Eksploitasi sinema sedemikian rupa seharusnya membuat sinema berada pada titik jenuh dalam merayakan kenangan kolektif yang bertujuan untuk memobilisasi identitas nasional semacam ini.
Festival Film Cannes sudah memasuki minggu kedua, yang berarti hari pengumuman pemenang juga makin dekat. Hingga saat ini, sejumlah film di kompetisi utama sudah dipertontonkan dan masyarakat perfilman di Cannes sudah mulai berspekulasi tentang siapa-siapa saja yang akan membawa pulang penghargaan dari festival yang sudah berumur 65 tahun ini. Tentu, ada pekerjaan berat yang menanti
Inilah salah satu film yang paling banyak dinantikan di Festival Film Cannes 2012. On The Road diadaptasi dari buku berjudul sama karya Jack Kerouac, salah satu tokoh sentral dalam kelompok Beat Generation. Group yang ingin menentang pemikiran dan gaya hidup konservatif dan formulaik di Amerika pasca perang dunia ke dua. On The Road salah satu
Jepang bagi sebagian orang menyimpan pesona eksotis yang unik. Budaya, kepercayaan, cara hidup, dan apapun yang berbau Jepang sekarang dianggap sebagai kualitas hidup. Sushi menjadi makanan populer dan dijual mahal. Teh asal Jepang dijual lebih mahal dari teh asal Cina. Manga yang dulunya hanya bisa didapatkan di dunia underground, menjadi bacaan populer di seluruh dunia.
Saat di Cannes, Asmayani Kusrini sempat berbincang dengan Nadine Labaki, seorang perempuan sutradara Lebanon yang membuat sebuah film tentang konflik agama di negaranya. Rini terkesan dengan pendekatan Nadine yang mengajukan dongeng yang naif. Kenapa pendekatan naif seperti itu dipakai untuk membincangkan soal keagamaan dan kebangsaan begitu rupa?
Kebebasan masihlah sebuah kata yang ilusif, di beberapa tempat. Di Iran, misalnya, kata itu jadi terasa mahal bagi beberapa sutradara dan aktivis yang berseberangan dengan pemerintah. Jafar Panahi, sutradara yang telah ikut mengharumkan nama Iran di pentas sinema dunia, kini dilarang membuat film oleh pemerintahnya. Para pencinta film di seantero dunia, bertanya-tanya, bagaimana nasibnya. In Film Nist (This Is Not Film) menjawab tanya itu, tapi juga menerbitkan berbagai pertanyaan menarik. Ini film yang boleh dibilang salah satu film politik terpenting tahun ini di Cannes, dibuat oleh Mojtaba Mirtahmasb yang sebetulnya hendak membuat dokumenter, dan terasa seperti film komedi. Film itu bergerak dalam berbagai kecemasan, Negara bisa menyergap setiap saat, tapi justru menghasilkan permainan-permainan konseptual. Redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini menemui Mojtaba seusai pemutaran perdananya yang, menurut Mojtaba, telah melalui proses mendebarkan, di Palais Du Cinema, Cannes. Rini juga sempat menyaksikan laporan Mojtaba secara online tentang pemutaran perdana itu pada Jafar Panahi, nun di Iran sana. Obrolan dengan Mojtaba ini bisa jadi cermin tentang makna kebebasan kita sendiri, dalam hal pembuatan film, di Indonesia.
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
