korsika di sana. Maka perebutan kekuasaan kedua kelompok ini untuk menguasai penjara seperti sedang menyaksikan Eropa yang sedang cemas memandang masa depan mereka di sebuah dunia sesudah 11 September 2011. (ES)

Metacritic: 90, Rottentomatoes: 97, IMDB: 80

93. Wall-E [2008, Andrew Stanton]

Wall-E

Apa yang pada dekade lalu oleh sutradara Stanley Kubrick jadi pertanyaan ultrafilosofis tentang hubungan asal usul manusia dan teknologi (2001: A Space Odyssey, anyone?) , di tangan studio animasi Pixar tema ini berubah jadi tontonan semua umur. Berangkat dari premis tentang sifat dasar manusia yang malas, kemaruk serta sebuah worst-case scenario terhadap pemanfaatan teknologi, kisah robot kecil ini menjadi gambaran bahwa manusia masih punya masa depan cerah dan tak berubah jadi monster justru oleh kenaifan mereka yang paling dasar. Hebatnya lagi film ini, semua hadir dalam sebuah kisah amat romantis yang seakan menafsir ulang kisah Adam dan Hawa tanpa perlu adanya pendosa. Film ini juga menandai sebuah capaian penting di nyaris separuh awal film: dunia nyaris tanpa kata sang Robot, yang sunyi dan dipenuhi rongsokan sisa peradaban manusia, ternyata sangat penuh dan kaya emosi. Kualitas Zen yang menyegarkan bagi sebuah film A di Hollywood. (ES)

Metacritic: 94, Rottentomatoes: 96, IMDB: 85

94. Vals Im Bashir / Waltz With Bashir [2008, Ari Folman]

Vals Im Bashir / Waltz With Bashir

Dokumenter dalam bentuk animasi. Dengan sendirinya, ini adalah problem estetika yang menarik. Tapi, Folman menariknya lebih jauh. Animasi ini hendak merekam pencarian Folman terhadap kenangannya yang hilang tentang Perang Lebanon 1982. Subjeknya adalah sebuah tabu sejarah: peran Israel dalam pembantaian Sabra-Shatila. Dilarang di Arab, dicaci juga oleh sebagian orang Israel sendiri terutama, adegan salah seorang karakternya membandingkan Tentara Pertahanan Israel dengan perilaku Nazi. Folman, yang mengaku ilham kekaryaannya terutama dari novel grafis karya-karya Joe Sacco (Palestine), menjadikan film ini sebuah suara penting dalam anyir darah konflik Palestina yang semakin tak kelihatan ujung-pangkalnya itu. (HD)

Metacritic: 91, Rottentomatoes: 96, IMDB: 80

95. Waking Life [2001, Richard Linklater]

Waking Life

Di samping pembaharuan dalam teknik pembuatan film (Richard Linklater merekam adegan nyata, lalu dilukis dalam beberapa gaya animasi secara digital), film ini merupakan sebuah esai panjang tentang, antara lain, alam sadar dan tak sadar. Capaian animasi dalam film ini membuka pintu bagi keleluasaan gaya visual animasi komputer 2-D yang cair dan eklektik. Linklater dalam film ini agaknya tak berkehendak membuat sebuah cerita yang koheren, tapi membuat sebuah lukisan yang bergerak dan bersuara. Lebih penting dari dialog-dialog filosofisnya, adalah tafsir visual atas benda-benda keseharian dunia kawula muda Amerika masa kini. (HD)

Metacritic: 82, Rottentomatoes: 80, IMDB: 75

96. Watchmen [2009, Zack Snyder]

Watchmen

Oke, tak usah dibandingkan dengan komiknya yang sering dianggap contoh terbaik komik superhero berbobot sastra. Sebagai film fantasi/superhero/sci-fi, film ini boleh jadi ekuivalen drama tragedi di masa Yunani Kuno: mitologi sebagai arena diskusi moral, dengan nilai plus tour de force visualisasi dunia para superhero yang degil. Dari segi visual, film ini adalah jalur lain pembuatan film digital: dunia yang dilukis di layar hijau, dunia yang menjadi di tahap paskaproduksi, yang dibentuk oleh para pemrogram komputer dan pelukis 3-D. Dan dengan “nekad”, film artifisial murni ini bicara tentang kehidupan manusia kontemporer yang sedang kita jalani ini. (HD)

Metacritic: 56, Rottentomatoes: 64, IMDB: 78

97. Werckmeister harmóniák / Werckmeister Harmonies [2000, Bela Tarr]

Werckmeister harmóniák / Werckmeister Harmonies

Bagi Bela Tarr, long shots, tatapan kamera yang tertegun lama mengamati dan editing yang melabrak standar film normal adalah pilihan estetis. Tidak banyak sutradara yang punya kesabaran seperti ini. Dan hanya Bela Tarr yang konsisten menerapkan pilihan estetis ini di semua filmnya. Maka Werckmeister Harmonies seperti sudah ditakdirkan untuk sutradara Hungaria ini.  Film ini adalah sebuah alegori dari teori yang ditelurkan oleh Andreas Werckmeister, teoritikus musik asal Jerman di jaman Barok.  Werckmeister percaya bahwa kondisi manusia dalam masyarakat erat kaitannya dengan kosmos, astrologi, dan harmonisasi  musik. Dan jika sebuah nada asing tak dikenal masuk dalam tatanan nada (juga kosmos) yang sudah ada, maka niscaya harmoni itu akan runtuh. Bela Tarr dengan penuh kesabaran membiarkan kameranya mengamati dengan cermat seperti tatanan nada yang diagungkan oleh Werckmeister. Bahkan ketika rumor beredar bahwa sesuatu yang asing dan menakutkan akan melanda, kameranya enggan beranjak dan enggan menoleh dari objek yang diamatinya. Ia seperti ingin membuktikan dan menjadi saksi keruntuhan harmoni itu. Di tangan Bela Tarr, teori Werckmeister Harmonies menjadi bangunan visual yang kokoh dan luar biasa indah. (AK)

Metacritic: 92, Rottentomatoes: 96, IMDB: 81

98. Wo Hu Chang Long / Crouching Tiger, Hidden Dragon [2000, Ang Lee]

Wo Hu Chang Long / Crouching Tiger, Hidden Dragon

Film bergenre wu xia (cerita silat Cina) sudah panjang usia. Sejak Red Heroine (1929) dan The Swordswoman of Huangjiang (1930), cerita silat Cina dengan latar dunia klasik (seringkali, antah berantah), berkembang menjadi genre yang mengandung paradoks: pasifisme Budhisme sebagai doktrin dasar, aktivisme kekerasan sebagai aksi; keindahan gerak, sadisme laga; kerumitan plot, kesederhanaan karakter. Ang Lee, yang terkenal sebelumnya lewat film-film dramanya, mempertegas sisi subtil wu xia segala yang tak diucapkan, yang disembunyikan, sama penting dengan yang diungkapkan. Film ini bagai sebuah kitab tentang nilai-nilai klasik Cina. Bisa dipahami jika film ini diproduksi tiga pihak yang tak selalu akur: Cina, Taiwan, dan Hong Kong. Dan Barat pun menerimanya. Film ini memenangi lebih 40 penghargaan, dan jadi salah satu film berbahasa asing terlaris di Amerika, dan dengan demikian menjadi jembatan gemilang “meresmikan” hubungan film Barat dan film Cina yang selama ini sering dicuri oleh Amerika. (HD)

Metacritic: 93, Rottentomatoes: 97, IMDB: 80

99. Y tu mamá también [2001, Alfonso Cuaron]

Y tu mamá también

Sebuah road movie dan perjalanan seksual. Dan di belakang hiruk-pikuk seks itu, diam-diam tapi menghantui, terpapar gambaran sebuah negeri yang sedang koyak-moyak oleh politik dan pertentangan kelas. Bahkan ketika dua pemuda horny atau penuh syahwat seks membenamkan diri mereka sepenuhnya pada petualangan seks di bawah “didikan” Luisa (Maribel Verdú), pada akhirnya mereka tak bisa lari dari situasi politik Meksiko yang keras dan tragis. Latar waktu film ini adalah 1999, saat rezim Partai Revolusi Institusional yang telah berkuasa 71 tahun mendapat tantangan serius dari oposisi. (HD)

Metacritic: 88, Rottentomatoes: 91, IMDB: 78

100. Yi Yi / Yi yi: A One and A Two [2000, Edward Yang]

Yi Yi / Yi yi: A One and A Two

Film karya Edward Yang ini mengingatkan bahwa orang Asia adalah orang-orang yang lebih pandai menahan diri ketimbang mengungkapkan ekspresi apa adanya. Maka drama bisa jadi terbentuk bukan dari sesuatu yang meledak, melainkan justru karena apa yang ditahan itu bisa terasakan begitu dalam. Maka dalam kisah kehidupan keluarga urban Taiwan ini, foto belakang kepala pun seakan menyimpan drama: sebuah konflik terpendam yang selalu terasa tapi tak bisa dilihat –apatah lagi dikata. (ES)

Metacritic: 92, Rottentomatoes: 96, IMDB: 78

Penulis: Asmayani Kusrini, Ekky Imanjaya, Eric Sasono, Hikmat Darmawan, Ifan Adriansyah Ismail, Krisnadi Yuliawan.

Editor: Hikmat Darmawan, Eric Sasono.

Redaksi Rumah Film

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Perkumpulan Rumah Film Indonesia, perkumpulan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film danperfilman Indonesia. Selain penerbitan pada situs ini, Rumah Film juga melakukan penelitian dan nonton bareng yang diiringi dengan diskusi.

8 KOMENTAR

    #1arddheMarch 17, 2011, 18:44

    super awesome…!!!!!

    akan segera ditonton yg belum gw tonton di list ini…njis keren pisan!!!!

    #2ogiMarch 19, 2011, 15:08

    Gak nyangka dari 100 film terbaik ini saya gak lebih dari 10 yang sudah ditonton. Watdezig, keren banget!

    #3nicchaMarch 20, 2011, 23:02

    Alhamdulillah udah nonton 30 paling gak di kelas-kelas perkuliahan :) Sisanya untuk yang Asia, beberapa Timur Tengah dan beberapa Eropa belum terkejar, susah dapatkan film nya kecuali kalau hanya menonton dengan mengejar Festival Film International hehehe :D
    Sekitar 2000-2009, favorit dalam list: Amores Perros, Eternal Sunshine of The Spotless Mind, Requiem of A Dream and Wall-E. Untuk periode 2010 belum ada minimal top 3-nya?

    #4neonMarch 21, 2011, 13:38

    keren… tp byk banget yg belom ditonton :(
    byk film2 susah didapet ori-nya di indo nih.
    kudu beli online di ebay/amazon.

    3 iron gk layak masuk ya?

    #5ukiMarch 28, 2011, 02:32

    daftar dan ulasan yang menarik!:)
    ‘berbeda’ dengan daftar IMDB yang rata-rata berkiblat ke Hollywood/Eropa…
    Dari 100 film,hampir sebagian besar sudah saya tonton,meski banyak juga,ada beberapa yang belum…
    Setuju dengan neon….apakah Kim Ki Duk tidak layak?

    #6tamiApril 24, 2011, 22:42

    Duh, jadi merasa tersudutkan, karena kok buanyak bgt yg belum ditonton. Harusnya rumah film bersedia memfasilitasi, mengadakan parade menonton dan diskusi 100 film ini dalam waktu dekat. Ayolah! Biar kami yang belum menonton, bisa ikut tercerahkan ;-)

    #7mdsApril 26, 2011, 01:22

    rasanya saya melihat Garin Nugroho lebih dari 2 kali :(

    untuk wakil dari Thai rasanya kurang Last Life in the Universe /Ruang Rak Noi Nid Mahasan atau karya-karya Pan-Ek Ratanaruang…

    sekali lagi,Jepang nya terlalu banyak pak..Tokyo Sonata/Nobody Knows bisa dibuang …

RAMAIKAN DISKUSI

You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.

banner

Twitter @rumahfilmorg

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808