
Drupadi
Perempuan super cantik titisan Dewi Api ini adalah istri dari 5 orang Pandawa, tokoh protagonis dalam kisah Mahabharata. Dalam versi India penggalan kisah Mahabharata, Ibunda Pandawa, Dewi Kunti, bersabda bahwa apa pun yang dimiliki oleh salah seorang dari Pandawa menjadi milik mereka berlima, termasuk istri. (Dalam versi Jawa –karena pengaruh Islam– Drupadi menjadi monogamis dan bersuami hanya Yudhistira seorang). Karena kelima Pandawa itu adalah anak-anak yang patuh pada ibu mereka, maka Drupadi harus dibagi di antara anak raja yang tampan dan gagah itu. SELENGKAPNYA »

The Elite Squad (Tropa de Elite)
Heaven in Insanity
Sutradara: Dria Soetomo, 2008
SUBJEK INI MENARIK, kata sutradara Dria Soetomo, dengan mata berbinar, ketika ia ditanya kenapa membuat film ini.
Katakanlah memang menarik, melihat manusia dirantai atau tidur di samping kotoran mereka sendiri yang dikerubungi ribuan lalat; atau melihat orang bertelanjang bulat dimandikan dengan air semprotan selang. Tapi, apakah Dria juga peduli pada manusia di tempat penampungan orang-orang bermasalah mental ini?
Ia sempat mengikuti Watmo ditangkap di rumahnya, dirantai, dan dimasukkan ke dalam tempat yang mirip kandang sapi itu. Namun ia tak mengabarkan bagaimana Watmo sesudah keluar lagi dari penampungan itu. Seakan semua selesai dalam sebuah perjalanan pendek yang supefisial ini, sekalipun kita tahu hidup selalu punya kompleksitas yang lebih rumit daripada yang digambarkan Dria, seorang jurnalis TV.
Presentasi Dria berhasil membawa humor di sana sini, tapi pendekatannya kelewat turistik –kamera dibawa untuk sebuah pengalaman baru penonton– ketimbang mengajak penonton mengikuti kehidupan yang punya denyutnya sendiri. Padahal, Dria punya kameraman yang luar biasa sensitif dalam menangkap kisah.
Gerak kamera bisa begitu mengejutkan dan tampak berempati. Struktur film ini juga sangat rapi, karena editing yang patuh pada ritme. Persoalan film dokumenter berdurasi 25 menit ini adalah sikap Dria yang masih seperti kebanyakan jurnalis TV: datang, rekam, dan pergi. Mirip seperti anak-anak SMU Al-Azhar yang sangat jitu ditangkapnya mengunjungi penampungan itu seakan sedang mengunjungi kebun binatang.
Jika Dria ingin berhasil lebih jauh sebagai pembuat film, ia harus mulai dari kepedulian, bukan ketertarikan, apalagi jika sekadar penugasan. (Eric Sasono)
Wonderful Town
Sutradara: Aditya Assarat
Banyak orang bilang, dunia begitu indah di mata orang yang sedang jatuh cinta. Hal itu berlaku juga di Takua Pa, kota kecil yang sedang pemulihan akibat tsunami. Seorang arsitek dari Bangkok hadir untuk membangun kembali wilayah itu dan saling jatuh cinta dengan gadis lokal yang menjaga hotel tempat ia menginap. Masalahnya, ia berhadapan dengan masyarakat yang frustrasi dan belum pulih dari trauma tsunami, dan kebanyakan pengangguran. Gangguan demi gangguan terjadi, dan dituturkan dengan birama yang pelan namun syahdu. Visual, seperti jemuran tertiup angin bahkan lanskap sekali pun, berbicara kuat. Begitu puitis dan kontemplatif. Ini adalah, memakai istilah Yasmin Ahmad, a feeling movie. Jadi, lebih asyik jika film yang cukup personal dan minim dialog ini ditonton dengan rasa, bukan dengan dengan pikiran. (Ekky IJ)
The Elite Squad (Tropa de Elite)
Sutradara: Jose Padilha
Jangan pandang enteng sutradara debutan dan/atau dokumenter. Jose Padilha, yang baru membesut satu dokumenter, membuat film fitur pertamanya dan langsung mendapatkan Beruang Emas di Berlinale 2008, serta 8 penghargaan lainnya, mengalahkan film sekelas There Will be Blood, Katyn (Andreza Wajda), Happy-Go Lucky, atau Song of Sparrows. Mungkin karena produsernya adalah Fernando Meirelles (City of God). Bercerita tentang kacaunya kota Rio de Janeiro pada 1997, yang dikuasai oleh bandar narkoba dan aparat korup. Sri Paus akan mengunjungi tempat itu, dan Kapten Nacimento harus membersihkan tempat-tempat yang akan dilaluinya dari benda haram itu. Intrik demi intrik dan pertempuran kopassus-gangster terjadi, sementara para karakternya juga punya masalah pribadi masing-masing. Intinya: Kopassus juga manusia. Pendekatan realis membuat penonton menjelajahi kawasan perumahan kumuh bertingkat (ingat Incredible Hulk?) hingga praktik jual beli narkotika dan perjanjian rahasia polisi dengan para kriminal. (EIJ)
The Convert
Sutradara: Panu Aree & Kong Rithdee
June dan Ake adalah sebuah kisah cinta, dan lebih. June adalah gadis budha yang beralih ke Islam karena akan menikah. June kenal Ake 4 hari. Ake mengenal telah June 4 tahun. Kalau sekadar menyimak omongan Ake, ini kisah cinta gombal. Hari gini, masih ada yang bungah karena cinta? Tapi lihatlah Ake, anak band di Bangkok yang mendadak sangat Islami, dan meyakini bahwa menikahi June adalah panggilan Tuhan. Lihat June, tertatih melafal syahadat. Mereka miskin, “bisnis” mereka mentok. Boleh jadi, banyak hal yang mereka jalani masih sumir dari segi fiqh dan teologi, atau dari segi akal sehat biasa. Tapi, ini adalah kisah keikhlasan. Sebuah dokumenter Thailand yang tak gemerlap sama sekali. Ketika June dan Ake sowan ke kedua keluarga besar, kok adat Thailand mirip Betawi, ya? Jadinya, keikhlasan mereka yang mengharukan itu terasa dekat dengan kita. (Hikmat Darmawan)
Teakleaves on The Temple
Sutradara: Garin Nugroho
Jika Anda suka Opera Jawa, Anda akan suka bahwa dokumenter terbaru Garin ini punya kebermainan yang lebih. Jika Anda tak suka Opera Jawa, Anda setidaknya akan mendapat kemewahan menyelami bagaimana komunitas kampung di lereng Merapi bercakap-cakap dengan Jazz kelas dunia. Garin menelusuri pertanyaan-pertanyaan tentang apakah seni, apakah hidup demi seni, dan apakah musik –jantung dari film ini. Lebih dari itu, Garin menekuri: bagaimanakah mendokumentasi penelusuran bunyi. Musik bukan sekadar bunyi, tapi bunyi yang tersusun. Penyusunan itu jelas mengan-dung ide tertentu. Itulah yang ditelusuri Garin. Dan ia berhasil. Film ini. lebih dari sekadar sebuah rutin merekam perjalanan kreatif para seniman di lereng Gunung Merapi bekerjasama dengan Trio Mazzola, Geisser, Jones yang penganut free jazz. Film ini adalah meditasi hubungan bunyi-ruang-kita. Dan kita pun berjumpa sebuah Indonesia yang kaya warna. Misalnya, si Ismanto, pematung gempal berkaos Superman, cengar-cengir bicara seni dan kehidupan. (HD)

Shine a Light
Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! pada opening credit dokumenter Shine a Light seperti yang dilakukannya pada rockumentary-nya di tahun 1976, The Last Waltz, tentang konser perpisahan grup rock The Band. Aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua. SELENGKAPNYA »

A Letter to Unprotected Memories
Perhaps my friend (film critic) Hikmat Darmawan was right when he wrote that it takes 10 years before a trauma can be retold. Hikmat made this statement in his review of May (Viva Westi, director), a film about the May 1998 incident and its impact for the nation, in particular an inter-ethnic couple. Given a time distance, May is able to take a good, long look at an incident that has left a yet to be fully healed scar for the nation.
9808, An Anthology on the 10 th anniversary of the Reform era , pretty much is having the same discussion as May. SELENGKAPNYA »

98.08, Antologi 10 Tahun Reformasi
Mungkin rekan saya Hikmat Darmawan benar ketika ia menulis bahwa dibutuhkan waktu 10 tahun agar sebuah trauma bisa diceritakan kembali dengan cukup tenang. Hikmat menyatakan ini untuk resensi film May (Viva Westi), film yang menceritakan kembali peristiwa Mei 1998 dan akibatnya bagi bangsa ini dan juga bagi sepasang kekasih beda etnis. Ketika melihat peristiwa itu secara berjarak – dari segi waktu – May mampu menatap lama-lama sebuah luka bangsa ini yang belum sepenuhnya sembuh. SELENGKAPNYA »

Doa yang Mengancam (2008, Dir: Hanung Bramantyo)
What would you ask Him if you have just one question?
(Melissa Etheridge – One of Us)
Tersebutlah sebuah kota. Mungkin namanya Jakarta. Di pasarnya yang kumuh bisa dijumpai Madrim (Aming) seorang pekerja keras yang putus asa. Bekerja menjadi kuli angkut bukan pekerjaan berupah baik, tapi jelas berkeringat deras. Madrim yang kurus ini mampu mengatasi beban karung-karung dan sebagainya, tapi tak bisa menggendong harga dirinya yang runtuh karena kemiskinan.
Malam itu adalah malam sialan bagi Madrim. Istrinya yang cantik bak permata, Leha, (Titi Kamal) kabur dari rumah. Ia pun diusir dari kontrakan mirip kandang sapi lantaran sudah menunggak berbulan-bulan. Di warung makan pun utangnya menumpuk. Apalagi yang bisa jadi harapan kecuali doa? Maka atas saran Kadir (Ramzi), Madrim pun berdoa dan berdoa dan berdoa sampai bosan.
Kebosanan dan belajar dari sebuah peristiwa yang dilihatnya di Musholla, Madrim mengubah doanya menjadi ancaman kepada Tuhan: seandainya tak dijadikan kaya, maka aku akan menyembah Setan, kata Madrim. Tapi ia tak tahu bahwa model penyanderaan macam itu tak mempan bagi Tuhan (atau Setan?). Maka Sang Kuasa itu pun balik mempermainkan Madrim.
Diberinya Madrim kekuatan. Namun karena isu film ini adalah (entah kenapa) soal kaya-miskin, maka kekuatan itu tentu harus bisa untuk cari uang. Singkat cerita, Madrim pun bisa dapat uang sepuluh juta per bulan untuk ongkang-ongkang kaki saja. Dan uang memang hebat karena Madrim kemudian seperti lahir kembali. Sebuah parodi bagi epifani? Bisa jadi, karena uang buat beberapa orang mirip dengan semacam pencerahan. Tapi baiknya kita ikuti dulu lanjutan ceritanya.
Madrim yang pernah berada di dasar kemiskinan tentu ingin balas dendam dan sutradara Hanung Bramantyo memberi jalan. Maka uang pun disebar Madrim di jalanan, mobil limusin berpintu banyak pun masuk kampung kumuh dan anak-anak menyoraki Madrim bak melihat ondel-ondel nyasar. Ia bergelimang uang dan Hanung seakan tak yakin dengan penggambaran kekayaan yang dibuatnya, merasa perlu memberi arti harfiah frasa ‘bergelimang uang’ itu dalam film Doa Yang Mengancam ini.
Namun uang tak bisa membeli kebahagiaan. Frasa klise itu tentu saja terbaca dalam film ini. Kekuatan Madrim malah membuka masa lalu yang tak ingin ia akui. Kekuatan itu mendatangkan kutuk: Madrim mengetahui latar belakang keluarganya yang tak bisa ia terima. Maka sekali lagi, Madrim mengancam Setan (atau Tuhan?). Madrim pun mencari Setan di diskotik (benar, diskotik wahai clubbers!) dan mengutuki-Nya di sana sampai ia kesetrum. Maka lengkapkah karikatur tak lucu ini.
Dan karena Setan, Tuhan dan Penulis Cerita film ini sama berkuasanya terhadap Madrim, mereka sekali lagi mempermainkan Madrim. Kekuatan Madrim malah bertambah dan demikian pula dengan ketidakbahagiaannya. Kemudian tragedi demi tragedi menimpa Madrim. Madrim yang sejak awal digambarkan sebagai seorang pencemas lewat akting Aming benar-benar sengsara tanpa nikmat. Puncak kesengsaraan itu adalah adegan kuasi-surealis – mirip film-film Faozan Rizal, kepala departemen kamera di film ini – ketika satu demi satu tokoh itu muncul dan menuntut rasa bersalah Madrim.
Namun segala itu hanyalah sebuah pembuka bagi sebuah akhir cerita yang bahagia bagi Madrim. Sang Pembuat Film sudah menyediakan lengkap segala pintu jalan keluar bagi kemiskinan dan asmara Madrim. Sejak awal komedi macam ini memang sudah bisa diduga ujungnya, sekalipun kecemasan yang ditampilkan Aming sepanjang film membuat film ini tak tampak sebagai sebuah komedi. Aming berusaha keluar dari typecasting-nya di Extravaganza tapi ia malahan seperti sedang menanggung beban terlalu berat.
Beban itu datang dari niatan Hanung menjadikan film sebagai komentar sosial politik yang kental. Kisah ini sejatinya bicara tentang suatu soal mendasar yang membentuk kemanusiaan. Baik bagi yang percaya kepada Tuhan maupun yang tidak, manusia selalu perlu berinteraksi dengan Kekuasaan Yang Tak Dipahaminya. Itulah karakter dasar manusia disoal oleh Jujur Prananto dalam cerita pendeknya. Namun Hanung terlalu gatal tangan dengan tema itu dan memasukkan kemiskinan sebagai backdrop yang membuat film ini jadi harus menanggung beban dua tema berat itu sekaligus. Tak apa jika ia bisa, tapi dengan segala penggambaran karikatural yang dibuatnya, film ini malah gagal sebagai sebuah satire. Dan penonton bukan menertawakan pahit diri mereka sendiri sebagaimana dimaksud oleh satire, melainkan tertawa karena ke-wagu-an Aming dan lelucon Kadir sebagaimana mendengar ceramah lucu seorang kyai.
Kadir digunakan Hanung untuk menjadi kekuatan sentrifugal buat tema ini. Selain membuat cerita jadi aman dari tuduhan blasphemy alias penistaan agama, Kadir – sebagaimana fungsi sidekick pada umumnya – adalah pantulan kesadaran lain yang ingin ditanamkan pembuat film kepada penontonnya. Strategi ini mirip padanan l’Ingenu dan Gordon dalam L’Ingenu karya Voltaire. Hanya saja, jika Voltaire membuat tokoh lugu untuk menyatakan sikap anti-klerikal, tokoh Kadir dibuat mirip Abu Nawas atau Nasruddin Hoja atau Mat Angin-nya Dedi Mizwar. Namun alih-alih ditempatkan sebagai seorang komentator rendah hati, Kadir di film ini ditempatkan sebagai seorang penceramah yang kebetulan saja lucu.
Sementara itu di sisi lain Hanung tampak sibuk dengan backdrop. Ia tampak sekali ingin memperlihatkan bahwa dengan ide agama (baca: Islam), ia bisa menyoal kemiskinan, bandit kerah putih tak tersentuh (Dedi Soetomo) sekaligus memberi sebuah komentar pedas pada manusia yang tamak, serakah dan tak tahu diri. Ia memoles karikaturnya sedemikian rupa menggunakan pencahayaan dengan tone warna kuning yang mungkin maksudnya agar bisa mendapat sebuah gambaran tentang dunia kemiskinan yang keras dan tak kompromi. Namun kamera Faozan Rizal terasa seperti menekankan lebih kuat kecemasan dan rasa tak nyaman yang tampak pada akting Aming hingga akhir film.
Sekali lagi sesudah Get Married, Hanung perlu waspada terhadap beban yang ia buat sendiri macam ini. Materi yang seharusnya jika ditangani dengan santai bisa menjadi satire yang menarik, malahan jadi karikatur yang entah berniat menertawakan siapa. Dengan film-film semacam Perempuan Berkalung Sorban atau biopik Ahmad Dahlan di depan, beban ini bisa terlalu besar dan akhirnya memakan dirinya sendiri.***
Doa Yang Mengancam . Sutradara: Hanung Bramantyo. Pemain: Aming, Ramzi, Titi Kamal, Dedi Soetomo, Jojon. Penulis Skenario: Jujur Prananto.
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
