Pesta telah usai. Saatnya untuk serius. Sudah tak lagi masanya kita masih ada dalam suasana perasaan “bangkitnya film Indonesia pasca-Reformasi”. Suasana yang penuh harapan, juga pemakluman. Suasana euforia takjub terhadap capaian-capaian teknis “anak negeri” atau perolehan penonton terbanyak. Bahkan sangat tak perlu kita merayakan sebuah film “hanya” karena ia dibuat dengan biaya termahal. Itu norak. [...]
Inilah daftar lengkap 33 Film Indonesia terpenting dekade 2000-2009 versi Rumah Film. Jangan lewatkan tulisan pengantarnya oleh redaktur kami, Ekky Imanjaya dan Hikmat Darmawan.
Perempuan itu banyak wajahnya dan seolah masalahnya tak ada habisnya: wanita karir, pelacur yang terkena kanker rahim, pelajar SMP yang hamil, ibu rumah tangga yang gendut dan belum punya anak, dan yang sering terdengar: istri yang mendapatkan perlakuan kasar dan zalim suaminya. Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita bercerita tentang para wanita dengan problematikanya yang khas: karena mereka mempunyai rahim, dan karenanya punya peran reproduksi. Para karakter di atas ditangani seorang dokter perempuan.
Redaktur Rumah Film Ekky Imanjaya mengulas film ini dengan menggarisbawahi upaya sang sutradaranya untuk mengubah paradigma kasus gender: dari “korban” menjadi “survivor”. Mereka berupaya melepaskan diri dari kungkungan Bapakisme dan State Ibuism, dua istilah ideologis Orde Baru. Dan kami mengunggahnya di Hari Ibu, ketika seluruh bangsa Indonesia merayakan serta merenungi gerakan perempuan, dan profesi termulia di muka bumi: Ibu.
Is it another absurd movie by a crazy Denmark director? Is it a fantastic movie about the end of the world? Is it a feminist movie? Is it a psychological movie?
Saat di Cannes, Asmayani Kusrini sempat berbincang dengan Nadine Labaki, seorang perempuan sutradara Lebanon yang membuat sebuah film tentang konflik agama di negaranya. Rini terkesan dengan pendekatan Nadine yang mengajukan dongeng yang naif. Kenapa pendekatan naif seperti itu dipakai untuk membincangkan soal keagamaan dan kebangsaan begitu rupa?
Kebebasan masihlah sebuah kata yang ilusif, di beberapa tempat. Di Iran, misalnya, kata itu jadi terasa mahal bagi beberapa sutradara dan aktivis yang berseberangan dengan pemerintah. Jafar Panahi, sutradara yang telah ikut mengharumkan nama Iran di pentas sinema dunia, kini dilarang membuat film oleh pemerintahnya. Para pencinta film di seantero dunia, bertanya-tanya, bagaimana nasibnya. In Film Nist (This Is Not Film) menjawab tanya itu, tapi juga menerbitkan berbagai pertanyaan menarik. Ini film yang boleh dibilang salah satu film politik terpenting tahun ini di Cannes, dibuat oleh Mojtaba Mirtahmasb yang sebetulnya hendak membuat dokumenter, dan terasa seperti film komedi. Film itu bergerak dalam berbagai kecemasan, Negara bisa menyergap setiap saat, tapi justru menghasilkan permainan-permainan konseptual. Redaktur RumahFilm Asmayani Kusrini menemui Mojtaba seusai pemutaran perdananya yang, menurut Mojtaba, telah melalui proses mendebarkan, di Palais Du Cinema, Cannes. Rini juga sempat menyaksikan laporan Mojtaba secara online tentang pemutaran perdana itu pada Jafar Panahi, nun di Iran sana. Obrolan dengan Mojtaba ini bisa jadi cermin tentang makna kebebasan kita sendiri, dalam hal pembuatan film, di Indonesia.
Situs RumahFilm.Org dioperasikan dan dikelola oleh Rumah Film Indonesia, perhimpunan yang bergerak memajukan kajian dan telaah yang berkait dengan film Indonesia. Di situs ini, Anda akan menemukan kabar terkini di seputar Industri film Indonesia, gallery foto, trivia, profile bioskop, review film-film Indonesia (dan dunia) terbaru, juga kajian dan riset mendalam tentang film Indonesia.
SELENGKAPNYA »Kritik, saran, sumbangan artikel dan tulisan lain hubungi: redaksi@rumahfilm.org
Alamat Redaksi:
Jalan Puskesmas No. 99 Jakarta 13880 Indonesia
Telp. +62-81399321808
