Drupadi: Ada Apa Dengan Drupadi?(0)
Oleh Eric Sasono | 19.12.2008| Film Pendek, Resensi

Drupadi

Perempuan super cantik titisan Dewi Api ini adalah istri dari 5 orang Pandawa, tokoh protagonis dalam kisah Mahabharata. Dalam versi India penggalan kisah Mahabharata, Ibunda Pandawa, Dewi Kunti, bersabda bahwa apa pun yang dimiliki oleh salah seorang dari Pandawa menjadi milik mereka berlima, termasuk istri. (Dalam versi Jawa –karena pengaruh Islam– Drupadi menjadi monogamis dan bersuami hanya Yudhistira seorang). Karena kelima Pandawa itu adalah anak-anak yang patuh pada ibu mereka, maka Drupadi harus dibagi di antara anak raja yang tampan dan gagah itu. SELENGKAPNYA »

Mata Turistik Sutradara, dan Lain-lain(0)
Oleh admin | 13.12.2008| Layar Lebar, Resensi

The Elite Squad (Tropa de Elite)

Heaven in Insanity

Sutradara: Dria Soetomo, 2008

SUBJEK INI MENARIK, kata sutradara Dria Soetomo, dengan mata berbinar, ketika ia ditanya kenapa membuat film ini.

Katakanlah memang menarik, melihat manusia dirantai atau tidur di samping kotoran mereka sendiri yang dikerubungi ribuan lalat; atau melihat orang bertelanjang bulat dimandikan dengan air semprotan selang. Tapi, apakah Dria juga peduli pada manusia di tempat penampungan orang-orang bermasalah mental ini?

Ia sempat mengikuti Watmo ditangkap di rumahnya, dirantai, dan dimasukkan ke dalam tempat yang mirip kandang sapi itu. Namun ia tak mengabarkan bagaimana Watmo sesudah keluar lagi dari penampungan itu. Seakan semua selesai dalam sebuah perjalanan pendek yang supefisial ini, sekalipun kita tahu hidup selalu punya kompleksitas yang lebih rumit daripada yang digambarkan Dria, seorang jurnalis TV.

Presentasi Dria berhasil membawa humor di sana sini, tapi pendekatannya kelewat turistik –kamera dibawa untuk sebuah pengalaman baru penonton– ketimbang mengajak penonton mengikuti kehidupan yang punya denyutnya sendiri. Padahal, Dria punya kameraman yang luar biasa sensitif dalam menangkap kisah.

Gerak kamera bisa begitu mengejutkan dan tampak berempati. Struktur film ini juga sangat rapi, karena editing yang patuh pada ritme. Persoalan film dokumenter berdurasi 25 menit ini adalah sikap Dria yang masih seperti kebanyakan jurnalis TV: datang, rekam, dan pergi. Mirip seperti anak-anak SMU Al-Azhar yang sangat jitu ditangkapnya mengunjungi penampungan itu seakan sedang mengunjungi kebun binatang.

Jika Dria ingin berhasil lebih jauh sebagai pembuat film, ia harus mulai dari kepedulian, bukan ketertarikan, apalagi jika sekadar penugasan. (Eric Sasono)

Wonderful Town

Sutradara: Aditya Assarat

Banyak orang bilang, dunia begitu indah di mata orang yang sedang jatuh cinta. Hal itu berlaku juga di Takua Pa, kota kecil yang sedang pemulihan akibat tsunami. Seorang arsitek dari Bangkok hadir untuk membangun kembali wilayah itu dan saling jatuh cinta dengan gadis lokal yang menjaga hotel tempat ia menginap. Masalahnya, ia berhadapan dengan masyarakat yang frustrasi dan belum pulih dari trauma tsunami, dan kebanyakan pengangguran. Gangguan demi gangguan terjadi, dan dituturkan dengan birama yang pelan namun syahdu. Visual, seperti jemuran tertiup angin bahkan lanskap sekali pun, berbicara kuat. Begitu puitis dan kontemplatif. Ini adalah, memakai istilah Yasmin Ahmad, a feeling movie. Jadi, lebih asyik jika film yang cukup personal dan minim dialog ini ditonton dengan rasa, bukan dengan dengan pikiran. (Ekky IJ)

The Elite Squad (Tropa de Elite)

Sutradara: Jose Padilha

Jangan pandang enteng sutradara debutan dan/atau dokumenter. Jose Padilha, yang baru membesut satu dokumenter, membuat film fitur pertamanya dan langsung mendapatkan Beruang Emas di Berlinale 2008, serta 8 penghargaan lainnya, mengalahkan film sekelas There Will be Blood, Katyn (Andreza Wajda), Happy-Go Lucky, atau Song of Sparrows. Mungkin karena produsernya adalah Fernando Meirelles (City of God). Bercerita tentang kacaunya kota Rio de Janeiro pada 1997, yang dikuasai oleh bandar narkoba dan aparat korup. Sri Paus akan mengunjungi tempat itu, dan Kapten Nacimento harus membersihkan tempat-tempat yang akan dilaluinya dari benda haram itu. Intrik demi intrik dan pertempuran kopassus-gangster terjadi, sementara para karakternya juga punya masalah pribadi masing-masing. Intinya: Kopassus juga manusia. Pendekatan realis membuat penonton menjelajahi kawasan perumahan kumuh bertingkat (ingat Incredible Hulk?) hingga praktik jual beli narkotika dan perjanjian rahasia polisi dengan para kriminal. (EIJ)

The Convert

Sutradara: Panu Aree & Kong Rithdee

June dan Ake adalah sebuah kisah cinta, dan lebih. June adalah gadis budha yang beralih ke Islam karena akan menikah. June kenal Ake 4 hari. Ake mengenal telah June 4 tahun. Kalau sekadar menyimak omongan Ake, ini kisah cinta gombal. Hari gini, masih ada yang bungah karena cinta? Tapi lihatlah Ake, anak band di Bangkok yang mendadak sangat Islami, dan meyakini bahwa menikahi June adalah panggilan Tuhan. Lihat June, tertatih melafal syahadat. Mereka miskin, “bisnis” mereka mentok. Boleh jadi, banyak hal yang mereka jalani masih sumir dari segi fiqh dan teologi, atau dari segi akal sehat biasa. Tapi, ini adalah kisah keikhlasan. Sebuah dokumenter Thailand yang tak gemerlap sama sekali. Ketika June dan Ake sowan ke kedua keluarga besar, kok adat Thailand mirip Betawi, ya? Jadinya, keikhlasan mereka yang mengharukan itu terasa dekat dengan kita. (Hikmat Darmawan)

Teakleaves on The Temple

Sutradara: Garin Nugroho

Jika Anda suka Opera Jawa, Anda akan suka bahwa dokumenter terbaru Garin ini punya kebermainan yang lebih. Jika Anda tak suka Opera Jawa, Anda setidaknya akan mendapat kemewahan menyelami bagaimana komunitas kampung di lereng Merapi bercakap-cakap dengan Jazz kelas dunia. Garin menelusuri pertanyaan-pertanyaan tentang apakah seni, apakah hidup demi seni, dan apakah musik –jantung dari film ini. Lebih dari itu, Garin menekuri: bagaimanakah mendokumentasi penelusuran bunyi. Musik bukan sekadar bunyi, tapi bunyi yang tersusun. Penyusunan itu jelas mengan-dung ide tertentu. Itulah yang ditelusuri Garin. Dan ia berhasil. Film ini. lebih dari sekadar sebuah rutin merekam perjalanan kreatif para seniman di lereng Gunung Merapi bekerjasama dengan Trio Mazzola, Geisser, Jones yang penganut free jazz. Film ini adalah meditasi hubungan bunyi-ruang-kita. Dan kita pun berjumpa sebuah Indonesia yang kaya warna. Misalnya, si Ismanto, pematung gempal berkaos Superman, cengar-cengir bicara seni dan kehidupan. (HD)

Shine a Light: Scorsese Memanusiawikan Rolling Stones(0)
Oleh admin | 13.12.2008| Dokumenter, Resensi

Shine a Light

Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! pada opening credit dokumenter Shine a Light seperti yang dilakukannya pada rockumentary-nya di tahun 1976, The Last Waltz, tentang konser perpisahan grup rock The Band. Aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua. SELENGKAPNYA »

9808, Anthology on the 10 th anniversary of Reform Era: The Young and the (Un) Heedless(0)
Oleh Eric Sasono | 07.12.2008| Layar Lebar, Resensi

A Letter to Unprotected Memories

Perhaps my friend (film critic) Hikmat Darmawan was right when he wrote that it takes 10 years before a trauma can be retold. Hikmat made this statement in his review of May (Viva Westi, director), a film about the May 1998 incident and its impact for the nation, in particular an inter-ethnic couple.   Given a time distance, May is able to take a good, long look at an incident that has left a yet to be fully healed scar for the nation.

9808, An Anthology on the 10 th anniversary of the Reform era , pretty much is having the same discussion as May. SELENGKAPNYA »

98.08: Yang Muda Yang Melawan Lupa(1)
Oleh Eric Sasono | 06.12.2008| Film Pendek

98.08, Antologi 10 Tahun Reformasi

Mungkin rekan saya Hikmat Darmawan benar ketika ia menulis bahwa dibutuhkan waktu 10 tahun agar sebuah trauma bisa diceritakan kembali dengan cukup tenang. Hikmat menyatakan ini untuk resensi film May (Viva Westi), film yang menceritakan kembali peristiwa Mei 1998 dan akibatnya bagi bangsa ini dan juga bagi sepasang kekasih beda etnis. Ketika melihat peristiwa itu secara berjarak – dari segi waktu – May mampu menatap lama-lama sebuah luka bangsa ini yang belum sepenuhnya sembuh. SELENGKAPNYA »

banner

Twitter @rumahfilmorg

Tentang rumahfilm.org

Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.

SELENGKAPNYA »

ALAMAT KONTAK

Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org

Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808