
Ni Le Bien Qu’on M’a Fait, Ni Le Mal
Seratus empat puluh menit itu nyaris saya sesali apabila lagu berbahasa Prancis di atas tak datang pada Jumat malam itu. Saya memang menantikannya, tetapi tak pernah menduga datangnya lagu itu begitu kuat. SELENGKAPNYA »
1
Pada 1983, terjadi sesuatu yang jarang saya temui lagi: saya sekeluarga menonton film Teguh Karya, Di Balik Kelambu, di Pasar Minggu Theatre. Kejadian ini unik di beberapa level.
Pertama, Di Balik Kelambu adalah film drama yang “dewasa” –film yang mengolah persoalan-persoalan orang dewasa, di mana inti persoalan adalah sulitnya pasangan muda tinggal di rumah mertua. Ketegangan-ketegangan yang terjadi, spiral konflik yang merumit, emosi-emosi yang tercuat, semua terasa sangat “Indonesiawi”. Padahal Teguh sendiri, sebagaimana biasa, membesut ragam soal rumah tangga ini dengan latar ilmu teater klasiknya. Ilmu teater yang ditranformasikan pada sebuah bahasa film yang menekankan pada akting dan tidak pada akrobat kamera atau editing. Dalam mazhab sinema ini, boleh dibilang kamera dan gambar diarahkan untuk melayani akting. SELENGKAPNYA »
Ketika saya tahu bahwa Minor Theatre di Arcata ini adalah gedung bioskop yang pertamakali dibangun di Amerika untuk keperluan pertunjukan feature film (dan bukan pertunjukan lain seperti teater atau vaudeville), saya pun googling. Saya ringkaskan di bawah ini. SELENGKAPNYA »

Ingmar Bergman
Hari itu, Senin, 30 Juli 2007 seorang teman mengirim pesan singkat: “RIP. Ingmar Bergman.” Padahal, teman itu sedang mempersiapkan sebuah workshop film yang akan mengundang Bergman. Saya ingat tahun lalu, dalam sebuah acara retrospektif karya-karya Bergman di Musee Du Cinema, Brussels, saya berencana untuk mengajukan permohonan wawancara. Sayang, saat itu Bergman batal hadir. Kondisi kesehatannya memburuk. Saya pikir, lain kali saya pasti bisa menemuinya langsung. Ternyata 30 Juli lalu, dia pergi. SELENGKAPNYA »

Fist of Legend
“Dalam kesenian, satu-satunya sumber informasi yang bebas hanyalah kritik.Lainnya itu iklan.”
(Pauline Kael, dikutip oleh JB. Kristanto, dalam “Apa Sih Maunya Resensi Film Itu? Kritikus Film: Paria Superstar”, Nonton Film Nonton Indonesia, Penerbit Kompas, 2004.)
Seperti film Indonesia, tulisan-tulisan tentang film di Indonesia juga tak berkembang jauh secara estetis. Malah, tampak gejala kemunduran. SELENGKAPNYA »

Foto oleh Timur Angin/Dok. Miles Films
Pendahuluan
Film Gie dibuat oleh sutradara Riri Riza dengan produser Mira Lesmana pada tahun 2005, 35 tahun setelah Soe Hok Gie meninggal. Film ini meraih 3 piala Citra dari 12 nominasi, salah satunya sebagai film terbaik di FFI 2005. Film ini bercerita tentang Soe Hok Gie, seorang pemuda keturunan Tionghoa yang hidup di saat Indonesia sedang mengalami perubahan besar. SELENGKAPNYA »
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
