
photo by: Eric Sasono
Menjadi juri bagi film Korea Selatan adalah sebuah kehormatan besar. Selama ini bagi banyak orang Indonesia terutama bagi para pekerja film, industri film Korea Selatan dipenuhi oleh mitos keberhasilan. SELENGKAPNYA »

photo by: Eric Sasono
Saya tak sempat menonton banyak film di seksi fokus bagi para filmmaker yang diputar di sini. Saya hanya sempat menonton film-film karya Kim Don-Won, sutradara film dokumenter Korea yang dianggap sebagai pelopor sinema dokumenter independen Korea. Karya Dong-Won yang sempat saya tonton adalah Repatriation (2003) serta Jongno-Winter (2005) yang digabung dengan 63 Years On (2008).
Repatriation adalah sebuah kisah panjang tentang proses repatriasi tahanan politik dari Korea Selatan ke Korea Utara. SELENGKAPNYA »

Dinding toko di Cinema Street sepanjang tahun
Setiap festival film punya karakter berbeda, sebagaimana setiap film juga punya sasaran penonton berbeda. Maka pembedaan “film festival” dan “film komersil” seperti yang dikenal di lapak-lapak DVD bajakan di negeri kita sebaiknya dibuang jauh-jauh karena pembedaan seperti ini hanya bikin salah kaprah berkepanjangan. Lihat bagaimana ragam film diputar di berbagai festival film di Korea Selatan. SELENGKAPNYA »

Pemandangan Cinema Street
Jeonju adalah sebuah kota provinsi utara di Korea Selatan. Penduduknya berjumlah sekitar 630 ribu orang dan kota itu dikenal sebagai kota budaya dan kota makanan. Makanan tradisional Korea yang mungkin paling terkenal sedunia, Bimbimbap, berasal dari kota ini. Di kota ini terdapat pula Hanok Village, sebuah desa yang dipenuhi oleh rumah-rumah dengan atap tradisional khas Korea. Di desa itu tinggal para seniman tradisional Korea yang hidup berdasarkan ketrampilan mereka sebagai seniman yang manggung dimana-mana. Berbagai macam festival dilaksanakan nyaris sepanjang tahun dan menjadi sumber penghidupan bagi penduduk kota Jeonju. Termasuk di antaranya Jeonju International Film Festival, disingkat JIFF, yang tahun ini memasuki edisi kesebelas. SELENGKAPNYA »

Redaktur Rumah Film, Eric Sasono, diundang ke Jeonju, Korea Selatan, untuk menjadi juri di Jeonju International Film Festival (JIFF) yang diselenggarakan dari tanggal 29 April hingga 7 Mei 2010. Ia menurunkan beberapa tulisan dari festival ini, termasuk pengalamannya menonton film-film Korea Selatan yang dikompetisikan dalam festival tersebut.
Pengalaman berfestival di Jeonju ini cukup berkesan bagi Eric terutama karena programming festival film ini tergolong berani. JIFF berfokus pada film independen dan eksperimental. Mereka memberi tempat bagi film-film dengan kekisahan rumit dan menantang batas-batas sinema. Anehnya – atau karena itu – festival ini demikian ramai oleh penonton, dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan muda. Silakan cerna fakta ini: jumlah penduduk kota Jeonju sekitar 630 ribu orang, dan selama JIFF berlangsung, jumlah tiket terjual lebih dari 50 ribu tiket!
Simak catatannya dalam tulisan-tulisan berikut:
» Catatan I: Festival buat Penonton?
» Catatan II: Rumah bagi Sinema Obskur
» Catatan III: Fokus dan Revolusi
» Catatan IV: Bakat Baru Film Korea
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
